<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298</id><updated>2011-08-02T14:42:18.004-07:00</updated><category term='pemilu'/><category term='baiat'/><category term='kholifah'/><category term='pemimpin'/><title type='text'>Ali Tamam Blog</title><subtitle type='html'>Quantum Learning-Teaching Trainer 

Motivator Trainer</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-8300980854943085927</id><published>2009-08-03T00:34:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T00:35:24.000-07:00</updated><title type='text'>sejarah perkembangan pendidikan</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ABBASIYYAH &lt;br /&gt;DAN  PERKEMBANGAN LEMBAGA  PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Ide Islam terdiri dari dua komponen, yaitu keimanan dan aturan yang bersandar kepada aqidah. Keimanan kepada Islam memberikan jawaban yang benar dan komprehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan manusia dan alam raya ini. Keimanan ini menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan menghubungkannya  dengan kehidupan sebelum adanya dunia ini dan setelah kehidupan setelah dunia ini berakhir. Karena itu aqidah Islam menyelesaikan pokok persoalan manusia dan memberikan dasar aturan untuk  mengatur seluruh urusan manusia. Sedangkan aturan yang diperuntukkan bagi manusia mencakup: hubungan manusia dengan tuhannya, urusan manusia dengan pribadinya, berbagai hubungan sosial masyarakat.  Karena Islam memberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan menempatkan sisi kemanusiaan pada konteksnya yang tepat, maka sistem dan budaya yang memancar dari aqidah Islam pasti akan mampu menjelaskan hakekat manusia dan memberikan pemecahan atas permasalahannya dengan benar. Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi Islam mengaturnya dalam konteks yang tepat, termasuk keinginan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt; Islam adalah agama  sempurna yang mengatur kehidupan keduniaan dan keakhiratan. Peradaban Islam telah mencapai puncak kegemilangannya ketika kendali negara dipegang Bani Abbasyiyah dan tidak bisa ditandingi oleh bangsa-bangsa lain pada masanya. Tingkat peradaban bisa diukur dengan adanya peninggalan-peninggalan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan buku dan karya. Jika kita ingin merujuk kepada pemikiran dan penulisan, kita akan melihat bahwa bangsa Arab-Islam telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh barat kecuali pada periode terakhir ini.&lt;br /&gt; Ada seorang ilmuwan yang hidup diabad  kedelapan hijriyah, ilmuwan tersebut mendapatkan bukunya disalah seorang muridnya, yaitu juz kedua puluh enam dari daftar isi buku tersebut. Namun, juz tersebut bukan satu-satunya buku. Setiap juz terdiri dari empat ratus kertas, yaitu sekitar delapan ratus halaman. Didalam buku tersebut hanya disebutkan nama-nama buku beserta nama-nama penulis, nasab, gelar, dan tahun wafat mereka. Cara inilah yang ditempuh oleh Haji Khalifah, penulis “Kasyf Azh-Zhunnun,” dalam menghitung nama-nama buku.  Jika kita hitung jumlah buku yang disebutkan dalam setiap jilid mencapai lebih dari enam belas ribu nama, dan jika kita anggap bahwa buku tersebut telah lengkap didalam setiap jilid, ini berarti bahwa buku-buku yang disebutkan dalam setiap jilid lebih dari empat ratus judul buku. Buku-buku tersebut menunjukkan karya-karya yang telah ditulis dalam bahasa arab pada abad ke delapan. Tentu saja, angka tersebut sangat besar jika kita melihat keterbatasan peralatan serta kecangggihan peralatan pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Perkembangan Pendidikan&lt;br /&gt; Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana telah diketahui, Bahwa Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang  melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang dengan membawa berbagai macam pencerahan melalui ilmu. Kalau di lacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya Ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yag menciptakan. Perintah ini tidak hanya  diucapkan sekali oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak. &lt;br /&gt; Al-Qur’an dan Hadith dijadikan kaum muslimin sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Peran itu adalah : pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum muslimin terdapat dalam al-Quran. Dan sejauh pemahaman terhadap al-Quran terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, al-Quran dan Hadith menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan meningkatkan kebijakan dan keutamaan menuntut ilmu. Pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada tauhid. Karena itu seluruh metafiska dan kosmologi yang lahir dari kadungan Al-Quran dan Hadith merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu islam. Singkatnya, al-Quran dan Hadith menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam. &lt;br /&gt;Kebangkitan masa Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dengan masa sebelumnya, yakni masa Umawiyah. Perkembangan pengetahuan telah terjadi sejak zaman Umawiyah, bahkan kebiasaan tulis menulis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Misalnya As-Shohifah Ali, Ash-Shadiqah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, lembaran Jabir Athowilah, dan lembaran yang berisi ilmu waris yang ditulis Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Kodifikasi  hadith rasulpun di pelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah bani Umayyah. Kemudian, hadith ditulis didalam lembaran-lembaran masa periode kodifikasi kedua masa Abbasiyyah misalnya : Ibnu Juraij, Imam Malik, Sufyan As-Sauri, Al-Auzai dan lain-lain.  Akan tetapi gerakan penulisan dimasa Abbasiyyah terasa sangat kuat sehingga bisa membuat orang tercengang. Di Basrah buku-buku banyak ditulis, pemikiran dicetak dan disebarluaskan, serta ilmu nahwu dibuat. Di Kufah sejarah dan sastra ditulis, dan ilmu nahwu dikembangkan. Sedangkan di Bagdad ilmuwan berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan ilmu. Hingga ketika sampai ke masa Al-Makmun, kita akan melihat kebanyakan ilmuwan menulis dan mencetak buku.&lt;br /&gt; Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin di berbagai daerah secara umum, dan di wilayah Arab secara khusus, telah menempuh perjalanan melewati daratan, pegunungan, sungai, lautan, hutan, dan padang pasir untuk menunaikan kewajiban Haji, perang, maupun perdagangan. Di sepanjang kehidupan itulah, mereka selalu mengumpulkan berbagai macam informasi berkaitan masalah sosial, sejarah, politik, geografi, pertanian, dan berbagai kondisi didaerah yang mereka kunjungi. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan fisik dan eksperimental dari bangsa luar, sesungguhnya orang Islam  membutuhkan adanya penerjemahan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab. Tujuan sebenarnya tidaklah hanya menerjemahkan, namun juga kemudian mengembangkan hasil terjemahan tersebut untuk masa mendatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Pembentukan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt; Dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid, banyak disebut sebagai awal kali muncul pemikiran untuk membangun Baitul Hikmah sebagai lembaga penerjemah. Dan pada masa putranya Al-Ma’mun fungsinya diperluas  menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan penelitian.  Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan  dalam berbagai disiplin ilmu. Harun Al-Rasyid pula yang memiliki gagasan untuk mendirikan majlis al-Mudzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan dirumah-rumah, masjid-masjid dan istanah khalifah. Berlanjut  di masa al - Ma’mun lembaga pendidikan  semacam ini semakin digencarkan pengembangannya.&lt;br /&gt; Para Khalifah Bani Abbasiyyah hingga masa Al-Makmun mengambil keuntungan dari lembaga pendidikan (semacam madrasah) sebelumnya yang telah ada. Syam, Irak, Persia, dan Mesir ketika itu siap untuk menerima sebuah peradaban yang besar dan luas. Ada banyak lembaga pendidikan kuno yang sudah dikenal, dan ditempat tersebut sudah banyak buku di tulis dan diterjemahkan. Diantaranya lembaga pendidikan  Ruha, Nashibain, dan Harran. Sedangkan di Mesir ada lembaga pendidikan Alexandria, di Irak ada lembaga pendidikan Ash-Shabiah, di Persia ada lembaga pendidikan Jundisapur. Adapun lembaga-lembaga pendidikan di Syiria menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Suryani. Melalui perantara itu , pertama-tama para ilmuwan arab dan Islam melihat kepada peninggalan Yunani. Mereka mendapatkan manfaat dari penerjemahan  dalam semua ilmu. Adapun lembaga pendidikan Jundisapur menghasilkan para dokter bagi negara Abbasiyyah, serta penerjemahan buku-buku kedokteran sekaligus. &lt;br /&gt; Orang-orang Bani Abbasiyah juga banyak mengundang para ilmuwan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sudah terkenal untuk ke Baghdad dan mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan buku-buku kedalam bahasa Arab. Gerakan ilmiah ini dilakukan dengan rapi, dengan berdirinya lembaga formal untuk  pendidikan yaitu Baitul Hikmah. Embrio Baitul Hikmah ini telah didirikan di istana khalifah semenjak Harun Al-Rasyid. Semakin lama semakin meningkat hingga masa Al-Makmun. Disana banyak buku yang diterjemahkan dan ditulis. Serta didirikan pula tempat-tempat observasi dan sarana-sarana ilmu perbintangan. Tempat tersebut banyak diisi oleh para penghafal Al-Quran dan di hibahkan untuk para penerjemah dan para ilmuwan. Khalifah menjadikan tempat tersebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan pengurusan menejemennya sangat rapi. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Al-Makmun” dan menjadi terkenal.  Disamping itu juga ada tempat-tempat khusus sebagai pusat observatorium misalnya, Damaskus, Baghdad, dan Nishapur untuk melakukan observasi astronomi.&lt;br /&gt; Untuk kegiatan percobaan kimia, fisika, dan kedokteran dilakukan di laboratorium sedangkan percobaan dalam ilmu patologi dan operasi bedah di rumahsakit - rumahsakit. Bangsa Arab memperhatikan betul masalah kesehatan dan kedokteran. Mereka mendirikan rumah sakit yang waktu itu disebut “bimaristan”. Bangsa Arab mendirikannya semenjak Zaman Al-Walid bin Abdil Malik di Damaskus dan akhirnya berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyyah. Harun Al-Rasyid mendirikan rumah sakit umum (Bimaristan Al-Kabir) di Baghdad. Ia mendirikannya dengan model rumah sakit Persia, yang didalamnya banyak gudang obat-obatan. &lt;br /&gt; Kegiatan pembedahan mayat juga dilakukan untuk praktek pengajaran anatomi. Khalifah Al-Mu’tashim menyediakan mayat orang utan untuk tujuan ini. Demonstrasi praktek operasi bedah untuk mahasiswa ini juga dilakukan dirumah sakit.  Hal tersebut kemudian  dibandingkan dengan melihat tubuh yang terluka dalam peperangan. Mereka mengobati orang yang luka-luka, melakukan operasi, dan menggunakan obat bius atau sejenis obat perangsang (al-fatilah). Sehingga orang sakit tidak merasakan operasi yang dilakukan para dokter kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Macam-Macam Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt;Pada masa Abbasiyyah ini telah berkembang berbagai macam institusi pendidikan, dari bentuk sistem  pendidikan yang sederhana sampai pada bentuk yang paling maju dan termodern dimasanya. ini menandakan bahwa semangat untuk mengkaji ilmu pengetahuan  sangat menonjol dan diperhatikan dengan serius. Macam-macam lembaga pendidikan dimasa Abbasiyyah diantaranya adalah : &lt;br /&gt;a. Kuttab&lt;br /&gt;   Dimasa Rosulullah SAW lembaga semacam ini dipergunakan untuk mengajarkan    al-Qur’an dan memberikan materi pelajaran dasar. Namun dalam perkembangannya kuttab sudah digunakan sebagai tempat  untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu agama.&lt;br /&gt;b. Pendidikan dasar di istana&lt;br /&gt;Kurikulum pada pendidikan ini diajarkan sesuai dengan keinginan kalangan istana yang mengundang syeikh untuk datang ke istananya. Sehingga guru-guru yang diundangpun sesuai dengan kebutuhan khalifah atau para pembesar istana. Guru yang datang ke istana ini disebut muaddib karena memberikan pelajaran yang meliputi akhlak dan kemampuan keilmuan lainnya. Dimasa ini peran orang tua sangat besar untuk menentukan materi apa yang harus disampaikan oleh seorang guru. Sebagaimana  kebiasaannya guru-guru  istana akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal yang dekat dengan pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;c. Toko Buku&lt;br /&gt;Dimasa kekhilafahan Abbasiyyah toko-toko buku banyak ditemui disudut-sudut kota, dan diperkirakan mencapai 100 buah. Toko-toko buku pada masa itu tidak hanya bersifat komersial saja, namun justru fungsinya lebih luas lagi. Ketika orang mau ikut untuk berdiskusi tentang suatu masalah, maka ia bisa saja datang ke toko buku untuk mendiskusikannya. Bahkan di toko-toko buku tersebut telah disediakan ruangan serta waktu untuk berdebat dan pidato sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Rumah Ulama’&lt;br /&gt;Disamping masjid yang sering digunakan untuk melakukan kajian, rumah-rumah para ulama dan tokoh masyarakat pada masa itu juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mengkaji ilmu. Misalnya, Ilmuwan  Ibnu Sina menggunakan waktu malamnya untuk membaca kitab Asy-Syifa’ yang dilakukan didalam rumahnya sendiri.&lt;br /&gt;e. Salon Sastra      &lt;br /&gt;Salon sastra banyak berkembang dikalangan bangsawan, mulai dari istana-istana raja sampai dengan level wazir. Ini menandakan greget keilmuan yang luar biasa dari kaum muslimin pada masa itu yang mungkin sulit kita cari bandingannya kecuali pada masa modern sekarang ini. Pada forum ini sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang dengan berbagai macam aturan yang sangat rinci, agar adab-adab dari peserta  kepada seorang khalifah tetap terjaga. Penempatan peserta diforum salon sastra ini juga bertingkat-tingkat sesuai kelasnya dengan susunan tempat duduk yang berbeda. Peserta harus memperhatikan khalifah, dengan menggunakan gaya bicara yang lemah lembut, serta tidak boleh menyela pembicaraan ketika dalam forum.     &lt;br /&gt;f. Badiyat&lt;br /&gt;Ada  wilayah-wilayah Badui yang dijadikan sebagai tempat untuk mempelajari bahasa arab. Sehingga banyak pembesar istana atau para ilmuwan yang ingin mendalami bahasa ia harus berguru kepada mereka, dan belajar ditempat para badui tersebut. Namun kadangkala orang-orang istana yang mengundang mereka untuk memberikan materi kesusastraan arab  di istana. Termasuk khalifah Al-Mu’tashim yang pernah pergi ke Badiyat beberapa waktu lamanya dalam rangka mempelajari sastra arab.&lt;br /&gt;g. Madrasah&lt;br /&gt;Berkembangnya madrasah ini disebabkan karena ada bidang-bidang studi baru yang tidak mungkin dilaksanakan lagi didalam masjid. Sehingga membutuhkan tempat khusus yang representatif agar pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Madrasah-madrasah pada masa itu hampir menyamai tempat pendidikan pada masa sekarang ini, jika ditinjau dari sisi sarana prasarana penunjang pendidikan. Setiap madrasah memiliki iwan (tempat khusus untuk proses belajar mengajar). Dilengkapi dengan perpustakaan madrasah, dan disediakan pula beasiswa bagi peserta didik. Penentuan kurikulum madrasah senantiasa dipantau dan dikontrol oleh penguasa sehingga terjaga tujuan yang hendak dicapainya.&lt;br /&gt;h. Nidlomul Muluk&lt;br /&gt;Nidlomul muluk merupakan lembaga pendidikan sebagaimana madrasah pada zaman sekarang ini. Sistem tingkatannya dibagi menjadi dua, ada tingkatan rendah dan ada tingkat menengah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Peran Masjid dalam Pengembangan Keilmuan&lt;br /&gt; Sebagaimana Rosululloh SAW ketika memulai mengenalkan islam kepada masyarakat, beliau memusatkan pada masjid sebagai simbol kebersamaan serta sebagai tempat untuk menyususn rencana dan aktivitas yang penting dalam pengaturan masyarakat.  Pada masa kekhilafahan Harun Al-Rasyid sampai pada masa Al-Makmun masih banyak menggunakan masjid sebagai pusat pengkajian ilmu. Para ilmuwan berkumpul dan berdiskusi serta menulis.  Sehingga fungsi masjid pun meluas, tidak hanya digunakan untuk shalat maupun membaca al-Qur’an. Namun masjid juga banyak difungsikan sebagai salah satu tempat untuk masyarakat belajar berbagai macam ilmu.    &lt;br /&gt; Dalam rangka untuk mengembangkan ide-ide yang sudah diawali oleh orang tuanya yakni Harun Al-Rasyid, maka Al-Ma’mun tinggal  meneruskan untuk mengembangkannya. Masjid-masjid pada masanya juga dibangun tidak hanya sebagai tempat beribadah saja, akan tetapi juga difungsikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Diberbagai kota-kota besar terdapat masjid-masjid yang dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan.  Ini menandakan bahwa perhatian khalifah pada saat itu lebih fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.&lt;br /&gt; Al-Khatib  Al-Baghdadi ketika berbicara tentang Ahmad bin Abi Thahir menulis, bahwa  disetiap 5 masjid ada satu pemandian umum. Dan jumlah masjid pada saat itu (masa Al-Makmun) sebanyak tiga ratus ribu masjid. Al-Katib              Al-Baghdadi pun memberikan bukti berupa angka yang menunjukkan tentang peradaban tersebut tentang jumlah pemandiannya. Dia memberikan angka melebihi gambaran yang kita bayangkan. Minimal dalam satu masjid tidak kurang dari lima orang penjaga, sehingga dalam tiap harinya minimal ada satu juta lima ratus orang yang memanfaatkan pemandian umum yang disediakan di masjid-masjid.   &lt;br /&gt; Kalau kita kelompokkan masjid berdasarkan pengelolaan dan pendanaanya, ada dua jenis masjid yang berkembang pada masa itu, yakni :&lt;br /&gt;1.  Masjid jami’ atau masjid raya sebagai masjid resmi milik pemerintah, sehingga kegiatan-kegiatanpun disesuaikan dengan program yang ditetapkan pemerintah. Pendanaan untuk setiap kegiatan di masjid jami’ ini mendapatkan bantuan atau bahkan didanai sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga kegiatan keilmuan pada masa itu bisa berkembang pesat serta menjangkau kesetiap tempat karena melalui lembaga-lembaga non formal semacam masjid ini.&lt;br /&gt;2. Masjid non jami’  atau masjid yang dikelolah oleh masyarakat secara mandiri. Masjid-masjid ini aktifitas kesehariannya disesuaikan dengan madzhab yang di anut oleh masyarakat setempat. Sehingga pengelolaan serta pendanannya diambilkan dari jamaah dan juga hasil dari wakaf masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tokoh-Tokoh yang Aktif dalam Pengembangan Keilmuan &lt;br /&gt; Kemajuan sain dan teknologi pada masa pemerintahan Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dari peran serta penguasa negara pada masa itu. Sehingga masa-masa pemerintahan ketika berada ditangan Bani Abbasiyyah hampir setiap khalifah memiliki andil untuk memajukan program pendidikan. Oleh karena itu  di dalam pemerintahan Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan umatnya, sebab Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan hidup umatnya. Dan negara memahami bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, oleh karenanya negara memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi rakyatnya, tanpa atau dengan biaya semurah-murahnya. &lt;br /&gt; Sebagaimana yang telah dilakukan oleh penguasa bani Abbasiyyah terhadap para ahli ilmu. Mereka memperhatikan pemenuhan kebutuhan para pengajar dan pegawai guna kelancaran penerjemahan maupun pengembangan ilmu. Misalnya :    Al-Makmun membuat aturan untuk aktivitas penerjemahan. Dia memilih seorang penanggung jawab, yaitu Yohana Al-Batriq.  Dia membawa penulis yang cerdas serta mengetahui bahasa Suryani dan Yunani. Kemudian dia pun membawa para penerjemah besar. Para penulis menerjemahkan terjemahan pertama dari  bahasa Suryani atau Yunani ke dalam bahasa arab. Kemudian para penterjemah tesebut mentashihnya. Diantara mereka memilih pentashih bahasa arab, yaitu Hanin bin Ishaq. Hanin bertugas memeriksa transkrip akhir dari segi bahasa. Dia belajar bahasa arab dari ilmuwan-ilmuwan besar di Bashrah. Dengan cara inilah buku-buku di cetak dengan berurutan, diterjemahkan, kemudian dikoreksi pada transkrip akhirnya. Dimana untuk seorang penerjemah Hunain bin Ishaq, khalifah menyediakan berbagai macam fasilitas yang ada di istananya untuk segala macam keperluan Hunain. Untuk menggaji para penerjemah buku-buku, Al-Ma’mun berani mengeluarkan uang 500 dinar (4,25 x 500 = 2125gr emas) perbulan untuk setiap orangnya. Al-Ma’mun sendiri yang melakukan pembayarannya.  Sebagai pembanding adalah ketika Umar bin Khattab memberi gaji guru anak-anak di Madinah tiap bulan sebesar lima belas dinar (kurang lebih 63,75 gr emas) pada awal pemerintahan islam.  &lt;br /&gt; Disamping motivasi yang sangat besar dari pihak pemerintahan, yakni dengan adanya jaminan kebutuhan hidup para ilmuwan. Muncul pula kegairahan kaum muslimin  masa itu untuk lebih mencurahkan pada bidang keilmuwan. Kondisi yang baik, keamanan yang terjamin, dan atmosfir suasana keilmuan yang menggema inilah sebagai motor penggerak keilmuwan yang kuat. Sehingga banyak kaum muslimin dimasa pemerintahan Bani Abbasiyyah yang melakukan penerjemahan dan pengembangan keilmuan diberbagai bidang  :&lt;br /&gt;a. Matematika &lt;br /&gt; Abu Abdullah Muhamad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, beliau seorang ahli Matematika, astronomi, dan geografi yang sangat terkenal pada abad 9 M. Dan berjaya pada masa khalifah Al-Makmun. Beliau yang menemukan angka nol yang sangat penting dalam aritmatika serta penulis buku al-jabr wal-muqobalah. Sedangkan pada masa itu orang-orang kristiani masih menggunakan angka Romawi kuno dan Sampoa.&lt;br /&gt;Abu Sa’id al-Darid al-Jurfani (meninggal tahun 845M), adalah seorang ahli astronomi dan matematika muslim, menulis tentang wacana masalah-masalah dalam bidang ilmu geometri.&lt;br /&gt;Abu Wafa menyumbangkan ilmunya untuk pengembangan generalitas teorima sinus terhadap segi tiga. Dia memberikan tabel baru untuk menyusun tabel sinus, dan menghitung angka sinus 30 derajat sampai delapan angka desimal.&lt;br /&gt;Umar ibnu Khayyam, beliau adalah ahli dalam ilmu matematika dan astronomi. Bahasan yang banyak di geluti adalah persamaan tentang kubik.&lt;br /&gt;Abul Abbas Ahmad Ibnu Muhammad, seorang penulis muslim yang sangat populer, telah mengarang 74 karya yang berkaitan dengan matematika dan astronomi. Salah satu bukunya , al-Talkhis anil Hisab. Buku ini dikagumi oleh Ibnu Khaldun, dan terjemahannya kedalam bahasa perancis pada tahun      1864 M. &lt;br /&gt;b. Fisika dan Teknologi&lt;br /&gt;Ibnu Sina melakukan kajian dalam ilmu fisika sehingga mengahasilkan karya fenomenal tentang gaya, gerak, cahaya, panas, dan ruang hampa. Karya yang sangat berarti dilakukan dalam bidang mekanik seperti roda, as roda, pengungkit, katrol, bidang miring, kincir angin, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Al-Khazini, menulis buku daam bidang mekanika, hidrostatistika, dan fisika yang berjudul Kitab Mizan al-Hikmah (buku tentang keseimbangan kebijaksanaan) yang merupakan karya terbesarnya pada abad pertengahan. Dan dari karyanya inilah menjadi jalan perintis bagi Galileo.&lt;br /&gt;Muhammad Ibnu Ali Ibnu Rustam al-Khurasani adalah penemu jam yang sangat terkenal. Sehinga beliau dijuluki al-Sa’ati.&lt;br /&gt;Abu Isa Ismail Ibnu Razzaz Badi’ al-Zaman al-Jazari. Beliau menulis desertasi tentang pengetahuan alat mekanika geometri yang berkaitan dengan peralatan hidrolik, seperti air mancur.&lt;br /&gt;c. Astronomi&lt;br /&gt;Ibrahim ibnu Habib al-Fazari adalah seorang muslim yang pertama kali menulis astrolab. Beliau mengarang puisi dalam bidang astrologi dan mengumpulkan kalender menurut metode Arab.&lt;br /&gt;Abdullah Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan Al-Battani (Al-Batenius). Beliau melakukan observasi astronomi yang sangat luas, seperti ketepatan 54,5 inc dalam satu tahun inklinasi gerhana 23,35 derajat. Buku al-Battani ini diterjemakan kedalam bahasa latin dan spanyol pada abad 12 dan 13 dan sangat berpengaruh terhadap para sarjana Eropa pada abad pertengahan.&lt;br /&gt;d. Kimia&lt;br /&gt;Jabir bin Khayyan (Geber), ahli kimia terbesar pada masanya. Penemuan terpenting nya adalah ditemukannya asam Nitrat (HNO3), serta asam sulfat (H2SO4) sebagai bahan dasar industri.&lt;br /&gt;Abu Mansur membedakan antara natrium karbonat (Na2CO3) dengan kalium karbonat  (K2CO3). Beliau memiliki sejumlah pengetahuan  tentang aksen oksida, tembaga oksida, antimon dan zat-zat lain.&lt;br /&gt;e. Kedokteran&lt;br /&gt;Ibnu Sina (Avicenna), Dokter dan filsuf islam termasyhur. dia banyak meninggalkan karya tulis tidak kurang dari 200 buah. Bukunya yang terrenal antara lain, As-Syifaa’, al-Qanun fil at-tib, yang selama lima abad menjadi literatur-literatur peting bagi facultas-fakultas kedokteran di Eropa. &lt;br /&gt;Ibnu Nafis al-Qarshi ketika berada di Damaskus, menjelaskan tentang sirkulasi darah. Peristiwa ini terjadi tiga abad sebelum William Harvey, yang disebut penemu dari teori ini. Juga al-Qarshi menyatakan bahwa makanan merupakan bahan bakar untuk penyediaan panas bagi tubuh.&lt;br /&gt;Abul Qasim al-Zahrawi menemukan banyak alat-alat untuk keperluan operasi dan bedah sebagaimana di jelaskan dalam buku al-Tasrif. Berikut penjelasan tentang bagaimana cara melakukan operasi tulang tenkorak manusia dan bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;f. Geografi&lt;br /&gt;Ibnu Musa al-Khawarizmi, telah berhasil mengumpulkan karya Geografi yang di sebut Rasm al-Ma’mur minal Bilad (deskripsi tanah hunian) yang berisi hasil penelitian para sarjana dimasanya. Beliau melanjutkan karya geografi Ptolomeus, baik dalam bentuk naskah maupun dalam bentuk peta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Keagamaan&lt;br /&gt;Imam Malik yang menyusun kitab al-Muwatta’, kitab ini ditulis pada masa al-Mansur an baru selesai pada masa al-Mahdi. Ketika Harun al-Rasyid berkuasa berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum negara, Namun Malik bin Anas menolaknya. &lt;br /&gt; Imam Hambali yang hidup pada masa al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, dimana pada saat itu terjadi perselisihan faham antara beliau dengan khalifah tentang al-Qur’an sebagai makhluk atau bukan. Beliau mengarang kitab al-Musnad yaitu kitab hadith yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadith.&lt;br /&gt;Imam as-Syafi’i salah seorang ulama’ mujtahid di bidang fikih, salah seorang imam dari empat imam madzhab. Beliau hidup pada masa Harun al-Rasyid, al-Makmun, dan  al-Amin dari kekhilafahan Abbasiyyah. Karangan beliau yang sampai pada kita Sekarang ini adalah kitab al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Dan kitab ar-Risalah yang membahas ilmu ushul fikih.&lt;br /&gt;Imam Hanafi, seorang ahli fikih Persia yang kemudian menjadi ahli fikih di Irak. Ia mempelajari metode fikih Umar yang didasarkan pada maslahat dan metode fikih Ali yang didasarkan pada istinbat. Madzhab Hanafi ini berkembang dan bisa bertahan kurang lebih 500 tahun, karena madzhab ini diakui sebagai madzhab resmi negara bani Abbasiyyah. &lt;br /&gt;6. Metodologi Pendidikan&lt;br /&gt; Banyak metodologi yang digunakan pada masa Abbasiyyah ini, sebagaimana penjelasan diatas. Namun kalau kita kelompokkan ada beberapa metode pembelajaran yang dipakai, dan metode-metode ini ternyata cukup efektif untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan kaum muslimin, diantaranya : Imlak (dekte) yang mungkin ini sudah banyak kita kenal, dalam rangka untuk belajar tulis-menulis. Ceramah, adalah metode yang paling tua dan hingga saat sekarang inipun masih banyak dipakai dalam rangka transfer of knowledge. Metode yang juga dominan digunakan  dilingkungan kaum muslimin atau  pesantren hingga saat ini adalah talqin (hafalan).&lt;br /&gt; Disamping metode-metode diatas, masih banyak metode yang dipakai pada masa lampau dan banyak dikembangkan pada masa sekarang ini, diantaranya: Munadlarah (diskusi), ta’liqoh (debat tertulis), jadal (debat),  ketiga metode inilah yang banyak dikembangkan dan dimodifikasi. Metode-metode yang banyak mendorong para peserta didik untuk mengeksplor kemampuan pribadinya, metode yang tidak menjadikan seorang guru sebagai satu-satunya titik sentral inilah yang banyak diterapkan. Dalam rangka untuk lebih memacu kreatifitas dan memunculkan karakteristik positif pada anak didik serta lebih memberikan rasa percayadiri  bagi siswa, metode yang cocok untuk diterapkan adalah metode yang mengaktifkan guru dan siswa. Baik antara siswa dengan siswa, maupun siswa dengan gurunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ANALISA dan SIMPULAN&lt;br /&gt; Dorongan Islam agar Umatnya menjadi manusia yang terpelajar sangat di utamakan. Disamping Islam mengajarkan ilmu yang terkait hubungannya dengan tuhan yang diatur dalam ibadah, Islam juga meganjurkan umatnya untuk belajar ilmu yang terkait dengan sain dan teknologi. Dalam masa perkembangannya, umat islam melakukan penterjemahan besar-besaran dalam bahasa arab sehingga menjadikan bahasa arab pada waktu itu sebagai lingua franca. Yakni sebagai ilmu yang diperlukan dalam mempelajari agama dan diperlukan untuk mempelajari sain dan teknologi. Georgie Zaidan dalam kitab Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah mengatakan bahwa :&lt;br /&gt; ”....bahasa arab menjadi bahasa politik dalam sebagian negeri-negeri islam, serta menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan agama dihampir seluruh dunia islam...........dalam pada itu, bahasa arab selalu menjadi bahasa agama didunia islam baik ditimur maupun dibarat. Tidak ada seorang sarjana muslim pun yang tidak memahami dan mempelajari bahasa arab. Bahkan orang yang berasal dari Eropa pun di masa kebangkitannya, para filosof dan sarjananya senantiasa memperluas pengetahuannya dan tidak bisa menghindari dirinya dari belajar bahasa arab.” &lt;br /&gt;Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita tidak bisa terlepas dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh kaum muslimin dimasa kekhilafahan Bani Abbasiyyah adalah diawali dengan melakukan penterjemahan besar besaran  dari berbagai disiplin ilmu. Dan dari hasil terjemahan itu kemudian diadakan kajian ulang terkait dengan temuan-temuan yang pernah dikaji oleh bangsa Yunani atau Romawi, kemudian para ilmuwan pada masa itu melakukan pengembangan-pengembangan dan inovasi-inovasi sebagai pembaharuan.&lt;br /&gt; Pada masa kekuasaan Abbasiyyah inilah berkembang pesat sain dan teknologi serta ilmu-ilmu agama yang ditandai dengan lahirnya empat imam madzhab terbesar pada masanya hingga saat  sekarang ini. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari peran pemahaman masyarakat Islam pada masa itu terkait motivasi untuk mengembangkan ilmu keduniaan disamping ilmu-ilmu agama secara praksis. Disamping itu juga peran dari pemerintah yang Sangat besar untuk mendorong para ilmuwan agar senantiasa mengembangkan kemampuannya serta menemukan inovási-inovasi dalam temuan teknologi mutakhir pada masanya. &lt;br /&gt;Kepekatan zaman kegelapan di Eropa dan dunia pada masa itu akhirnya terkuakkan ketika fajar islam menampilkan diri dari lembah faran, dan Rosulullah memulai zaman ilmiah modern. Para sarjana muslimlah yang menggali harta terpendam pengetahuan dari puing-puing reruntuhan peradaban yang sudah mati, yakni peradaban Yunani dan Roma, Babilonia dan Iran serta Cina dan India. Mereka membongkar harta terpendam itu dan menanamnya serta mengembagkannya, kemudian menyampaikannya ke Eropa melalui universitas-universitas di Bagdad, Cairo, dan Spanyol. Dengan demikian peletak batu pertama renaisans Eropa sebenarnya adalah para penganut ilmu dan guru-guru muslim yang melalui tangan mereka lahir orang-orang seperti Roger Bacon, Thomas Alfa Edison, serta Albert Einstein, dan lain-lain .