Minggu, 02 Agustus 2009
ABBASIYYAH
DAN PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN
A. PENDAHULUAN
Ide Islam terdiri dari dua komponen, yaitu keimanan dan aturan yang bersandar kepada aqidah. Keimanan kepada Islam memberikan jawaban yang benar dan komprehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan manusia dan alam raya ini. Keimanan ini menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan menghubungkannya dengan kehidupan sebelum adanya dunia ini dan setelah kehidupan setelah dunia ini berakhir. Karena itu aqidah Islam menyelesaikan pokok persoalan manusia dan memberikan dasar aturan untuk mengatur seluruh urusan manusia. Sedangkan aturan yang diperuntukkan bagi manusia mencakup: hubungan manusia dengan tuhannya, urusan manusia dengan pribadinya, berbagai hubungan sosial masyarakat. Karena Islam memberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan menempatkan sisi kemanusiaan pada konteksnya yang tepat, maka sistem dan budaya yang memancar dari aqidah Islam pasti akan mampu menjelaskan hakekat manusia dan memberikan pemecahan atas permasalahannya dengan benar. Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi Islam mengaturnya dalam konteks yang tepat, termasuk keinginan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Islam adalah agama sempurna yang mengatur kehidupan keduniaan dan keakhiratan. Peradaban Islam telah mencapai puncak kegemilangannya ketika kendali negara dipegang Bani Abbasyiyah dan tidak bisa ditandingi oleh bangsa-bangsa lain pada masanya. Tingkat peradaban bisa diukur dengan adanya peninggalan-peninggalan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan buku dan karya. Jika kita ingin merujuk kepada pemikiran dan penulisan, kita akan melihat bahwa bangsa Arab-Islam telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh barat kecuali pada periode terakhir ini.
Ada seorang ilmuwan yang hidup diabad kedelapan hijriyah, ilmuwan tersebut mendapatkan bukunya disalah seorang muridnya, yaitu juz kedua puluh enam dari daftar isi buku tersebut. Namun, juz tersebut bukan satu-satunya buku. Setiap juz terdiri dari empat ratus kertas, yaitu sekitar delapan ratus halaman. Didalam buku tersebut hanya disebutkan nama-nama buku beserta nama-nama penulis, nasab, gelar, dan tahun wafat mereka. Cara inilah yang ditempuh oleh Haji Khalifah, penulis “Kasyf Azh-Zhunnun,” dalam menghitung nama-nama buku. Jika kita hitung jumlah buku yang disebutkan dalam setiap jilid mencapai lebih dari enam belas ribu nama, dan jika kita anggap bahwa buku tersebut telah lengkap didalam setiap jilid, ini berarti bahwa buku-buku yang disebutkan dalam setiap jilid lebih dari empat ratus judul buku. Buku-buku tersebut menunjukkan karya-karya yang telah ditulis dalam bahasa arab pada abad ke delapan. Tentu saja, angka tersebut sangat besar jika kita melihat keterbatasan peralatan serta kecangggihan peralatan pada masa itu.
B. PEMBAHASAN
1. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Perkembangan Pendidikan
Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana telah diketahui, Bahwa Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang dengan membawa berbagai macam pencerahan melalui ilmu. Kalau di lacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya Ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yag menciptakan. Perintah ini tidak hanya diucapkan sekali oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak.
Al-Qur’an dan Hadith dijadikan kaum muslimin sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Peran itu adalah : pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum muslimin terdapat dalam al-Quran. Dan sejauh pemahaman terhadap al-Quran terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, al-Quran dan Hadith menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan meningkatkan kebijakan dan keutamaan menuntut ilmu. Pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada tauhid. Karena itu seluruh metafiska dan kosmologi yang lahir dari kadungan Al-Quran dan Hadith merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu islam. Singkatnya, al-Quran dan Hadith menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam.
