Minggu, 22 Maret 2009

Pemilu dan Baiat Kholifah

PEMILU atau BAI’ATUL IN’IQODIYAH ?!
Oleh: Ali Tamam

PEMILIHAN PEMIMPIN ISLAM VS PEMIMPIN SEKULER
Pemimpin dalam Islam merupakan simbol dari Islam itu sendiri. Karena pemimpin dalam Islam itu dipilih berdasarkan ketaatan seseorang terhadap agama yang ia yakini kebenarannya yakni Islam, dan karena Islam itulah ia dipilih. Sehingga tidak akan mungkin kita akan temui orang yang tidak berpegang teguh kepada Islam kemudian ia terpilih menjadi pemimpin di dalam Islam. Seseorang akan mencalonkan dirinya sebagai pemimpin kaum muslimin, jika ia merasa mampu untuk mewakili umat sebagai pelaksana dan penanggung jawab aturan-aturan yang Alloh telah berikan kepada manusia lewat baginda Rosululloh SAW. Disamping ia merasa mampu, maka masyarakat juga akan menilai orang tersebut apakah benar-benar layak untuk jadi pemimpin atau belum. Masyarakat akan lebih banyak tahu serta senantiasa memperhatikan gerak dan langkah orang tersebut dalam keseharianya, apakah memang sesuai dengan syari’ah Islam atau tidak.
Dalam proses pemilihan pemimpin Islam, bisa jadi melalui penunjukan langsung, melalui perwakilan atau pemilihan secara langsung. Sebagaimana penunjukan Umar bin Khottob oleh Abu bakar As-shiddiq yang dilakukan secara langsung tanpa ada pemilihan, dan masyarakat menyetujuinya. Setelah baitul in’iqodiyah inilah umat juga diwajibka untuk melakukan bai’tul tho’ah. Yang perlu kita perhatikan memang pada saat itu mungkin menurut Abu bakar penunjukan yang seperti itu lebih banyak menyelamatkan kaum muslimin, dimana kondisi negara masih belum stabil setelah munculnya nabi palsu atau para pembangkang pembayar zakat. Namun masyarakat waktu itu juga sangat memahami kondisi negara, dan juga tahu betul siapa orang yang ditunjuk oleh Abu bakar. Masyarakat bisa menerima Umar sebagai penganti Abu bakar karena beliau terkenal sebagai orang yang takwa, murid Rosululloh, sebagai salah satu sahabat kubaro’, mumpuni dalam masalah kenegaraan, dan banyak lagi keunggulan beliau.