&lt;br /&gt; Pelajaran yang bisa kita ambil pada masa Sekarang ini adalah semangat dari para pendahulu kita. Para ilmuwan pada masa kejayaan Islam yang telah meletakkan batu pijakan bagi perkembangan sain dan teknologi zaman modern sekarang ini. Semangat dan keinginan keras untuk menguasai sain dan teknologi melalui penterjemahan-penterjemahan yang dilanjutkan dengan pengkajian ulang. Dari pengkajian ulang inilah ditemukan berbagai macam inovási-inovasi  dari temuan sebelumnya. Dari berbagai penemuan ilmuwan Islam inilah yang kemudian dikembangkan oleh orang barat dewasa ini. Misalkan ; penyusunan sofwer komputer tidak akan pernah ditemukan, jika tidak ditemukannya angka nol (0) oleh                 pakar matemátika muslim al-Khawarizmi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftrar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Bangil :          Al-Izzah, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Katib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Baghdadi, Jilid I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholahatul Hadith, Bandung: Al-Maarif, 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Zaidan, Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah, Jilid . III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Al-Usari, Al-Tarikh al-Islamy, terj Samson Rahman, Jakarta : Akbar Media Aka Sarana, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Fazlur Rahman, Islam Versus the West (terj) Husin Anis ,Bandung : Mizan, 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudlui atas Berbagai Peroalan Umat, Bandung : Mizan, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Cholis Majid. Dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta :Ichtiar Baru Van Hoeve, &lt;br /&gt;1997,Jilid.II, III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaber Ahmed dkk., Islam and Science, terj. Zetira Nadia , Bangil: Al-Izzah, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, terj.Arif Munandar , Jakarta : Pustaka Kautsar, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-8300980854943085927?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/8300980854943085927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/8300980854943085927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/8300980854943085927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-perkembangan-pendidikan.html' title='sejarah perkembangan pendidikan'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-6215778010854233036</id><published>2009-08-03T00:31:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T00:32:41.451-07:00</updated><title type='text'>teori belajar</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TEORI  BELAJAR&lt;br /&gt;BURRHUS  FREDERIC  SKINNER&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;1. Teori Belajar ; suatu pengantar&lt;br /&gt;Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, secara etimologi, belajar memiliki arti  “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Dari pengertian ini, maka belajar merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dan memiliki pengetahuan tentang sesuatu.&lt;br /&gt;Belajar merupakan aktivitas yang  dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. &lt;br /&gt;Hilgrad dan Bower mengartikan belajar sebagai :                                                                                   &lt;br /&gt;a. To gain knowledge, comprehension or mastery of through experience or study.&lt;br /&gt;b. To fix  in the maind, or memory, memorize.&lt;br /&gt;c. To acquire through experience.&lt;br /&gt;d. To become in form of to find out.&lt;br /&gt;Menurut definisi di atas, belajar memiliki pengertian memperoleh  pengetahuan dan menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar  adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.&lt;br /&gt;Dari banyak pendefinisian tentang belajar yang ditemukan dari berbagai literatur, ditemukan adanya perbedaan antara definisi yang diberikan oleh ahli psikologi dan ahli pendidikan. Ahli psikologi memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli apakah hasil belajar tersebut menghambat atau tidak menghambat proses adaptasi seseorang terhadap kebutuhan dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan ahli pendidikan memandang belajar adalah suatu proses perubahan manusia kearah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Dengan demikian, terlihat bahwa para ahli psikologi lebih netral dalam memandang perubahan yang terjadi akibat adanya proses belajar, tidak peduli apakah positif atau negatif. Sedangkan para ahli pendidikan memandang perubahan yang terjadi sesuai dengan tujuan positif yang ingin di capai. &lt;br /&gt;Dari beberapa keterangan diatas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri-ciri belajar, yaitu :&lt;br /&gt;a. belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, maka tidak akan diketahui hasil dari proses belajar tersebut.&lt;br /&gt;b. Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah.&lt;br /&gt;c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.&lt;br /&gt;d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.&lt;br /&gt;e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan, sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.&lt;br /&gt;Menurut Gagne, proses belajar- terutama belajar yang terjadi disekolah melalui tahap-tahap atau fase-fase berikut: motivasi, konsentrasi, mengolah, menyimpan, menggali, prestasi dan umpan balik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Teori Behavioristik (tingkah laku)&lt;br /&gt;Tokoh yang dianggap sebagai pendiri aliran behaviorisme adalah John Broades Watson, ia dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan meninggal dunia di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari  llmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “animal education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.&lt;br /&gt;Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopskins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut.. antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen. Karyanya yang paling dikenal adalah ”Psikologi as the Behaviorist view it”. Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif dalam psikologi.&lt;br /&gt;Didalam bidang pendidikanpun peran Watson cukup penting, ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. Ia percaya bahwa dengan memberikan conditioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan :”Berikan kepada saya 10 orang anak, maka saya akan jadikan kesepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”. &lt;br /&gt;Namun tidak kalah hebatnya dengan tokoh diatas, Burrhus Frederic Skinner juga ahli bidang psikologi. Dia juga seorang tokoh yang produktif dengan karya-karya besarnya tentang teori behavioristik, sehingga menekankan adanya ketetatan eksperimen dan metode yang obyektif. Dalam rangka memecahkan masalah-masalah tingkah laku yang kompleks masa sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sejarah hidup dan karya-karya Skinner&lt;br /&gt;Burrhus Frederic Skinner lahir di Susquenhanna, Pensilvania pada tahun 1904 M. Dan wafat pada tahun 1990 M. Ide-idenya sangat terpengaruh pada psikologi kontemporer. Gelar master ia dapatkan pada tahun 1930 M. Dan gelar Ph.D ia sandang pada tahun 1931 M. Di Universtas Harvard. Gelar B.A. ia raih dari perguruan tinggi Hamilton di New York dimana ia mendalami bahasa Inggris, dan di Hamilton inilah Skinner mendapatkan kuliah bersama Robert Frost- seorang penyair utama Amerika- yang mendorong Skinner untuk mengirimkan sampel karya padanya. Dengan baik Frost memeriksa tiga karya short story yang Skinner kirimkan, dan Skinner akhirnya bertekad untuk menjadi penulis. Namun keputusan Skinner megecewakan ayahnya –yang merupakan seorang pengacara- karena ayahnya menginginkan agar anaknya menjadi seorang pengacara. &lt;br /&gt;Karya Skinner  dibidang psikologi saat ia belajar di Universitas Minnesota adalah The Behavior of Organism (1938). Pada tahun 1945 ia pindah ke Universitas Indiana dan menjabat sebagai ketua jurusan psikologi dan kemudian pada tahun 1948 Skinner kembali ke Harvard hingga akhir hayatnya (1990).&lt;br /&gt;Semasa hidupnya, Skinner telah menjadi seorang yang produktif dalam berkarya. Salah satu konsern utamanya adalah menghubungkan temuan-temuan dilaboratorium untuk menemukan solusi-solusi pada permasalahan manusia, termasuk pengembangan teknologi pembelajaran dan pengajaran. Artikel yang terkait adalah The Science of Learning and The Art of Teaching (1954), Teaching Machines (1958). Karya-karya lainya adalah The Analysis of Behavior (1961), Novel Walden Two (1948), Beyond Freedom and Dignity (1971), Shaping Your Child Personality (1972), Pigeon and a Pelican (1960).  Science and Human Behavior (1953), Verbal Behavior (1957), Schedules of Reinforcement (1957), Cumulatif Record (1961), Contingencies of Reinforcement (1969), About Behaviorisme (1974), Particular of My Life (1976). &lt;br /&gt;Skinner adalah seorang behaviorist yang kuat dan yakin akan pentingnya metode obyektif, ketetatan eksperimen, dan kapasitas eksperimen yang anggun serta ilmu pengetahuan induktif untuk memecahkan masalah-masalah tingkah laku yang paling kompleks. Ia siap dan ingin mengaplikasikan konsep-konsep dan metode-metode pada masalah-masalah pokok abad ini, baik secara praktis maupun teoritis. Skinner memiliki pengaruh yang terus meningkat pada psikologi dan bidang-bidang lain yang terkait.&lt;br /&gt;Pandangan ini dapat dibahas di bawah judul teori stimulus-respon, mengingat fakta bahwa Skinner menggunakan konsep-konsep ini dalam analisanya mengenai tingkah laku. Akan tetapi fakta bahwa ia sendiri menolak nama ini untuk menyebut teorinya, disamping berbagai perbedaan penting antara pandangannya dan teori Hull-Spence, menjadikan sah untuk membahasnya secara tersendiri. Salah satu ciri yang membedakannya adalah ketika Skinner tidak suka pada teori formal dan penolakannya pada pendekatan postulat-teori yang dipakai Hull dalam membangun teorinya. Demikian juga mengenai konsentrasi Skinner pada studi tentang subyek-subyek individual, bukan pada kecenderungan-kecenderungan umum atau kelompok.   &lt;br /&gt;Disamping ilmu tentang psikologi dan juga pendidikan, Skinner juga sangat berminat dengan ilmu-ilmu teknik. Tentang minat Skinner ini kita dapat cermati dari ungkapanya dalam suatu otobiografi, sebagai berikut :&lt;br /&gt;“saya selalu meciptakan benda-benda. Saya membuat otopet, gerobak yang dapat dikemudikan, kereta luncur, dan rakit yang dapat didayung dikolam-kolam dangkal. Saya membuat maian jungkat-jungkit, komidi putar, dan tempat meluncur. Saya membuat ketapel, busur dan panah sumpitan, pistol air dari batang-batang bambu dan membuat kanon uap dari bekas ketel air yang saya pakai untuk menembakkan kentang dan wortel kerumah tetangga kami. Saya membuat gasing, pesawat terbang model yang dilontarkan dengan tali karet, layang-layang, kitiran timah yang dilempar jauh ke udara dengan putaran gelondong dan tali. Saya berkali-kali membuat pesawat terbang layang yang dapat membawa saya terbang.&lt;br /&gt;Saya menciptakan benda-benda, sebagian diantaranya ingin meniru alat-alat yang aneh dalam buku-buku komik yag dipublikasikan oleh Rube Goldberg di Philadelphia Inquirer (sebagai seorang replubikan yang baik, dan ayah saya ikut berlangganan). Misalnya, bersama seorang teman, saya suka mengumpulkan buah murbei yang masak dan masih hijau. Bertahun-tahun saya mencoba mengembangkan mesin yang dapat bergerak secara abadi (ternyata tidak berhasil).” &lt;br /&gt;2. Pendekatan teori belajar Skinner&lt;br /&gt;Sebagai seorang behaviorist (bersama-sama Watson, Thorndike, Pavlov, Gutrie, dan Hull), Skinner juga mengamati tingkah laku dalam hubungan antara peransang dan respon, akan tetapi berbeda dengan beberapa tokoh behaviorist lainnya, Skinner membuat perincian lebih jauh dengan membedakan adanya dua macam respon, yaitu:&lt;br /&gt;a. Respondent Response (reflexive Response), yaitu respon yang ditimbulkan oleh peransang-peransang tertentu.  Peransang-peransang yang demikian itu disebut eliciting stimuli menimbulkan respon-respon yang secara relatif tetap. Misalnya, makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-peransang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;b. Operant Response (Instrumental response), yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh peransang-perangsang tertentu. Peransang yang demikian itu di sebut Reinforcing Stimuli atau Reinforcer, karena peransang-peransang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, peransang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar, lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responnya menjadi lebih intensif dan kuat).&lt;br /&gt;Didalam kenyataannya, respon jenis pertama (responden respons atau respondent behavior) sangat terbatas adanya pada manusia dan karena adanya hubungan yang pasti antara stimulus dan respon  kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar dari pada tingkah laku manusia, dan kemungkinan untuk memodifikasi boleh dikatakan tidak terbatas. Fokus teori Skinner adalah pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini; karena dia menitik beratkan pada cara bagaimana menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasi tingkah laku tersebut. &lt;br /&gt;3. Teori Operant Conditioning&lt;br /&gt;Teori pembiasaan perilaku respon ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda. Operant adalah sejumlah perilaku atau respon  yang membawa pada efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Tidak seperti dalam teori respondent (yang responnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reifoncer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.&lt;br /&gt;Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama Skinner Box. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji dan pengungkit.&lt;br /&gt;Dalam eskperimen ini mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara kesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding dan sebagainya. Aksi-aksi ini disebut sebagai emitted behavior (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut dapat menekan pengungkit yang berdampak pada jatuhnya butir-butir makanan kedalam wadah.&lt;br /&gt;Butir-butir makanan yang muncul itu merupakan reinforcer bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah yang disebut tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement, yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah makanan.&lt;br /&gt;Jelas sekali bahwa eksperimen Skinner diatas mirip sekali dengan metode trial and error yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan satisfaction (kepuasan), sedangkan menurut Skinner, fenomena tersebut melibatkan reinforcement (penguatan). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam teori operant conditioning langsung atau tidak mengakui adanya law of effect.&lt;br /&gt;Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda; law of operant conditioning dan law of operant extinction. Menurut law of operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operan diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of operant extinction, jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah.&lt;br /&gt;Teori belajar hasil eksperimen Skinnner (temasuk beberapa eksperimen tokoh behavioristik lain seperti, Thorndike dan Pavlov) diatas secara prinsip bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang  nyata dan dapat diukur. Teori-teori itu juga bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti kinerja mesin dan robot. &lt;br /&gt;4. Aplikasi Teori Behavioristik&lt;br /&gt;Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori-teori behavioristik adalah adanya ciri-ciri kuat yang mendasarinya :&lt;br /&gt;1) Mementingkan pengaruh lingkungan.&lt;br /&gt;2) Mementingkan bagian-bagian (elementalistik).&lt;br /&gt;3) Mementingkan peranan reaksi.&lt;br /&gt;4) mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.&lt;br /&gt;5) Mengutamakan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.&lt;br /&gt;6) Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.&lt;br /&gt;7) Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  III&lt;br /&gt;ANALISA  DAN SIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dorothy Law dalam buku Chlidren Learn What They Live mengatakan bahwa : kalau anak banyak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri. Kalau anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati. Kalau anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati.  Penanaman  sesuatu yang baik inilah, sebenarnya  bagian dari tujuan pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;Setiap teori yang temukan oleh para pakar dibidangnnya, selain memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa, namun tidak bisa dipungkiri adanya kelemahan-kelemahan pula. Untuk itu kami akan rinci kelebihan dan kekurangan dari teori yang telah ditemukan oleh Skinner ini (Teori Belajar Behavioristik) dalam aplikasi pendidikan. &lt;br /&gt;1. Kelebihan Teori Belajar Behavioristik&lt;br /&gt;1) Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instrusi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.&lt;br /&gt;2) Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.&lt;br /&gt;3) Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu.&lt;br /&gt;4) Pembelajaran berorientasi pada hasil&lt;br /&gt;5) Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.&lt;br /&gt;6) Metode Behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, daya tahan dan sebagainya. Contohnya : percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, olah raga, dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan secara langsung seperti diberi permen atau pujian.&lt;br /&gt;2. Kelemahan Teori Belajar Behavioristik&lt;br /&gt;1) Proses belajar dipandang dapat diamati secara lansung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali gejalanya saja.&lt;br /&gt;2) Proses belajar dipandang bersifat otomatis mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan  mengatur diri sendiri) dan self-control (kemampuan mengendalikan diri) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak merespon jika ia tidak menghendakinya, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.&lt;br /&gt;3) Proses belajar manusia dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat amat mencoloknya perbedaan antara karakter fisik dan psikis manusia dengan karakter fisik dan psikis hewan.&lt;br /&gt;4) Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik dan hanya beorientasi pada hasil yang dapat diamati dan di ukur.&lt;br /&gt;5) Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa sebagai sentral, guru bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.&lt;br /&gt;6) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.&lt;br /&gt;7) Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.&lt;br /&gt;8) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari penganut teori Humanistik, bagi para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Fikri ; Makalah, Teori Belajar Madzhab Behavioristik, (PPS. IAIN, 2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baharuddin dan Esa N. Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar-   Ruzzz Media, 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin S Hall &amp; Gardner Lindzey (terjemahan), Teori-teori Sifat dan Behavioristik,  (Yogyakarta:Kanisius, 1993)&lt;br /&gt;Dorothy Law, Children learn what they live, terj. (Batam, interaksara, 2003)&lt;br /&gt;E.G. Boring and G. Linzey (Eds). History of Psychology in Autobiography, (Vol V, New York :Appleton-Century-Crofts, 1967)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farozin &amp; Fathiyah, Pemahaman Tingkah Laku, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)&lt;br /&gt;Hergenhan &amp; Olson, An Introduction to Theories of Learning, (USA : Prentice-Hall International, Inc. 1997)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/202.65.116.194-21042007175443-SISKA -UNY.doc.&lt;br /&gt;http://www.geocities.com/norlionline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-6215778010854233036?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/6215778010854233036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/teori-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/6215778010854233036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/6215778010854233036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/teori-belajar.html' title='teori belajar'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-6653597447692139369</id><published>2009-08-03T00:30:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T00:31:29.428-07:00</updated><title type='text'>ulumul qur'an</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KEMU’JIZATAN  AL-QUR’AN   DARI  SISI  ILMIAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa sejak zaman dahulu, kapan saja petunjuk datang dari tuhan untuk mengarahkan kembali langkah-langkah mereka kedalam kehendak dan aturan tuhan. Manusia selalu menginginkan bukti gaib dari para utusan itu, sebagai tebusan atas penerimaan perintah suci yang di embannya. Secara akal sehat, semakin besar kemustahilan, maka semakin besar pula kemu’jizatannya. Misalnya, jika ada mayat yang baru meninggal, kemudian dengan kekuatan gaib dari orang suci yang mampu ”membangunkannya” sehinggga membuat orang lain keheranan, maka kita akan menyebutnya sebagai mu’jizat. Kemudian jika ada orang lain yang mampu ”membangunkan” mayat setelah berada di kamar jenazah selama tiga hari, maka kita akan menyebut peristiwa demikian ini sebagai mu’jizat terbesar, dan seterusnya.&lt;br /&gt; Saat ini juga terdapat sekitar satu milyar umat islam di dunia yang tanpa ragu-ragu menerima al-Qur’an sebagai firman Allah SWT dan sebagai sebuah mu’jizat. Tidak hanya itu, bahkan orang non muslim sekalipun mengakui kehebatan dari al-Qur’an. Sebagaimana perkataan pendeta R.Bosworth-Smith, yang menulis opini tentang al-Qur’an: dia mengatakan ” bahwa Qur’an adalah sebuah mu’jizat dari kemurnian gaya bahasa, kebijaksanaan, dan kebenaran.” demikian juga apa yang telah dikatakan oleh Marmaduke Picktall, ia melukiskan bahwa al-Qur’an adalah ” simponi yang tidak ada bandingnya, suara yang benar-benar dapat menggerakkan manusia untuk menangis dan luar biasa gembira.” setelah injil, al-Qur’an adalah kitab agama yang paling mulia dan paling mempunyai kekuatan didunia. &lt;br /&gt; Sebelum masuk ke pembahasan, perlu kita kutip  beberapa pendapat dari para pakar terkait pengertian mu’jizat. Menurut Syekh Az-Zarqoni dalam kitabnya ”Manahil al Irfan” , bahwa mu’jizat adalah sesuatu di luar jangkauan kebiasaan, keluar dari faktor batasan yang sudah dikenal, diciptakan oleh Allah dimaksudkan untuk seseorang yang diangkat menjadi nabi dalam rangkah menunaikan tugas kenabiannya dan sebagai tanda kebenarannya.  Dalam kitab ”Mu’jizat Al-Qur’an”   M. Quraish Shihab mendefinisikan mukjizat sebagai suatu hal, atau peristiwa luar biasa, yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada manusia yang masih ragu untuk melakukan atau mendatangkan hal yang serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu. &lt;br /&gt; Dari beberapa definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwa mu’jizat, adalah hal-hal yang istimewa yang diberikan kepada nabi-nabi dari dzat yang Maha Kuasa,  sebagai bukti kenabiannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya. Dapat dikatakan sebagai mu’jizat, apabila terdapat syarat-syrat sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Mu’jizat harus berupa sesuatu yang tidak disanggupi oleh selain Allah Tuhan sekalian alam.&lt;br /&gt;b. Tidak sesuai dengan kebiasaan, dan berlawanan dengan hukum alam.&lt;br /&gt;c. Mu’jizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang, yang mengaku membawa risalah Ilahi, sebagai bukti atas kebenaran dari pengakuannya.&lt;br /&gt;d. Terjadi bertepatan dengan pengakuan nabi, yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut.&lt;br /&gt;e. Tidak ada seorang pun yang dapat membuktikan, dan menandingi dalam pertandingan tersebut. &lt;br /&gt;Menurut M. Quraisy Shihab dalam mu’jizat itu harus disertai unsur-unsur penting antara   lain : hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh orang yang mengaku nabi, mengandung tantangan bagi orang yang meragukan, dan tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  PEMBAHASAN&lt;br /&gt;a. Sekilas Tentang Tafsir Ilmiah&lt;br /&gt; Kemu’jizatan Al-Qur’an dari segi bahasa, telah diakui oleh ahli sastra Arab, baik di masa Nabi SAW maupun masa sesudahnya. Al-Qur’an diturunkan pada suatu masa yang terkenal dengan banyaknya ahli syair dan ahli pidato arab. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa tidak ada seorangpun sastrawan-sastrawan arab itu, yang mampu membuat suatu gubahan yang seindah gubahan al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Musailama al-Kadzab dengan gubahan syair murahannya, serta kegagalan Abdullah ibnu Muqoffa (w. 727 M), ketika ia harus menanggung malu, karena tidak mampu memenuhi perjanjiannya dengan orang-orang zindiq pada saat itu. Ia sudah berjanji untuk  membuat tandingan ayat semisal al-Qur’an, namun dalam masa setengah tahunpun tidak ada hasil gubahan yang ia buat.  &lt;br /&gt; Dari segi isi kandungannya, mu’jizat al-Qur’an dapat dilihat dari tiga aspek. (1) Merupakan isyarat ilmiah. Al-Qur’an banyak berisi informasi ilmu pengetahuan walaupun hanya dalam bentuk isyarat ilmiah, seperti informasi mengenai ilmu pengetahuan alam. Antara lain dikatakan bahwa bumi dan langit sebenarnya merupakan sesuatu yang padu dan setelah terpisah dijadikan segala sesuatu yang hidup (Qs. 21:30), dan bahwa alam semesta  terbentuk dari gumpalan gas (Qs.41:11). (2) Merupakan sumber hukum. Al-Qur’an telah memberikan andil yang kuat dalam pertumbuhan hukum, bahkan al-Qur’an tetap merupakan produk hukum yang ideal hingga masa kini. (3) Menerangkan suatu ibrah (teladan) dan kabar gaib, baik yang terjadi masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. &lt;br /&gt; Islam merupakan agama akal (reason) sekaligus nurani (conscience). Seseorang mengenali kebenaran yang telah dinyatakan agama dengan menggunakan ilmunya, tetapi menarik kesimpulan dari kebenaran yang dilihatnya dengan mengikuti nuraninya. Seseorang yang telah menggunakan kemampuan akal dan nuraninya, dalam mempelajari obyek apapun di alam semesta ini, sekalipun ia bukanlah seorang pakar, akan paham bahwa obyek tersebut, telah diciptakan oleh pemilik Kebijakan, ilmu dan kekuatan Yang Agung. Sekalipun ia menemukan sedikit saja, dari ribuan bahkan jutaan faktor yang memungkinkan adanya kehidupan di atas bumi, sudah cukup baginya untuk memahami bahwa dunia telah dirancang untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, orang yang menggunakan akalnya dan mengikuti nuraninya, akan dengan cepat menangkap kemustahilan pernyataan bahwa dunia terbentuk secara kebetulan. Singkatnya orang yang berpikir dengan menggunakan kemampuan ini, tentu akan menyadari tanda-tanda Allah dengan sejelas-jelasnya.&lt;br /&gt; Barang siapa menyelidiki seluk beluk alam semesta, dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup di dalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihat di sekitarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu dan kekuasaan abadi Allah SWT. Banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk mempelajari, dan mengkaji berbagai aspek dunia, seperti langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara untuk menyelidiki semua ini adalah melalui sains. Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia pada misteri penciptaan, dan akhirnya pada pengetahuan, kebijakan, dan kekuasaan tanpa batas yang dimiliki Allah SWT.&lt;br /&gt; Agama tidak hanya mendorong studi ilmiah, tetapi menjadikan riset ilmiah konklusif dan tepat guna, karena didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya, agama merupakan sumber tunggal yang menyediakan jawaban pasti dan akurat, misalnya untuk pertanyaan bagaimana kehidupan dan alam semesta tercipta. Dengan demikian, jika dimulai pada landasan yang tepat, riset akan mengungkapkan kebenaran mengenai asal-usul alam semesta dan pengaturan kehidupan, dalam waktu tersingkat, serta dengan upaya dan energi yang minimum. Sebagaimana ungkapan ”Sains tanpa agama adalah pincang”, dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan, tanpa panduan agama tidak dapat berjalan dengan benar, tetapi justru membuang banyak waktu dalam mencapai hasil tertentu, namun tidak memperoleh bukti yang meyakinkan. &lt;br /&gt; Tentu saja, al-Qur’an bukan buku sains. Namun banyak fakta ilmiah yang dinyatakan sangat mendalam dan padat dalam ayat-ayatNya, dan baru ditemukan pada abad ke 20 . Fakta-fakta ini tidak mungkin dapat diketahui pada saat al-Qur’an diturunkan, dan ini justru lebih membuktikan bahwa alQur’an adalah firman Allah SWT. Untuk memahami kejaiban ilmiah al-Qur’an, mari kita lihat tingkatan sains ketika kitab suci ini diturunkan. Pada abad ke 7, dizaman al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab mempunyai banyak kepercayaan takhayyul dan tanpa dasar, dalam hal-hal ilmiah. Karena rendahnya teknologi untuk mengkaji alam dan jagat raya, masyarakat Arab dahulu percaya pada legenda-legenda warisan generasi lampau. Sebagai contoh, mereka mengira bahwa gunung-gunung menopang langit di atasnya. Mereka percaya bahwa bumi datar, dan ada gunung-gunung tinggi pada kedua ujungnya. Pegunungan ini dianggap tiang-tiang yang menyangga langit jauh di atas. Namun kepercayaan takhayyul masyarakat Arab ini dibantah oleh al-Qur’an. Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang....” (QS. Ar-Ra’d, 13:2). Ayat ini menggugurkan kepercayaan bahwa langit tetap di atas, karena ditopang pegunungan. Dalam banyak  bidang lain, terungkap fakta penting, ketika manusia mengetahui hanya sedikit astronomi,fisika, atau biologi. Namun al-Quran menceritakan isi fakta-fakta kunci, seperti penciptaan alam semesta, penciptaan manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan rumit yang memungkinkan kehidupan di atas bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Sekilas Tokoh Tafsir Ilmiah dan karyanya&lt;br /&gt;1. Al-Fahru ar-Razi &lt;br /&gt;Al-Fahru ar-Razi wafat pada tahun 606 M, Beliau yang mengarang tafsir Mafaatiihu al-Ghaibi, yang kemudian lebih populer dengan nama at-Tafsiru al-Kabiiru. Ia menerapkan ilmu pengetahuan yang bercorak saintis dan pemikiran, yang dilahirkan oleh lingkungan islam, untuk memahami ayat-ayat     al-Qur’an.  Contohnya adalah ketika al-Fahru ar-Razi ketika menafsirkan (surat an-Nahl ayat 68-69) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (٦٨)ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)&lt;br /&gt;” dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah: ”buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan tuhanmu yang dimudahkan. Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu  terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berfikir.”    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di dalam ayat tersebut, ada beberapa persoalan , diantaranya adalah firman-Nya (wa auha Rabbuka ila an-nahli = dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah). Ada yang mengatakan auhaa, maknanya ilham. Maksud dari ilham ini, adalah bahwa Allah SWT telah menetapkan pada diri lebah, aktivitas-aktivitas yang menakjubkan, yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia sekalipun. Penjelasannya dari berbagai sudut: &lt;br /&gt;pertama, lebah-lebah itu mampu membangun rumah-rumah segi enam, dengan ruas yang sama, antara satu sama lain tidak ada yang melebihi, hanya dengan cetakannya. Sementara manusia yang berakal saja tidak mungkin membangun rumah seperti rumah tersebut, kecuali dengan sejumlah peralatan dan perkakas, seperti penggaris dan jangka.