Kebangkitan masa Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dengan masa sebelumnya, yakni masa Umawiyah. Perkembangan pengetahuan telah terjadi sejak zaman Umawiyah, bahkan kebiasaan tulis menulis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Misalnya As-Shohifah Ali, Ash-Shadiqah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, lembaran Jabir Athowilah, dan lembaran yang berisi ilmu waris yang ditulis Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Kodifikasi hadith rasulpun di pelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah bani Umayyah. Kemudian, hadith ditulis didalam lembaran-lembaran masa periode kodifikasi kedua masa Abbasiyyah misalnya : Ibnu Juraij, Imam Malik, Sufyan As-Sauri, Al-Auzai dan lain-lain. Akan tetapi gerakan penulisan dimasa Abbasiyyah terasa sangat kuat sehingga bisa membuat orang tercengang. Di Basrah buku-buku banyak ditulis, pemikiran dicetak dan disebarluaskan, serta ilmu nahwu dibuat. Di Kufah sejarah dan sastra ditulis, dan ilmu nahwu dikembangkan. Sedangkan di Bagdad ilmuwan berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan ilmu. Hingga ketika sampai ke masa Al-Makmun, kita akan melihat kebanyakan ilmuwan menulis dan mencetak buku.
Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin di berbagai daerah secara umum, dan di wilayah Arab secara khusus, telah menempuh perjalanan melewati daratan, pegunungan, sungai, lautan, hutan, dan padang pasir untuk menunaikan kewajiban Haji, perang, maupun perdagangan. Di sepanjang kehidupan itulah, mereka selalu mengumpulkan berbagai macam informasi berkaitan masalah sosial, sejarah, politik, geografi, pertanian, dan berbagai kondisi didaerah yang mereka kunjungi. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan fisik dan eksperimental dari bangsa luar, sesungguhnya orang Islam membutuhkan adanya penerjemahan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab. Tujuan sebenarnya tidaklah hanya menerjemahkan, namun juga kemudian mengembangkan hasil terjemahan tersebut untuk masa mendatang.
2. Pembentukan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan
Dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid, banyak disebut sebagai awal kali muncul pemikiran untuk membangun Baitul Hikmah sebagai lembaga penerjemah. Dan pada masa putranya Al-Ma’mun fungsinya diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan penelitian. Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Harun Al-Rasyid pula yang memiliki gagasan untuk mendirikan majlis al-Mudzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan dirumah-rumah, masjid-masjid dan istanah khalifah. Berlanjut di masa al - Ma’mun lembaga pendidikan semacam ini semakin digencarkan pengembangannya.
Para Khalifah Bani Abbasiyyah hingga masa Al-Makmun mengambil keuntungan dari lembaga pendidikan (semacam madrasah) sebelumnya yang telah ada. Syam, Irak, Persia, dan Mesir ketika itu siap untuk menerima sebuah peradaban yang besar dan luas. Ada banyak lembaga pendidikan kuno yang sudah dikenal, dan ditempat tersebut sudah banyak buku di tulis dan diterjemahkan. Diantaranya lembaga pendidikan Ruha, Nashibain, dan Harran. Sedangkan di Mesir ada lembaga pendidikan Alexandria, di Irak ada lembaga pendidikan Ash-Shabiah, di Persia ada lembaga pendidikan Jundisapur. Adapun lembaga-lembaga pendidikan di Syiria menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Suryani. Melalui perantara itu , pertama-tama para ilmuwan arab dan Islam melihat kepada peninggalan Yunani. Mereka mendapatkan manfaat dari penerjemahan dalam semua ilmu. Adapun lembaga pendidikan Jundisapur menghasilkan para dokter bagi negara Abbasiyyah, serta penerjemahan buku-buku kedokteran sekaligus.
Orang-orang Bani Abbasiyah juga banyak mengundang para ilmuwan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sudah terkenal untuk ke Baghdad dan mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan buku-buku kedalam bahasa Arab. Gerakan ilmiah ini dilakukan dengan rapi, dengan berdirinya lembaga formal untuk pendidikan yaitu Baitul Hikmah. Embrio Baitul Hikmah ini telah didirikan di istana khalifah semenjak Harun Al-Rasyid. Semakin lama semakin meningkat hingga masa Al-Makmun. Disana banyak buku yang diterjemahkan dan ditulis. Serta didirikan pula tempat-tempat observasi dan sarana-sarana ilmu perbintangan. Tempat tersebut banyak diisi oleh para penghafal Al-Quran dan di hibahkan untuk para penerjemah dan para ilmuwan. Khalifah menjadikan tempat tersebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan pengurusan menejemennya sangat rapi. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Al-Makmun” dan menjadi terkenal. Disamping itu juga ada tempat-tempat khusus sebagai pusat observatorium misalnya, Damaskus, Baghdad, dan Nishapur untuk melakukan observasi astronomi.