Pemilihan juga bisa melalui perwakilan, dimana terpilihnya Abubakar sebagai kholifah juga hasil pemilihan dari perwakilan sahabat-sahabat Muhajirin dan sahabat-sahabat Anshor (ahlul halli wal aqdi), dan umat mengangkatnya sebagai pemimpin sekalipun ada sebagian kecil yang masih belum setuju. Namun setelah beliau resmi menjadi pemimpin dengan adanya bai’ah in’iqodiyah, maka tidak ada masyarakat yang menyelisihi perintahnya karena terikat dengan bai’atul tho’ah. Dan di dalam bai’atul Tho’ah inilah ada kata yang paling penting yakni ketaatan yang disandarkan pada Al-qur’an dan As-sunnah. Oleh karena itu setiap keputusan beliau selalu bersandarkan kepada syari’ah Nya disebabkan keterikatan mereka dengan bai’atul tho’at. Pemilihan bisa langsung terbuka atau tertutup sebagai mana pemilihan Usman bin Affan yang melibatkan tim formatur yang terdiri dari sahabat-sahabat terpandang di jamannya. Atau bahkan pemilihan bisa hanya melibatkan sebagian daerah sebagaimana dalam kondisi pemilihan sahabat Ali bin Abu tholib.
Pemilihan pemimpin didalam Islam sebenarnya sangat simpel dan berisi. Tidak banyak membutuhka dana serta tidak berlarut-larut. Pemilihan yang simpel karena kriteria pemimpin dalam Islam sudah jelas, demikian juga tujuan pemilihannya, dan sudah jelas pula siapa pemilihnya. Pemilihan yang berisi, karena dalam pemilihan ini tidak hanya berorientasi materi sebagai kewajiban yang harus dipenuhi akan tetapi memiliki arti yang lebih dalam lagi yaitu perintah agama dalam rangka untuk menjalankan syariahNya serta menjaga keberlangsungan akidah umat dan pelestarian alam semesta. Proses pemilihan pemimpin dalam Islam juga tidak membutuhkan dana yang besar, apalagi melibatkan para pengusaha yang menginginkan keuntungan dari sebuah jabatan. Bahkan kalau kita memahami tentang pemilihan pemimpin didalam Islam, dana bukanlah menjadi hal yang urgen, karena kita tidak memilih orang berdasarkan kekayaan apalagi orang yang mencari kekayaan. Sehingga dalam pemilihan hampir bisa dipastikan tidak membutuhkan dana sepeserpun, dimana antara yang dipilih dan yang memilih sama-sama memahami bahwa kepemimpinan adalah kewajiban bersama. Ada dua hal yang memang harus ada dalam pemilihan pemimpin kaum muslimin. Yang pertama adalah baiatul in’iqodiyah, dimana keberlangsungannya bisa perwakilan kota atau perwakilan orang-orang berpengaruh didaerah-daerah. Yang kedua adalah bai’atul tho’at, sebagai kewajiban atas seluruh kaum muslimin dimanapun ia berada untuk menyatakan ketaatan kepada khalifah.
Beda dengan kepemimpinan dalam sebuah tatanan sekuler, dimana seorang pemimpin dipilih berdasarkan pada hasil pemilihan semua orang. Pemimpin yang dipilih tentunya yang menurut mereka bisa mewakili semua orang, tidak peduli apakah ia orang beragama atau tidak, orang yang baik moralnya ataupun rusak moralnya, yang penting menurut mereka bisa mengayomi semuanya. Pemimpin dipilih untuk menjalankan aturan dari kehendak mereka semuanya dengan berbagai kompromi-kompromi yang mereka sepakati. Sehingga hasilnya bisa dipastikan gado-gado, dan dalam penerapanpun akan banyak terjadi benturan benturan yang keras. Karena mereka mencoba untuk mendudukkan sama tinggi antara yang baik dan yang buruk. Dari realita yang terjadi sekarang ini justru keburukan akan lebih untuk mendominasi atau lebih dimenangkan dari pada kebaikan, karena mayoritas kehidupan sekarang lebih condong kepada kebebasan. Sehingga kalau kita cermati dari kebebasan inilah muncul berbagai sinkritisme ataupun kejelekan yang dibungkus rapi dengan kebaikan. Orang akan mengira segala hal yang muncul dari mereka (liberalisme) adalah kebaikan, padahal sejatinya keburukan dan kebinasaan.
Dalam pemilihan pemimpinpun orang-orang sekuler cenderung mengeluarkan dana yang luar biasa besarnya. Sehingga dalam pemilihan mereka cenderung menyamakan dengan pestapora atau pesta demokrasi, padahal kalau kita telaah lebih jauh ternyata yang berpesta hanya orang-orang yang dicalonkan atau para makelar mereka saja. Mereka tidak perduli dengan pengeluaran yang besar hasil dari sumbangan para pengusaha, yang pada akhirnya meminta dibuatkan proyek-proyek giliran atau diberi kebebasan untuk mengelola kekayaan milik rakyat tanpa kemaslahatan bagi pemiliknya. Mereka menjadi pemimpinpun tidak memiliki keterikatan dengan sang pencipta manusia serta alam semesta sehingga lebih bebas lagi untuk melakukan apa saja, asalkan penguasa yang mereka jerat dengan modal tadi membiarkannya. Inilah babak awal kehancuran dunia oleh orang-orang yang rakus kekuasaan bekerjasama dengan orang-orang yang rakus dengan kekayaan.