&lt;br /&gt;Kedua, bahwa sudah diakui berdasarkan tata arsitekturnya, andaikan rumah-rumah tersebut berbentuk selain benrtuk segi enam, tentu disela-sela rumah-rumah itu dibutuhkan lubang bebas hambatan yang sempit. Namun, kalau rumah-rumah itu berbentuk segi enam, maka disela-selanya tidak perlu lubang sempit. Hewan-hewan tersebut memberikan petunjuk tentang adanya hikmah tersembunyi, detail dan lembut, yang merupakan bentuk-bentuk keajaiban.&lt;br /&gt;Ketiga, lebah-lebah tersebut, diantaranya ada salah satu yang menjadi pemimpin bagi yang lain. Ia bertugas menjalankan kekuasaan bagi yang lain. Mereka yang lain, akan membantu memikulnya ketika ada angin kencang. Semuanya itu juga merupakan bentuk keajaiban.&lt;br /&gt;Keempat, lebah-lebah tersebut bila diusir dari sarangnya, maka mereka pergi bersama yang lain, secara kompak ketempat lain. Bila mereka ingin kembali ke sarangnya, mereka membunyikan tambur, alat-alat permainan dan musik. Dengan musik-musik tersebut, mereka bisa mengambil alih kembali sarangnya. Ini juga merupakan hal yang menakjubkan. &lt;br /&gt;Hewan ini juga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang menakjubkan, sekaligus menunjukkan kecerdikan dan kepandaiannya. Adanya bentuk-bentuk kepandaian ini semata karena ilham, yaitu, tentu saja kondisi yang hampir serupa dengan wahyu. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : ”dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah”. Ketahuilah wahyu tersebut telah dinyatakan untuk nabi, berdasarkan firman-Nya :    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (٥١)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”dan tidak ada seorang manusiapun bahwa Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan perantaraan.” (QS. As-Syura :51)    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Juga untuk manusia. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخَافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (٧)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”dan telah kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa” (QS. Al-Qhoshos;7)&lt;br /&gt;Juga berlaku untuk hewan-hewan, sebagaimana firman Allah SWT:&lt;br /&gt; ”dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah”&lt;br /&gt;Masing-masing klasifikasi ini memiliki makna yang spesifik. Wallahu a’lam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jamaluddin al-Qosimi&lt;br /&gt;Al-Qosimi, pemilik tafsir yang bernama Mahasinu at-Ta’wiil, adalah pengagum As-Syekh Muhammad Abduh. Karenanya seorang peneliti, tidak akan melihat kecenderungan al-Qosimi pada tendensi ilmiah dalam penafsirannya sebagai sesuatu yang asing. Di dalam kitab Mahasinu at-Ta’wil ini pada juz pertama dalam pendahuluannya, yang memuat kaidah-kaidah penafsirannya, pasti akan ditemukan tentang delik-delik masalah ilmiah astronomis yang tertuang dalam Al-Qur’an.  Misalnya pernyataan dia ;          ” ilmuwan  astronomi mengatakan bahwa al-Qur’an dalam pembahasan ini telah menjelaskan berbagai masalah ilmiah yang sangat pelik, yang sebelumnya belum pernah dikenal pada zaman Nabi SAW. Masalah-masalah ini dianggap sebagai mukjizat Al-Qur’an yang bersifat saintis dan abadi”. Demikian ringkasnya : pertama ; salah satu bintang yang merupakan planet yang berevolusi : Allahu Khalaqah sab’a samaawaatin wa min al-ardli Mitslahunna ( Allah lah yang menciptakan tujuh langit yang seperti itu pula bumi) (QS. At-Thalaq:12). Masing-masing  (langit dan bumi) berasal dari materi yang sama. Kaanataa ratqan fafataqnaahumaa (bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu. Kemudian kami pisahkan keduanya) (QS. Al-Anbiya :30). Sementara  planet-planet tersebut berevolusi mengelilingi matahari : Wa tara al-jibaala tahsabuhaa jaamidatan wa hiya tamurru marra as-sahabi, shun’a Allaahi al-ladzii atqanaa kulla syaiin. (dan kamu menyaksikan gunung-gunung, yang anda kira tetap ditempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. Demikianlah ciptaan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu) (QS. An-Naml:88). Semuanya ini merupakan ayat-ayat yang jelas, dus merupakan mukjizat yang riil, yang membuktikan kebenaran Nabi SAW. Dan keabsahan Al-Qur’an. &lt;br /&gt;Adalah mengherankan, kalau al-Qur’an yang berisi contoh-contoh delik-delik saintisnya yang universal ini dikemukakan, dimana seluruh ummat masih belum mengenalinya, dengan cara yang tidak bisa menghentikan kesalahan, ketika seseorang ingin meraih keimanan kepadanya, pada era manapun dan dengan informasi-informasi apapun. Orang-orang dahulu memahami contoh-contoh ayat ini, sesuai dengan keilmuan mereka, meski kemudian sains secara valid, telah mampu menyibak esensi benda-benda tersebut. Kita tahu bahwa mereka telah berangan-angan, dan akhirnya kitapun akhirnya mampu memahami maknanya yang sahih. Seakan ayat-ayat ini dijadikan di dalam al-Qur’an sebagai mukjizat bagi orang-orang belakangan, yang semuanya menjadi jelas bagi mereka, ketika keilmuan mereka telah maju. Sedangkan mukjizat bagi orang-orang yang sezaman dengan Nabi SAW, adalah kemampuan al-Qur’an menampilkan informasi-informasi tentang orang-orang terdahulu, serta syariah-syariah yang dibawanya, juga hal-hal supra empirik yang terjadi pada zamannya, dan lain-lain. Disertai dengan keyakinan mereka tentang kebenaran al-Qur’an sebagai kalam Ilahi, dalam kondisi masa yang  jauh dari sains dan belajar tentang fenomena alam yang tampak dan terlihat sebagai kajian keilmuan. Sehingga ayat-ayat           al-Qur’an, terkait dengan mereka, sebagian bermakna jelas, dan makna-makna yang lain  bagi mereka bermakna ambigius karena kurangnya keilmuan mereka. &lt;br /&gt;Bagian inilah yang tidak banyak mendapatkan perhatian mereka, sebab bagian ini merupakan spesifikasi menyangkut keilmuan yang belum mereka raih dan kuasai, sehingga ia masih tetap menjadi mukjizat bagi orang-orang mutaakhir yang bisa membuktikannya, dan amat jelas bagi mereka manakala mereka telah mengalami kemajuan bidang sains yang sahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Abdurrazaq Naufal&lt;br /&gt;Di dalam tulisan-tulsannya, Abdurrazaq telah memecahkan masalah-masalah relevansi beberapa ayat ilmiah, dengan ilmu pengetahuan modern pada bab  kemukjizatan lmiah al-Qur’an. Didalam kitab Baina ad-Diin Wa   al-Ilm (antara agama dan sains), dia menegaskan bahwa sama sekali  tidak ada kontradiksi dan ketidakakuran antara agama dan ilmu pengetahuan. Dalam buku al-Islam wa  al-’Ilmu al-ahadith, beliau mengatakan : ” tidak ada kontradiksi sama sekali, jika kalimat al-Qur’an yang pertama kali adalah perintah untuk membaca, ayatnya yang pertama kali juga mengajak untuk ber ’ilmu”. Jika ayat yang pertama kali diturunan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah atas Nama Tuhanmu, yang maha mencipta. Yang mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajari manusia yang belum diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq: 1-5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merupakan ajakan yang tegas agar belajar membaca dan menulis. Juga tidak ada kontradiksi, jika kita membaca surat al-Mukminun, firman Alloh SWT. :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤)&lt;br /&gt;”Dan sesungguhnya kami  telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia mahluk (yang berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Sempurna.”         (Q.S. Al-Mukmnun : 12-14). &lt;br /&gt;Kemudian setelah beratus-ratus tahun, ilmu pengetahuan modern, dengan bantuan mikroskop dan alat rontgen, berhasl menjelaskan bahwa urutan yang tertera dalam surat ini adalah urutan penciptaan janin. Lebih dari itu, sampai tidak mungkin mencarikan ganti lafazh al-Qur’an dengan yang lain, karena semuanya tadi merupakan lafazh yang menjelaskan makna tertentu, sama sekali tidak terkontaminir, atau ambigius, ditambah ataupun dikurang. &lt;br /&gt;Pada masa-masa akhir, ilmu pengetahuan telah sampai pada sesuatu yang tak seorangpun membayangkan bahwa pada zaman ekspres sekarang ini akan sampai kesana. Pada era perang terbuka dan era naik keluar angkasa, kita bisa menyaksikan seluruh perkembangan dibidang ilmu pengetahuan. Telah dijelaskan oleh al-Qur’an atau Al-Qur’an telah mendorong melakukan pengamatan kesana. Namun aneh, jika kita membaca bahwa masih ada orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an ini hanya relevan untuk zaman dahulu, dan tidak layak untuk zaman sekarang ataupun yang akan datang. &lt;br /&gt;Dari sini Abdurrazaq memahami bahwa Al-Quran ini merupakan mukjzat ilmiah yang berisi dasar-dasar ilmu pengetahuan modern, dan mendorong seluruh penemuan ilmu pengetahuan. Bentuk kemukjizatan al-Qur’an ini saja sudah cukup untuk memuaskan tentang kemukjizatan al-qur’an pada para pakar barat, karena kemukjizatan al-Qur’an ini merupakan sarana untuk menyampaikan dakwah Islam kepada orang non Arab. Dia juga mengatakan, bahwa hari dimana kami akan menyebarkan apa saja yang pernah dikemukakan oleh al-Qur’an serta dikukuhkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, keseluruh dunia dengan berbagai bahasanya yang beragam, hari dimana kami telah menunaikan risalah serta menyampaikan dakwah dan membuktikan kemukjizatan al-Quran kepada orang non Arab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang penulis sebutkan dalam makalah ini hanya sebagian kecil dari para mufassir yang bercorak ilmiah. Tentunya masih banyak tokoh lain yang tidak mampu kami jelaskan satu persatu, karena keterbatasan waktu dan tempat. Diantaranya adalah An-Naisaburi (W. 728 H) , pengarang  tafsir Gharaaibu              al-Qur’ani wa Raghaaibu  al-Furqaani. Az-Zarkasyi (W.794 H), pengarang kitab     al-Burhan fi ’Ulumi al-Qur’an. As-Syekh Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhamad Rasyid Ridha pengarang tafsir al-Manar, Asy-Syeikh Thanthawi pengarang tafsir al-Jawahir fi Tafsiri al-Qur’an, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KESIMPULAN&lt;br /&gt;- Salah satu sifat ilmu pengetahuan, adalah dapat diterima oleh rasio atau akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia, agar memperhatikan pikiran dan akalnya. Dengan penggunaan akal pikiran tersebut, ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan. Disamping itu  al-Qur’an dan Hadith juga sangat mendorong manusia agar menuntut ilmu.  &lt;br /&gt;- Barang siapa menyelidiki seluk beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup didalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihatnya di sektarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu dan kekuasaan abadi Allah, karena beberapa perintah Allah yang dtujukan kepada manusia adalah untuk merenungkan ciptaan-Nya.  &lt;br /&gt;- Hendaknya kita tetap membiarkan al-Qur’an sesuai dengan ketinggian dan kemulyaannya, mempertahankannya tetap dalam kesucian dan karismanya. Serta memahami bahwa isyarat mengenai rahasia-rahasia mahluk dan fenomena-fenomena alam yang dikandungnya, semata hanya mendorong berfikir, meneliti dan melakukan analisa, agar manusia semakin bertambah iman. Bagi kita, cukup, bila al-Qur’an tidak bertabrakan, dan tidak akan pernah menyelisihi esensi ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal. Karena al-Qur’an adalah kitab hidayah, reformasi dan hukum. &lt;br /&gt;- Jika dewasa ini kita hendak menafsirkan al-Qur’an, kita harus dapat memenuhi kebutuhan ummat dan sanggup mengangkat mereka dari kebekuan dan keterbelakangan. Itu berarti , bahwa tujuan menafsirkan       al-Qur’an di zaman sekarang ini, adalah membangkitkan umat supaya memiliki kesadaran Islam yang sebenar-benarnya, dengan memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dan hukum-hukumnya serta penghayatan dan penerapanya, sehingga dari sinilah umat islam akan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penelitian-penelitian ilmiah yang bersandarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar  Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdussalam, Abdul Majid ,Ittijaahat at-Tafsir fi-al-ashri ar-Rahim (terj. Maghfur),   Bangil : al-Izzah, 1997&lt;br /&gt;al-Baghdadi, Abdurrahman, Beberapa pandangan mengenai penafsiran al_qur’an,        Bandung : Al-Ma’arif, 1988&lt;br /&gt;al-Qosimi, Muhammad Jamaluddin ,Tafsir al-Qosimi al-Musamma Mahaasini at-Ta’wiil, Kaero: Dar Ihyaa’ al-kutubi al-‘Arabiyah, 1957&lt;br /&gt;ar-Razi ,Al-Fahru, Mafaatiihu al-Ghaibi al-Musytahar bi at-Tafsiri al-Kabiiri,       Istambul :Al-Mathba’ah al-‘Aamirah, 1308 H&lt;br /&gt;Ash Shabuny, Moh. Aly , Pengantar Studi Al-Qur’an (Attibyan), Bandung :                  Al-ma’arif, 1996&lt;br /&gt;.Az-Zarqoni, Muhammad Abd, Manahil al Irfan fi ulum al Qur’an,  Beirut : dar al  kutub al ilmiah, 1996&lt;br /&gt;Majid, Nur Cholis dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;Nata ,Abudin, Al-Qur’an dan Hadith, Jakarta: Raja Grafindo, 1996&lt;br /&gt;Naufal, Abdurrazaq ,Al-Islam wa al-‘Ilmu al-Hadiitsu, Mesir: Dar al-Ma’aarif, 1958&lt;br /&gt;Shihab, M. Qurash, Mukjizat Al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1998&lt;br /&gt;Yahya, Harun, The Qur’an Leads The Way to Science (terj. Tim hikmah teladan), Bandung, Syamil cipta media, 2002&lt;br /&gt;Waheeduddin Khan, Islam menjawab tantangan Zaman, Bandung: Pustaka         Bandung, 1983&lt;br /&gt;Wilson , J.Christy dalam Introducing Islam,  Newyork, 1950&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-6653597447692139369?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/6653597447692139369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/ulumul-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/6653597447692139369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/6653597447692139369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/ulumul-quran.html' title='ulumul qur&apos;an'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-1377109025771704949</id><published>2009-08-03T00:29:00.002-07:00</published><updated>2009-08-03T00:30:07.597-07:00</updated><title type='text'>sejarah sosial pendidikan islam di indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SEJARAH SOSIAL PENDIDIKAN ISLAM&lt;br /&gt;( PERUBAHAN BIDANG KAJIAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang tidak bisa kita lepaskan dengan sejarah kemunculannya. Kalau kita lihat masyarakat Arab , dimana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan yang merupakan upaya transformasi besar menuju perubahan. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya merupakan masyarakat yang  tidak memiliki system pendidikan formal. Namun motivasi atau semangat untuk berubah sudah ditunjukkan umat islam  sejak awal  , ketika diturunkannya surat al-Alaq ayat 1-5 : ”iqra’ bi ismi rabbika al-ladli khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ wa rabbuka al-akram, al-ladli ’allama bi al-qalam, ’allama al-insana maa lam ya’lam.” yang artinya : ”Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan., Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah., Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah., Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam,  Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Ditambah inspirasi luar biasa yang  termaktub didalam surat ar-Rahman ayat 33 : “ya ma’syara al-jinni wa al-insi inistatha’tum an tanfudlu min aqtari as-samawati wa al-ardli fanfudlu la tanfudluna illa bisultan.” yang artinya : “Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”&lt;br /&gt;Pada masa awal perkembangan  Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung bisa dikatakan umumnya bersifat nonformal; dan inipun berkaitan dengan upaya-upaya dakwah islamiyah. Berupa penyebaran, dan penanaman dasar-dasar kepercayaan dan ibadah Islam. Dalam kaitan itulah bisa dipahami kenapa proses pendidikan Islam pertama kali berlangsung dirumah sahabat tertentu; dan yang paling terkenal adalah dar al-arqom. Tetapi ketika masyarakat sudah terbentuk, maka pendidikan dilaksanakan di masjid. &lt;br /&gt;Pendidikan formal Islam baru muncul pada masa belakangan, yakni dengan kebangkitan madrasah. Secara tradisional sejarawan pendidikan Islam, seperti Munir ud-Din Ahmed, George Makdisi, Ahmad Syalabi dan Michael Stanton menganggap, bahwa madrasah pertama didirikan oleh Wazir Nidlom     al-Mulk. Tetapi penelitian lebih akhir, misalnya yang dilakukan Richard Bulliet mengungkapkan eksistensi madrasah-madrasah lebih tua dikawasan Nishapur, Iran. Pada sekitar tahun 400 H terdapat madrasah diwilayah Persia, yang berkembag dua abad sebelum Madrasah Nidlomiyyah. Yang tertua adalah madrasah Miyan Dahiya yang didirikan oleh Abu Ishak Ibrahim Ibn Mahmud di Nisapur, dan di Khurasan telah berkembang madrasah 165 tahun sebelum kemunculan madrasah Nidlomiyyah.  &lt;br /&gt;Namun di Indonesia, pendidikan Islam baru dikenal sejak kedatangan Islam itu sendiri ke Indonesia. Sejarah pendidikan Islam sama tuanya dengan masuknya agama tersebut ke Indonesia.  Hal ini karena pemeluk agama baru tersebut sudah barang tentu ingin mempelajari dan mengetahui lebih mendalam tentang ajaran-ajaran Islam. Ingin pandai shalat, berdo’a dan membaca al-Qur’an yang menyebabkan timbulnya proses belajar, meskipun dalam pengertian yang amat sederhana. Dari sinilah mulai timbul pendidikan Islam, dimana pada mulanya mereka belajar dirumah-rumah, langgar, masjid, dan kemudian berkembang menjadi pondok pesantren. Setelah itu baru timbul system madrasah yang teratur sebagaimana yang kita kenal sekarang ini. &lt;br /&gt;Sepanjang sejarah Islam, baik madrasah maupun al-jami’ah diabdikan terutama kepada al-ulum islamiyah atau tepatnya al-ulum ad-diniyah ilmu-ilmu agama, dengan penekanan khusus bidang fiqih, tafsir dan hadith. Meski ilmu-ilmu seperti ini juga memberikan ruang gerak kepada akal untuk melakukan ijtihad, setidaknya pada masa-masa klasik, jelas ijtihad disitu bukan dimaksudkan berfikir sebebas-bebasnya. Ijtihad disini  bahkan lebih bermakna, atau pada prakteknya, sekedar memberikan penafsiran “baru” atau pemikiran “independent” yang tetap berada dalam kerangka atau prinsip-prinsip yang mapan dan disepakati. Dengan demikian , ilmu-ilmu “non agama” atau “keduniaan” khususnya ilmu-ilmu alam dan eksakta yang merupakan akar-akar pengembangan sains dan teknologi sejak awal perkemangan madrasah dan al-jami’ah sudah berada dalam posisi yang marjinal.  Meski islam pada dasarnya tidak membedakan nilai ilmu-ilmu agama dengan imlu-ilmu non agama (ilmu-ilmu umum), tetapi dalam prakteknya, supremasi lebih diberikan kepada ilmu-ilmu agama. Ini disebabkan sikap keagamaan dan kesalihan yang memandang, ilmu-ilmu agama sebagai “jalan tol” menuju Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB  II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;Untuk mempermudah dalam pembahasan perubahan bidang kajian dalam pendidikan di indonesia, maka perkembangan materi pelajaran atau bidang kajian pendidikan islam di Indonesia kita bagi menjadi beberapa fase atau periode diantaranya :&lt;br /&gt;1. Pendidikan  Masa Awal Masuknya Islam di Nusantara&lt;br /&gt;Pada awal berkembangnya  agama Islam di Indonesia, pendidikan Islam dilaksanakan secara informal. Seperti dikemukakan dalam banyak literatur, bahwa agama islam datang ke Indonesia dibawah oleh para pedagang muslim. Setiap ada kesempatan mereka memberikan pendidikan dan ajaran agama Islam. Didikan dan ajaran Islam mereka berikan dengan perbuatan berupa contoh dan suri tauladan. Mereka berlaku sopan, ramah tamah, tulus ikhlas, amanah dan kepercayaan, pengasih dan pemurah, jujur dan adil, menepati janji dan menghormati adat sitiadat yang ada, yang menyebabkan masyarakat Nusantara tertarik masuk agama Islam.&lt;br /&gt;Sementara itu hampir disetiap desa yang ditempati kaum muslimin mereka mendirikan masjid untuk tempat mengerjakan shalat jum’at, dan juga pada tiap-tiap kampung mereka dirikan surau atau langgar untuk mengaji        al-qur’an dan tempat mengerjakan shalat lima waktu. Dari awal inilah pembelajaran masyarakat mulai terstruktur secara sederhana dan kontinu. &lt;br /&gt;Pendidikan dilanggar bersifat elementer, dimulai dengan mempelajari abjad huruf arab (hijaiyah) atau kadang-kadang langsung mengkuti guru apa yang telah dibaca dari kitab suci al-quran. Pendidikan dilanggar dikelolah oleh seorang petugas yang disebut ’amil, modin atau lebai (di Sumatera) yang mempunyai tugas ganda, disamping memberikan do’a pada saat upacara-upacara adat, juga berfungsi sebagai guru. Materi pelajaran biasanya diberikan pada pagi atau petang hari, satu sampai dua jam.  &lt;br /&gt;Satu hal yang masih belum dilaksanakan pada pengajaran al-quran dilanggar, dan ini merupakan kekurangannya adalah tidak diajarkannya menulis huruf al-quran (huruf arab), dengan demikian yang ingin dicapai hanya kemampuan membaca semata. Pendidikan al-quran dilanggar dibedakan menjadi dua tingkatan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Tingkatan rendah ; merupakan tingkatan pemula, yaitu mulainya mengenal huruf al-qur’an sampai bisa membacanya. Pembelajaran ini diadakan pada tiap-tiap kampung, dan anak-anak hanya belajar pada malam hari dan pagi hari sesudah shalat shubuh.&lt;br /&gt;b. Tingkatan atas, pelajarannya selain tersebut diatas, ditambah lagi dengan pelajaran lagu, qasidah, barzanji, tajwid, serta mengkaji kitab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendidikan di Masa Kerajaan-kerajaan Islam&lt;br /&gt;Dari sejarah kita ketahui bahwa dengan kehadiran kekhilafahan Bani Umayyah dan Abbasiyah menjadikan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga anak-anak islam tidak hanya belajar dimasjid tetapi juga pada lembaga-lembaga yang lain, seperti ”kutab”. Namun di Indonesia, istilah kutab lebih dikenal dengan ”pondok pesantren”, yaitu suatu lembaga pendidikan islam, yang didalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (anak didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut, serta didukung adanya pondok sebagai tempat tinggal para santri.  &lt;br /&gt;Sebagai karakteristik khusus dalam pondok pesantren adalah isi kurikulum yang dibuat terfokus pada ilmu agama, misalnya ilmu sintaksis arab, morfologi arab, hukum islam, hadis, tafsir, al-quran, teologi islam, tasawwuf, tarikh dan retorika. &lt;br /&gt;Kerajaan Islam Indonesia merupakan salah satu dari periodesasi perjalanan sejarah pendidikan islam di Indonesia, sebab sebagaimana lahirnya kerajaan islam yang disertai dengan berbagai kebijakan dari penguasanya saat itu. Terlebih-lebih agama islam juga pernah dijadikan sebagai agama resmi negara/kerajaan pada masa itu. Sehingga jika kita membicarakan pendidikan islam, tentu kita tidak bisa mengesampingkan bagaimana kondisi islam pada masa kerajaan itu.&lt;br /&gt;Di kerajaan Samudra pasai, menurut catatan Ibnu Batutah (1345 M) sempat singgah di Pasai pada masa Malik Az-Zahir. Di Pasai sudah ada sistem pendidikannya. Dimana materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah fiqh mazdhab Syafi’i, dengan metode halaqoh dan majlis ta’lim. Tokoh pemerintah juga merangkap tokoh agama serta pembiayaannya bersumber dari negara. Demikian juga dikerajaan perlak, sudah terdapat suatu lembaga pendidikan majlis ta’lim tinggi, yang dihadiri khusus oleh para murid yang sudah alim dan mendalam ilmunya. Dalam majlis ini dibahas kitab al-Umm Karangan imam Syafii. &lt;br /&gt;Pada masa kerajaan Aceh Darusslam (1511-1874), merupakan sumber ilmu pengetahuan dengan sarjana-sarjananya yang terkenal di dalam dan luar negeri, seperti Hamzah Fansuri, Syekh Samsuddin Sumatrani, Syekh Nuruddin Arraniri, dsb. Pada masa ini sudah ada lembaga ilmu pengetahuan (balai seutia hukama), tempat para cendikiawan mengembangkan ilmu pengetahuan. Terdapat pula kelompok studi tempat para ulama dan sarjana berkumpul untuk tukar pikiran soal pendidikan dan ilmu pendidikan (balai jamaah himpunan ulama). Adapun jenjang pendidikan yang ada pada masa itu adalah : (1)  Meunasah / setingkat madrasah, merupakan tempat belajar membaca dan menulis huruf arab, ilmu agama, bahasa melayu, akhlak dan sejarah islam. (2) Rangkang / setingkat Madrasah Tsanawiyah, yang mempelajari Bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, hisab atau berhitung, akhlak, fiqh. (3) Dayah / setingkat Madrasah ’aliyah, materi yang dipelajari adalah fiqh atau hukum islam, bahasa arab, tauhid, tasawwuf atau akhlak, ilmu bumi, sejarah atau tata negara, ilmu pasti dan faroid. (4) Dayah Teu Cik / setingkat perguruan tinggi atau akademi, diajarkan fiqh, tafsir, hadis, tauhid atau kalam, akhlak atau tasawwuf, ilmu bumi, ilmu bahasa dan sastra arab, sejarah, tata negara, mantiq, ilmu falak dan filsafat. &lt;br /&gt;Sementara di pulau Jawa terdapat kerajaan Demak, kerajaan Mataram (1575-1757), anak-anak usia sekolah sudah banyak yang mengikuti belajar   al-qur’an ditempat pengajian-pengajian di desanya masing-masing. Selain     al-qur’an juga ada tempat untuk mengkaji kitab bagi  murid yang telah khatam al-qur’an yakni di pesantren. Para santri harus tinggal diasrama yang dinamakan pondok, didekat pesantren tersebut  Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren besar (daerah kabupaten) adalah kitab-kitab besar dalam bahasa arab (kitab kuning) yang mempelajari ilmu fiqh, tafsir, hadis, ilmu kalam, tasawwuf, dsb. Di susul dengan perkembangan kerajaan islam di Kalimantan (kerajaan islam Banjar), kerajaan islam di Sulawesi dan Maluku yang sistem pendidikannya tidak jauh beda dengan pesantren yang ada di Jawa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Pendidikan Islam Masa Penjajahan (sebelum tahun 1900)&lt;br /&gt;Pada periode ini memang sulit  untuk menentukan secara pasti kapan dan dimana surau atau langgar dan pesantren pertama berdiri. Kendati demikian abad ke-17 M di Jawa telah terdapat pesantren Sunan Bonang di Tuban, Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Gresik, dan juga pesantren hutan Glagah Arum yang didirikan oleh Raden Fatah pada tahun 1475 M. &lt;br /&gt;Pendidikan pada masa ini secara umum bercirikan hal-hal sebagai berikut : pelajaran diberikan satu per satu dimana ilmu sharf didahulukan dari pada ilmu nahwu, buku pelajaran mulanya dikarang oleh ulama indonesia dengan tulisan tangan dan diterjemahkan ke dalam bahasa daerah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pendidikan Islam Masa Peralihan (1900-1909)&lt;br /&gt;Periode peralihan ini boleh dikatakan di pelopori oleh Syekh Khatib Minangkabau dan kawan-kawanya yang begitu banyak mendidik dan mengajar pemuda Makkah, terutama pemuda-pemuda yang berasal dari  Indonesia dan Malaya. Murid-murid beliau seperti H. Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) dari padang panjang, KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) di Yogyakarta, KH. Adnan di Solo, serta KH. Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul ’Ulama) di Jombang.  Dengan demikian sudah barang tentu murid-murid mereka yang kembali dari Makkah ikut andil dalam pembaharuan pendidikan Islam di Indonesia sekembalinya di tanah air.&lt;br /&gt;Dalam periode yang disebut peralihan ini telah banyak berdiri tempat pendidikan islam yang terkenal di Sumatera seperti  Surau Parabek Bukit Tinggi (1908) yang didirikan Syekh H. Ibrahim Parabek dan di pulau jawa seperti pesantren Tebu Ireng di Jombang Jawa Timur. Pada masa ini pelajaran Nahwu dan sharf disamakan, buku pelajaran semuanya karangan Ulama Islam kuno yang berbahasa Arab. Serta muncul majalah Al-Manar terbitan Mesir, kemudian muncul majalah al-Munir yang dimotori oleh H. Abdullah Ahmad di Padang.  Pada masa inilah belanda sedang mempropagandakan sekolah yang mereka kelola dengan membedakan golongan pribumi, priyayi, bahkan yang beragama kristen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Pendidikan Islam Masa Penjajahan  (tahun 1909 – 1945)&lt;br /&gt;Ulama-ulama yang ada pada waktu itu menyadari bahwa sistem pendidikan langgar dan pesantren tradisional mereka sudah tidak begitu sesuai lagi dengan iklim indonesia dan jumlah murid yang semakin bertambah banyak. Akhirnya berdirilah Madrasah adabiyah pada tahun 1909 dipadang pimpinan Syekh Abdullah Ahmad, Madrasah diniyah pimpinan Zainuddin Labai tahun 1915. Sementara itu surau pertama yang memakai sistem kelas adalah Sumatera at-Thawalib pimpinan Syeh Abdul Karim Amrullah pada tahun 1921. sedangkan di Aceh berdiri madrasah Sa’adah Adabiyah pimpinan T. Daud Beureuh pada tahun 1930. Kemudian di Jawa pada tahun 1912  lembaga pendidikan al-Qismul arga  atau pondok Muhammadiyah yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan, dan  pada tahun 1919 KH. Hasyim Asy’ari telah mendirikan Madrasah Salafiyah di Tebu Ireng Jombang.  &lt;br /&gt;Namun pada masa penjajahan Jepang segala daya dan upaya ditujukan untuk kepentingan perang. Murid-murid hanya mendapat pengetahuan yang sedikit sekali, hampir setiap hari hanya diisi dengan kegiatan latihan perang atau bekerja, misalnya; membersihkan bengkel-bengkel, asrama militer, menanam umbi dan sayur-sayuran, serta jarak untuk pelumas. Akan tetapi pada masa ini  ada peluang yang bagus untuk mendirikan madrasah-madrasah karena Jepang membuka peluang untuk membuka sekolah-sekolah rendah.&lt;br /&gt;Hampir diseluruh pelosok pedesaan terdapat madrasah awaliya yang dikunjungi banyak anak laki-laki dan perempuan. Madrasah awaliyah tersebut diadakan pada sore hari lebih kurang satu setengah jam lamanya, materi yang diajarkan ialah belajar membaca al-quran, ibadah, akhlak dan keimanan sebagai bekal agama yang dilakukan disekolah rakyat pada pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 6. Pedidikan Islam Masa Awal Kemerdekaan  (tahun 1945 – 1965)&lt;br /&gt; Setelah indonesia merdeka, penyelenggaraan pendidikan agama mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Kenyataan yang demikian timbul karena kesadaran umat islam yang dalam, setelah sekian lama mereka terpuruk dibawah kekuasaan penjajah. Sehingga Pendidikan Agama diatur secara khusus dalam UU No.4 Tahun 1950 pada Bab XII pasal 20, yaitu:&lt;br /&gt;1) Dalam sekolah-sekolah negeri diadakan pelajaran agama, orang tua murid menetapkan apakah anaknya akan mengikuti pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;2) Cara penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah-sekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan oleh menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, bersama-sama dengan menteri Agama.&lt;br /&gt;Di bidang kurikulum pendidikan agama diadakan penyempurnaan-penyempurnaan, dalam hal ini telah dibentuk suatu kepanitiaan yang dipimpin oleh KH. Imam Zarkasyi dari Pondok Pesatren Gontor Ponorogo. Kurikulum tersebut disahkan oleh menteri agama tahun 1952. kemudian pada masa orde lama tahun 1965 lahir semacam kesadaran baru bagi umat islam dalam bidang pendidikan. Sehingga kementrian agama telah mencanangkan rencana-rencana program pendidikan yang akan dilaksanakan dengan menunjukkan jenis-jenis pendidikan serta pengajaran Islam sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Pesantren  Indonesia klasik, semacam sekolah swasta keagamaan yang menyediakan asrama. Namun terbatas pada pengajaran keagamaan serta pelaksanaan ibadah, dimana guru dan murid saling bekerjasama mengerjakan tanah pesantren agar dapat memenuhi kebutuhan sendiri.&lt;br /&gt;2) Madrasah Diniyah, yaitu sekolah-sekolah yang memberikan pengajaran tambahan bagi murid sekolah negeri yang berusia 7-20 tahun. Pelajaran klasikal dalam kelas, waktu sore, kira-kira 10 jam seminggu.&lt;br /&gt;3) Madrasah-madrasah swasta, yaitu pesantren yang dikelola secara modern, yang bersamaan dengan pengajaran agamajuga diberikan pelajaran umum. Biasanya tujuannnya adalah menyediakan 60% - 65% dari jadwal waktu untuk mata pelajaran umum, dan 35% - 40% untuk pelajaran agama.