Untuk kegiatan percobaan kimia, fisika, dan kedokteran dilakukan di laboratorium sedangkan percobaan dalam ilmu patologi dan operasi bedah di rumahsakit - rumahsakit. Bangsa Arab memperhatikan betul masalah kesehatan dan kedokteran. Mereka mendirikan rumah sakit yang waktu itu disebut “bimaristan”. Bangsa Arab mendirikannya semenjak Zaman Al-Walid bin Abdil Malik di Damaskus dan akhirnya berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyyah. Harun Al-Rasyid mendirikan rumah sakit umum (Bimaristan Al-Kabir) di Baghdad. Ia mendirikannya dengan model rumah sakit Persia, yang didalamnya banyak gudang obat-obatan.
Kegiatan pembedahan mayat juga dilakukan untuk praktek pengajaran anatomi. Khalifah Al-Mu’tashim menyediakan mayat orang utan untuk tujuan ini. Demonstrasi praktek operasi bedah untuk mahasiswa ini juga dilakukan dirumah sakit. Hal tersebut kemudian dibandingkan dengan melihat tubuh yang terluka dalam peperangan. Mereka mengobati orang yang luka-luka, melakukan operasi, dan menggunakan obat bius atau sejenis obat perangsang (al-fatilah). Sehingga orang sakit tidak merasakan operasi yang dilakukan para dokter kepadanya.
3. Macam-Macam Lembaga Pendidikan
Pada masa Abbasiyyah ini telah berkembang berbagai macam institusi pendidikan, dari bentuk sistem pendidikan yang sederhana sampai pada bentuk yang paling maju dan termodern dimasanya. ini menandakan bahwa semangat untuk mengkaji ilmu pengetahuan sangat menonjol dan diperhatikan dengan serius. Macam-macam lembaga pendidikan dimasa Abbasiyyah diantaranya adalah :
a. Kuttab
Dimasa Rosulullah SAW lembaga semacam ini dipergunakan untuk mengajarkan al-Qur’an dan memberikan materi pelajaran dasar. Namun dalam perkembangannya kuttab sudah digunakan sebagai tempat untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu agama.
b. Pendidikan dasar di istana
Kurikulum pada pendidikan ini diajarkan sesuai dengan keinginan kalangan istana yang mengundang syeikh untuk datang ke istananya. Sehingga guru-guru yang diundangpun sesuai dengan kebutuhan khalifah atau para pembesar istana. Guru yang datang ke istana ini disebut muaddib karena memberikan pelajaran yang meliputi akhlak dan kemampuan keilmuan lainnya. Dimasa ini peran orang tua sangat besar untuk menentukan materi apa yang harus disampaikan oleh seorang guru. Sebagaimana kebiasaannya guru-guru istana akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal yang dekat dengan pusat pemerintahan.
c. Toko Buku
Dimasa kekhilafahan Abbasiyyah toko-toko buku banyak ditemui disudut-sudut kota, dan diperkirakan mencapai 100 buah. Toko-toko buku pada masa itu tidak hanya bersifat komersial saja, namun justru fungsinya lebih luas lagi. Ketika orang mau ikut untuk berdiskusi tentang suatu masalah, maka ia bisa saja datang ke toko buku untuk mendiskusikannya. Bahkan di toko-toko buku tersebut telah disediakan ruangan serta waktu untuk berdebat dan pidato sastra.
d. Rumah Ulama’
Disamping masjid yang sering digunakan untuk melakukan kajian, rumah-rumah para ulama dan tokoh masyarakat pada masa itu juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mengkaji ilmu. Misalnya, Ilmuwan Ibnu Sina menggunakan waktu malamnya untuk membaca kitab Asy-Syifa’ yang dilakukan didalam rumahnya sendiri.