WAJIBNYA PEMIMPIN DALAM ISLAM
Sejak zaman sebelum kelahiran Rosululloh Muhammmad SAW yang membawa kebenaran Islam, manusia yang beriman senantiasa memiliki pemimpin. Bahkan diturunkanya banyak nabi dan rosulpun dalam rangka untuk membimbing dan memimpin manusia. Manusia selalu didampingi orang-orang yang memberikan petunjuk jalan lurus, agar manusia dapat lurus perilakunya dan mampu menjadi khalifah didunia. Sehingga tidak ada sedikitpun golongan manusia yang tidak mendapatkan petunjuk dari Alloh, atau dibiarkan tanpa ada peraturan dalam kehidupannya.
Setelah datangnya Islam yang dibawa oleh Rosululloh Muhamad SAW, memberikan tauladan kepada umat manusia tentang pentingnya pemimpin. Bahkan Islam sendiri mewajibkan adanya pemimpin bagi kaum muslimin. Di dalam hadis Rosululloh SAW memerintahkan, jika tiga orang melakukan safar maka harus dipilih salah satu diantara mereka sebagai amir. Apalagi jumlah kaum muslimin yang hidup dibumi pada saat sekarang ini yang lebih dari 1,4 milyar, maka lebih wajib lagi. Beliau Rosulullh memberikan tauladan kepada kita untuk selalu memiliki pemimpin, sebagaimana masa hidup beliaupun memberikan contoh kepada umat ini agar selalu berada dalam sebuah kepemimpinan. Dan tidak boleh ada kepemimpinan yang berbilang lebih dari satu. Karena Islam adalah satu, satu dalam ketauhidan, satu dalam memegang kitab suci, satu dalam kerasulan, serta satu dalam kiblat sholatnya. Sehingga keputusan didalam Islam pun juga harus satu, sebagai wujud kesatuan kaum muslimin yang dihasilkan dari tabanni khalifah.
Setelah beliau Rosululloh wafat, kita juga diberi contoh oleh para sahabat yang mulia untuk senantiasa berada dalam satu kepemimpinan. Inilah sebenarnya rahasia kekuatan kaum muslimin yang tidak dimiliki orang-orang lain atau kaum yang lainnya. Ketika umat Islam mampu untuk mengembalikan kembali spirit kehidupan yang hakiki yakni nilai-nilai akherat dengan tanpa mengesampingkan nilai keduniaan, maka Islam bisa dan mampu memimpin dunia kurang lebih selama 1.300 tahun. Tentunya dengan realitas pasang surut kehidupan, dan pasang surut kepemimpinan.

SIAPA yang BERHAK UNTUK MENJADI dan MEMILIH PEMIMPIN ??
Kepemimpinan yang diangkat kaum muslimin harus memenuhi syarat-syarat in’iqodiyah. Syarat-syarat inilah yang menjadikan seseorang sah untuk diangkat menjadi khalifah. Ada tujuh syarat agar orang bisa diangkat menjadi pemimpin :
1. Muslim, karena Islam tidak memperkenankan kepemimpinan dipegang orang kafir.
2. Laki-laki, karena Rosululloh pernah mencela seorang penguasa perempuan.
3. Baligh, sehingga seorang anak tidak diperkenankan menjadi imam.
4. Berakal, artinya orang yang gila tidak boleh menjadi pemimpin.
5. Adil, hanya orang yang istiqomah dalam menjalankan syari’at Alloh yang berhak untuk dijadikan pemimpin
6. Merdeka, seorang hamba sahaya tidak sah menjadi khalifah.
7. Mampu melaksanakan amanat khilafah, sehingga orang yang tidak sanggup mengemban amanat tidak berhak dipilih.
Hanya saja selain ketujuh syarat diatas, ada syarat afdholiyat/keutamaan diantaranya: mujtahid, ahlistrategi perang/pemberani, berasal dari suku quraisy.
Pemimpin kaum muslimin hanya dipilih dan diangkat oleh orang islam yang baligh dan berakal melalui bai’atul in’iqodiyah dan bai’atul tho’ah. Sehingga apabila sudah terlaksana pembaiatan ini, maka seorang pemimpin wajib untuk melaksanakan kewajibannya sebagai pelaksana syari’ah.
Bagaimana kedudukan orang-orang non muslim yang berada diwilayah kekuasaan Daulah Islam? Mereka yang non muslim akan berpijak pada kesepakatan perjanjian dengan Daulah Islam sebagai kafir dlimmi. Mereka akan mendapatkan jaminan keamanan dan kehidupan sebagaimana orang Islam. Mereka juga bebas melaksanakan peribadahan sebagaimana keyakinannya. Namun demikian mereka harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh daulah Islam didalam kehidupan bermasyarakatnya. Dan mereka hanya diperbolehkan memiliki wakil dimajlis ummat untuk menyampaikan keluhan terhadap ketidak adilan yang menimpanya. Dimana hak mereka hanya sebatas pengajuan yang tidak mengikat.