&lt;br /&gt;4) Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN), yaitu sekolah dasar negeri 6 tahun dengan perbandingan materi umum 1:2. Pendidikan selanjutnya dapat mengkuti di MTsN, atau dapat mengikuti pendidikan keterampilan, misalnya PGA untuk SD. Kemudian bisa mengikuti latihan lanjutan dua tahun untuk menyelesaikan kursus guru agama sekolah menengah.&lt;br /&gt;5) Pendidikan teologi tertinggi, ada tingkat Universitas didirikan sejak tahun 1960 yaitu IAIN di Jogja dan IAIN di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pendidikan Islam Masa Akhir Tahun 1965 Sampai  Sekarang&lt;br /&gt; Memang sejak tahun 1966 telah terjadi perubahan besar pada bangsa Indonesia baik itu menyangkut kehiduan sosial, agama maupun politik. Periode itu disebut Zaman orde baru dan zaman munculnya angkatan baru yaitu, angkatan 66. Berdasarkan tekad dan semangat kemerdekaan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, maka pendidikan agama makin memperoleh tempat. Dalam sidang MPR yang menyususn GBHN sejak tahun 1973 menyatakan bahwa pendidikan agama menjadi mata pelajaran wajib disemua sekolah negeri dan disetiap jenjang pendidikan. Bahkan pendidikan agama sudah dikembangkan sejak taman kanak-kanak.&lt;br /&gt; Meskipun sebenarnya tentang pemantapan madarasah ini keberadaannya sudah diakui sederajat dengan SMP dan SMA umum yang dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, jauh sebelum ditetapkan UU no. 2 1989. Hal ini bisa dilihat dengan adanya SKB tiga menteri, antara menteri agama, menteri dalam negeri, dan menteri P dan K pada tahun 1976. Didalam  SKB tersebut  dinyatakan bahwa ijazah madrasah disamakan dengan ijazah sekolah umum yang sederajat. Kemudian dikeluarkan UU no. 2 tahun 1989 pasal 39 dan dikuatkan dengan PP no.28 tahun 1990 pasal 14 yang menggariskan kurikulum  pendidikan dasar dan menengah sekurang-kurangnya berisi bahan kajian : Pendidikan, Bahasa Indonesia, membaca dan menulis, matematika, sains dan teknologi, ilmu bumi, sejarah umum dan nasional, kerajinan, kesenian, kesehatan, menggambar, bahasa inggris. &lt;br /&gt; Pada era ini sudah di tetapkan dengan undang-undang terkait masalah integrasi pelajaran agama dan umum. Integrasi merupakan pembauran sesuatu hingga menjadi kesatuan yang utuh. Integrasi pendidikan adalah proses penyesuaian antara unsur-unsur yang saing berbeda sehingga mencapai suatu keserasian fungsi dalam pendidikan. Integrasi pendidikan memerlukan integrasi kurikulum, dan yang secara lebih khusus memerlukan integrasi pelajaran. Inilah proses yang terjadi pada pelajaran agama dengan pelajaran umum.&lt;br /&gt;Kemudian sekitar tahun 2000-an lahirlah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang lebih menyerap aspirasi muatan lokal, karena kurikulum ini juga disesuaikan dengan semangat otonomi daerah. Namun dari sisi bidang kajian yang dipelajari kalau kita bandingkan dengan kurikulum tahun 1994 sebenarnya tidak jauh berbeda antara materi agama dengan materi umumnya. Maka lahirlah Undang-Undang (UU) Republik Indonesia (RI) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 menjelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bemartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. &lt;br /&gt;Oleh karena itu  standar kompetensi lulusan (SKL) suatu jenjang pendidikan harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional mencakup komponen ketakwaan, akhlak, pengetahuan, ketrampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, dan kewarganegaraan. Semua komponen pada tujuan pendidikan nasional harus tecermin pada kurikulum dan sistem pembelajaran pada semua jenjang pendidikan. Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, tugas sekolah adalah mengembangkan potensi peserta didik secara optimal menjadi kemampuan untuk hidup di masyarakat dan ikut menyejahterakan masyarakat. Lulusan suatu jenjang pendidikan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan serta berperilaku yang baik. &lt;br /&gt; Sehingga kalau kita bandingkan apa yang dipelajari oleh murid dan yang diajarkan oleh guru pada masa-masa awal islam di Indonesia hanya sebatas pada pengetahuan dasar-dasar agama islam. Diantara ilmu yang banyak diajarkan adalah baca tulis alqur’an, tajwid, fiqih, qasidah, barzanji, akhlak. Memang masih belum bisa kita lacak secara gamblang apa yang sudah diprogramkan oleh para pendidik pendahulu kita pada waktu sebelum tahun 1900 M. Sehingga yang bisa kita deskripsikan hanya sebatas muatan-muatan secara global, yang kebanyakan terfokus pada materi keagamaan semata. Sekalipun pernah tercatat pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, bidang kajian ilmu umum sudah banyak dibahas dan dipelajari. Namun seolah ada sejarah pengkajian yang terputus, sehingga apa yang telah dirintis oleh kerajaan Aceh Darussalam tidak diketemukan dikerajaan islam lainnya. Baru pada abad 20-an terjadi geliat pendidikan islam yang luar biasa sehingga pada  perkembangan selanjutnya terjadi pengintegrasian pelajaran agama dengan ilmu pengetahuan umum. Untuk lebih jelasnya mari sekilas kita bandingkan perubahan-perubahan materi pelajaran yang bisa kita rekam dari tahun 1930-an sampai    1990-an dalam kolom berikut :&lt;br /&gt;Rencana Pelajaran Madrasah Ibtidaiyah tahun 1936&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no Mata pelajaran Kls I&lt;br /&gt;J.P=45’ Kls II&lt;br /&gt;JP=45’ Kls III&lt;br /&gt;JP=45’ Kls IV&lt;br /&gt;JP=45’&lt;br /&gt;1 Agama     &lt;br /&gt; a. Qur’an 2 1 - -&lt;br /&gt; b. Tauhid 1 1 1 1&lt;br /&gt; c. Fiqh dan Ushul 3 3 3 3&lt;br /&gt; d. Tafsir dan Hadith - - 2 2&lt;br /&gt;2 Bahasa Arab    &lt;br /&gt; a. Bercakap-cakap 3 3 2 2&lt;br /&gt; b.Membaca 2 2 2 2&lt;br /&gt; c. Dikte 2 1 1 1&lt;br /&gt; d. Sharf dan Nahwu - 2 2 2&lt;br /&gt; e. Mahfuzat 2 1 1 1&lt;br /&gt;3 Bahasa Indonesia 2 2 2 2&lt;br /&gt;4 Bahasa Inggris/Belanda 5 5 5 5&lt;br /&gt;5 Berhitung 3 3 3 3&lt;br /&gt;6 Ilmu Bumi 2 2 2 2&lt;br /&gt;7 Sejarah - 1 2 2&lt;br /&gt;8 Ilmu Alam 1 1 2 2&lt;br /&gt;9 Menulis Arab dan Latin 2 2 1 1&lt;br /&gt;10 Menggambar 1 1 1 1&lt;br /&gt;11 Akhlak 1 1 - -&lt;br /&gt;12 Memegang Buku - - - 1&lt;br /&gt;13 Pergerakan Badan 1 1 1 1&lt;br /&gt;14 Pekerjaan Tangan 1 1 1 1&lt;br /&gt; Jumlah  Jam  Pelajaran 34 34 34 34&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Pelajaran Madrasah Ibtidaiyah tahun 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no Mata pelajaran Kls I&lt;br /&gt;JP=30 Kls II&lt;br /&gt;JP=30 Kls III&lt;br /&gt;JP=45 Kls IV&lt;br /&gt;JP=45 Kls V&lt;br /&gt;JP=45 Kls VI&lt;br /&gt;JP=45&lt;br /&gt;1 Agama       &lt;br /&gt; a. Quran Hadis 2 2 2 1 1 1&lt;br /&gt; b. Akidah akhlak 1 1 1 1 1 1&lt;br /&gt; c. Fiqh 1 1 2 2 2 2&lt;br /&gt; d. Sejarah - - 1 1 1 1&lt;br /&gt; e.Bahasa Arab - - - 2 2 2&lt;br /&gt;2 PKN 2 2 2 2 2 2&lt;br /&gt;3 Bhs. Indonesia 10 10 10 8 8 8&lt;br /&gt;4 Matematika 10 10 10 8 8 8&lt;br /&gt;5 IPA - - 3 6 6 6&lt;br /&gt;6 IPS - - 3 5 5 5&lt;br /&gt;7 Kertakes 2 2 2 2 2 2&lt;br /&gt;8 Penjaskes 2 2 2 2 2 2&lt;br /&gt;9 Muatan lokal 2 2 2 2 2 2&lt;br /&gt; Jmlh Jam Pljrn 32 32 40 42 42 42&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB   III&lt;br /&gt;ANALISA DAN SIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari paparan perkembangan Pendidikan Islam di Indonesia diatas, maka kita bisa melihat bahwa materi-materi pelajaran yang banyak dikembangkan adalah seputar keilmuan agama Islam. Hampir tidak kita temui materi pelajaran sain dan teknologi, kecuali pada tahun-tahun menjelang kemerdekaan dan setelahnya. Pemilihan materi yang  banyak membahas ilmu-ilmu agama lebih disebabkan pada keinginan masyarakat, termasuk juga para pemuka pada masa itu yang menganggap bahwa pemahaman keislaman kaum muslimin masih minim. Termasuk juga faktor sosiokultural dan letak geografis  Indonesia yang mayoritas penduduknya sebagai petani, sehingga lebih condong kepada kehidupan yang sederhana dan bersahaja. Ini berbeda dengan kultur masyarakat perkotaan atau industri yang cenderung kepada paradigma pengembangan sain dan teknologi. Sebagaimana apa yang telah terjadi di Al-Azhar Mesir, dilihat dari umurnya yang beratus-ratus tahun namun dari sisi kajian sain dan teknologi masih belum bisa diandalkan, ini salah satu faktor yang berpengaruh adalah kultur agrarisnya.  Namun berpijak dari kenyataan, bahwa perkembagan suatu wilayah bisa saja diplanningkan untuk berubah dalam waktu tertentu. Sehingga faktor-faktor apa saja yang dapat digunakan untuk mendukungnya segera disiapkan. Salah satu faktor yang paling dominan dan berpengaruh kearah perubahan masa depan adalah pendidikan. Kita akan bisa mengukur seberapa hebat suatu negara, tolok ukur yang bisa digunakan salah satunya adalah seberapa jauh sebuah negara mampu  menguasai dan mengembangkan sain dan teknologi tercanggih. &lt;br /&gt;Perkembangan pendidikan dan pengajaran Islam dalam bentuk madrasah  merupakan bentuk pengembangan dari sistem tradisional yang diadakan disurau, langgar , masjid dan pesantren. Perkembangan selanjutnya yang mengubah sistem halaqah ke sistem klasikal dipengaruhi oleh sistem sekolah-sekolah pemerintah konlonial Belanda. Hal ini bertujuan untuk menandingi sekolah-sekolah Belanda yang diskriminatif dan netral agama yang dinilai tidak sesuai dengan cita-cita Islam.  Pengaruh itu juga datang dari orang-orang Indonesia yang belajar dinegeri-negeri Islam atau dari para guru dan ulama negeri-negeri tersebut yang datang ke Indonesia.&lt;br /&gt;Setelah Indonesia merdeka (1945) dan Departemen Agama (Depag) berdiri (3 Januari 1946), pembinaan madrasah menjadi tanggung jawab departemen ini. Dalam perkembangan selanjutnya sesuai degan tuntutan zaman dan masyarakat, Depag menyeragamkan nama, jenis, dan tingkatan madrasah yang beragam tersebut, sebagaimana yang ada sekarang. Madrasah ii terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, madrasah yang menyelenggarakan pelajaran agama 30% sebagai mata pelajaran dasar dan pelajaran umum 70%. Statusnya ada yang dikelolah oleh negeri dan dikelolah Depag, dan ada pula swasta yang dikelolah masyarakat, yaitu RA/TK,  MI,  MTs, MA. Kedua, madrasah yang menyelenggarakan pelajaran agama Islam murni, hanya memberikan pelajaran agama yang disebut dengan madrasah diniyah, yaitu, Madrasah awwaliyah, Wustha, ’Ulya, madrasah ini umumnya  ada dipesantren atau masjid yang dikelolah oleh masyarakat. Dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa sekolah umum yang ingin memperdalam agama.&lt;br /&gt;Merupakan kebahagiaan dan sangat penting bagi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, untuk tetap mempertahankan eksistensi pendidikan islam disekolah-sekolah dan madrasah, meskipun disadari bila dibandingkan dengan mata pelajaran umum, frekuensinya tidaklah seberapa. Namun satu hal yang tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan islam dengan lembaga pendidikan dalam perjalanan pasang surutnya cukup mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. &lt;br /&gt;Dalam bidang kajian atau materi  yang diajarkan juga terus berkembang sesuai dengan  kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan era perkembangan zaman.  Sehingga banyak kita temui pada saat sekarang ini pesantren-pesantren membuka sekolah SMP, SMU atau SMK, yang materinya justru lebih besar pada pelajaran-pelajaran umum atau bahkan materi teknologi sesuai dengan jurusan yang diambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Al-Qur’an  &lt;br /&gt;Amir Hamzah, Pembaharuan Pendidikan dan Pengajaran Islam, (Jakarta, Mulia     Offset, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Pengantar Pendidikan Islam, (Ciputat, Logos wacana           ilmu, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.J Boland, Pergumulan Islam di Indonesia, (Jakarta, Grafiti Press, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deliar Noer, Gerakan   Modern  Islam   di Indonesia   1900-1942, (Jakarta, LP3ES, 1980)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H.A Timur Jaelani, Peningkatan Mutu Pendidikan dan Pembangunan Perguruan Agama, (Jakarta, Dermaga, 1980)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta, Raja Grafindo, 1999)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmud Yunus, Sejarah  Pendidikan   Islam di Indonesia, (Jakarta, Hidayah agung, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moh. Rifa’I, Sejarah Islam, (Semarang, Wicaksana, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukti Ali, Beberapa persoalan Agama Dewasa ini, (Jakarta, Rajawali, 1987)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholis Majid, Dkk., Ensiklopedi Islam ( Jakarta, Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), II &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Achmad Jainuri, Catatan Kuliah, 25-04-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TIM Trainer KPI, implementasi kurikulum 2006, (Surabaya, KPI Press, 2007)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-1377109025771704949?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/1377109025771704949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-sosial-pendidikan-islam-di.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/1377109025771704949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/1377109025771704949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-sosial-pendidikan-islam-di.html' title='sejarah sosial pendidikan islam di indonesia'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-7484712256715279904</id><published>2009-08-03T00:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T00:28:25.409-07:00</updated><title type='text'>sejarah filsafat islam</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MUNCUL DAN PERKEMBANGAN FALSAFAH&lt;br /&gt;DI DUNIA TIMUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana telah diketahui, Bahwa Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang  melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang dengan membawa berbagai macam pencerahan melalui ilmu. Kalau di lacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Raulullah menerima Wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Perintah ini tidak hanya  diucapkan sekali oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak. &lt;br /&gt; Al-Qur’an dan Hadith dijadikan kaum muslimin sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan lmu-ilmu.  Peran itu adalah : pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum muslimin terdapat dalam al-Quran. Dan sejauh pemahaman terhadap al-Quran terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, al-Quran dan al-Hadith menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan meningkatkan kebajikan dan keutamaan menuntut ilmu. Pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada tauhid. Karena itu seluruh metafisika dan kosmologi yang lahir dari kadungan Al-Quran dan Hadith merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu Islam. Singkatnya, al-Quran dan al-Hadith menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan semangat islam. &lt;br /&gt;Kebangkitan islam identik dengan masa kekuasaan bani  Abbasiyyah. Namun kita  tidak bisa melepaskan dengan masa sebelumnya, yakni masa Umawiyah. Perkembangan pengetahuan telah terjadi sejak zaman Umawiyah, bahkan kebiasaan tulis menulis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Misalnya As-Shohifah Ali, Ash-Shadiqah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, lembaran Jabir Athowilah, dan lembaran yang berisi ilmu waris yang ditulis Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Kodifikasi  hadith rasulpun di pelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah bani Umayyah. Kemudian, hadith ditulis didalam lembaran-lembaran masa periode kodifikasi kedua masa Abbasiyyah misalnya : Ibnu Juraij, Imam Malik, Sufyan As-Sauri, Al-Auzai dan lain-lain.  Akan tetapi, gerakan penulisan dimasa Abbasiyyah sangat kuat sehingga bisa membuat orang tercengang. Di Basrah buku-buku banyak ditulis, pemikiran dicetak dan disebar luaskan, serta ilmu nahwu dibuat. Di kufah sejarah dan sastra ditulis, dan ilmu nahwu dikembangkan. Sedangkan di Bagdad ilmuwan berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan ilmu. Hingga ketika sampai ke masa Al-Makmun, kita akan melihat kebanyakan ilmuwan menulis dan mencetak buku.&lt;br /&gt; Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin di berbagai daerah secara umum, dan di wilayah Arab secara khusus, telah menempuh perjalanan melewati daratan, pegunungan, sungai, lautan, hutan, dan padang pasir untuk menunaikan kewajiban Haji, perang, maupun perdagangan. Disepanjang kehidupan mereka, mereka selalu mengumpulkan berbagai macam informasi berkaitan masalah sosial, sejarah, politik,, geografi, pertanian, dan berbagai kondisi didaerah yang mereka kunjungi. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan fisik dan eksperimental dari bangsa luar, sesungguhnya orang Islam  membutuhkan adanya penerjemahan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab. Tujuan sebenarnya tidaklah hanya menerjemahkan, namun juga kemudian mengembangkan hasil terjemahan tersebut. &lt;br /&gt; Dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid, banyak disebut sebagai awal kali muncul pemikiran untuk membangun Baitul Hikmah sebagai lembaga penerjemah. Dan pada masa putranya Al-Ma’mun fungsinya diperluas  menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan penelitian.  Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan  dalam berbagai disiplin ilmu. Harun Al-Rasyid pula yang memiliki gagasan untuk mendirikan majlis al-Munakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan dirumah-rumah, masjid-masjid dan istanah khalifah. Dan dimasa    al-Ma’mun lembaga pendidikan formal  semacam ini semakin digencarkan.&lt;br /&gt; Para Khalifah Bani Abbaisiyyah hingga masa Al-Makmun mengambil keuntungan dari madarasah-madrasah sebelumnya yang telah ada. Syam, Irak, Persia, dan Mesir ketika itu siap untuk menerima sebuah peradaban yang besar dan luas. Ada banyak madrasah-madrasah kuno yang sudah dikenal, dan ditempat tersebut sudah banyak buku di tulis dan diterjemahkan. Diantaranya Madrasah Ruha, Nashibain, dan Harran. Sedangkan di Mesir ada Madrasah Alexandria, di Irak ada madrasah Ash-Shabiah, di Persia ada madrasah Jundaesabur. Adapun madrasah-madrasah di Syiria menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Suryani. Melalui perantara itu , pertama-tama para ilmuwan arab dan Islam melihat kepada peninggalan Yunani. Mereka mendapatkan manfaat dari penerjemahan  dalam semua ilmu. Adapun madrasah Jundaesabur menghasilkan para dokter bagi negara Abbasiyyah, serta penerjemahan buku-buku kedokteran sekaligus. &lt;br /&gt; Orang-orang Bani Abbasiyah banyak mengundang para ilmuwan dari madrasah-madrasah yang sudah terkenal untuk ke Baghdad dan mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab. Gerakan ilmiah ini dilakukan dengan rapi, dengan berdirinya lembaga formal untuk  pendidikan yaitu Baitul Hikmah. Embrio Baitul Hikmah ini telah didirikan di istana khalifah semenjak Harun Al-Rasyid. Semakin lama semakin meningkat hingga masa Al-Makmun. Disana banyak buku yang diterjemahkan dan di tulis. Serta didirikan pula tempat-tempat observasi dan sarana-sarana ilmu perbintangan. Tempat tersebut banyak diisi oleh para penghapal Al-Quran dan di hibahkan untuk para penerjemah dan para ilmuwan. Khalifah menjadikan tempat tersebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan mengurusnya dengan sangat rapi. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Al-Makmun” dan menjadi terkenal.  Disamping itu juga ada tempat-tempat khusus sebagai pusat observatorium misalnya, Damaskus, Baghdad, dan Nishapur untuk melakukan observasi astronomi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. PEMBAHASAN &lt;br /&gt;1. Makna Filsafat&lt;br /&gt; Kata filsafat atau falsafat dalam bahasa Arab berasal dari bahasa Yunani Philosopia yang secara harfiah berarti cinta kepada pengetahuan atau cinta kepada kebijaksanaan.  Orang yang cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan disebut philosophos atau dalam bahasa arab failasuf (filsuf). Pecinta pengetahuan atau kebijaksanaan adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya, atau orang yang mengabdikan hidupnya kepada pengetahuan. Istilah philosophia dan philosophos pertama kali digunakan oleh Phytagoras (582-507 SM), tetapi istilah ini menjadi populer dan lazim dipakai pada masa Socrates (469-399 SM) dan Plato (427-347 SM).&lt;br /&gt; Sementara itu, Harun Nasution mengatakan bahwa kata filsafat berasal dari bahasa Arab falsafah dengan wazan fa’lala, fa’lalah, dan fi’lal. Dengan demikian menurut Harun Nasution, kata benda dari falsafa seharusnya falsafah dan filsaf. Menurutnya dalam bahasa Indonesia banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan berasal dari bahasa Arab falsafah dan bukan dari kata inggris philosophy. Harun Nasution mempertanyakan apakah kata fil berasal dari bahasa inggris dan safah diambil dari kata arab , sehingga terjadi penggabungan keduanya, yang kemudian menimbulkan kata filsafat?.  Harun Nasution berpendapa bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab karena orang arab terlebih dulu datang dan sekaligus mempengaruhi bahasa indonesia dari pada orang yang berbahasa inggris. Oleh karena itu, dia konsisten menggunakan kata falsafat, bukan filsafat,seperti falsafat agama.&lt;br /&gt; Kendati istilah filsafat yang lebih tepat adalah falsafat yang berasal dari bahasa arab, kata filsafat sebenarnya bisa diterima dalam bahasa indonesia. Sebab, sebagian kata arab yang diindonesiakan mengalami perubahan dalam huruf vokalnya, seperti masjid menjadi mesjid, dan karamah menjadi keramat. Karena itu perubahan huruf a menjadi i dalam kata falsafat  bisa ditolelir. Lagi pula dalam kamus besar bahasa indonesia, kata filsafat menunjukkan pengertian yang dimaksud, yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.  &lt;br /&gt; Adapun pengertian pokok tentang filsafat menurut kalangan filosof  adalah :&lt;br /&gt;a. Upaya spekulatif untuk menyajikan sesuatu pandangan sistematik serta lengkap tentang suatu realitas.&lt;br /&gt;b. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.&lt;br /&gt;c. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan : sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.&lt;br /&gt;d. Penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan.&lt;br /&gt;e. Disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda melihat apa yang anda katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat. &lt;br /&gt; Para ahli berbeda dalam merumuskan batasan filsafat. Plato, yang belum sampai pada konsepsi adanya Tuhan menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mencari hakikat kebenaran yang asli. Aristoteles (384-322 SM), yang lebih menitikberatkan penelitiannya kepada pembagian ilmu filsafat, menerangkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengandung kebenaran mengenai ilmu-ilmu fisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Disamping itu, ia juga mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu yang mencari kebenaran yang pertama, ilmu tentang segala yang ada yang menunjukka adanya yang mengadakan sebagai penggerak pertama. Sebagaimana halnya Plato, ia belum mencapai kepada konsepsi adanya Tuhan yang menciptakan. Al-Farabi (870-950 M), salah seorang filsuf muslim, memberikan definisi bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud yang bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.  Ibnu Rusyd (1126-1198 M), berpendapat bahwa filsafat atau hikmah merupakan pengetahuan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena ia dikarunia akal.      Al-qur’an mewajibkan manusia untuk berfilsafat guna menambah dan memperkuat keimanan kepada Tuhan.  Immanuel kant (1724-1804 M), mengatakan bahwa: filsafat itu ilmu dasar segala pengetahuan, yang mencakup didalamnya empat persoalan, yaitu:&lt;br /&gt;a. Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)&lt;br /&gt;b. Apakah yang boleh kita kerjakan? (dijawab oleh etika/norma)&lt;br /&gt;c. Sampai dimanakah pengharapan kita? (dijawab oleh agama)&lt;br /&gt;d. Apakah yang dinamakan manusia? (di jawab oleh antropolog).  &lt;br /&gt;Uraian diatas menunjukkan dengan jelas ciri dan karakteristik berpikir secara filosofis. Intinya adalah upaya secara sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran sebagai alat utamanya untuk menemukan hakikat segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu.&lt;br /&gt;2. Penyampaian Filsafat Yunani ke Dunia Islam&lt;br /&gt; Pengalihan pengetahuan ilmiah dan filsafat Yunani kedunia Islam, dan penyerapan serta pengintegrasian pengetahuan itu oleh umat Islam, merupakan sebuah catatan sejarah yang unik. Dalam sejarah peradaban manusia, amat jarang ditemukan suatu kebudayaan asing dapat diterima sedemikian rupa oleh kebudayaan lain, yang kemudian menjadikannya landasan bagi perkembangan intelektual dan perkembangan filosofinya.&lt;br /&gt;Perkembangn filsafat didunia Islam mengupayakan adanya rekonsiliasi dua pandangan yang pada dasarnya berbeda. Dimana pandangan para filosof Yunani misalnya Plato dan juga Aristoteles yang seringkali berbenturan dengan pandangan Islam. Contoh konkretnya adalah  pandangan Plato dan Aristoteles telah memberikan pengaruh besar pada madzhab-madzhab Islam, khususnya madzhab eklektisisme.    Al-Farabi dalam hal ini, memiliki sikap yang jelas karena ia percaya pada kesatuan filsafat dan bahwa tokoh-tokoh filsafat harus bersepakat bahwa diantara mereka sepanjang yang menjadi tujuan mereka adalah kebenaran. Bahkan bisa dikatakan para filosof muslim mulai dari al-Kindi sampai Ibnu Rusyd terlibat dalam rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangam-pandangan yang relatif baru dan menarik. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya ke dalam studi-studi keislaman lainnya, dan tak diragukan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat Arab dan filsafat Yunani. &lt;br /&gt;Namun kalau kita lihat proses penyampaian Filsafat Yunani ke dunia Islam, kita harus melihat sisi lain yang juga menunjang keberhasilan Islam dalam menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dan sisi lain yang paling besar pengaruhnya adalah proses penterjemahan. Menurut C.A. Qodir,  proses penerjemahan dan penafsiran buku-buku Yunani di negeri-negeri Arab dimulai jauh sebelum lahirnya agama Islam atau penaklukan timur dekat oleh bangsa Arab pada tahun 641 M.  Pada saat itu Syuriah merupakan tempat bertemunya dua kekuasaan dunia, Romawi dan Persi. Atas dasar itu, bangsa suriah disebut-sebut memainkan peran penting dalam penyebaran kebudayaan Yunani ke Timur dan Barat.&lt;br /&gt;Selain itu, pada masa ini juga didapati pusat-pusat ilmu pengetahuan seperti Ariokh, Ephesus, dan Iskandariah, dimana buku-buku Yunani Purba masih dibaca dan diterjemahkan kedalam berbagai bahasa, terutama Siriani, bahkan setelah pusat-pusat itu ditaklukkan oleh umat Islam, pemikiran Yunani tetap mendalam dan meluas. Pada masa itu juga ditemukan seorang tokoh kristen bernama Nestorius, yang melakukan dekonstruksi atas pemahaman teologi kalangan kristen konservatif ortodoks, setelah ia terpengaruh oleh alam pikiran Yunani tersebut. Ia bersama pengikutnya hijrah ke Suriah dan melanjutkan kegiatan ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Pusat-pusat ilmu pengetahuan yang dipimpin oleh umat kristen ini, terus berkembang dengan bebasnya sampai mereka berada dibawah kekuasaan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mendukung adanya kebebasan intelektual, tetapi juga membuktikan kecintaan umat Islam terhadap ilmu pengetahuan serta sikap hormat kepada para ilmuwan.  &lt;br /&gt;3. Perkembangan Filsafat Masa Kejayaan Islam&lt;br /&gt; Pada masa kejayaan kekuasaan Islam, khususnya pada masa pemerintahan Dinasti Umayyah dan puncaknya terjadi pada zaman Dinasti Abbasiyyah, ilmu berkembang sangat maju dan pesat. Kemajuan ini membawa Islam pada masa keemasannya, dimana pada saat yang sama wilayah-wilayah yang jauh dari kekuasaan islam masih berada pada masa kegelapan peradaan (Dark Age).&lt;br /&gt; Pada masa pemerintahan al-Mansur, misalnya , proses penerjemahan karya-karya filosof Yunani kedalam bahasa Arab sangat pesat. Di kabarkan bahwa            al-Mansur telah memerintahkan penerjemahan naskah-naskah Yunani mengenai filsafat dan ilmu pengetahuan lainnya, dengan memberikan imbalan yang besar kepada para ahli bahasa (penerjemah). Demikian pula pada masa Harun al-Rasyid (786-809 M) proses penerjemahan itu juga masih terus berlangsung. Harun memerintahkan Yuhanna (Yahya) Ibn Musawayh , seorang dokter istana, untuk menterjemahkan buku-buku kuno mengenai kedokteran. Dimasa itu juga diterjemahkan karya-karya dalam bidang astronomi, seperti  Siddhanta ; sebuah risalah India yang diterjemahkan oleh Muhammad Ibn Ibrahim al-Fazari                  (w. 806 M). &lt;br /&gt;Perkembangan  ilmu selanjutnya berada pada masa pemerintahan al-Ma’mun (813-833 M). Ia adalah seorang pengikut Mu’tazilah dan seorang rasionalis yang berusaha memaksakan pandangannya kepada rakyat melalui mekanisme negara. Walaupun begitu, ia telah berjasa besar dalam mengembangkan ilmu di dunia islam dengan mengembangkan dan membangun Baitul Hikmah yang telah dirintis oleh ayahnya Harun al-Rasyid. Di dalam Baitul Hikmah terdiri dari bagian-bagian diantaranya ruang perpustakaan, ruang observatorium, dan departemen penerjemahan. Orang terpenting di Baitul Hikmah diantaranya adalah Hunain murid dari Musawayh, yang telah berjasah menerjemahkan buku-buku Plato, Aristoteles, Galenus, Apolonuis, dan Archimides. Selanjutnya pada pertengahan abad ke-10 muncul dua penerjemah terkemuka yaitu Yahya Ibn ’Adi (w. 974 M), dan Abu Ali Isa Ibn Ishaq Ibn Zera (w. 1008 M). Yahya banyak memperbaiki terjemahan dan menulis komentar mengenai karya-karya Aristoteles seperti Categories, Sophist, Metaphysich, dan karya Plato seperti Timesus dan Laws.  &lt;br /&gt;Selanjutnya, pada masa kejayaan ini, terdapat juga tokoh-tokoh filsafat yang bergelut secara serius dalam kajian-kajian diluar filsafat. Hal ini bisa dipahami karena ada kenyataan bahwa mereka menganggap ilmu-ilmu rasional sebagai bagian filsafat. Atas dasar inilah mereka memperlakukan persoalan-persoalan fisika sebagaimana mereka memperlakukan masalah-masalah yang bersifat metafisik. Salah satu bukti nyata dari ini adalah kitab al-Syifa, sebuah ensiklopedi filsafat arab yang terbesar, yang berisi empat bagian. Bagian I mengenai logika, bagian II tentang fisika, bagian III tentang matematika, dan bagian ke IV membahas metafisika. Dalam bagian Fisika, Ibnu Sina memasukkan ilmu-ilmu psikologi, zoologi, geologi, dan botani. Kemudian pada bagian matematika ia membahas geometri, ilmu hitung, astronomi, dan musik. &lt;br /&gt;Selain tokoh diatas, kita juga mengenal al-Kindi, seorang ilmuwan saintis yang juga seorang filosof. Beliau sangat berminat dengan bidang matematika dan fisika. Ia bahkan pernah berpendapat bahwa seseorang mungkin tidak dapat menjadi filosof terkemuka sebelum mempelajari filsafat. Tokoh lainnya adalah al-Farabi yang mengadakan penelitian dalam bidang geometri dan mekanika, dan ia adalah seorang musikus islam yang terbesar dan juga ahli filsafat.  