e. Salon Sastra
Salon sastra banyak berkembang dikalangan bangsawan, mulai dari istana-istana raja sampai dengan level wazir. Ini menandakan greget keilmuan yang luar biasa dari kaum muslimin pada masa itu yang mungkin sulit kita cari bandingannya kecuali pada masa modern sekarang ini. Pada forum ini sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang dengan berbagai macam aturan yang sangat rinci, agar adab-adab dari peserta kepada seorang khalifah tetap terjaga. Penempatan peserta diforum salon sastra ini juga bertingkat-tingkat sesuai kelasnya dengan susunan tempat duduk yang berbeda. Peserta harus memperhatikan khalifah, dengan menggunakan gaya bicara yang lemah lembut, serta tidak boleh menyela pembicaraan ketika dalam forum.
f. Badiyat
Ada wilayah-wilayah Badui yang dijadikan sebagai tempat untuk mempelajari bahasa arab. Sehingga banyak pembesar istana atau para ilmuwan yang ingin mendalami bahasa ia harus berguru kepada mereka, dan belajar ditempat para badui tersebut. Namun kadangkala orang-orang istana yang mengundang mereka untuk memberikan materi kesusastraan arab di istana. Termasuk khalifah Al-Mu’tashim yang pernah pergi ke Badiyat beberapa waktu lamanya dalam rangka mempelajari sastra arab.
g. Madrasah
Berkembangnya madrasah ini disebabkan karena ada bidang-bidang studi baru yang tidak mungkin dilaksanakan lagi didalam masjid. Sehingga membutuhkan tempat khusus yang representatif agar pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Madrasah-madrasah pada masa itu hampir menyamai tempat pendidikan pada masa sekarang ini, jika ditinjau dari sisi sarana prasarana penunjang pendidikan. Setiap madrasah memiliki iwan (tempat khusus untuk proses belajar mengajar). Dilengkapi dengan perpustakaan madrasah, dan disediakan pula beasiswa bagi peserta didik. Penentuan kurikulum madrasah senantiasa dipantau dan dikontrol oleh penguasa sehingga terjaga tujuan yang hendak dicapainya.
h. Nidlomul Muluk
Nidlomul muluk merupakan lembaga pendidikan sebagaimana madrasah pada zaman sekarang ini. Sistem tingkatannya dibagi menjadi dua, ada tingkatan rendah dan ada tingkat menengah.
4. Peran Masjid dalam Pengembangan Keilmuan
Sebagaimana Rosululloh SAW ketika memulai mengenalkan islam kepada masyarakat, beliau memusatkan pada masjid sebagai simbol kebersamaan serta sebagai tempat untuk menyususn rencana dan aktivitas yang penting dalam pengaturan masyarakat. Pada masa kekhilafahan Harun Al-Rasyid sampai pada masa Al-Makmun masih banyak menggunakan masjid sebagai pusat pengkajian ilmu. Para ilmuwan berkumpul dan berdiskusi serta menulis. Sehingga fungsi masjid pun meluas, tidak hanya digunakan untuk shalat maupun membaca al-Qur’an. Namun masjid juga banyak difungsikan sebagai salah satu tempat untuk masyarakat belajar berbagai macam ilmu.
Dalam rangka untuk mengembangkan ide-ide yang sudah diawali oleh orang tuanya yakni Harun Al-Rasyid, maka Al-Ma’mun tinggal meneruskan untuk mengembangkannya. Masjid-masjid pada masanya juga dibangun tidak hanya sebagai tempat beribadah saja, akan tetapi juga difungsikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Diberbagai kota-kota besar terdapat masjid-masjid yang dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan. Ini menandakan bahwa perhatian khalifah pada saat itu lebih fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.
Al-Khatib Al-Baghdadi ketika berbicara tentang Ahmad bin Abi Thahir menulis, bahwa disetiap 5 masjid ada satu pemandian umum. Dan jumlah masjid pada saat itu (masa Al-Makmun) sebanyak tiga ratus ribu masjid. Al-Katib Al-Baghdadi pun memberikan bukti berupa angka yang menunjukkan tentang peradaban tersebut tentang jumlah pemandiannya. Dia memberikan angka melebihi gambaran yang kita bayangkan. Minimal dalam satu masjid tidak kurang dari lima orang penjaga, sehingga dalam tiap harinya minimal ada satu juta lima ratus orang yang memanfaatkan pemandian umum yang disediakan di masjid-masjid.