KONDISI UMAT ISLAM SEKARANG DALAM MEMILIH PEMIMPIN
Ketika Islam tidak lagi menjadi acuan dalam kehidupan. Disaat orang Islam menjauh dari sistem kehidupan yang sempurna, maka aturan Islam yang ada didalam Al-quran dan Hadist Rosululloh tidak hanya lebih sebagai bacaan rutinitas tanpa adanya atsar atau bekas dalam kehidupan nyata. Kebanyakan orang tidak lagi mengacu atau mempelajari nilai islam dalam aturan kemasyarakatan yang memilki kekhasan dalam membentuk suasana yang Islami. Karena sebenarnya dalam suasana yang islami inilah apa yang dijanjikan Alloh dalam Al-qur’an yakni terbentuknya negeri yang baik penuh dengan ampunan akan terealisasi. Dan hanya dalam situasi yang islami pula akan diturunkan apa yang dijanjikan oleh Alloh SWT berupa Rahmat yang turun dari langit dan keluar dari perut bumi.
Akan halnya dengan pemilihan seorang pemimpin, yang sebenarnya didalam Islam sudah ada koridor atau ketentuannya. Namun sekali lagi bahwa umat Islam ternyata sedang mabuk kepayang terhadap konsep demokrasi barat. Padahal demokrasi sebenarnya racun di dalam kehidupannya, namun racun yang mematikan itu terus direguk hingga sekarang, yang menyebabkan kaum muslimin sekarat. Dari kondisi yang demikian inilah orang islam sulit atau bisa dibilang tidak bisa berfikir lebih jernih.
Ramai-ramai orang memilih pemimpin, termasuk juga orang-orang islam yang hidup dinegeri kufur maupun negeri-negeri islam yang tidak menerapkan islam secara kaffah. Mereka memilih pemimpin berdasarkan keinginan mereka dan dalam rangka menjalankan aturan yang berdasar hawa nafsu. Tidak diperhatikan lagi apakah dia itu kafir atau muslim, laki-laki atau perempuan, mampu atau tidak, adil atau dlolim. Mereka hanya menyandarkan pada suara terbanyak, sekalipun suara yang muncul adalah sebuah kesesatan dan keburukan. Karena kondisi masyarakat diseluruh dunia, bahkan dinegeri-negeri islam dikuasai oleh kekufuran dan kesesatan, maka sudah pasti dapat kita lihat hasilnya adalah kerusakan dimana-mana. Kerusakan yang ditimbulkan sudah merata, dibumi tempat hidup manusia sudah diambang kehancuran. Kehidupan sosial masyarakat sudah tidak mengindahkan lagi aturan dari Alloh SWT yang pasti seimbang, namun mereka cenderung pada kebebasan yang meluncur menuju kehancuran.

PEMIMPIN DAMBAAN UMAT MANUSIA
Orang yang ditunggu-tunggu pada saat sekarang adalah seorang yang mampu menyelamatkan dunia dari kehancuran. Seorang pemimpin yang mampu menyelamatkan dunia tempat tinggal kita sebagai tempat hidup yang nyaman tidak mematikan, tempat hidup yang tentram tidak membingungkan, tempat hidup yang membahagiakan tidak putus harapan. Tidak akan pernah muncul orang yang kita dambakan ini kecuali ada diantara kita orang yang berazam untuk menegakkan syari’ah Alloh sumber dari kebahagiaan, ketentraman, dan kenyamanan.
Karena pemimpin didalam Islam adalah orang yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan hukum-hukum Alloh, sedangkan didalam syari’ah itulah terdapat kemaslahatan bagi setiap manusia. Kemaslahatan yang dibawah Islam tidak hanya terbatas bagi orang Islam, bahkan bagi mereka yang non muslimpun akan merasakan kehebatan islam dalam menyelesaikan berbagai macam problema kehidupan. Pada saat syari’ah Islam diterapkan itulah orang akan terkagum-kagum dengan apa yang muncul dari setiap solusi islam secara praktis didalam kehidupan. Dalam kondisi ketika syari’ah islam diterapkan, orang akan mampu merasakan manisnya kehidupan. Tidak peduli apakah dia itu kafir, mereka akan dapat menikmati ketentraman dalam naungan Islam. Terlebih lagi bagi mereka orang yang beriman, mereka akan merasakan kehidupan yang membahagiakan untuk menuju kehidupan akherat yang kekal.
Syari’ah inilah sebenarnya kunci dari berbagai macam problema yag dihadapi manusia masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang . Sehingga kitapun juga mencari orang yang mau dan mampu untuk mengemban amanat luar biasa ini, agar berbagai macam kesengsaraan yang dialami manusia khususnya umat islam ini cepat terselesaikan. Kita memilih pemimpin dambaan umat manusia tidak bisa dilepaskan dengan sistem apa yang akan diterapkan. Oleh karena itu hanya manusia yang sanggup memikul amanah menjalankan syari’ah inilah sebagai pemimpin sejati. Dia akan mampu untuk mengentaskan berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia.

Read More..