Salah satu karyanya adalah kitab al-Musiqi al-Kabir yang membahas tentang musik. Demikian juga kita mengenal Ibn Bajah, Ibn Tufail, Ibn Rushd, merupakan filosof besar yang hidup di Andalusia dan bergelut secara intensif dalam bidang kedokteran. Ibn Rushd, misalnya, mengarang al-Kulliyat yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin dalam pertengahan abad ke 13 M. Selajutnya ada Muhamad Ibn Zakariyah al-Razi, filsuf dan dokter terbesar dalam Islam, bahkan diseluruh masa abad pertengahan. Ia terkenal dengan orisinalitasnya dan pandangannya yang jernih dan kemampuannya menemukan jenis-jenis penyakit yang belum dikenal sebelumnya. Kitab yang berjudul al-Hawi adalah kitab yang paling terkemuka di antara karya-karya kedokteran arab yang diambil manfaatnya oleh orang-orang Latin. &lt;br /&gt;Sederetan nama yang penulis sebutkan diatas hanya sebagian kecil saja dari para filosof dan juga saintis muslim yang memberikan sumbangan yang tak ternilai bagi kemajuan ilmu. Sehingga kita bisa mengetahui kepakaran para pendahulu kita yang menguasai banyak bidang konsentrasi ilmu yang mereka kuasai dengan baik. Tentunya di samping  menguasai ilmu filsafat mereka juga mampu untuk mengeksplor kemampuannya di bidang-bidang yang lainnya, baik di bidang matematika, fisika, kimia, kedokteran, sastra, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Perlu kami ulas juga secara singkat tentang  transformasi keilmuan dari dunia timur kedunia barat. Paling tidak ada dua alasan; pertama, kontak pribadi. Ketika umat islam menaklukkan persia, siria, mesir, orang-orang kristen ditimur mengadakan kontak dengan umat islam dengan toleransi yang luar biasa. Dari sinilah adanya kesempatan orang kristiani untuk belajar berbagai macam hal tentang ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan islam. Dan terjadi peralihan besar-besaran setelah terjadinya perang salib. Alasan kedua, adanya kegiatan penerjemahan. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebudayaan islamlah yang mendorong  orang-orang Latin melakukan penterjemahan. Mereka mencoba untuk menerjemahkan al-Qur’an pada abad ke 10 M, namun gerakan penerjemahan yang sesungguhnya baru dimulai pada abad 12 M. Toledo dan Palermo adalah dua pusat penerjemahan terbesar pada saat itu yang banyak mengoleksi sumber-sumber Arab berkat perantaraan orang Yahudi dan hubungan mereka dengan orang-orang Kristen dan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Filsafat masa Kemunduran Islam&lt;br /&gt; Abad ke 18 M dalam sejarah Islam adalah abad yang paling menyedihkan bagi umat Islam dan memperoleh catatan buruk bagi peradaban Islam secara universal. Seperti yang diungkapkan oleh Lothrop Stoddart, bahwa menjelang abad ke 18, dunia islam telah merosot ke tingkat yang terendah. Islam tampaknya sudah mati, dan yang tertinggal hanyalah cangkangnya yang kering kerontang berupa ritual tanpa jiwa dan takhayyul yang merendahkan martabat umatnya. Ia menyatakan kalau seandainya Muhammad bisa kembali hidup, dia pasti akan mengutuk para pengikutnya sebagai kaum murtad dan musrik.  Ini menggambarkan bagaimana dasyatnya proses kejatuhan peradaban dan tradisi keilmuan islam yang kemudian menjadikan umat islam sebagai bangsa yang dijajah oleh bangsa-bangsa barat.&lt;br /&gt; Ketika  Amin Abdullah berpendapat tentang kedinamisan ilmu menurut telaah filsafat ilmu. Hampir semua jenis kegiatan ilmu, baik natural sains maupun sosial sains, selalu mengalami apa yang di sebut dengan shifting paradigm (pergeseran gugusan pemikiran keilmuan). Kegiatan ilmu selamanya bersifat historis, lantaran dibangun, dirancang, dan dirumuskan oleh akal budi manusia yang juga bersifat historis (terikat dengan ruang dan waktu, terpengaruh oleh pemikran dan perkembagan kehidupan sosial yang mengitari penggal waktu tertentu). &lt;br /&gt; Diantara hal yang menyebabkan kehancuran tradisi keilmuan islam adalah faktor-faktor eksternal yang menghantam kekuasaan islam serta perangkat keilmuanya termasuk hancurnya buku-buku karangan orang islam. Serta faktor-faktor internal diantaranya  presepsi yang keliru dalam memahami pemikiran al-Ghazali. Orang umumnya mengecam al-Ghazali karena ia menolak filsafat seperti yang ia telah tulis dalam tahafut al-falasifahnya. Padahal ia sebenarnya menawarkan sebuah metode ilmiah dan rasional, dan juga menekankan pentingnya pengamatan dan analisis.  Termasuk juga takutnya para peguasa jika tersebar luasnya pendidikan dan pengetahuan dikalangan massa yang dapat menggerogoti kekuasaan mereka yang mutlak. Munculnya orang-orang yang pandai dan terampil menyebabkan longgarnya pengaruh golongan elit feodal dan keagamaan. Dengan membuka kesempatan baru bagi masyarakat dan menawarkan cara yang baru sama sekali untuk memperoleh pengaruh melalui  pengetahuan dan bukan melalui pewarisan, maka penyebarluasan ilmu termasuk di dalamnya filsafat dan teknologi menghantam akar dasar kekuasaan golongan yang mempunyai hak-hak istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ANALISA dan KESIMPULAN&lt;br /&gt;1. Filsafat adalah ilmu tertua di dunia barat yang dipelopori oleh bangsa Yunani kuno. Dan filsafat inilah yang kemudian diadopsi oleh umat islam dimasa-masa awal perkembangannya maupun dimasa kejayaannya terbukti dengan banyaknya para filsuf muslim yang juga hebat di bidang-bidang keilmuan eksakta maupun kedokteran.&lt;br /&gt;2. Terjadinya arus peralihan peradaban besar-besaran dari barat ke timur pada saat umat islam gencar melakukan penterjemahan buku-buku filsafat dan kedokteran karangan orang-orang Yunani kedalam bahasa Arab. Disinilah awal mula beralihnya peradaban dari dunia barat ke dunia timur, dibuktikan dengan adanya masa kejayaan kekhilafahan islam pada abad pertengahan, sementara dunia barat justru berada pada masa kegelapannya. Demikian juga sebaliknya ketika dunia barat gencar melakukan penterjemahan hasil Ilmu pengetahuan yang dikembangkan ilmuwan muslim, maka terjadi pula peralihan peradaban dari dunia timur kedunia barat. Sementara islam justru mundur menuju kemerosotan peradaban hingga saat sekarang ini.&lt;br /&gt;3. Satu hal yang paling berpengaruh dalam rangka merubah paradaban suatu bangsa adalah semangat untuk memajukan ilmu pengetahuan baik melalui penterjemahan maupun penelitian lanjutan dari ilmu yang sudah ditemukan sebelumnya. Dan inilah yang terjadi terhadap pasang surutnya  perkembangan peradaban didunia timur dan didunia barat.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsal Bahtiar, Filsafat Agama, Jakarta, Logos, 1997&lt;br /&gt;Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001&lt;br /&gt;Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historitas, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burhanudin Salam, pengantar filsafat, (Jakarta: Bina Akasara, 1988&lt;br /&gt;C.A Qodir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, Jakarta :Yayasan Obor Indonesia, 2002&lt;br /&gt;Endang Saefudin Anshari, Ilmu Filsafat dan Agama, Surabaya, Bina Ilmu, 1987&lt;br /&gt;Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholahatul Hadith, bandung: Al-Maarif, 1974&lt;br /&gt;Harun Nasution, Falsafat Agama, Jakarta, Bulan Bintang, 1979&lt;br /&gt;Ibrahim Madkoer, Filsafat Islam dan Renesans Eropa, terj. Ahmad Tafsir, Bandung: Pustaka, 1986&lt;br /&gt;Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Jakarta: yayasan obor Indonesia, 2001&lt;br /&gt;Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1996&lt;br /&gt;Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, New York: Columbia University Press, 1970&lt;br /&gt;M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudlui atas Berbagai Peroalan Umat, Bandung : Mizan, 2001&lt;br /&gt;Nur Cholis Majid. Dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta :Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, Jilid. II&lt;br /&gt;Taufik Abdullah, Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002 jilid IV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, Jakarta : Pustaka Kautsar, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-7484712256715279904?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/7484712256715279904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-filsafat-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/7484712256715279904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/7484712256715279904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/sejarah-filsafat-islam.html' title='sejarah filsafat islam'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-2394930818075135222</id><published>2009-08-03T00:23:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T00:25:01.337-07:00</updated><title type='text'>filsafat ilmu</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PENGETAHUAN dan UKURAN KEBENARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Kehidupan manusia senantiasa tidak pernah terlepas dari pengetahuan atau yang kita sebut dengan ilmu. Inilah kelebihan mahluk yang dinamakan manusia dengan mahluk lainnya. Dimana manusia dengan akalnya mampu untuk mengetahui banyak hal, yang kemudian menguhubung-hubungkannya sehingga membentuk pengetahuan baru atau menghasilkan karya yang berbeda dari sebelumnya. Berbekal akalnya pula manusia mencoba untuk berinteraksi dengan siapa saja dan apa saja, baik yang terkait dengan dirinya sendiri ataupun obyek-obyek alam yang ada disekitarnya. Ketika memperhatikan banyak hal terkait dengan kejadian-kejadian pada diri dan apa yang ada disekelilingnya ia kemudian banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mencari tahu jawabannya. Karenan manusia merupakan mahluk pencari kebenaran.&lt;br /&gt; Pada awalnya dalam rangka untuk mencari kebenaran dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada diri manusia lebih bersifat mitos. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan pola pikir yang senantiasa berubah dengan pesat, maka dalam memberikan jawaban dari berbagai macam pertanyaan tersebut kemudian didasarkan pada rasionalitas. Dengan sikap keingintahuan manusia yang selalu bertambah itulah sehingga menghasilkan pengetahuan yang luas dan banyak sekali.&lt;br /&gt; Pada saat baru  lahir, manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Namun ketika manusia bertambah umur dan dewasa seiring berjalannya waktu, ia akan banyak memiliki pengetahuan. Jika kita bandingkan pengetahuan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya  pada saat umurnya sama. Kita akan temui perbedaan pengetahuan diantara mereka, apakah dalam bidang yang sama maupun dalam bidang keilmuan yang berbeda. Bagaimana mereka itu masing-masing mendapatkan pengetahuan yang berbeda-beda? Hal-hal semacam inilah yang dibicarakan dalam epistimologi.   Pandangan yang sederhana dalam memikirkan proses terjadinya pengetahuan yaitu dalam sifatnya baik a priori maupun a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik  pengalaman indera maupun pengalaman batin. Sedangkan pengetahuan a posteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman.&lt;br /&gt; Kata pengetahuan bisa berarti ‘ilm yang berasal dari bahasa Arab, merupakan lawan dari kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Terdapat dua jenis pengetahuan : pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah.  Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, seperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indera, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan obyek, cara, dan kegunaannya. Dalam bahasa inggris, jenis pengetahuan ini disebut knowledge. Sedangkan pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek yang ditelaah, cara yang digunakan, dan kegunaan pengetahuan tersebut. Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah memperhatikan obyek ontologis, landasan epistimologis, dan landasan aksiologis dari pengetahuan itu sendiri. Jenis pengetahuan ini dalam bahasa inggris disebut science. &lt;br /&gt;Dari segi maknanya, secara umum pengertian ilmu  menuju pada tiga hal, yaitu: pengetahuan, aktivitas, dan proses.  Dalam hal yang pertama dan inilah yang paling umum dimengerti oleh masyarakat, bahwa ilmu berarti pengetahuan (knowledge). Banyak filsuf dari berbagai aliran memahami bahwa ilmu adalah kumpulan yang sistematis dari pengetahuan (any systematic body of knowledge). Sebagaimana seorang filsuf  John G. Kemeny, juga memakai istilah untuk semua pengetahuan yang dihimpun dengan perantaraan metode ilmiah (all knowledge  collected by means of the scientific method).   Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktifitas manusia, yaitu perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya aktifitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktifitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktifitas itu bersifat rasional, kognitif dan teologis. Jadi , pada dasarnya ilmu adalah suatu proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif  adalah suatu rangkaian aktifitas seperti pengenalan, penerapan, dan pengkonsepsian, dan penalaran yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan tentang suatu hal.  Di dalam upaya untuk mengetahui sesuatu hal  memerlukan alat yaitu : pengalaman (sense experience), nalar (reason), intuisin (intuition), Wahyu (revelation). Sepanjang sejarah kefilsafatan alat-alat untuk mengetahui tersebut memiliki peranan masing-masing, baik secara sendiri-sendiri maupun berpasangan satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. ILMU dan NILAI&lt;br /&gt; Istilah ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang bermakna ganda, yaitu mengandung arti lebih dari satu. Oleh karena itu dalam pemakaian istilah tersebut harus menegaskan atau sekurang-kurangnya menyadari arti mana yang dimaksud. Menurut cakupannya, pertama-tama ilmu merupakan istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai satu kebulatan. Jadi , dalam arti yang pertama ini ilmu mengacu pada ilmu seluruhnya. Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari suatu pokok soal tertentu. Dalam arti ini ilmu berarti suatu cabang ilmu khusus seperti misalnya antropologi, biologi, geografi, dan lain-lain.  Namun dalam istilah Inggris ”science” kadang-kadang diberi arti sebagai ilmu khusus yang lebih terbatas lagi, yakni sebagai pengetahuan sistematis mengenai dunia fisik atau material ( systemic knowledge of the physical or material world). &lt;br /&gt; Lalu bagaimana nilai dalam ilmu pengetahuan? Seorang ilmuwan haruslah bebas dalam melakukan eksperimen-eksperimennya. Kebebasan inilah yang nantinya akan dapat mengukur kualitas kemampuannya, tanpa mau terikat dengan nilai-nilai subyektif, seperti nilai-nilai dalam masyarakat, nilai adat, nilai agama, dan sebagainya. Sehingga dapat dihasilkan ”ilmu yang bebas nilai”, atinya kebebasan dalam melakukan penelitiannya dalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya. &lt;br /&gt; Setelah ilmu mendapatkan otonomi yang terbebas dari segenap nilai, maka ilmu dengan leluasa dapat mengembangkan diri baik yang berbentuk abstrak maupun konkret seperti teknologi. Teknologi sangat dirasakan manfaatnya, lebih tepatnya telah memberikan berbagai kemudahan untuk manusia. Namun tidak jarang pula teknologi justru mengakibatkan proses dehumanisasi. Lalu bagaimanakah menghadapi persoalan yang seperti ini? Apakah hal ini merupakan masalah kebudayaan ataukah masalah moral, jika dikatakan bahwa ilmu menimbulkan akses yang negatif terhadap masyarakat ?&lt;br /&gt; Di hadapkan dengan masalah moral dalam akses ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi kedalam dua golongan pendapat:&lt;br /&gt;a. Golongan pertama berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik secara ontologis maupun aksiologis. Artinya, ilmuwan hanya menemukan pengetahuan dan di gunakan untuk tujuan baik atau buruk adalah terserah pada orang yang menggunakannya.&lt;br /&gt;b. Golongan kedua berpendapat, bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada meta fisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya harus berlandaskan nilai-nilai moral. &lt;br /&gt; Dari dua pendapat golongan di atas terlihat bahwa netralitas ilmu terletak pada aspek epistemologinya saja. Artinya tanpa berpihak kepada siapapun selain kepada kebenaran yang ilmiah. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis ilmuwan harus mampu menilai mana yang baik dan mana yang buruk, yang pada hakikatnya mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat  sehingga tidak terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan akibat yang paling menakutkan.&lt;br /&gt; Dari penjelasan diatas, maka kita akan melihat tiga faktor sebagai indikator ”ilmu pengetahuan yang bebas nilai”, yaitu:&lt;br /&gt;a. Ilmu harus bebas dari pengandaian, yakni bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politik, ideologi, agama, budaya, dan unsur-unsur kemasyarakatan lainnya.&lt;br /&gt; b. Perlunya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu pengetahuan terjamin.&lt;br /&gt;c. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis itu sendiri bersifat netral.&lt;br /&gt; Dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan baik yang berupa teknologi maupun teori-teori emansipasi masyarakat dan sebagainya, haruslah memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat, dan sebaginya. Ini artinya ilmu pengetahuan adalah tidak bebas nilai tanpa batas, karena ilmu telah berada ditengah-tengah masyarakat luas, dan masyarakatlah yang akan mengujinya, dan menjadi tanggung jawab masyarakat untuk menciptakan hal yang positif.&lt;br /&gt; Ilmu pengetahuan harus terbuka pada konteksnya, dan agamalah yang menjadi konteksnya. Agama mengarahkan ilmu pengetahuan pada tujuan hakikinya, yakni memahami realitas alam dan memahami eksistensi Allah SWT agar manusia menjadi sadar akan hakikat penciptaan dirinya, dan tidak mengarahkan ilmu pengetahuan monoton pada kawasan praksis yakni pada kemudahan-kemudahan material duniawi. Solusi yang diberikan al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan yang terikat dengan nilai adalah dengan cara mengembalikan ilmu pengetahuan pada jalur yang semestinya, sehingga ia menjadi berkah dan rahmat kepada manusia serta alam, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;2. KEBENARAN ILMIAH&lt;br /&gt; Para ilmuwan sebagai orang yang profesional dalam bidang keilmuwan tentu perlu memiliki visi moral sebagai ilmuwan. Moral inilah dalam filsafat ilmu disebut sebagai ilmiah.  Sikap ilmiah adalah suatu sikap yang diarahkan untuk mencapai pegetahuan ilmiah yang bersifat obyektif, dan bukan membahas tentang tujuan dari ilmu, melainkan bagaimana cara untuk mencapai suatu ilmu yang bebas dari prasangka pribadi dan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara sosial untuk melestarikan dan menjaga keseimbangan alam ini serta dapat dipertanggung jawabkan kepada Allah Tuhan semesta alam. &lt;br /&gt;Menurut Abbas Hamami, ada beberapa sikap ilmiah yang perlu dimiliki ilmuwan, antara lain:&lt;br /&gt;a.  Tidak ada pamrih&lt;br /&gt;b.  Bersikap selektif&lt;br /&gt;c. Adanya sikap tidak cepat merasa puas terhadap penelitian yag telah   dilakukan sehingga selalu ada dorongan untuk melakukan riset&lt;br /&gt;d. Ilmuwan harus memiliki sikap etis yang selalu menginginkan mengembangkan ilmu untuk kebahagiaan manusia serta untuk pembangunan bangsa dan negara.&lt;br /&gt; Dalam konteks filsafat ilmu, di kenal tiga jenis kebenaran, yaitu: kebenaran ontologis, kebenaran epistimologis, dan kebenaran aksiologis. Menurut Bahtiar bahwa ketiga kebenaran tersebut secara inheren bisa masuk kepada kebenaran epistimologis. Adapaun kebenaran epistimologis yang dimaksud adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia.  Paling tidak terdapat tiga teori tentang ukuran kebenaran tersebut, yaitu teori korespondensi, teori koherensi, dan teori pragmatisme (fungsional). Sedangkan menurut Sumarna, terdapat perbedaan para digma yang cukup kental dari teori-teori tersebut.  Antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;a.  Teori koherensi lebih mendasarkan diri pada kebenaran rasio.&lt;br /&gt;b. Teori korespondensi lebih mendasari diri pada kebenaran faktual, karena data dan fakta memiliki kebenaran obyektif pada dirinya.&lt;br /&gt;c. Kebenaran fungsional lebih menitik beratkan pada fungsi dan kegunaan kebenaran itu sendiri. &lt;br /&gt; Sekalipun terdapat perbedaan yang begitu kental, beliau melihat terdapat persamaan, bahwa seluruh teori tersebut melibatkan logika (formal dan informal atau deduktif dan induktif), melibatkan bahasa, yaitu adanya kerangka pengujian, dan pengalaman.  Untuk lebih jelasnya tentang teori-teori kebenaran ini akan dijelaskan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Teori koherensi : teori ini pertamakali dirumuskan  oleh Pytagoras, selanjutnya dikembangkan oleh Hegel pada abad ke 19.  teori ini, disebut juga dengan istilah yang berbeda, yaitu teori konsistensi, artinya bahwa kebenaran itu konsisten dengan kebenaran sebelumnya. Dengan kata lain, bahwa teori itu dianggap benar apabila tahan uji (testable).  Pada prinsipnya teori ini menggunakan metode deduksi (umum – khusus) yang tingkat kebenarannya adalah kuat dan lebih meyakinkan. &lt;br /&gt;b. Teori korespondensi : teori ini awalnya dirumuskan oleh Aristoteles, yang kemudian dilanjutkan oleh Betrand Rusel (1872-1970). Menurut teori korespondensi, bahwa kebenaran adalah kesetiaan terhadap realitas obyektif, yakni adanya kesesuaian antara pernyataan tentang fakta dengan situasi yang dilukisan.  Secara sederhana teori ini dapat disimpulkan menjadi dua hal, yaitu pernyataan dan kenyataan yang berkesesuaian. Pada prinsipnya , teori ini menggunakan metode induksi (khusus-umum), sehingga tingkat kebenarannya agak rendah karena sifat metode induksi itu sendiri. &lt;br /&gt;c.Teori pragmatisme (Fungsional) yaitu teori yang kelahirannya, awal kali dicetuskan oleh Charles S. Peirce, yang kemudian dikembangkan oleh William James dan John Dewey pada abad ke-19.  terutama setelah teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin menempati posisi yang signifikan dalam percaturan pengetahuan. Menurut teori pragmatisme, bahwa kebenaran dan pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan manusia.  Dengan demikian tingkat kebenaran dari teori ini adalah lemah karena nampak unsur subyektifisme. &lt;br /&gt; Upaya agar kita bisa sampai pada kebenaran ilmiah, kita harus memulai dengan berpikir ilmiah yaitu dengan menggabungkan berpikir deduktif (umum-khusus) dengan berpikir induktif (Khusus-umum).  Dimana hipotesis diturunkan dari teori, kemudian diuji melalui verifikasi data secara empiris. Dengan demikian terjadi siklus berpikir. Berpikir rasional menghasilkan hipotesis, kemudian kebenaran hipotesis mengalami pengujian secara empiris. Pengujian tersebut adalah dengan jalan mengumpulkan dan menganalisis data yang relevan untuk menarik kesimpulan apakah hipotesis itu benar atau tidak. Hipotesis yang ternyata didukung oleh fakta empiris dikukuhkan sebagai jawaban yang definitif. Cara berpikir  atau proses berpikir seperti diatas di sebut juga metode logiko-hipotetiko-verifikatif. &lt;br /&gt; Suatu fenomena sebagaimana ditentukan oleh pusat perhatian ilmuwan menjadi obyek sebenarnya dari cabang suatu ilmu. Berbagai keterangan mengenai obyek sebenarnya dituangkan dalam pernyataan yang memuat pernyataan ilmiah mempunyai empat bentuk,   yaitu:&lt;br /&gt;a. Deskripsi&lt;br /&gt;Merupakan kumpulan pernyataan bercorak deskriptif dengan memberikan pemerian mengenai bentuk, susunan, peranan, dan hal-hal terperinci lainnya dari fenomena yang bersangkutan. Bentuk ini umumnya terdapat pada cabang ilmu-ilmu khusus, terutama yang bercorak deskriptif seperti ilmu anatomi atau geografi&lt;br /&gt;b. Preskrepsi&lt;br /&gt;Ini merupakan kumpulan pernyataan bercorak preskriptif dengan memberikan petunjuk-petunjuk atau ketentuan-ketentuan mengenai apa yang perlu berlangsung atau sebaiknya dilakukan dalam kaitannya dengan obyek sederhana itu. Ilmu ini dapat dijumpai dalam cabang-cabang ilmu sosial, seperti ilmu pendidikan yang memuat petunjuk-petunjuk cara mengajar yang baik didalam kelas.&lt;br /&gt;c. Eksposisi pola&lt;br /&gt;Bentuk ini merangkum pernyataan-pernyataan yang merangkum pola-pola dalam sekumpulan sifat, ciri, kecenderungan, atau proses lainnya dari fenomena yang ditelaah. Seperti dalam sosiologi yang memaparkan pola-pola perubahan masyarakat pedesaan menjadi masyarakat kota&lt;br /&gt;d. Rekonstruksi historis&lt;br /&gt;Bentuk ini berusaha merangkum pernyataan-pernyataan yang berusaha mengambarkan atau menceritakan dengan penjelasan atau alasan yang diperlukan mengenai pertumbuhan sesuatu hal pada masa lampau baik secara alamiah atau karena campur tangan manusia. Cabang-cabang ilmu yang banyak mengandung ilmu khusus ini misalnya historigrafi, ilmu purbakala, dll. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ETIKA KEILMUAN&lt;br /&gt; Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.  Makna etika digunakan dalam dua bentuk arti. Yang pertama, etika merupakan suatu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan-perbuatan manusia seperti baik, jelek, menarik, dan sebagainya. Kedua, etika merupakan hal-hal yang digunakan untuk membedakan hal-hal atau perbuatan-perbuatan manusia yang lain, seperti ia bersifat etis, ia seorang yang jujur, pembunuhan merupakan sesuatu yang asusila, dan sebagainya. Dengan demikian maka etika itu menilai perbuatan manusia, atau dapat juga dikatakan bahwa etika mempelajari tentang tingkah laku manusia ditinjau dari kondisi yang normatif, yaitu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki manusia terhadap lingkungan dari fenomena sekitarnya. &lt;br /&gt;Etika keilmuan merupakan etika normatif yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan.  Tujuan etika keilmuan adalah agar ilmuwan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral yaitu melaksanaka yang baik dan menghindari dari yang buruk kedalam perilaku keilmuannya.&lt;br /&gt;Pokok persoalan pada etika keilmuan selalu mengacu pada elemen-elemen kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik (kegunaan). Hati nurani disini adalah pengahayatan tentang yang baik dan yang buruk ketika dihubungkan dengan perilaku manusia.&lt;br /&gt;Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan norma moral. Dimana nilai moral tidak dapat berdiri sendiri, tetapi ketika ia berada pada atau menjadi milik seseorang, ia akan bergabung dengan nilai yang ada seperti nilai agama, hukum, budaya, dan sebagainya. Sedangkan nilai moral adalah sebagai tolok ukur yang dapat dipakai masyarakat untuk mengukur nilai kebaikan seseorang.  Sehingga bagi seorang ilmuwan, nilai dan moral yang dimilikinya akan menjadi penentu kebaikannya sebagai seorang ilmuwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PENUTUP&lt;br /&gt;1. Kehidupan manusia senantiasa tidak pernah terlepas dari pengetahuan atau yang kita sebut dengan ilmu. Inilah kelebihan mahluk yang dinamakan manusia dengan mahluk lainnya. Dimana manusia dengan akalnya mampu untuk mengetahui banyak hal, yang kemudian menguhubung-hubungkannya sehingga membentuk pengetahuan baru atau menghasilkan karya yang berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;2. ”Ilmu pengetahuan bebas nilai” hanya berada pada tataran epistimologi, yakni tanpa berpihak pada siapapun dan hanya berpegang kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan dalam aspek ontologi dan aksiologi, ilmuwan harus mampu menilai antara baik dan buruk dengan landasan nilai moral yang kuat.&lt;br /&gt;3. Etika keilmuwan merupakan etika normatif yang merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggung jawabkan secara rasional dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan. Dimana hasilnya yang berupa teknologi maupun teori emansipasi masyarakat, haruslah memperhartikan nilai-nilai kemanusiaan, agama, adat, dan sebagainya, ketika diterapkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR  PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas Hamami. M., dalam tim dosen Filsafat Ilmu,Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1996&lt;br /&gt;Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, Akal dan Hati sejak Thales dan Capra, Bandung: Rosdakarya, 2001&lt;br /&gt;Ali Anwar dan Tono TP, Ilmu Perbandingan Agama-agama dan Filsafat, Bandung: Pustaka Setia, 2005.&lt;br /&gt; Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004&lt;br /&gt;Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu : Dari Hakikat Menuju Nilai, Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2006&lt;br /&gt;Conny R Samiawan, Dimensi kreatif dalam Filsafat ilmu, Bandung : Renadka Karya, 1988 &lt;br /&gt;I.R Poedjawijatna, Pembimbing ke Arah Filsafat, Jakarta : Rineka Cipta, 1994&lt;br /&gt;John G Kemeny, A Philoshopy Looks at Science, New York : Van Nastrand Reindhold, 1959&lt;br /&gt;Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu  Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2003&lt;br /&gt;Nana Sudjana, Tuntunan Menyusun Karya Ilmiah, Bandung : Sinar Baru Algesindo, 2003&lt;br /&gt;Nurcholis Majid dkk. Ensiklopedi Islam, Jakarta : Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999&lt;br /&gt;Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Jakarta: Rineka Cipta, 1993&lt;br /&gt;Surajiyo , Ilmu Filsafat sebagai Pengantar, Jakarta : Bumi Aksara, 2005&lt;br /&gt;Paul Robinow, Method and Epistemology (terjemah), Yogyakarta : Jalasutra, 2002&lt;br /&gt;The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 1997&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-2394930818075135222?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/2394930818075135222/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/filsafat-ilmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/2394930818075135222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/2394930818075135222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/filsafat-ilmu.html' title='filsafat ilmu'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-4850294947509658604</id><published>2009-08-03T00:22:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T00:23:32.280-07:00</updated><title type='text'>ulumul hadith</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hadith Zaman Khulafa ar-Rasyidin&lt;br /&gt;Serta  Sikap Sahabat Khulafa ar-Rasyidin dalam  Penerimaan Hadith&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Al-Sunnah menurut bahasa berarti jalan hidup yang dijalani atau dibiasakan, baik jalan hidup itu baik atau buruk . Pengertian ini sejalan dengan bunyi hadith riwayat Imam Muslim&lt;br /&gt;من سنّ سنة حسنة فله أجره وأجر من عمل بها ومن سنّ سنة سيئة فله وزره ووزر من عمل بها (رواه مسلم)&lt;br /&gt;(man sanna sunnatan hasanatan falahu ajruhu wa ajru man ‘amila biha, wa man sanna sunnatan sayiatan falahu wizruhu wawizru man ‘amila biha), yang artinya:” Barang siapa membuat sunnah terpuji, maka baginya pahala sunnah itu dan pahala orang lain yang mengamalkannya, dan barang siapa menciptakan sunnah yang buruk, maka ia mendapat sunnah buruk itu dan dosa orang yang mengamalkannya”. (HR. Muslim).  Demikian juga ada hadith yang diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim yang artinya;” kamu semua pasti akan mengikuti sunnah-sunnah orang yang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, dan sehasta demi sehasta. &lt;br /&gt;Sedangkan kalau kita lihat pengertian sunnah menurut istilah sebagaimana para ahli hadith mendefinisikannya  ialah Sesuatu yang didapatkan dari Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik pada masa sebelum kenabian ataupun sesudahnya.  &lt;br /&gt;Sunnah dalam bentuk perkataan adalah sabda nabi yang diucapkan dalam berbagai kesempatan, yang berkaitan dengan penetapan hukum. Sedangkan sunnah dalam bentuk perbuatan ialah tindakan-tindakan Nabi Muhammad SAW dalam berbagai perkara baik ibadat maupun lainnya, sebagaimana contoh dari beliau tentang pelaksanaan shalat, manasik haji, adab atau tatacara untuk pelaksanaan puasa, serta pembuatan keputusan berdasarkan adanya saksi dan sumpah.