Kalau kita kelompokkan masjid berdasarkan pengelolaan dan pendanaanya, ada dua jenis masjid yang berkembang pada masa itu, yakni :
1. Masjid jami’ atau masjid raya sebagai masjid resmi milik pemerintah, sehingga kegiatan-kegiatanpun disesuaikan dengan program yang ditetapkan pemerintah. Pendanaan untuk setiap kegiatan di masjid jami’ ini mendapatkan bantuan atau bahkan didanai sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga kegiatan keilmuan pada masa itu bisa berkembang pesat serta menjangkau kesetiap tempat karena melalui lembaga-lembaga non formal semacam masjid ini.
2. Masjid non jami’ atau masjid yang dikelolah oleh masyarakat secara mandiri. Masjid-masjid ini aktifitas kesehariannya disesuaikan dengan madzhab yang di anut oleh masyarakat setempat. Sehingga pengelolaan serta pendanannya diambilkan dari jamaah dan juga hasil dari wakaf masyarakat.
5. Tokoh-Tokoh yang Aktif dalam Pengembangan Keilmuan
Kemajuan sain dan teknologi pada masa pemerintahan Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dari peran serta penguasa negara pada masa itu. Sehingga masa-masa pemerintahan ketika berada ditangan Bani Abbasiyyah hampir setiap khalifah memiliki andil untuk memajukan program pendidikan. Oleh karena itu di dalam pemerintahan Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan umatnya, sebab Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan hidup umatnya. Dan negara memahami bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, oleh karenanya negara memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi rakyatnya, tanpa atau dengan biaya semurah-murahnya.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh penguasa bani Abbasiyyah terhadap para ahli ilmu. Mereka memperhatikan pemenuhan kebutuhan para pengajar dan pegawai guna kelancaran penerjemahan maupun pengembangan ilmu. Misalnya : Al-Makmun membuat aturan untuk aktivitas penerjemahan. Dia memilih seorang penanggung jawab, yaitu Yohana Al-Batriq. Dia membawa penulis yang cerdas serta mengetahui bahasa Suryani dan Yunani. Kemudian dia pun membawa para penerjemah besar. Para penulis menerjemahkan terjemahan pertama dari bahasa Suryani atau Yunani ke dalam bahasa arab. Kemudian para penterjemah tesebut mentashihnya. Diantara mereka memilih pentashih bahasa arab, yaitu Hanin bin Ishaq. Hanin bertugas memeriksa transkrip akhir dari segi bahasa. Dia belajar bahasa arab dari ilmuwan-ilmuwan besar di Bashrah. Dengan cara inilah buku-buku di cetak dengan berurutan, diterjemahkan, kemudian dikoreksi pada transkrip akhirnya. Dimana untuk seorang penerjemah Hunain bin Ishaq, khalifah menyediakan berbagai macam fasilitas yang ada di istananya untuk segala macam keperluan Hunain. Untuk menggaji para penerjemah buku-buku, Al-Ma’mun berani mengeluarkan uang 500 dinar (4,25 x 500 = 2125gr emas) perbulan untuk setiap orangnya. Al-Ma’mun sendiri yang melakukan pembayarannya. Sebagai pembanding adalah ketika Umar bin Khattab memberi gaji guru anak-anak di Madinah tiap bulan sebesar lima belas dinar (kurang lebih 63,75 gr emas) pada awal pemerintahan islam.
Disamping motivasi yang sangat besar dari pihak pemerintahan, yakni dengan adanya jaminan kebutuhan hidup para ilmuwan. Muncul pula kegairahan kaum muslimin masa itu untuk lebih mencurahkan pada bidang keilmuwan. Kondisi yang baik, keamanan yang terjamin, dan atmosfir suasana keilmuan yang menggema inilah sebagai motor penggerak keilmuwan yang kuat. Sehingga banyak kaum muslimin dimasa pemerintahan Bani Abbasiyyah yang melakukan penerjemahan dan pengembangan keilmuan diberbagai bidang :
a. Matematika
Abu Abdullah Muhamad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, beliau seorang ahli Matematika, astronomi, dan geografi yang sangat terkenal pada abad 9 M. Dan berjaya pada masa khalifah Al-Makmun. Beliau yang menemukan angka nol yang sangat penting dalam aritmatika serta penulis buku al-jabr wal-muqobalah. Sedangkan pada masa itu orang-orang kristiani masih menggunakan angka Romawi kuno dan Sampoa.