&lt;br /&gt;Persetujuan atau taqrir ialah sikap Rosulullah Muhammad SAW terhadap berbagai  perbuatan sebagian sahabat dengan mendiamkannya disertai indikasi kerelaan atau memperlihatkan pujian dan dukungan. Termasuk yang pertama adalah mengenai persetujuan Nabi Muhammad SAW ketika para sahabat berselisih waktu Shalat Ashar ketika waktu perang dengan Banu Quraidlo pada saat Rosulullah SAW berpesan kepada mereka, “ jangan ada seorangun dari kamu yang shalat Ashar, kecuali dikalangan Banu Quraidhoh”. Sebagian sahabat memahami larangan itu menurut apa adanya, maka mereka menunda shalat Ashar itu sampai sesudah maghrib (setelah sampai di Banu Quraidhoh). Sebagian lagi memahaminya bahwa yang dimaksud ialah memacu para sahabat agar bergegas sehingga sampai di Banu Quraidhoh dan melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Berita tentang dua kelompok sahabat  ini sampai kepada Nabi, beliau menyetujui kedua-duanya dan tidak mengingkari mereka. Contoh yang lain adalah cerita tentang khalid bin Walid ra Yang makan biawak (al-dlabb), kemudian ia datang kepada Nabi Muhammad SAW, sementara nabi sendiri tidak memakannya. Sebagian sahabat bertanya. “Apakah diharamkan ya Rosulullah?” jawab beliau, “ tidak , tapi biawak itu tidak ada dikalangan kaumku, maka aku tidak biasa dengannya”.&lt;br /&gt;Ketika Rosulullah Muhammad SAW masih hidup, maka keberadaan hadith masih di dalam benak atau hafalan  para sahabat yang mulia. Dan para sahabat masih belum merasa ada kepentingan untuk melakukan kodifikasi atau penulisan secara terstruktur karena beliau Rosulullah masih bisa ditemui dengan mudah jika terdapat permasalahan yang perlu dipecahkan. Diantara sahabat, tidak semua bergaul dengan Rosulullah dalam kesehariannya. Ada yang tiap hari bisa ketemu dengan beliau, namun ada juga para sahabat yang bisa ketemu dengan beliau di waktu-waktu tertentu saja. Sehingga hadith yang dimiliki oleh para sahabat akan berbeda-beda tergantung intensitasnya ketemu dengan Nabi berikut kekuatan ingatan yang dimilikinya. Oleh karena itu Hadith yang dimiliki para sahabat tidak selalu sama banyaknya ataupun macamnya, demikian pula tingkat ketelitiannya. &lt;br /&gt;Namun dalam kehidupan para sahabat Rosulullah selalu ada tukar informasi diantara mereka. Sehingga yang terjadi pada masa itu perilaku Nabi Muhammad senantiasa tercermin dalam kehidupan para sahabatnya. Dengan demikian Hadith pada masa Rosul dan para sahabat beliau selalu dalam pengawasan dan kendali Nabi Muhammad SAW baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karenanya para sahabat tidak mudah melakukan kesalahan atau penyimpangan yang berlarut-larut. Pada masa inilah para ahli hadith menyebutnya sebagai sunnah muttaba’ah ma’rufah. Itulah setinggi-tinggi kekuatan kebenaran hadith.   &lt;br /&gt;Meski pada masa itu hadith berada pada ingatan para sahabat, namun ada sahabat yang menuliskannya untuk catatan pribadinya (bukan untuk kepentingan umum). Dintaranya Ali bin Abi Thalib (dalam Shahifahnya mengenai hukum-hukum diyat yaitu soal denda dan ganti rugi). &lt;br /&gt;Kalau kita kaji sejak meninggalnya beliau Rasulullah Muhammad SAW. yang menjadi  fokus perbincangan adalah kodifikasi al-Qur’an. Dalam pelaksanaan kodifikasi al-Qur’an para sahabat tidak banyak menemui kendala- kendala dikarenakan tugas panitia hanya mengumpulkan naskah-naskah dari para sahabat yang pada masa itu masih belum tersebar kesegenap pelosok negeri. Sehingga naskah-naskah yang ada ditangan para sahabat dikumpulkan kemudian disesuaikan dengan hafalan para sahabat lainnya yang secara mutawatir mereka terima dari Nabi dan secara ilmiah dapat dipastikan sebagai ayat-ayat al-Qur’an. &lt;br /&gt;Dalam perkembangan perjalanan Hadith secara seksama terkait dengan situasi dan keadaan historis sejak dari perkembangan awal sampai sekarang, dapat di kelompokkan menjadi tujuh  masa, dan masa sekarang telah memasuki periode ke tujuh.  Periode pertama, yaitu saat wahyu  dan pembentukan hukum dan dasar-dasarnya dari permulaan kenabian hingga beliau wafat pada tahun 11 hijriyah. Periode kedua, masa khulafa ar-Rasyidin yang dikenal dengan masa pembatasan riwayat. Periode ketiga, masa perkembangan riwayat, yaitu masa sahabat kecil dan tabiin besar. Periode keempat, masa pembukuan hadith (permulaan abad ke dua Hijriyah). Periode kelima, masa pentashhikan dan penyaringan (awal abad ketiga). Periode keenam, masa memilah kitab-kitab hadith dan menyusun kitab-kitab jami’ yang khusus (awal abad keenam sampai tahun 656 H). Periode ketujuh, masa pensyarahan, penghimpunan, pen-takhrij-an, dan pembahasan, dimulai pada saat jatuhnya Baghdad hingga sekarang. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;1. Pemahaman sahabat mengenai hadith &lt;br /&gt;Sahabat ialah orang yang berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW dalam keadaan beriman, dan ketika meninggal dunia masih dalam keadaan Islam.  Ada pula yang mengatakan, sahabat adalah orang yang bertemu dan hidup bersama Rasulullah SAW minimal setahun lamanya. Pendapat ini berdasar pada ta’rif sahabat yang dikemukakan oleh Sa’id ibn al-Musayyab, yaitu orang yang bertemu dan berperang bersama nabi atau ditetapkan lama pergaulannya dengan nabi setahun atau dua tahun.&lt;br /&gt;Dari segi kemuliaan dan perjumpaan dengan rasul, derajat sahabat semuanya sama. Tetapi , dilihat kapan mereka masuk Islam, lamanya bersama dengan nabi, besar pengorbanannya terhadap Islam, dan ilmu yang dimiliki sahabat itu berbeda-beda peringkatnya. Selain itu, jumhur ulama berpendirian bahwa seluruh sahabat bersifat ‘adalah dan terpercaya dalam meriwayatkan hadith Rasulullah SAW. ‘adalah yang dimaksud disini harus dipahami dalam rangka periwayatan hadith. Dalam meriwayatkan dan memahami hadith seorang sahabat harus memiliki sifat-sifat tertentu agar periwayatannya dapat diterima. Secara garis besar dalam hal ini menyangkut dua hal. Pertama, memelihara agamanya, seperti shalat. Kedua, memelihara muru’ah, yakni kepribadian, adat istiadat, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Sebagian ulama ada yang tidak sependapat dengan rumusan yang dibuat oleh jumhur ulama diatas. Mereka berpendapat bahwa para sahabat itu sama saja dengan manusia biasa lainnya. Mereka bisa lupa, keliru, dan lain-lain.  Tetapi, pendapat ini tidak menggugurkan rumusan yang di buat oleh jumhur diatas, karena yang dimaksud adalah sahabat secara kolektif, bukan perorangan. Sebagaimana pendapat para ulama berikut :&lt;br /&gt;a. Al-Ghazali berpendapat, semua sahabat adalah ’adil kecuali ada bukti bahwa ia    tidak ’adil.&lt;br /&gt;b. Banyak orang yang menyanjung Nabi, dan karena kekaguman itu, ada yang     menggunakan alasan dan bukti yang tidak benar. misalnya, riwayat yang mengatakan bahwa Umar bin Khattab disatu waktu menangis dan diwaktu lain tertawa. Ini diklaim sebagai bukti bahwa ia teringat tindakannya mengubur anak perempuannya hidup-hidup sebelum ia masuk Islam. Menurut al-Aqqad, yang memiliki tradisi membunuh anak perempuan dizaman jahiliyah bukan semua kabilah. Umar bin Khattab sendiri termasuk kabilah ’Ady, kabilah yang tidak memiliki tradisi membunuh anak.&lt;br /&gt;c. Jika periwayatan sahabat yang ditolak itu bukan karena mereka tidak ’adil, tapi dianggap mereka salah paham. Contoh, ’Aisyah berpendapat bahwa ayat yang pertama turun adalah surat al-Alaq, sementara Jabir berpendapat bahwa ayat yang pertama adalah al-Muddatsir. Para ’ulama menganalisis, Jabir bukan berarti tidak ’adil, akan tetapi ia salah faham.&lt;br /&gt;Selanjutnya pemahaman terhadap hadith sedikit banyak dipengaruhi oleh keadaan pribadi dan kecerdasan akal pikirannya. Namun secara umum pemahaman mereka terhadap hadith dapat dijamin kebenarannya, karena mereka memandang Nabi sebagai idola, dan mereka yakin bahwa ucapan nabi mengandung makna yang dalam, dan semua kebenaran.&lt;br /&gt;Para sahabat Rosulullah adalah orang yang terdekat dengan beliau, baik di masjid, di rumah, di perjalanan, maupun di tempat keramaian. Apapun yang menjadi perkataan beliau senantiasa diperhatikan serta menjadi acuan apa yang hendak mereka lakukan. Dimata mereka Rasulullah adalah sosok yang menjadi panutan serta pusat bertumpunya segala permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat . Sebab Rasulullah merupakan pusat kehidupan keagamaan dan keduniawian masyarakat sejak Allah memberikan  wahyu dan pengangkatannya sebagai Rasul dalam rangka menyelamatkan umat manusia. Para sahabat memahami bahwa diutusnya Rasulullah adalah sebagai pemberi petunjuk dari kesesatan menuju jalan lurus yakni jalan Ilahiyah. Oleh karena itu para sahabat menerima sunnah yang telah ditinggalkan oleh rasulullah sebagai pengalaman dan penghayatan hidup mereka.&lt;br /&gt;2. Cara sahabat menerima hadith&lt;br /&gt;Bahwa hadith sudah ada Sejak awal perkembangan Islam ádalah sebuah kenyataan yang tidak dapat diragukan lagi. Sesungguhnya semasa rasulullah masih hidup adalah wajar sekali jika kaum muslimin ( para sahabat ra) memperhatikan apa saja yang dilakukan maupun yang di ucapkan oleh beliau, terutama sekali yang berkaitan dengan fatwa-fatwa keagamaan. Orang-orang arab yang suka menghafal syair-syair dari para penyair mereka, ramalan-ramalan dari para peramal mereka dan pernyataan-pernyataan dari para hakim, tidak mungkin lengah untuk mengisahkan kembali perbuatan-perbuatan atau  ucapan-ucapan dari seorang yang mereka akui sebagai seorang Rasul Allah.  &lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi mengenai ketaatan para sahabat Rasulullah. Semua yang dilakukan oleh beliau Rasulullah senantiasa mereka kerjakan. Sahabat dalam hidupnya adalah cermin, bagaimana sunnah rasul dihayati dan diamalkan. Kegairahan mereka mengikuti nabi dalam sabda dan perbuatan sampai pada tingkat bahwa sebagian dari mereka bergantian menyertai Rasulullah di setiap waktu dan tempat. Hal ini menunjukkan bukti bahwa para sahabat itu memandang rasul dengan pandangan hendak mengikuti dan mencari petunjuk dalam ucapan serta  tindakan beliau, karena sudah jelas bagi mereka ada kewajiban mengikuti dan menuruti perintah dan larangannya. &lt;br /&gt;Namun dalam proses penulisan dan penukilan hadith dimasa para sahabat bahwa sunnah itu belum tercatat secara resmi sebagaimana al-Qur’an. Penyebab semuanya itu adalah bahwa rasulullah hidup selama 23 tahun, sehingga menuliskan ucapan, perkataan dan pergaulan beliau secara utuh dalam mushhaf dan lembaran-lembaran sangatlah sulit dilakukan. Sebab hal itu membutuhkan banyak orang diantara sahabat yang mencurahkan dalam pekerjaan berat ini. Dan setelah melihat perkembangan penyebaran hadith pada masa itu, Nabi tampaknya cukup khawatir para sahabat terjerumus dalam  penyampaian berita yang tidak benar, karena pada umumnya manusia cenderung untuk ”membumbui” berita yang ingin disampaikannya. Terlebih lagi yang dikawatirkan adalah terjadinya pencampur adukan antara al-Qur’an dan hadith. Sabda Rosululloh SAW &lt;br /&gt;لا تكتبوا عني شيئ إلا القرأن ومن كتب عنى شيئ غير القرأن فليمحه وحدثوا عني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه مسلم)&lt;br /&gt;(La taktubuu ’annii syaian illa al-Qur’an, waman kataba ’anni syaiaan ghoirol al-Qur’an fal yamhahu, wahaddithu ’annii wala haroja, waman kadzaba ’alayya muta’ammidan falyatabawa’ maq’adahu min an-naar). yang artinya ” janganlah kalian tulis apa saja dariku selain al-Qur’an, barang siapa telah menulis dariku selain al-Qur’an hendaklah dihapus. Ceritakan apa saja yang diterima dariku, ini tidak mengapa. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia meempati tempat duduknya di neraka (HR. Muslim)  &lt;br /&gt;Tetapi hal itu tidak mencegah kemungkinan tertulisnya sesuatu sunnah, tidak dalam arti pencatatan resmi sebagaimana al-Qur’an di catat. Para ulama  berselisih pendapat terkait menggabungkan hadith-hadith yang melarang dan yang membolehkan. Sehingga kita bisa berkeyakinan bahwa tidak ada pertentangan antara hadith-hadith yang melarang dan yang mengizinkan, dimana pelarangan tersebut adalah larangan pencatatan secara resmi sebagaimana al-Qur’an. Sedangkan izin, maka itu adalah kelonggaran untuk mencatat nash-nash sunnah untuk keadaan dan keperluan khusus untuk kepentingan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadith pada Masa Pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin&lt;br /&gt;Gelar khalifah pertama kali digunakan oleh Abu Bakar. Ketika ada sahabat yang menyebutnya Khalifatullah (khalifah Allah), ia menolaknya. Ia mengatakan:” Saya bukan khalifatullah, tetapi khalifah Rasul Allah SAW”. Kemudian Umar digelari khalifatu khalifati Rasul Allah (khalifa dari khalifa Rasulullah). namun ia menyebut dirinya Amirul mukminin. Usman dan Ali juga digelari khalifah Rasulullah SAW. Keempat khalifah tersebut dinamakan khulafa ar-Rasyidun, yaitu khalifah-khalifah terpercaya atau yang mendapatkan petunjuk. Gelar  al-Khulafa ar-Rasyidun berkaitan dengan kepemimpinan dan kapasitas mereka mempertahankan kemurnian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullahi SAW dan dalam mewujudkan kemaslahatan umat. Setelah nabi Muhammad SAW wafat, mereka adalah contoh ideal dalam penghayatan dan pengamalan agama serta pelaksanaan prinsip-rinsip pemerintahan dalam Islam dan dalam membimbing umat. Karena itu mereka mempunyai derajat yang spesifik dalam pandangan umat Islam. &lt;br /&gt;Menurut Muhammad bin Ahmad al-Dhahabi (w.1347 M), Abu Bakar merupakan sahabat nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatiannya dalam periwayatan Hadith.  Pernyataan al-Dhahabi ini di dasarkan atas pengalaman Abu Bakar ketika menghadapi kasus waris untuk seorang nenek. Suatu ketika , ada seorang nenek menghadap kepada khalifah Abu Bakar, meminta hak waris dari harta yang ditinggalkan oleh cucunya. Abu Bakar menjawab bahwa ia tidak melihat petunjuk Al-Qur’an dan praktek Nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek. Abu Bakar lalu bertanya pada para sahabat. Al-Mughiroh bin Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar, bahwa nabi telah memberikan bagian waris kepada nenek sebesar seperenam bagian.  Al-Mughirah mengaku hadir ketika nabi menetapkan demikian itu. Mendengar pernyataan tersebut Abu Bakar meminta agar al-Mughirah menghadirkan seorang saksi. Lalu Muhammad bin Maslamah memberikan kesasksian atas kebenaran pernyataan                al-Mughirah itu. Akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan memberikan seperenam bagian berdasarkan Hadith Nabi yang disampaikan al-Mughirah tersebut. &lt;br /&gt;Kasus diatas memberikan petunjuk, dalam melakukan penelitian, Abu Bakar meminta kepada periwayat Hadith untuk menghadirkan saksi, dan ini mengandung pengertian bahwa Abu Bakar hanya ingin lebih mantap dan berhati-hati saja terutama dalam penetapan hukum syara’ yang harus dilakukan secara teliti dan waspada. Bukan merupakan kebijaksanaan tetap bagi Abu Bakar dan tidak merupakan metode untuk tidak menerima hadith kecuali dengan dua perawi.&lt;br /&gt;Ada riwayat yang lain pula, bahwa Abu Bakar sendiri telah bersedia membakar shahifah-shahifah miliknya. Tindakan Abu Bakar tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) mungkin Abu Bakar merasa bahwa catatan-catatan hadithnya tersebut tidak persis dengan apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. (2) mungkin menurut Abu Bakar sendiri, apa yang dibakarnya itu sudah sama dengan yang terdapat pada sahabat yang lainnya.  &lt;br /&gt;Sebagaimana Abu Bakar, khalifah selanjutnya Umar bin Khattab juga terkenal sangat hati-hati dalam periwayatan hadith. Hal ini terlihat misalnya, ketika umar mendengar hadith yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab, Umar baru bersedia menerima hadith dari Ubay, setelah para sahabat yang lain, seperti Abu Dzar menyatakan telah mendengar hadith nabi tentang apa yang dikemukakan oleh Ubay tersebut. Akhirnya Umar berkata kepada Ubay : ”Demi Allah sungguh saya tidak menuduhmu telah berdusta. Saya bertindak demikian karena saya ingin berhati-hati dalam periwayatan hadith Nabi”.  Dan juga terdapat riwayat lain menyatakan bahwa didepan Abu Salamah, Abu Hurairah mengaku bahwa seandainya ia meriwayatkan hadith di masa Umar menjadi khalifah, seperti yang ia lakukan pada masa itu (setelah Umar wafat), niscaya Umar akan mencambuknya. Umar bin Khattab juga menekankan agar para sahabat menyedikitkan dalam  periwayatan hadith. &lt;br /&gt;Namun agak berbeda dengan khalifah yang pertama yakni Abu Bakar dan khalifah yang kedua yakni Umar bin Khattab. Dari beberapa sumber yang dapat menjelaskan sahabat Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, dapat diterangkan bahwa dua khalifah terakhir sebagaimana dua khalifah sebelumnya melakukan gerakan pengetatan Hadith. Walaupun tidak seketat dan seradikal apa yang dilakukan oleh Abu Bakar maupun Umar bin Khattab. Sikap sedikit longgar yang diambil oleh dua khalifah terakhir ini mungkin disebabkan oleh pribadi dua khalifah itu yang tidak sekeras umar bin khattab, dan juga akibat dari wilayah kekuasaan Islam yang semakin luas, sehingga menyulitkan adanya kontrol yang ketat terhadap kegiatan periwayatan Hadith. Sehingga pengaruhnya bagi perkembangan periwayatan Hadith dimasa Usman dan Ali ini lebih banyak, dibandingkan dengan masa dua khalifah sebelumnya. &lt;br /&gt;Secara pribadi Usman bin Affan jauh lebih sedikit meriwayatkan Hadith , dibanding dengan empat khalifah yang lain. Sedangkan Ali  dalam meriwayatkan hadith, di samping lisan juga tertulis . Sebagaimana telah diketahui, salah satu sahabat yang rajin menulis hadith diantaranya adalah Ali bin Abu Thalib, yang hasil dari tulisannya terkumpul dalam Shahifah Ali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Simpulan&lt;br /&gt;1. Al-hadith ditulis di masa Rasul, tidak dalam arti pencatatan resmi sebagaimana    al-Qur’an di catat. Akan tetapi hanya sebatas pada keperluan dan kepentingan pribadi.&lt;br /&gt;2. Ketika Abu Bakar meminta periwayat untuk menghadirkan saksi, sebenarnya dalam rangka untuk kemantapan dan kehati-hatiannya dalam menetapkan hukum syara’ dan bukan merupakan metode untuk tidak menerima hadith kecuali dengan dua perawi. Demikian juga yang dilakukan oleh Umar bin Khattab, beliau sangat ketat dalam periwayatan Hadith.&lt;br /&gt;3. Dua khalifah yang terakhir yakni, Usman dan Ali juga melakukan pengetatan periwayatan hadith, hanya saja tidak seketat dan seradikal dari dua khalifah sebelumnya. Ali bin Abu Thalib termasuk sahabat yang banyak meriwayatkan hadith disamping lisan, juga tulisan yang terkumpul dalam shahifah Ali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR   PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Dhahabi, Tadzkirotul al-Huffazh, Haderabat: The Dairoti al-Maarif al-Usmani, 1955, Juz. I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuddin Nata,  Al-Quran dan Hadits,  Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996&lt;br /&gt;Abdullah Ahmad bin Hambal, Musnad Ahmad bin Hambal, Beirut: al Maktab al-Islami, 1978, Juz.I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adib Shalih, Muhammad,   Lamhat fi Ushul al-Hadith,     Beirut :     al-Maktabah     Al-Islamy, 1399H &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ajjaj  al-Khatib, Muhammad  , Ushulul Hadith,  Beirut :  Dar al-Fikr, tanpa tahun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Siba’I, Musthafa, Sunnah dan peranannya dalam penetapan hukum Islam, Jakarta : Pustaka Firdaus, 1991&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarh  an-Nawawi, Mesir: al- Mathba’at al-Mishriyah, 1924, Juz. I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An-Nawawi, shahih Muslim bi al-Sarhi An-Nawawi, dalam kitab al-zuhd wa al-raqaiq , Kairo: Sirkah Iqomahal-Din,  1349 H, Juz XVIII,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fazlur Rahman, Islamic Methodology in History, Anas Mahyudin (penterj.), Karachi : Central Institute of Islamic Research, 1965&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadith, Semarang : Pustaka Rizki Putra, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Muarif Ambary  dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta, Ichtiar baru Van Hoeve, 1999,  Jilid  II dan III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail, HM Syuhudi, kaidah kasahihan sanad hadith, Jakarta: Bulan Bintang, 1995&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-4850294947509658604?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/4850294947509658604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/ulumul-hadith.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/4850294947509658604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/4850294947509658604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/ulumul-hadith.html' title='ulumul hadith'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-2367757816587770809</id><published>2009-08-02T23:37:00.000-07:00</published><updated>2009-08-03T00:21:52.119-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;ABBASIYYAH &lt;br /&gt;DAN  PERKEMBANGAN LEMBAGA  PENDIDIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. PENDAHULUAN&lt;br /&gt; Ide Islam terdiri dari dua komponen, yaitu keimanan dan aturan yang bersandar kepada aqidah. Keimanan kepada Islam memberikan jawaban yang benar dan komprehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan manusia dan alam raya ini. Keimanan ini menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan menghubungkannya  dengan kehidupan sebelum adanya dunia ini dan setelah kehidupan setelah dunia ini berakhir. Karena itu aqidah Islam menyelesaikan pokok persoalan manusia dan memberikan dasar aturan untuk  mengatur seluruh urusan manusia. Sedangkan aturan yang diperuntukkan bagi manusia mencakup: hubungan manusia dengan tuhannya, urusan manusia dengan pribadinya, berbagai hubungan sosial masyarakat.  Karena Islam memberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan menempatkan sisi kemanusiaan pada konteksnya yang tepat, maka sistem dan budaya yang memancar dari aqidah Islam pasti akan mampu menjelaskan hakekat manusia dan memberikan pemecahan atas permasalahannya dengan benar. Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi Islam mengaturnya dalam konteks yang tepat, termasuk keinginan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt; Islam adalah agama  sempurna yang mengatur kehidupan keduniaan dan keakhiratan. Peradaban Islam telah mencapai puncak kegemilangannya ketika kendali negara dipegang Bani Abbasyiyah dan tidak bisa ditandingi oleh bangsa-bangsa lain pada masanya. Tingkat peradaban bisa diukur dengan adanya peninggalan-peninggalan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan buku dan karya. Jika kita ingin merujuk kepada pemikiran dan penulisan, kita akan melihat bahwa bangsa Arab-Islam telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh barat kecuali pada periode terakhir ini.&lt;br /&gt; Ada seorang ilmuwan yang hidup diabad  kedelapan hijriyah, ilmuwan tersebut mendapatkan bukunya disalah seorang muridnya, yaitu juz kedua puluh enam dari daftar isi buku tersebut. Namun, juz tersebut bukan satu-satunya buku. Setiap juz terdiri dari empat ratus kertas, yaitu sekitar delapan ratus halaman. Didalam buku tersebut hanya disebutkan nama-nama buku beserta nama-nama penulis, nasab, gelar, dan tahun wafat mereka. Cara inilah yang ditempuh oleh Haji Khalifah, penulis “Kasyf Azh-Zhunnun,” dalam menghitung nama-nama buku.  Jika kita hitung jumlah buku yang disebutkan dalam setiap jilid mencapai lebih dari enam belas ribu nama, dan jika kita anggap bahwa buku tersebut telah lengkap didalam setiap jilid, ini berarti bahwa buku-buku yang disebutkan dalam setiap jilid lebih dari empat ratus judul buku. Buku-buku tersebut menunjukkan karya-karya yang telah ditulis dalam bahasa arab pada abad ke delapan. Tentu saja, angka tersebut sangat besar jika kita melihat keterbatasan peralatan serta kecangggihan peralatan pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Perkembangan Pendidikan&lt;br /&gt; Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana telah diketahui, Bahwa Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang  melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang dengan membawa berbagai macam pencerahan melalui ilmu. Kalau di lacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya Ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yag menciptakan. Perintah ini tidak hanya  diucapkan sekali oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak. &lt;br /&gt; Al-Qur’an dan Hadith dijadikan kaum muslimin sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan.  Peran itu adalah : pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum muslimin terdapat dalam al-Quran. Dan sejauh pemahaman terhadap al-Quran terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, al-Quran dan Hadith menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan meningkatkan kebijakan dan keutamaan menuntut ilmu. Pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada tauhid. Karena itu seluruh metafiska dan kosmologi yang lahir dari kadungan Al-Quran dan Hadith merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu islam. Singkatnya, al-Quran dan Hadith menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam. &lt;br /&gt;Kebangkitan masa Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dengan masa sebelumnya, yakni masa Umawiyah. Perkembangan pengetahuan telah terjadi sejak zaman Umawiyah, bahkan kebiasaan tulis menulis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Misalnya As-Shohifah Ali, Ash-Shadiqah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, lembaran Jabir Athowilah, dan lembaran yang berisi ilmu waris yang ditulis Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Kodifikasi  hadith rasulpun di pelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah bani Umayyah. Kemudian, hadith ditulis didalam lembaran-lembaran masa periode kodifikasi kedua masa Abbasiyyah misalnya : Ibnu Juraij, Imam Malik, Sufyan As-Sauri, Al-Auzai dan lain-lain.  Akan tetapi gerakan penulisan dimasa Abbasiyyah terasa sangat kuat sehingga bisa membuat orang tercengang. Di Basrah buku-buku banyak ditulis, pemikiran dicetak dan disebarluaskan, serta ilmu nahwu dibuat. Di Kufah sejarah dan sastra ditulis, dan ilmu nahwu dikembangkan. Sedangkan di Bagdad ilmuwan berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan ilmu. Hingga ketika sampai ke masa Al-Makmun, kita akan melihat kebanyakan ilmuwan menulis dan mencetak buku.&lt;br /&gt; Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin di berbagai daerah secara umum, dan di wilayah Arab secara khusus, telah menempuh perjalanan melewati daratan, pegunungan, sungai, lautan, hutan, dan padang pasir untuk menunaikan kewajiban Haji, perang, maupun perdagangan. Di sepanjang kehidupan itulah, mereka selalu mengumpulkan berbagai macam informasi berkaitan masalah sosial, sejarah, politik, geografi, pertanian, dan berbagai kondisi didaerah yang mereka kunjungi. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan fisik dan eksperimental dari bangsa luar, sesungguhnya orang Islam  membutuhkan adanya penerjemahan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab. Tujuan sebenarnya tidaklah hanya menerjemahkan, namun juga kemudian mengembangkan hasil terjemahan tersebut untuk masa mendatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2. Pembentukan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt; Dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid, banyak disebut sebagai awal kali muncul pemikiran untuk membangun Baitul Hikmah sebagai lembaga penerjemah. Dan pada masa putranya Al-Ma’mun fungsinya diperluas  menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan penelitian.  Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan  dalam berbagai disiplin ilmu. Harun Al-Rasyid pula yang memiliki gagasan untuk mendirikan majlis al-Mudzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan dirumah-rumah, masjid-masjid dan istanah khalifah. Berlanjut  di masa al - Ma’mun lembaga pendidikan  semacam ini semakin digencarkan pengembangannya.&lt;br /&gt; Para Khalifah Bani Abbasiyyah hingga masa Al-Makmun mengambil keuntungan dari lembaga pendidikan (semacam madrasah) sebelumnya yang telah ada. Syam, Irak, Persia, dan Mesir ketika itu siap untuk menerima sebuah peradaban yang besar dan luas. Ada banyak lembaga pendidikan kuno yang sudah dikenal, dan ditempat tersebut sudah banyak buku di tulis dan diterjemahkan. Diantaranya lembaga pendidikan  Ruha, Nashibain, dan Harran. Sedangkan di Mesir ada lembaga pendidikan Alexandria, di Irak ada lembaga pendidikan Ash-Shabiah, di Persia ada lembaga pendidikan Jundisapur. Adapun lembaga-lembaga pendidikan di Syiria menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Suryani. Melalui perantara itu , pertama-tama para ilmuwan arab dan Islam melihat kepada peninggalan Yunani. Mereka mendapatkan manfaat dari penerjemahan  dalam semua ilmu. Adapun lembaga pendidikan Jundisapur menghasilkan para dokter bagi negara Abbasiyyah, serta penerjemahan buku-buku kedokteran sekaligus. &lt;br /&gt; Orang-orang Bani Abbasiyah juga banyak mengundang para ilmuwan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sudah terkenal untuk ke Baghdad dan mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan buku-buku kedalam bahasa Arab. Gerakan ilmiah ini dilakukan dengan rapi, dengan berdirinya lembaga formal untuk  pendidikan yaitu Baitul Hikmah. Embrio Baitul Hikmah ini telah didirikan di istana khalifah semenjak Harun Al-Rasyid. Semakin lama semakin meningkat hingga masa Al-Makmun. Disana banyak buku yang diterjemahkan dan ditulis. Serta didirikan pula tempat-tempat observasi dan sarana-sarana ilmu perbintangan. Tempat tersebut banyak diisi oleh para penghafal Al-Quran dan di hibahkan untuk para penerjemah dan para ilmuwan. Khalifah menjadikan tempat tersebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan pengurusan menejemennya sangat rapi. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Al-Makmun” dan menjadi terkenal.  Disamping itu juga ada tempat-tempat khusus sebagai pusat observatorium misalnya, Damaskus, Baghdad, dan Nishapur untuk melakukan observasi astronomi.&lt;br /&gt; Untuk kegiatan percobaan kimia, fisika, dan kedokteran dilakukan di laboratorium sedangkan percobaan dalam ilmu patologi dan operasi bedah di rumahsakit - rumahsakit. Bangsa Arab memperhatikan betul masalah kesehatan dan kedokteran. Mereka mendirikan rumah sakit yang waktu itu disebut “bimaristan”. Bangsa Arab mendirikannya semenjak Zaman Al-Walid bin Abdil Malik di Damaskus dan akhirnya berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyyah. Harun Al-Rasyid mendirikan rumah sakit umum (Bimaristan Al-Kabir) di Baghdad. Ia mendirikannya dengan model rumah sakit Persia, yang didalamnya banyak gudang obat-obatan. &lt;br /&gt; Kegiatan pembedahan mayat juga dilakukan untuk praktek pengajaran anatomi. Khalifah Al-Mu’tashim menyediakan mayat orang utan untuk tujuan ini. Demonstrasi praktek operasi bedah untuk mahasiswa ini juga dilakukan dirumah sakit.  Hal tersebut kemudian  dibandingkan dengan melihat tubuh yang terluka dalam peperangan. Mereka mengobati orang yang luka-luka, melakukan operasi, dan menggunakan obat bius atau sejenis obat perangsang (al-fatilah). Sehingga orang sakit tidak merasakan operasi yang dilakukan para dokter kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Macam-Macam Lembaga Pendidikan&lt;br /&gt;Pada masa Abbasiyyah ini telah berkembang berbagai macam institusi pendidikan, dari bentuk sistem  pendidikan yang sederhana sampai pada bentuk yang paling maju dan termodern dimasanya. ini menandakan bahwa semangat untuk mengkaji ilmu pengetahuan  sangat menonjol dan diperhatikan dengan serius. Macam-macam lembaga pendidikan dimasa Abbasiyyah diantaranya adalah : &lt;br /&gt;a. Kuttab&lt;br /&gt;   Dimasa Rosulullah SAW lembaga semacam ini dipergunakan untuk mengajarkan    al-Qur’an dan memberikan materi pelajaran dasar. Namun dalam perkembangannya kuttab sudah digunakan sebagai tempat  untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu agama.