Abu Sa’id al-Darid al-Jurfani (meninggal tahun 845M), adalah seorang ahli astronomi dan matematika muslim, menulis tentang wacana masalah-masalah dalam bidang ilmu geometri.
Abu Wafa menyumbangkan ilmunya untuk pengembangan generalitas teorima sinus terhadap segi tiga. Dia memberikan tabel baru untuk menyusun tabel sinus, dan menghitung angka sinus 30 derajat sampai delapan angka desimal.
Umar ibnu Khayyam, beliau adalah ahli dalam ilmu matematika dan astronomi. Bahasan yang banyak di geluti adalah persamaan tentang kubik.
Abul Abbas Ahmad Ibnu Muhammad, seorang penulis muslim yang sangat populer, telah mengarang 74 karya yang berkaitan dengan matematika dan astronomi. Salah satu bukunya , al-Talkhis anil Hisab. Buku ini dikagumi oleh Ibnu Khaldun, dan terjemahannya kedalam bahasa perancis pada tahun 1864 M.
b. Fisika dan Teknologi
Ibnu Sina melakukan kajian dalam ilmu fisika sehingga mengahasilkan karya fenomenal tentang gaya, gerak, cahaya, panas, dan ruang hampa. Karya yang sangat berarti dilakukan dalam bidang mekanik seperti roda, as roda, pengungkit, katrol, bidang miring, kincir angin, dan lain-lain.
Al-Khazini, menulis buku daam bidang mekanika, hidrostatistika, dan fisika yang berjudul Kitab Mizan al-Hikmah (buku tentang keseimbangan kebijaksanaan) yang merupakan karya terbesarnya pada abad pertengahan. Dan dari karyanya inilah menjadi jalan perintis bagi Galileo.
Muhammad Ibnu Ali Ibnu Rustam al-Khurasani adalah penemu jam yang sangat terkenal. Sehinga beliau dijuluki al-Sa’ati.
Abu Isa Ismail Ibnu Razzaz Badi’ al-Zaman al-Jazari. Beliau menulis desertasi tentang pengetahuan alat mekanika geometri yang berkaitan dengan peralatan hidrolik, seperti air mancur.
c. Astronomi
Ibrahim ibnu Habib al-Fazari adalah seorang muslim yang pertama kali menulis astrolab. Beliau mengarang puisi dalam bidang astrologi dan mengumpulkan kalender menurut metode Arab.
Abdullah Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan Al-Battani (Al-Batenius). Beliau melakukan observasi astronomi yang sangat luas, seperti ketepatan 54,5 inc dalam satu tahun inklinasi gerhana 23,35 derajat. Buku al-Battani ini diterjemakan kedalam bahasa latin dan spanyol pada abad 12 dan 13 dan sangat berpengaruh terhadap para sarjana Eropa pada abad pertengahan.
d. Kimia
Jabir bin Khayyan (Geber), ahli kimia terbesar pada masanya. Penemuan terpenting nya adalah ditemukannya asam Nitrat (HNO3), serta asam sulfat (H2SO4) sebagai bahan dasar industri.
Abu Mansur membedakan antara natrium karbonat (Na2CO3) dengan kalium karbonat (K2CO3). Beliau memiliki sejumlah pengetahuan tentang aksen oksida, tembaga oksida, antimon dan zat-zat lain.
e. Kedokteran
Ibnu Sina (Avicenna), Dokter dan filsuf islam termasyhur. dia banyak meninggalkan karya tulis tidak kurang dari 200 buah. Bukunya yang terrenal antara lain, As-Syifaa’, al-Qanun fil at-tib, yang selama lima abad menjadi literatur-literatur peting bagi facultas-fakultas kedokteran di Eropa.
Ibnu Nafis al-Qarshi ketika berada di Damaskus, menjelaskan tentang sirkulasi darah. Peristiwa ini terjadi tiga abad sebelum William Harvey, yang disebut penemu dari teori ini. Juga al-Qarshi menyatakan bahwa makanan merupakan bahan bakar untuk penyediaan panas bagi tubuh.