&lt;br /&gt;b. Pendidikan dasar di istana&lt;br /&gt;Kurikulum pada pendidikan ini diajarkan sesuai dengan keinginan kalangan istana yang mengundang syeikh untuk datang ke istananya. Sehingga guru-guru yang diundangpun sesuai dengan kebutuhan khalifah atau para pembesar istana. Guru yang datang ke istana ini disebut muaddib karena memberikan pelajaran yang meliputi akhlak dan kemampuan keilmuan lainnya. Dimasa ini peran orang tua sangat besar untuk menentukan materi apa yang harus disampaikan oleh seorang guru. Sebagaimana  kebiasaannya guru-guru  istana akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal yang dekat dengan pusat pemerintahan.&lt;br /&gt;c. Toko Buku&lt;br /&gt;Dimasa kekhilafahan Abbasiyyah toko-toko buku banyak ditemui disudut-sudut kota, dan diperkirakan mencapai 100 buah. Toko-toko buku pada masa itu tidak hanya bersifat komersial saja, namun justru fungsinya lebih luas lagi. Ketika orang mau ikut untuk berdiskusi tentang suatu masalah, maka ia bisa saja datang ke toko buku untuk mendiskusikannya. Bahkan di toko-toko buku tersebut telah disediakan ruangan serta waktu untuk berdebat dan pidato sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Rumah Ulama’&lt;br /&gt;Disamping masjid yang sering digunakan untuk melakukan kajian, rumah-rumah para ulama dan tokoh masyarakat pada masa itu juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mengkaji ilmu. Misalnya, Ilmuwan  Ibnu Sina menggunakan waktu malamnya untuk membaca kitab Asy-Syifa’ yang dilakukan didalam rumahnya sendiri.&lt;br /&gt;e. Salon Sastra      &lt;br /&gt;Salon sastra banyak berkembang dikalangan bangsawan, mulai dari istana-istana raja sampai dengan level wazir. Ini menandakan greget keilmuan yang luar biasa dari kaum muslimin pada masa itu yang mungkin sulit kita cari bandingannya kecuali pada masa modern sekarang ini. Pada forum ini sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang dengan berbagai macam aturan yang sangat rinci, agar adab-adab dari peserta  kepada seorang khalifah tetap terjaga. Penempatan peserta diforum salon sastra ini juga bertingkat-tingkat sesuai kelasnya dengan susunan tempat duduk yang berbeda. Peserta harus memperhatikan khalifah, dengan menggunakan gaya bicara yang lemah lembut, serta tidak boleh menyela pembicaraan ketika dalam forum.     &lt;br /&gt;f. Badiyat&lt;br /&gt;Ada  wilayah-wilayah Badui yang dijadikan sebagai tempat untuk mempelajari bahasa arab. Sehingga banyak pembesar istana atau para ilmuwan yang ingin mendalami bahasa ia harus berguru kepada mereka, dan belajar ditempat para badui tersebut. Namun kadangkala orang-orang istana yang mengundang mereka untuk memberikan materi kesusastraan arab  di istana. Termasuk khalifah Al-Mu’tashim yang pernah pergi ke Badiyat beberapa waktu lamanya dalam rangka mempelajari sastra arab.&lt;br /&gt;g. Madrasah&lt;br /&gt;Berkembangnya madrasah ini disebabkan karena ada bidang-bidang studi baru yang tidak mungkin dilaksanakan lagi didalam masjid. Sehingga membutuhkan tempat khusus yang representatif agar pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Madrasah-madrasah pada masa itu hampir menyamai tempat pendidikan pada masa sekarang ini, jika ditinjau dari sisi sarana prasarana penunjang pendidikan. Setiap madrasah memiliki iwan (tempat khusus untuk proses belajar mengajar). Dilengkapi dengan perpustakaan madrasah, dan disediakan pula beasiswa bagi peserta didik. Penentuan kurikulum madrasah senantiasa dipantau dan dikontrol oleh penguasa sehingga terjaga tujuan yang hendak dicapainya.&lt;br /&gt;h. Nidlomul Muluk&lt;br /&gt;Nidlomul muluk merupakan lembaga pendidikan sebagaimana madrasah pada zaman sekarang ini. Sistem tingkatannya dibagi menjadi dua, ada tingkatan rendah dan ada tingkat menengah.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Peran Masjid dalam Pengembangan Keilmuan&lt;br /&gt; Sebagaimana Rosululloh SAW ketika memulai mengenalkan islam kepada masyarakat, beliau memusatkan pada masjid sebagai simbol kebersamaan serta sebagai tempat untuk menyususn rencana dan aktivitas yang penting dalam pengaturan masyarakat.  Pada masa kekhilafahan Harun Al-Rasyid sampai pada masa Al-Makmun masih banyak menggunakan masjid sebagai pusat pengkajian ilmu. Para ilmuwan berkumpul dan berdiskusi serta menulis.  Sehingga fungsi masjid pun meluas, tidak hanya digunakan untuk shalat maupun membaca al-Qur’an. Namun masjid juga banyak difungsikan sebagai salah satu tempat untuk masyarakat belajar berbagai macam ilmu.    &lt;br /&gt; Dalam rangka untuk mengembangkan ide-ide yang sudah diawali oleh orang tuanya yakni Harun Al-Rasyid, maka Al-Ma’mun tinggal  meneruskan untuk mengembangkannya. Masjid-masjid pada masanya juga dibangun tidak hanya sebagai tempat beribadah saja, akan tetapi juga difungsikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Diberbagai kota-kota besar terdapat masjid-masjid yang dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan.  Ini menandakan bahwa perhatian khalifah pada saat itu lebih fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.&lt;br /&gt; Al-Khatib  Al-Baghdadi ketika berbicara tentang Ahmad bin Abi Thahir menulis, bahwa  disetiap 5 masjid ada satu pemandian umum. Dan jumlah masjid pada saat itu (masa Al-Makmun) sebanyak tiga ratus ribu masjid. Al-Katib              Al-Baghdadi pun memberikan bukti berupa angka yang menunjukkan tentang peradaban tersebut tentang jumlah pemandiannya. Dia memberikan angka melebihi gambaran yang kita bayangkan. Minimal dalam satu masjid tidak kurang dari lima orang penjaga, sehingga dalam tiap harinya minimal ada satu juta lima ratus orang yang memanfaatkan pemandian umum yang disediakan di masjid-masjid.   &lt;br /&gt; Kalau kita kelompokkan masjid berdasarkan pengelolaan dan pendanaanya, ada dua jenis masjid yang berkembang pada masa itu, yakni :&lt;br /&gt;1.  Masjid jami’ atau masjid raya sebagai masjid resmi milik pemerintah, sehingga kegiatan-kegiatanpun disesuaikan dengan program yang ditetapkan pemerintah. Pendanaan untuk setiap kegiatan di masjid jami’ ini mendapatkan bantuan atau bahkan didanai sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga kegiatan keilmuan pada masa itu bisa berkembang pesat serta menjangkau kesetiap tempat karena melalui lembaga-lembaga non formal semacam masjid ini.&lt;br /&gt;2. Masjid non jami’  atau masjid yang dikelolah oleh masyarakat secara mandiri. Masjid-masjid ini aktifitas kesehariannya disesuaikan dengan madzhab yang di anut oleh masyarakat setempat. Sehingga pengelolaan serta pendanannya diambilkan dari jamaah dan juga hasil dari wakaf masyarakat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tokoh-Tokoh yang Aktif dalam Pengembangan Keilmuan &lt;br /&gt; Kemajuan sain dan teknologi pada masa pemerintahan Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dari peran serta penguasa negara pada masa itu. Sehingga masa-masa pemerintahan ketika berada ditangan Bani Abbasiyyah hampir setiap khalifah memiliki andil untuk memajukan program pendidikan. Oleh karena itu  di dalam pemerintahan Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan umatnya, sebab Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan hidup umatnya. Dan negara memahami bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, oleh karenanya negara memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi rakyatnya, tanpa atau dengan biaya semurah-murahnya. &lt;br /&gt; Sebagaimana yang telah dilakukan oleh penguasa bani Abbasiyyah terhadap para ahli ilmu. Mereka memperhatikan pemenuhan kebutuhan para pengajar dan pegawai guna kelancaran penerjemahan maupun pengembangan ilmu. Misalnya :    Al-Makmun membuat aturan untuk aktivitas penerjemahan. Dia memilih seorang penanggung jawab, yaitu Yohana Al-Batriq.  Dia membawa penulis yang cerdas serta mengetahui bahasa Suryani dan Yunani. Kemudian dia pun membawa para penerjemah besar. Para penulis menerjemahkan terjemahan pertama dari  bahasa Suryani atau Yunani ke dalam bahasa arab. Kemudian para penterjemah tesebut mentashihnya. Diantara mereka memilih pentashih bahasa arab, yaitu Hanin bin Ishaq. Hanin bertugas memeriksa transkrip akhir dari segi bahasa. Dia belajar bahasa arab dari ilmuwan-ilmuwan besar di Bashrah. Dengan cara inilah buku-buku di cetak dengan berurutan, diterjemahkan, kemudian dikoreksi pada transkrip akhirnya. Dimana untuk seorang penerjemah Hunain bin Ishaq, khalifah menyediakan berbagai macam fasilitas yang ada di istananya untuk segala macam keperluan Hunain. Untuk menggaji para penerjemah buku-buku, Al-Ma’mun berani mengeluarkan uang 500 dinar (4,25 x 500 = 2125gr emas) perbulan untuk setiap orangnya. Al-Ma’mun sendiri yang melakukan pembayarannya.  Sebagai pembanding adalah ketika Umar bin Khattab memberi gaji guru anak-anak di Madinah tiap bulan sebesar lima belas dinar (kurang lebih 63,75 gr emas) pada awal pemerintahan islam.  &lt;br /&gt; Disamping motivasi yang sangat besar dari pihak pemerintahan, yakni dengan adanya jaminan kebutuhan hidup para ilmuwan. Muncul pula kegairahan kaum muslimin  masa itu untuk lebih mencurahkan pada bidang keilmuwan. Kondisi yang baik, keamanan yang terjamin, dan atmosfir suasana keilmuan yang menggema inilah sebagai motor penggerak keilmuwan yang kuat. Sehingga banyak kaum muslimin dimasa pemerintahan Bani Abbasiyyah yang melakukan penerjemahan dan pengembangan keilmuan diberbagai bidang  :&lt;br /&gt;a. Matematika &lt;br /&gt; Abu Abdullah Muhamad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, beliau seorang ahli Matematika, astronomi, dan geografi yang sangat terkenal pada abad 9 M. Dan berjaya pada masa khalifah Al-Makmun. Beliau yang menemukan angka nol yang sangat penting dalam aritmatika serta penulis buku al-jabr wal-muqobalah. Sedangkan pada masa itu orang-orang kristiani masih menggunakan angka Romawi kuno dan Sampoa.&lt;br /&gt;Abu Sa’id al-Darid al-Jurfani (meninggal tahun 845M), adalah seorang ahli astronomi dan matematika muslim, menulis tentang wacana masalah-masalah dalam bidang ilmu geometri.&lt;br /&gt;Abu Wafa menyumbangkan ilmunya untuk pengembangan generalitas teorima sinus terhadap segi tiga. Dia memberikan tabel baru untuk menyusun tabel sinus, dan menghitung angka sinus 30 derajat sampai delapan angka desimal.&lt;br /&gt;Umar ibnu Khayyam, beliau adalah ahli dalam ilmu matematika dan astronomi. Bahasan yang banyak di geluti adalah persamaan tentang kubik.&lt;br /&gt;Abul Abbas Ahmad Ibnu Muhammad, seorang penulis muslim yang sangat populer, telah mengarang 74 karya yang berkaitan dengan matematika dan astronomi. Salah satu bukunya , al-Talkhis anil Hisab. Buku ini dikagumi oleh Ibnu Khaldun, dan terjemahannya kedalam bahasa perancis pada tahun      1864 M. &lt;br /&gt;b. Fisika dan Teknologi&lt;br /&gt;Ibnu Sina melakukan kajian dalam ilmu fisika sehingga mengahasilkan karya fenomenal tentang gaya, gerak, cahaya, panas, dan ruang hampa. Karya yang sangat berarti dilakukan dalam bidang mekanik seperti roda, as roda, pengungkit, katrol, bidang miring, kincir angin, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Al-Khazini, menulis buku daam bidang mekanika, hidrostatistika, dan fisika yang berjudul Kitab Mizan al-Hikmah (buku tentang keseimbangan kebijaksanaan) yang merupakan karya terbesarnya pada abad pertengahan. Dan dari karyanya inilah menjadi jalan perintis bagi Galileo.&lt;br /&gt;Muhammad Ibnu Ali Ibnu Rustam al-Khurasani adalah penemu jam yang sangat terkenal. Sehinga beliau dijuluki al-Sa’ati.&lt;br /&gt;Abu Isa Ismail Ibnu Razzaz Badi’ al-Zaman al-Jazari. Beliau menulis desertasi tentang pengetahuan alat mekanika geometri yang berkaitan dengan peralatan hidrolik, seperti air mancur.&lt;br /&gt;c. Astronomi&lt;br /&gt;Ibrahim ibnu Habib al-Fazari adalah seorang muslim yang pertama kali menulis astrolab. Beliau mengarang puisi dalam bidang astrologi dan mengumpulkan kalender menurut metode Arab.&lt;br /&gt;Abdullah Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan Al-Battani (Al-Batenius). Beliau melakukan observasi astronomi yang sangat luas, seperti ketepatan 54,5 inc dalam satu tahun inklinasi gerhana 23,35 derajat. Buku al-Battani ini diterjemakan kedalam bahasa latin dan spanyol pada abad 12 dan 13 dan sangat berpengaruh terhadap para sarjana Eropa pada abad pertengahan.&lt;br /&gt;d. Kimia&lt;br /&gt;Jabir bin Khayyan (Geber), ahli kimia terbesar pada masanya. Penemuan terpenting nya adalah ditemukannya asam Nitrat (HNO3), serta asam sulfat (H2SO4) sebagai bahan dasar industri.&lt;br /&gt;Abu Mansur membedakan antara natrium karbonat (Na2CO3) dengan kalium karbonat  (K2CO3). Beliau memiliki sejumlah pengetahuan  tentang aksen oksida, tembaga oksida, antimon dan zat-zat lain.&lt;br /&gt;e. Kedokteran&lt;br /&gt;Ibnu Sina (Avicenna), Dokter dan filsuf islam termasyhur. dia banyak meninggalkan karya tulis tidak kurang dari 200 buah. Bukunya yang terrenal antara lain, As-Syifaa’, al-Qanun fil at-tib, yang selama lima abad menjadi literatur-literatur peting bagi facultas-fakultas kedokteran di Eropa. &lt;br /&gt;Ibnu Nafis al-Qarshi ketika berada di Damaskus, menjelaskan tentang sirkulasi darah. Peristiwa ini terjadi tiga abad sebelum William Harvey, yang disebut penemu dari teori ini. Juga al-Qarshi menyatakan bahwa makanan merupakan bahan bakar untuk penyediaan panas bagi tubuh.&lt;br /&gt;Abul Qasim al-Zahrawi menemukan banyak alat-alat untuk keperluan operasi dan bedah sebagaimana di jelaskan dalam buku al-Tasrif. Berikut penjelasan tentang bagaimana cara melakukan operasi tulang tenkorak manusia dan bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;f. Geografi&lt;br /&gt;Ibnu Musa al-Khawarizmi, telah berhasil mengumpulkan karya Geografi yang di sebut Rasm al-Ma’mur minal Bilad (deskripsi tanah hunian) yang berisi hasil penelitian para sarjana dimasanya. Beliau melanjutkan karya geografi Ptolomeus, baik dalam bentuk naskah maupun dalam bentuk peta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Keagamaan&lt;br /&gt;Imam Malik yang menyusun kitab al-Muwatta’, kitab ini ditulis pada masa al-Mansur an baru selesai pada masa al-Mahdi. Ketika Harun al-Rasyid berkuasa berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum negara, Namun Malik bin Anas menolaknya. &lt;br /&gt; Imam Hambali yang hidup pada masa al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, dimana pada saat itu terjadi perselisihan faham antara beliau dengan khalifah tentang al-Qur’an sebagai makhluk atau bukan. Beliau mengarang kitab al-Musnad yaitu kitab hadith yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadith.&lt;br /&gt;Imam as-Syafi’i salah seorang ulama’ mujtahid di bidang fikih, salah seorang imam dari empat imam madzhab. Beliau hidup pada masa Harun al-Rasyid, al-Makmun, dan  al-Amin dari kekhilafahan Abbasiyyah. Karangan beliau yang sampai pada kita Sekarang ini adalah kitab al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Dan kitab ar-Risalah yang membahas ilmu ushul fikih.&lt;br /&gt;Imam Hanafi, seorang ahli fikih Persia yang kemudian menjadi ahli fikih di Irak. Ia mempelajari metode fikih Umar yang didasarkan pada maslahat dan metode fikih Ali yang didasarkan pada istinbat. Madzhab Hanafi ini berkembang dan bisa bertahan kurang lebih 500 tahun, karena madzhab ini diakui sebagai madzhab resmi negara bani Abbasiyyah. &lt;br /&gt;6. Metodologi Pendidikan&lt;br /&gt; Banyak metodologi yang digunakan pada masa Abbasiyyah ini, sebagaimana penjelasan diatas. Namun kalau kita kelompokkan ada beberapa metode pembelajaran yang dipakai, dan metode-metode ini ternyata cukup efektif untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan kaum muslimin, diantaranya : Imlak (dekte) yang mungkin ini sudah banyak kita kenal, dalam rangka untuk belajar tulis-menulis. Ceramah, adalah metode yang paling tua dan hingga saat sekarang inipun masih banyak dipakai dalam rangka transfer of knowledge. Metode yang juga dominan digunakan  dilingkungan kaum muslimin atau  pesantren hingga saat ini adalah talqin (hafalan).&lt;br /&gt; Disamping metode-metode diatas, masih banyak metode yang dipakai pada masa lampau dan banyak dikembangkan pada masa sekarang ini, diantaranya: Munadlarah (diskusi), ta’liqoh (debat tertulis), jadal (debat),  ketiga metode inilah yang banyak dikembangkan dan dimodifikasi. Metode-metode yang banyak mendorong para peserta didik untuk mengeksplor kemampuan pribadinya, metode yang tidak menjadikan seorang guru sebagai satu-satunya titik sentral inilah yang banyak diterapkan. Dalam rangka untuk lebih memacu kreatifitas dan memunculkan karakteristik positif pada anak didik serta lebih memberikan rasa percayadiri  bagi siswa, metode yang cocok untuk diterapkan adalah metode yang mengaktifkan guru dan siswa. Baik antara siswa dengan siswa, maupun siswa dengan gurunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. ANALISA dan SIMPULAN&lt;br /&gt; Dorongan Islam agar Umatnya menjadi manusia yang terpelajar sangat di utamakan. Disamping Islam mengajarkan ilmu yang terkait hubungannya dengan tuhan yang diatur dalam ibadah, Islam juga meganjurkan umatnya untuk belajar ilmu yang terkait dengan sain dan teknologi. Dalam masa perkembangannya, umat islam melakukan penterjemahan besar-besaran dalam bahasa arab sehingga menjadikan bahasa arab pada waktu itu sebagai lingua franca. Yakni sebagai ilmu yang diperlukan dalam mempelajari agama dan diperlukan untuk mempelajari sain dan teknologi. Georgie Zaidan dalam kitab Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah mengatakan bahwa :&lt;br /&gt; ”....bahasa arab menjadi bahasa politik dalam sebagian negeri-negeri islam, serta menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan agama dihampir seluruh dunia islam...........dalam pada itu, bahasa arab selalu menjadi bahasa agama didunia islam baik ditimur maupun dibarat. Tidak ada seorang sarjana muslim pun yang tidak memahami dan mempelajari bahasa arab. Bahkan orang yang berasal dari Eropa pun di masa kebangkitannya, para filosof dan sarjananya senantiasa memperluas pengetahuannya dan tidak bisa menghindari dirinya dari belajar bahasa arab.” &lt;br /&gt;Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita tidak bisa terlepas dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh kaum muslimin dimasa kekhilafahan Bani Abbasiyyah adalah diawali dengan melakukan penterjemahan besar besaran  dari berbagai disiplin ilmu. Dan dari hasil terjemahan itu kemudian diadakan kajian ulang terkait dengan temuan-temuan yang pernah dikaji oleh bangsa Yunani atau Romawi, kemudian para ilmuwan pada masa itu melakukan pengembangan-pengembangan dan inovasi-inovasi sebagai pembaharuan.&lt;br /&gt; Pada masa kekuasaan Abbasiyyah inilah berkembang pesat sain dan teknologi serta ilmu-ilmu agama yang ditandai dengan lahirnya empat imam madzhab terbesar pada masanya hingga saat  sekarang ini. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari peran pemahaman masyarakat Islam pada masa itu terkait motivasi untuk mengembangkan ilmu keduniaan disamping ilmu-ilmu agama secara praksis. Disamping itu juga peran dari pemerintah yang Sangat besar untuk mendorong para ilmuwan agar senantiasa mengembangkan kemampuannya serta menemukan inovási-inovasi dalam temuan teknologi mutakhir pada masanya. &lt;br /&gt;Kepekatan zaman kegelapan di Eropa dan dunia pada masa itu akhirnya terkuakkan ketika fajar islam menampilkan diri dari lembah faran, dan Rosulullah memulai zaman ilmiah modern. Para sarjana muslimlah yang menggali harta terpendam pengetahuan dari puing-puing reruntuhan peradaban yang sudah mati, yakni peradaban Yunani dan Roma, Babilonia dan Iran serta Cina dan India. Mereka membongkar harta terpendam itu dan menanamnya serta mengembagkannya, kemudian menyampaikannya ke Eropa melalui universitas-universitas di Bagdad, Cairo, dan Spanyol. Dengan demikian peletak batu pertama renaisans Eropa sebenarnya adalah para penganut ilmu dan guru-guru muslim yang melalui tangan mereka lahir orang-orang seperti Roger Bacon, Thomas Alfa Edison, serta Albert Einstein, dan lain-lain .&lt;br /&gt; Pelajaran yang bisa kita ambil pada masa Sekarang ini adalah semangat dari para pendahulu kita. Para ilmuwan pada masa kejayaan Islam yang telah meletakkan batu pijakan bagi perkembangan sain dan teknologi zaman modern sekarang ini. Semangat dan keinginan keras untuk menguasai sain dan teknologi melalui penterjemahan-penterjemahan yang dilanjutkan dengan pengkajian ulang. Dari pengkajian ulang inilah ditemukan berbagai macam inovási-inovasi  dari temuan sebelumnya. Dari berbagai penemuan ilmuwan Islam inilah yang kemudian dikembangkan oleh orang barat dewasa ini. Misalkan ; penyusunan sofwer komputer tidak akan pernah ditemukan, jika tidak ditemukannya angka nol (0) oleh                 pakar matemátika muslim al-Khawarizmi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftrar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Bangil :          Al-Izzah, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Katib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Baghdadi, Jilid I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholahatul Hadith, Bandung: Al-Maarif, 1974&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Zaidan, Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah, Jilid . III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Al-Usari, Al-Tarikh al-Islamy, terj Samson Rahman, Jakarta : Akbar Media Aka Sarana, 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Fazlur Rahman, Islam Versus the West (terj) Husin Anis ,Bandung : Mizan, 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudlui atas Berbagai Peroalan Umat, Bandung : Mizan, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Cholis Majid. Dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta :Ichtiar Baru Van Hoeve, &lt;br /&gt;1997,Jilid.II, III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shaber Ahmed dkk., Islam and Science, terj. Zetira Nadia , Bangil: Al-Izzah, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, terj.Arif Munandar , Jakarta : Pustaka Kautsar, 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-2367757816587770809?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/2367757816587770809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/abbasiyyah-dan-perkembangan-lembaga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/2367757816587770809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/2367757816587770809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/abbasiyyah-dan-perkembangan-lembaga.html' title=''/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-3301199643370244219</id><published>2009-08-02T23:30:00.000-07:00</published><updated>2009-08-02T23:36:20.868-07:00</updated><title type='text'>Filsafat Pendidikan Islam</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, Manusia, dan Alam Perspektif&lt;br /&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt; Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat islam mencapai puncaknya ketika dunia Islam diperintah oleh para khalifah dari dinasti Bani Abbasiyyah yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad. Kota metropolitan tersebut, sebelum ditaklukkan Islam telah dikuasai oleh Parsi, kebudayaan dan peradabannya telah bercampur dengan kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno dibawa Aleksander Yang Agung sejak tiga abad lebih sebelum masehi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat ketika itu ditandai dengan semaraknya penerjemahan manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dab Parsi. Maka ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani bisa dibaca dan dipelajari secara luas oleh umat Islam.&lt;br /&gt; Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat didunia Islam berlangsung selama kurang lebih enam abad, yakni dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-12 Masehi. Kemunduran Peradaban Islam ini disebabkan oleh banyak faktor baik eksternal maupun internal. Faktor eksternalnya adalah serbuan tentara Mongol dibawa pimpinan Hulagu  yang menghancurkan kota Baghdad dan menghanguskan ratusan ribu bahkan jutaan buku-buku ilmu pengetahuan yang tersimpan diperpustakaan kota Banghdad. Adapun faktor internalnya adalah sikap stagnan dan statis dalam diri ulama-ulama Islam, terutama dari golongan Sunni, yang beranggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. &lt;br /&gt; Kemunduran peradaban ini terus berlangsung hingga pada saat sekarang ini, termasuk di Indonesia negara yang mayoritas penduduknya muslim. Fakta masyarakat muslim Indonesia yang demikian tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga misalnya Malaysia, Singapura, dan sebagainya, menggugah kesadaran kita untuk melakukan evaluasi dan peningkatan mutu khususnya dibidang pendidikan. Banyak analisa yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa adalah bidang pendidikan. Seiring dengan itu, upaya perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola pendidikan, dan lain sebagainya terus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.&lt;br /&gt; Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Diketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti atau hakikat dari segala yang ada, dan karenanya ia menjadi induk segala ilmu. Sebab dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang sehingga manusia dapat menikmati ilmu sekaligus buahnya, yaitu teknologi.  Dalam bahasa agama filsafat dikenal dengan nama hikmah, dan barang siapa diberikan hikmah, maka ia akan diberikan kebaikan yang banyak.&lt;br /&gt; Filsafat Pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari konsep manusia yang akan di didik, tujuan pendidikan, guru, kurikulum, dan metode pendidikan secara filosofis. Dengan kata lain Filsafat Pendidikan Islam mempergunakan jasa pemikiran filosof, yaitu pemikiran yang sistematk, logik, radikal, universal dan obyektif terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt; Filosof pendidikan termasuk orang yang diharapkan merancang dengan hikmah untuk menjadikan proses pendidikan dan usaha-usaha pendidikan pada suatu bangsa. Ia juga menyiapkan generasi muda dan warganegara umumnya agar supaya beriman kepada Tuhan. Beriman juga dengan apa yang diwahyukan oleh Tuhan, perintah dan ajaran yang tinggi terhadap pesuruh-pesuruhnya yang mulia, dan memungkinkan mereka memahami dengan betul terhadap sifat-sifat alam jagat yang mengelilingi manusia. Begitu juga ia memperkenalkan dirinya kepada mereka dan nilai-nilai yang dimilikinya dalam hidup ini. Begitu juga ia menunjukkan peranan yang mungkin atau harus dipegangnya dalam hidup ini untuk mengembangkan masyarakat dan mengubah cara-cara hidup mereka kearah yang lebih baik. Ini juga memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan yang benar dalam segala bidang kehidupan. Begitu juga mereka dapat mendidik akhlak dan perasaan seni dan keindahan mereka serta menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran dan memperkenalkan kepada mereka ciri-ciri, unsur-unsur, dan cara-cara mencapainya.&lt;br /&gt; Oleh karena itu filosof pendidikan dengan segala harapan yang telah diletakkan dipundaknya, haruslah memiliki fikiran yang benar, jelas, dan menyeluruh tentang wujud dan segala aspeknya yang bermacam-macam : Ketuhanan, Kemanusiaan, Kealaman fisikal dan sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;1. Tuhan dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Aqidah yang paling sempurna adalah aqidah yang dapat diterima oleh akal. Dialah Allah satu-satunya Tuhan, tiada berawal dan tiada berakhir, maha kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala  sesuatu, maha meliputi segala sesuatu, dan tiada sesuatu apapun yang serupa denganNya. Alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah, Allah yang menciptakannya dan akan kembali kepada Allah. Lenyap dan adanya alam semesta tergantung pada kehendak Allah.&lt;br /&gt; Bila kita hendak mengungkapkan aqidah tersebut dengan bahasa fisafat, dapatlah kita katakan : dua eksistensi, yaitu eksistensi keabadian dan eksistensi waktu. Suatu imajinasi belaka kalau akal menggambarkan bahwa waktu dapat menjadi bagian dari keabadian. Karena kalau keabadian kita ulur dan kita panjangkan dari awal mulanya, ternyata ia adalah azali (tanpa awal). Dan jika kita ulur serta kita panjangkan ia dari akhirnya, ternyata ia adalah tak berkesudahan, tidak akan berakhir untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;Jadi pada hakikatnya waktu bukanlah keabadian. Waktu kita kurangi terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak mengurangi keabadian. Ia kita tambahkan terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak menambah keabadian. Sehingga keabadian dan waktu merupakan dua eksistensi yang berlainan hakikat dan subtansi, serta berlainan pula dalam gambaran dan jangkauan. Keabadian adalah suatu eksistensi yang tidak dapat kita gambarkan adanya gerak didalamnya. Sedangkan waktu adalah  suatu eksistensi yang tidak bisa kita gambarkan tanpa adanya gerak.  &lt;br /&gt;Allah itu bukanlah fisik yang kita bayangkan, dan bukanlah wujud materi yang dapat kita ukur. Dia tidaklah menyerupai segala bentuk fisik, baik dalam kriteria dan keragaman, Esensi Dia bukan atom dan tidak pula ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan wujud, dan sebaliknya. Tidak sesuatupun menyerupai-Nya. Dia bukan serupa degan sesuatu. Dia tidak dibatasi kriteria, tidak diliputi batas wilayah dan arah. Dia juga tidak dipanggul dengan langit-langit yang ada. Dia bersemayam di Arsy, tetapi keberadaan-Nya disana terlepas dari konotasi bersentuhan dan penetapan, tidak pula bertempat, berubah dan berpindah. Dia tidaklah disangga oleh Arsy, tetapi justru Arsy itu beserta seluruh penyangganya berada di genggaman Maha Lembut kekuasaan-Nya. &lt;br /&gt;Sejalan dengan itu al-Ghazali juga menguraikan masalah pendidikan yang tidak bisa terlepaskan dari pemahaman tentang Sang Khaliq. Menurutnya tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang, karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan.  Rumusan tujuan pendidikan yang demikian ini karena dunia bukanlah hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut akan dapat memutuskan kenikmatan setiap saat.&lt;br /&gt;Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, at-ta’dib, dan at-ta’lim. Dari ketiga istilah term tersebut, term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam term al-tarbiyah.  Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara , merawat, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya. &lt;br /&gt;Dalam penjelasan lain, kata al-tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh, dan berkembang (Q.S. Ar-Ruum: 39). kedua, rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu, berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara.  Kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam (Q.S Al-Fatiha :2) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah at-tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik Yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta. &lt;br /&gt;Uraian diatas secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang telah diberikan Allah sebagai ”Pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Sebagaimana            KH. Ahmad Dahlan  yang menginginkan agar pendidikan diletakkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan  kerangka filosofis bagi merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara Vertikal (Khaliq) maupun horizontal (makhluk).  Dimana manusia diberikan Allah akal yang mampu untuk dikembangkan guna menyusun kerangka yang teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horisontal dalam konteks tujuan penciptaannya.