Abul Qasim al-Zahrawi menemukan banyak alat-alat untuk keperluan operasi dan bedah sebagaimana di jelaskan dalam buku al-Tasrif. Berikut penjelasan tentang bagaimana cara melakukan operasi tulang tenkorak manusia dan bagian-bagiannya.
f. Geografi
Ibnu Musa al-Khawarizmi, telah berhasil mengumpulkan karya Geografi yang di sebut Rasm al-Ma’mur minal Bilad (deskripsi tanah hunian) yang berisi hasil penelitian para sarjana dimasanya. Beliau melanjutkan karya geografi Ptolomeus, baik dalam bentuk naskah maupun dalam bentuk peta.
g. Keagamaan
Imam Malik yang menyusun kitab al-Muwatta’, kitab ini ditulis pada masa al-Mansur an baru selesai pada masa al-Mahdi. Ketika Harun al-Rasyid berkuasa berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum negara, Namun Malik bin Anas menolaknya.
Imam Hambali yang hidup pada masa al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, dimana pada saat itu terjadi perselisihan faham antara beliau dengan khalifah tentang al-Qur’an sebagai makhluk atau bukan. Beliau mengarang kitab al-Musnad yaitu kitab hadith yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadith.
Imam as-Syafi’i salah seorang ulama’ mujtahid di bidang fikih, salah seorang imam dari empat imam madzhab. Beliau hidup pada masa Harun al-Rasyid, al-Makmun, dan al-Amin dari kekhilafahan Abbasiyyah. Karangan beliau yang sampai pada kita Sekarang ini adalah kitab al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Dan kitab ar-Risalah yang membahas ilmu ushul fikih.
Imam Hanafi, seorang ahli fikih Persia yang kemudian menjadi ahli fikih di Irak. Ia mempelajari metode fikih Umar yang didasarkan pada maslahat dan metode fikih Ali yang didasarkan pada istinbat. Madzhab Hanafi ini berkembang dan bisa bertahan kurang lebih 500 tahun, karena madzhab ini diakui sebagai madzhab resmi negara bani Abbasiyyah.
6. Metodologi Pendidikan
Banyak metodologi yang digunakan pada masa Abbasiyyah ini, sebagaimana penjelasan diatas. Namun kalau kita kelompokkan ada beberapa metode pembelajaran yang dipakai, dan metode-metode ini ternyata cukup efektif untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan kaum muslimin, diantaranya : Imlak (dekte) yang mungkin ini sudah banyak kita kenal, dalam rangka untuk belajar tulis-menulis. Ceramah, adalah metode yang paling tua dan hingga saat sekarang inipun masih banyak dipakai dalam rangka transfer of knowledge. Metode yang juga dominan digunakan dilingkungan kaum muslimin atau pesantren hingga saat ini adalah talqin (hafalan).
Disamping metode-metode diatas, masih banyak metode yang dipakai pada masa lampau dan banyak dikembangkan pada masa sekarang ini, diantaranya: Munadlarah (diskusi), ta’liqoh (debat tertulis), jadal (debat), ketiga metode inilah yang banyak dikembangkan dan dimodifikasi. Metode-metode yang banyak mendorong para peserta didik untuk mengeksplor kemampuan pribadinya, metode yang tidak menjadikan seorang guru sebagai satu-satunya titik sentral inilah yang banyak diterapkan. Dalam rangka untuk lebih memacu kreatifitas dan memunculkan karakteristik positif pada anak didik serta lebih memberikan rasa percayadiri bagi siswa, metode yang cocok untuk diterapkan adalah metode yang mengaktifkan guru dan siswa. Baik antara siswa dengan siswa, maupun siswa dengan gurunya.