&lt;br /&gt;Tokoh nasional yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini, yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang berkecimpung langsung dalam pendidikan juga meletakkan tauhid atau masalah ketuhanan merupakan masalah yang pokok. Dalam hal ini yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Titik penekanan lainnya tentang pendidikan adalah pada sisi amaliahnya. Dia mengemukakan bahwa bertauhid itu mengharuskan adanya keimanan. Barang siapa beriman maka ia harus bertauhid. Keimanan mewajibkan adanya syari’at, sehingga orang yang tidak menjalankan syariat maka ia berarti tidak beriman dan bertauhid. Sementara orang bersyariat harus beradab. Dengan demikian, orang yang beradab berarti ia juga bertauhid, beriman dan bersyariat.  &lt;br /&gt;Dari seluruh pembahasan diatas, maka sudah selayaknya pendidikan Islam harus berlandaskan  pada konsep ketuhanan. Karena dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah bisa terlepas dari kehendak dan hukum-hukum-Nya. Sebagaimana kita memahami bahwa Tuhan adalah poros dari segala aktifitas yang dilakukan oleh seluruh umat muslim, bahkan oleh segenap alam semesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam&lt;br /&gt;Bagi falsafah pendidikan, penentuan dan sikap serta tanggapan tentang manusia merupakan hal yang amat penting dan vital. Sebab manusia merupakan unsur terpenting dalam tiap usaha mendidik. Tanpa tanggapan dan sikap yang jelas tentang manusia, pendidikan akan meraba-raba. Malah pendidikan itu sendiri dalam artinya yang paling asas adalah usaha untuk menolong manusia dalam rangka menemukan rahasia alam,  memupuk bakat, serta mengarahkan kecenderungannya demi kebaikan diri dan masyarakat.  Usaha itu berakhir dengan berlakunya perubahan yang dikehendaki dari sisi sosial dan psikologis  serta sikap untuk menempuh hidup yang lebih berbahagia dan berarti.&lt;br /&gt;Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini Ibn ’Arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, ”tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui , berkehendak, berbicara, melihat, mendengar , berpikir, dan memutuskan.” Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi. &lt;br /&gt;Al-Ghazali  mengungkapkan proses penciptaan manusia dalam teori pembentukan (taswiyah) sebagai suatu proses yang timbul didalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima ruh. Materi itu merupakan sari pati tanah liat Nabi Adam A.S. yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nutfah) ini yang semula adalah tanah liat setelah melewati berbagi proses akhirnya menjadi bentuk lain (khalq akhar) yaitu manusia dalam bentuk yang sempurna. Tanah liat berubah menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan), makanan menjadi darah kemudian menjadi sperma jantan dan indung telur. Kedua unsur ini bersatu dalam satu wadah yakni rahim dengan tranformasi panjang yang akhirnya menjadi tubuh yang harmonis (jibillah) yang cocok untuk menerima ruh. Sampai disini prosesnya murni bersifat materi sebagai warisan dari leluhurnya. Kemudian setiap manusia menerima ruhnya langsung dari Allah di saat embrio sudah siap dan cocok menerimanya. Maka dari pertemuan antara ruh dan badan terbentuklah mahluk baru manusia. &lt;br /&gt;Dari uraian proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah (Q.S. As-Sajdah :7) dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah (Q.S. Al- Hijr :29). Kesatuan ini memberi makna bahwa disatu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan di sisi lain menandakan manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani.&lt;br /&gt;Sedangkan Harun Nasution memahami, unsur materi manusia mempunyai daya fisik, seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak.  Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat di kalbu. Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan keterampilan dan panca indera. Sedangkan untuk mengembagkan daya akal dapat dipertajam melalui ibadah, karena intisari ibadah dalam Islam ialah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci, Allah SWT. Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh ruh yang suci dan ibadah adalah sarana latihan untuk mensucikan ruh atau jiwa. Konsep ini membawa  konsekuensi bahwa secara filosofis pendidikan Islam seyogyanya merupakan kesatuan pendidikan Qalbiyah dan ’Aqliyah agar tercipta manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan filsafat penciptaannya.&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT. Menciptakan manusia bukan secara main-main (QS. Al-Mu’minun :115), melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Secara global tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Khalifah&lt;br /&gt;Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat (Q.S. Ar-Ruum:72). Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan dibumi        (Q.S. Huud :61). Karena amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di  muka bumi (Q.S. Al-Baqarah:30). Al-Maraghi, memaknai khalifah yang pertama sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan titah-Nya dimuka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan. &lt;br /&gt;Salah satu implikasi terpenting dari kekhilafahan manusia dimuka bumi ini adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan untuk hal ini dikarenakan kepadanya dianugerahkan Allah berbagai potensi.  Disamping itu, alam semesta ini beserta apa-apa yang ada didalamnya adalah diciptakan Allah SWT untuk kepentingan  umat manusia secara keseluruhan. Karenanya, merupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia dialam ini guna memenuhi keperluan hidupnya.&lt;br /&gt;Disamping itu, kemungkinan manusia memahami alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan ukuran dan ketentuan yang pasti dan tak berubah-ubah (sunnatullah), sehingga dalam batas-batas tertentu ia bersifat ”predictable”. Berdasarkan inilah manusia dapat mengolah dan memanfaatkan alam ini untuk keperluan hidupnya. Karenanya, manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk kepada-Nya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta.&lt;br /&gt;b. ’Abd (hamba Allah)&lt;br /&gt;Kalau kita lihat secara luas , konsep ’abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup dialam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang semata-mata hanya untuk mencari ridla Allah                   (Q.S. Adz Dzarariyaat :56). Belajar adalah ibadah manakala itu dilakukan dengan niat mencari ridha Allah. Bekerja juga ibadah manakala itu di lakukan untuk mencari ridha Allah. Semua aktivitas seorang hamba dalam seluruh dimensi kehidupan adalah ibadah manakala itu dilakukan untuk mencari ridha Allah. Pada dasarnya konsep ini merupakan makna sesungguhnya ibadah manakala difahami, dihayati, dan diamalkan, maka seorang muslim akan menemukan jati dirinya sebagai insan paripurna (al-insan al-kamil). Pandangan diatas merupakan visi filosofis dan antropologis yang dinukilkan Allah dalam al-Qur’an yang telah mendudukkan manusia dialam semesta ini ke dalam dua fungsi pokok, yaitu khalifah dan ’abd.&lt;br /&gt; Agar manusia mampu melaksanakan tugas dan fungsi penciptaannya, maka manusia dibekali Allah SWT dengan berbagai potensi atau kemampuan. Potensi atau kemampuan itu disebut oleh Hasan Langgulung sebagai sifat-sifat tuhan yang tersimpul dalam al-Qur’an dengan nama-nama yang indah (Asma’ul Husnah).  Tentunya potensi yang dimiliki manusia dalam  bentuk dan cara yang terbatas, sebab kalau tidak demikian manusia akan mengakui dirinya sebagai Tuhan. Untuk itu, manusia harus mendayagunakan potensi yang dianugerahkan kepadanya secara bertanggung jawab dalam rangka merealisasikan tujuan dan fungsi penciptaannya di alam ini, baik sebagai ’abd maupun khalifah fi al-ardl.&lt;br /&gt;   Dari penjelasan diatas maka, ada dua hal yang harus diperhatikan implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu: pertama, karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki adanya proses pembinaan yang mengacu pada realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti sistem pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan Qalbiyah dan ’Aqliyah sehingga  mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Kedua, bahwa fungsi penciptaan manusia dialam sebagai khalifah dan ’abd dengan seperangkat potensi. Maka, dalam konteks ini pendidikan Islam harus mengacu pada pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan lingkungannya. Inilah sebesar-besar dari pengabdian manusia kepada Tuhannya sebagai perwujudan dari seorang hamba yang taat. &lt;br /&gt;3. Alam dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam &lt;br /&gt;Sebagaimana pendidik pada umumnya memahami, bahwa pendidikan sebagai proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok. Maka pendidikan hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitar serta dengan alam sekeliling, tempat ia hidup. Sebagaiman perbedaan watak, akhlak, adat, tradisi, dan cara hidup  penduduk dalam kesehariannya adalah contoh yang paling menonjol dalam hal ini. Penduduk pesisir umpamanya mempunyai watak dan cara hidup tersendiri, dan akan berbeda dengan penduduk gurun pasir, demikian pula dengan penduduk yang ada dipuncak gunung.&lt;br /&gt;Golongan materialis berpendapat bahwa alam wujud ini pada hakikatnya bersifat benda belaka. Tidak ada yang lain dari pada benda. Golongan ini menyorot arti kehidupan, akal, perasaan, baik, buruk dan fenomena wujud yang lain berdasarkan faham-faham kebendaan yang mereka yakini. Mereka kembalikan segala perkara kepada benda. Bahkan dalam menafsirkan tindak-tanduk manusia pun mereka coba mengikuti hukum benda. Bertolak dengan itu, para rohaniawan beranggapan bahwa alam ini bersifat rohaniyah. Hakekat yang sebenarnya tidak lain daripada roh atau akal. Adapun benda dalam segala bentuk dan manifestasinya tidak lebih dari satu gambaran atau fenomena rohaniyah. Imam Al-Ghazali membagi alam ini menjadi dua bagian, yakni alam syahadah (yang disaksikan) yang terdiri dari benda-benda nyata, berkembang dan berubah-ubah, serta yang kedua adalah alam ghaib.  &lt;br /&gt;Kalau kita membahas tentang alam syahadah, maka kita akan selalu terfokus pada alam nyata yang ada disekitar kita. Pada alam inilah kita diberikan ”kebebasan” untuk mengelolah agar bermanfaat bagi manusia serta alam sekitarnya. Kita hanya diberi panduan global pengelolaannya oleh islam, termasuk hak-hak kepemilikannya. Namun secara lebih detil teknis pengelolaannya tergantung pada kemajuan sains dan teknologi yang berkembang pada masanya. Kalau kita bahas alam yang kedua yakni tentang alam ghaib, maka kita akan lebih menekankan dari informasi Yang Maha Ghaib Allah SWT.&lt;br /&gt;Demikian juga, kita harus memahami bahwa setiap unsur dan bagian dari alam ini bergerak mengikut hukum umum yang tertentu dan berdasarkan kepada hubungan teratur yang menunjukkan kesatuan tadbir dan peraturan. Hal ini menyebabkan setiap orang yang mengamati fenomena itu akan berhadapan dengan suatu kejadian yang rapi, mutlak dan harmonis. Tak ketinggalan juga manusia sebagai bagian dari alam, tunduk sebagaimana juga bahagian alam yang lain- kepada hukum atau sunnatullah. Akan tetapi tunduknya tidaklah persis seperti makhluk lain. Manusia tunduk dalam kebebasannya berkehendak dan membuat pilihan.&lt;br /&gt;Segala yang ada, termasuk alam jagat raya ini bersifat baharu. Baik asas cabang unsur maupun jiwanya. Baik bintang gemintang, cakrawala langit maupun daratannya. Baik binatang, tumbuhan, maupun benda-bendanya proses perkembangannya yang kait mengait dan berentetan yang menjelmakan satu macam ikatan sebab akibat. Semua gejala itu tidak cukup untuk membuktikan azali atau qadimya alam. Malah agama sendiri menolak kemungkinan ini. Peristiwa demikian bisa dibuktikan dari hasil berbagai penelitian terkait dengan perubahan dan perkembangan. Berkisar pada satu keadaan kepada satu keadaan yang lain, akhirnya sirna, hancur, dan hilang.   &lt;br /&gt;   Keutamaan terbesar agama Islam ialah bahwa agama itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum muslimin untuk memperoleh pengetahuan. Ia mendorong mereka mendalaminya dan meraih kemajuan, menerima perkembangan keilmuan yang sesuai dengan kemajuan zaman.  Ia juga selalu memperbaharuhi cara-cara untuk memperoleh penemuan-penemuan baru dan sarana pengajaran. Oleh karena itu hendaknya, pendidikan Islam senantiasa menumbuhkan semangat kaum muslimin untuk menuntut ilmu pengetahuan, memperluas penelitian dan pengamatan, sehingga alam yang dikaruniakan Allah ini bisa dimanfaatkan secara optimal dengan cara yang santun dan tidak merusaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penutup&lt;br /&gt;  Dalam kerangka Filsafat Pendidikan Islam, kita sebagai manusia tidak akan bisa terpisahkan dengan adanya Tuhan sebagai pencipta segala yang ada. Demikian juga, kita tidak akan bisa terpisah dengan alam kehidupan ini, karena kita tinggal didalamnya. Manusia ada, karena diciptakan kemudian diberikan amanah untuk mengelolah alam sekitarnya sebagai khalifah fi al-ardl. Sehingga Pendidikan Islam senantiasa berlandaskan pada azas ketauhidan dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia melalui kemajuan sains dan teknologi sebagai sarananya, sekaligus meraih kesuksesan akhirat melalui ketaatan pada syariatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta : Sipress, 1993)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997)&lt;br /&gt;Abdurrahman An-Nahlawi, Prisnsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro,1992)&lt;br /&gt;Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Bandung : Mizan, 1995)&lt;br /&gt;Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali, Kitab al-arbain fi ushul ad-diin, terj. Lukman Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali Isa Othman, Manusia menurut al-Ghazali, (Bandung : Pstaka, 1985)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo, 2005)&lt;br /&gt;Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung :Mizan, 1995)&lt;br /&gt;Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta:Pustaka al-Husna, 1989)&lt;br /&gt;Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al—Anshori al-Qurthubiy, tafsir al-Qurtubiy, juz I, (Kairo : Dar al-Sya’biy, tt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismai Raji’ al-Faruqi, Islam dan kebudayaan, (Bandung: Mizan :1984)&lt;br /&gt;Omar Muhammad al-Thoumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)&lt;br /&gt;Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Ciputat Pers, 2002)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-3301199643370244219?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/3301199643370244219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/filsafat-pendidikan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/3301199643370244219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/3301199643370244219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/08/filsafat-pendidikan-islam.html' title='Filsafat Pendidikan Islam'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6410687468248915298.post-8681716369287626075</id><published>2009-03-22T19:43:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T19:47:41.473-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemimpin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemilu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kholifah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='baiat'/><title type='text'>Pemilu dan Baiat Kholifah</title><content type='html'>PEMILU atau BAI’ATUL IN’IQODIYAH ?!&lt;br /&gt;Oleh: Ali Tamam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMILIHAN PEMIMPIN ISLAM  VS  PEMIMPIN SEKULER&lt;br /&gt; Pemimpin dalam Islam merupakan simbol dari Islam itu sendiri. Karena pemimpin dalam Islam itu dipilih berdasarkan ketaatan seseorang terhadap agama yang ia yakini kebenarannya yakni Islam, dan karena Islam itulah ia dipilih. Sehingga tidak akan mungkin kita akan temui orang yang tidak berpegang teguh kepada Islam kemudian ia terpilih menjadi pemimpin di dalam Islam. Seseorang akan mencalonkan dirinya sebagai pemimpin kaum muslimin, jika ia merasa mampu untuk mewakili umat sebagai pelaksana dan penanggung jawab aturan-aturan yang Alloh telah berikan kepada manusia lewat baginda Rosululloh SAW. Disamping ia merasa mampu, maka masyarakat juga akan menilai orang tersebut apakah benar-benar layak untuk jadi pemimpin atau belum. Masyarakat akan lebih  banyak tahu serta senantiasa memperhatikan  gerak dan langkah orang tersebut dalam keseharianya, apakah memang sesuai dengan syari’ah Islam atau tidak.&lt;br /&gt; Dalam proses pemilihan pemimpin Islam, bisa jadi melalui penunjukan langsung, melalui perwakilan atau pemilihan secara langsung. Sebagaimana penunjukan Umar bin Khottob oleh Abu bakar As-shiddiq yang dilakukan secara langsung tanpa ada pemilihan, dan masyarakat menyetujuinya. Setelah baitul in’iqodiyah inilah umat juga diwajibka untuk melakukan bai’tul tho’ah. Yang perlu kita perhatikan memang pada saat itu mungkin menurut Abu bakar penunjukan yang seperti itu lebih banyak menyelamatkan kaum muslimin, dimana kondisi negara masih belum stabil setelah munculnya nabi palsu atau para pembangkang pembayar zakat. Namun masyarakat waktu itu juga sangat memahami kondisi negara, dan juga tahu betul siapa orang yang ditunjuk oleh Abu bakar. Masyarakat bisa menerima Umar sebagai penganti Abu bakar karena beliau terkenal sebagai orang yang takwa, murid Rosululloh, sebagai salah satu sahabat kubaro’, mumpuni dalam masalah kenegaraan, dan banyak lagi keunggulan beliau. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan juga bisa melalui perwakilan, dimana terpilihnya Abubakar sebagai kholifah juga hasil pemilihan dari perwakilan sahabat-sahabat Muhajirin dan sahabat-sahabat Anshor (ahlul halli wal aqdi), dan umat mengangkatnya sebagai pemimpin sekalipun ada sebagian kecil yang masih belum setuju. Namun setelah beliau resmi menjadi pemimpin dengan adanya bai’ah in’iqodiyah, maka tidak ada masyarakat yang menyelisihi perintahnya karena terikat dengan bai’atul tho’ah. Dan di dalam bai’atul Tho’ah inilah ada kata yang paling penting yakni ketaatan yang disandarkan pada Al-qur’an dan As-sunnah. Oleh karena itu setiap  keputusan beliau selalu bersandarkan kepada syari’ah Nya disebabkan keterikatan mereka dengan bai’atul tho’at. Pemilihan bisa langsung terbuka atau tertutup sebagai mana pemilihan Usman bin Affan yang melibatkan tim formatur yang terdiri dari sahabat-sahabat terpandang di jamannya. Atau bahkan pemilihan bisa hanya melibatkan sebagian daerah sebagaimana dalam kondisi pemilihan sahabat Ali bin Abu tholib.&lt;br /&gt; Pemilihan pemimpin  didalam Islam sebenarnya sangat simpel dan berisi. Tidak banyak membutuhka dana serta tidak berlarut-larut. Pemilihan yang simpel karena kriteria pemimpin dalam Islam sudah jelas, demikian juga tujuan pemilihannya, dan sudah jelas pula siapa pemilihnya. Pemilihan yang berisi, karena dalam pemilihan ini tidak hanya berorientasi materi sebagai kewajiban yang harus dipenuhi akan tetapi memiliki arti yang lebih dalam lagi yaitu perintah agama dalam rangka untuk menjalankan syariahNya  serta menjaga keberlangsungan akidah umat dan pelestarian alam semesta. Proses pemilihan pemimpin  dalam Islam juga tidak membutuhkan dana yang besar, apalagi melibatkan para pengusaha yang menginginkan keuntungan dari sebuah jabatan. Bahkan kalau kita memahami tentang pemilihan pemimpin didalam Islam, dana bukanlah menjadi hal yang urgen, karena kita tidak memilih orang berdasarkan kekayaan apalagi orang yang mencari kekayaan. Sehingga dalam pemilihan hampir bisa dipastikan tidak membutuhkan dana sepeserpun, dimana antara yang dipilih dan yang memilih sama-sama memahami bahwa kepemimpinan adalah kewajiban bersama. Ada dua hal yang memang harus ada dalam pemilihan pemimpin kaum muslimin. Yang pertama adalah baiatul in’iqodiyah, dimana keberlangsungannya bisa perwakilan kota atau perwakilan  orang-orang berpengaruh didaerah-daerah. Yang kedua adalah bai’atul tho’at, sebagai kewajiban atas seluruh kaum muslimin dimanapun ia berada untuk menyatakan ketaatan kepada khalifah.   &lt;br /&gt; Beda dengan kepemimpinan dalam sebuah tatanan sekuler, dimana seorang pemimpin dipilih  berdasarkan pada hasil pemilihan semua orang. Pemimpin yang dipilih tentunya yang menurut mereka bisa mewakili semua orang, tidak peduli apakah ia orang beragama atau tidak, orang yang baik moralnya ataupun rusak moralnya, yang penting menurut mereka bisa mengayomi semuanya. Pemimpin dipilih untuk menjalankan aturan dari kehendak mereka semuanya dengan berbagai kompromi-kompromi yang mereka sepakati. Sehingga hasilnya bisa dipastikan gado-gado, dan dalam penerapanpun akan banyak terjadi benturan benturan yang keras. Karena mereka mencoba untuk mendudukkan sama tinggi antara yang baik dan yang buruk. Dari realita yang terjadi sekarang ini justru keburukan akan lebih untuk mendominasi atau lebih dimenangkan dari pada kebaikan, karena mayoritas kehidupan sekarang lebih condong kepada kebebasan. Sehingga kalau kita cermati dari kebebasan inilah muncul berbagai sinkritisme ataupun kejelekan yang dibungkus rapi dengan kebaikan. Orang akan mengira segala hal yang muncul dari mereka (liberalisme) adalah kebaikan, padahal sejatinya keburukan dan kebinasaan. &lt;br /&gt; Dalam pemilihan pemimpinpun orang-orang sekuler cenderung mengeluarkan dana yang luar biasa besarnya. Sehingga dalam pemilihan mereka cenderung menyamakan dengan pestapora atau pesta demokrasi, padahal kalau kita telaah lebih jauh ternyata yang berpesta hanya orang-orang yang dicalonkan atau para makelar mereka saja. Mereka tidak perduli dengan pengeluaran yang besar hasil dari sumbangan para pengusaha, yang pada akhirnya  meminta dibuatkan proyek-proyek giliran atau diberi kebebasan untuk mengelola kekayaan milik rakyat tanpa kemaslahatan bagi pemiliknya. Mereka menjadi pemimpinpun tidak memiliki keterikatan dengan sang pencipta manusia serta alam semesta sehingga lebih bebas lagi untuk melakukan apa saja, asalkan penguasa yang mereka jerat dengan modal tadi membiarkannya. Inilah babak awal kehancuran dunia oleh orang-orang yang rakus kekuasaan bekerjasama dengan orang-orang yang rakus dengan kekayaan.     &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;WAJIBNYA PEMIMPIN DALAM ISLAM&lt;br /&gt; Sejak zaman sebelum kelahiran Rosululloh Muhammmad SAW yang membawa kebenaran Islam, manusia yang beriman senantiasa memiliki pemimpin. Bahkan diturunkanya banyak nabi dan rosulpun dalam rangka untuk membimbing dan memimpin manusia. Manusia selalu didampingi orang-orang yang memberikan petunjuk jalan lurus, agar manusia dapat lurus perilakunya dan mampu menjadi khalifah didunia.  Sehingga tidak ada sedikitpun golongan manusia yang tidak mendapatkan petunjuk dari Alloh, atau dibiarkan tanpa ada peraturan dalam kehidupannya.&lt;br /&gt; Setelah datangnya Islam yang dibawa oleh Rosululloh Muhamad SAW, memberikan tauladan kepada umat manusia tentang pentingnya pemimpin. Bahkan Islam sendiri mewajibkan adanya pemimpin bagi kaum muslimin. Di dalam hadis Rosululloh SAW memerintahkan, jika tiga orang melakukan safar maka harus dipilih salah satu diantara mereka sebagai amir. Apalagi jumlah kaum muslimin yang hidup dibumi  pada saat sekarang ini yang lebih dari 1,4 milyar, maka lebih wajib lagi. Beliau Rosulullh memberikan tauladan kepada kita untuk selalu memiliki pemimpin, sebagaimana masa hidup beliaupun memberikan contoh kepada umat ini agar selalu berada dalam sebuah kepemimpinan. Dan tidak boleh ada kepemimpinan yang berbilang lebih dari satu. Karena Islam adalah satu, satu dalam ketauhidan, satu dalam memegang kitab suci, satu dalam kerasulan, serta satu dalam kiblat sholatnya. Sehingga keputusan didalam Islam pun juga harus satu, sebagai wujud kesatuan kaum muslimin yang dihasilkan dari tabanni khalifah.&lt;br /&gt; Setelah beliau Rosululloh wafat, kita juga diberi contoh oleh para sahabat yang mulia untuk senantiasa berada dalam satu kepemimpinan. Inilah sebenarnya rahasia kekuatan kaum muslimin yang tidak dimiliki orang-orang lain atau kaum yang lainnya. Ketika umat Islam mampu untuk mengembalikan kembali spirit kehidupan yang hakiki yakni nilai-nilai akherat dengan tanpa mengesampingkan nilai keduniaan, maka Islam bisa dan mampu memimpin dunia kurang lebih selama 1.300 tahun. Tentunya dengan realitas pasang surut kehidupan, dan pasang surut kepemimpinan.     &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;SIAPA yang  BERHAK UNTUK MENJADI dan MEMILIH PEMIMPIN ??&lt;br /&gt; Kepemimpinan yang diangkat kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat in’iqodiyah. Syarat-syarat inilah yang menjadikan seseorang sah untuk diangkat menjadi khalifah. Ada tujuh syarat agar orang bisa diangkat menjadi pemimpin :&lt;br /&gt;1. Muslim, karena Islam tidak memperkenankan kepemimpinan dipegang orang kafir.&lt;br /&gt;2. Laki-laki, karena Rosululloh pernah mencela seorang penguasa perempuan.&lt;br /&gt;3. Baligh, sehingga seorang anak tidak diperkenankan menjadi imam.&lt;br /&gt;4. Berakal, artinya orang yang gila tidak boleh menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;5. Adil, hanya orang yang istiqomah dalam menjalankan syari’at Alloh yang berhak untuk    dijadikan pemimpin&lt;br /&gt;6. Merdeka, seorang hamba sahaya tidak sah menjadi khalifah.&lt;br /&gt;7. Mampu melaksanakan amanat khilafah, sehingga orang yang tidak sanggup mengemban amanat tidak berhak dipilih.&lt;br /&gt;Hanya saja selain ketujuh syarat diatas, ada syarat afdholiyat/keutamaan diantaranya: mujtahid, ahlistrategi perang/pemberani, berasal dari suku quraisy.&lt;br /&gt; Pemimpin kaum muslimin hanya dipilih dan diangkat oleh orang islam yang baligh dan berakal melalui bai’atul in’iqodiyah dan bai’atul tho’ah. Sehingga apabila sudah terlaksana pembaiatan ini, maka seorang pemimpin wajib untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pelaksana syari’ah.&lt;br /&gt; Bagaimana kedudukan orang-orang non muslim yang berada diwilayah kekuasaan Daulah Islam? Mereka yang non muslim akan berpijak pada kesepakatan perjanjian dengan Daulah Islam sebagai kafir dlimmi. Mereka akan mendapatkan jaminan keamanan dan kehidupan sebagaimana orang Islam. Mereka juga bebas melaksanakan peribadahan sebagaimana keyakinannya. Namun demikian mereka harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh daulah Islam didalam kehidupan bermasyarakatnya. Dan mereka hanya diperbolehkan memiliki wakil dimajlis ummat untuk menyampaikan keluhan terhadap ketidak adilan yang menimpanya. Dimana hak mereka hanya sebatas pengajuan yang tidak mengikat.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KONDISI UMAT ISLAM SEKARANG DALAM MEMILIH PEMIMPIN&lt;br /&gt; Ketika Islam tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan. Disaat orang Islam menjauh dari sistem kehidupan yang sempurna, maka aturan Islam yang ada didalam Al-quran dan Hadist Rosululloh tidak hanya lebih sebagai bacaan rutinitas tanpa adanya atsar atau bekas dalam kehidupan nyata. Kebanyakan orang tidak lagi mengacu atau mempelajari nilai islam dalam aturan kemasyarakatan yang memilki kekhasan dalam membentuk suasana yang Islami. Karena sebenarnya dalam suasana yang islami inilah apa yang dijanjikan Alloh dalam Al-qur’an yakni terbentuknya negeri yang baik penuh dengan ampunan akan terealisasi. Dan hanya dalam situasi yang islami pula akan diturunkan apa yang dijanjikan oleh Alloh SWT berupa Rahmat yang turun dari langit dan keluar  dari perut bumi.&lt;br /&gt; Akan halnya dengan pemilihan seorang pemimpin, yang sebenarnya didalam Islam sudah ada koridor atau ketentuannya. Namun sekali lagi bahwa umat Islam ternyata sedang mabuk kepayang terhadap konsep demokrasi barat. Padahal demokrasi sebenarnya racun di dalam kehidupannya, namun racun yang mematikan itu terus direguk hingga sekarang, yang menyebabkan kaum muslimin sekarat. Dari kondisi yang demikian inilah orang islam sulit atau bisa dibilang tidak bisa berfikir lebih jernih.&lt;br /&gt; Ramai-ramai orang memilih pemimpin, termasuk juga orang-orang islam yang hidup dinegeri kufur maupun negeri-negeri islam yang tidak menerapkan islam secara kaffah. Mereka memilih pemimpin berdasarkan keinginan mereka dan dalam rangka menjalankan aturan yang berdasar hawa nafsu. Tidak diperhatikan lagi apakah dia itu kafir atau muslim, laki-laki atau perempuan, mampu atau tidak, adil atau dlolim. Mereka hanya menyandarkan pada suara terbanyak, sekalipun suara yang muncul adalah sebuah kesesatan dan keburukan. Karena kondisi masyarakat diseluruh dunia, bahkan dinegeri-negeri islam dikuasai oleh kekufuran dan kesesatan, maka sudah pasti dapat kita lihat hasilnya adalah kerusakan dimana-mana. Kerusakan yang ditimbulkan sudah merata, dibumi tempat hidup manusia sudah diambang kehancuran. Kehidupan sosial masyarakat sudah tidak mengindahkan lagi aturan dari Alloh SWT yang pasti seimbang, namun mereka cenderung pada kebebasan yang meluncur menuju kehancuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMIMPIN DAMBAAN UMAT MANUSIA&lt;br /&gt; Orang yang ditunggu-tunggu pada saat sekarang adalah seorang yang mampu menyelamatkan dunia dari kehancuran. Seorang pemimpin yang mampu menyelamatkan dunia tempat tinggal kita sebagai tempat hidup yang nyaman tidak mematikan, tempat hidup yang tentram tidak membingungkan, tempat hidup yang membahagiakan tidak putus harapan. Tidak akan pernah muncul orang yang kita dambakan ini kecuali ada diantara kita orang yang berazam untuk menegakkan syari’ah Alloh sumber dari kebahagiaan, ketentraman, dan kenyamanan.&lt;br /&gt; Karena pemimpin didalam Islam adalah orang yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan hukum-hukum Alloh, sedangkan didalam syari’ah itulah terdapat kemaslahatan bagi setiap manusia. Kemaslahatan yang dibawah Islam tidak hanya terbatas bagi orang Islam, bahkan bagi mereka yang non muslimpun akan merasakan kehebatan islam dalam menyelesaikan berbagai macam problema kehidupan. Pada saat syari’ah Islam diterapkan itulah orang akan terkagum-kagum dengan apa yang muncul dari setiap solusi islam secara praktis didalam kehidupan. Dalam kondisi ketika syari’ah islam diterapkan, orang akan mampu merasakan manisnya kehidupan. Tidak peduli apakah dia itu kafir, mereka akan dapat menikmati ketentraman dalam naungan Islam. Terlebih lagi bagi mereka orang yang beriman, mereka akan merasakan kehidupan yang membahagiakan untuk menuju kehidupan akherat yang kekal.&lt;br /&gt; Syari’ah inilah sebenarnya kunci dari berbagai macam problema yag dihadapi manusia masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang . Sehingga kitapun juga mencari orang yang mau dan mampu untuk mengemban amanat luar biasa ini, agar berbagai macam kesengsaraan yang dialami manusia khususnya umat islam ini cepat terselesaikan. Kita memilih pemimpin dambaan umat manusia tidak bisa dilepaskan dengan sistem apa yang akan diterapkan. Oleh karena itu hanya manusia yang sanggup memikul amanah menjalankan syari’ah inilah sebagai pemimpin sejati. Dia akan mampu untuk mengentaskan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6410687468248915298-8681716369287626075?l=ibnualitamam.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/feeds/8681716369287626075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/03/pemilu-dan-baiat-kholifah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/8681716369287626075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6410687468248915298/posts/default/8681716369287626075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ibnualitamam.blogspot.com/2009/03/pemilu-dan-baiat-kholifah.html' title='Pemilu dan Baiat Kholifah'/><author><name>Ibnu Ali</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01937403227687660637</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_Jr2fBeG7iD8/SciUNlidihI/AAAAAAAAAAg/Mh53G4SIPFI/S220/Ali+T+2-pasfoto.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