C. ANALISA dan SIMPULAN
Dorongan Islam agar Umatnya menjadi manusia yang terpelajar sangat di utamakan. Disamping Islam mengajarkan ilmu yang terkait hubungannya dengan tuhan yang diatur dalam ibadah, Islam juga meganjurkan umatnya untuk belajar ilmu yang terkait dengan sain dan teknologi. Dalam masa perkembangannya, umat islam melakukan penterjemahan besar-besaran dalam bahasa arab sehingga menjadikan bahasa arab pada waktu itu sebagai lingua franca. Yakni sebagai ilmu yang diperlukan dalam mempelajari agama dan diperlukan untuk mempelajari sain dan teknologi. Georgie Zaidan dalam kitab Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah mengatakan bahwa :
”....bahasa arab menjadi bahasa politik dalam sebagian negeri-negeri islam, serta menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan agama dihampir seluruh dunia islam...........dalam pada itu, bahasa arab selalu menjadi bahasa agama didunia islam baik ditimur maupun dibarat. Tidak ada seorang sarjana muslim pun yang tidak memahami dan mempelajari bahasa arab. Bahkan orang yang berasal dari Eropa pun di masa kebangkitannya, para filosof dan sarjananya senantiasa memperluas pengetahuannya dan tidak bisa menghindari dirinya dari belajar bahasa arab.”
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita tidak bisa terlepas dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh kaum muslimin dimasa kekhilafahan Bani Abbasiyyah adalah diawali dengan melakukan penterjemahan besar besaran dari berbagai disiplin ilmu. Dan dari hasil terjemahan itu kemudian diadakan kajian ulang terkait dengan temuan-temuan yang pernah dikaji oleh bangsa Yunani atau Romawi, kemudian para ilmuwan pada masa itu melakukan pengembangan-pengembangan dan inovasi-inovasi sebagai pembaharuan.
Pada masa kekuasaan Abbasiyyah inilah berkembang pesat sain dan teknologi serta ilmu-ilmu agama yang ditandai dengan lahirnya empat imam madzhab terbesar pada masanya hingga saat sekarang ini. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari peran pemahaman masyarakat Islam pada masa itu terkait motivasi untuk mengembangkan ilmu keduniaan disamping ilmu-ilmu agama secara praksis. Disamping itu juga peran dari pemerintah yang Sangat besar untuk mendorong para ilmuwan agar senantiasa mengembangkan kemampuannya serta menemukan inovási-inovasi dalam temuan teknologi mutakhir pada masanya.
Kepekatan zaman kegelapan di Eropa dan dunia pada masa itu akhirnya terkuakkan ketika fajar islam menampilkan diri dari lembah faran, dan Rosulullah memulai zaman ilmiah modern. Para sarjana muslimlah yang menggali harta terpendam pengetahuan dari puing-puing reruntuhan peradaban yang sudah mati, yakni peradaban Yunani dan Roma, Babilonia dan Iran serta Cina dan India. Mereka membongkar harta terpendam itu dan menanamnya serta mengembagkannya, kemudian menyampaikannya ke Eropa melalui universitas-universitas di Bagdad, Cairo, dan Spanyol. Dengan demikian peletak batu pertama renaisans Eropa sebenarnya adalah para penganut ilmu dan guru-guru muslim yang melalui tangan mereka lahir orang-orang seperti Roger Bacon, Thomas Alfa Edison, serta Albert Einstein, dan lain-lain .
Pelajaran yang bisa kita ambil pada masa Sekarang ini adalah semangat dari para pendahulu kita. Para ilmuwan pada masa kejayaan Islam yang telah meletakkan batu pijakan bagi perkembangan sain dan teknologi zaman modern sekarang ini. Semangat dan keinginan keras untuk menguasai sain dan teknologi melalui penterjemahan-penterjemahan yang dilanjutkan dengan pengkajian ulang. Dari pengkajian ulang inilah ditemukan berbagai macam inovási-inovasi dari temuan sebelumnya. Dari berbagai penemuan ilmuwan Islam inilah yang kemudian dikembangkan oleh orang barat dewasa ini. Misalkan ; penyusunan sofwer komputer tidak akan pernah ditemukan, jika tidak ditemukannya angka nol (0) oleh pakar matemátika muslim al-Khawarizmi.
Daftrar Pustaka
Abdurahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Bangil : Al-Izzah, 1996
Al-Katib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Baghdadi, Jilid I.
Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005
Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001
Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholahatul Hadith, Bandung: Al-Maarif, 1974
George Zaidan, Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah, Jilid . III.
Muhammad Al-Usari, Al-Tarikh al-Islamy, terj Samson Rahman, Jakarta : Akbar Media Aka Sarana, 2007
Muhammad Fazlur Rahman, Islam Versus the West (terj) Husin Anis ,Bandung : Mizan, 1985
M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudlui atas Berbagai Peroalan Umat, Bandung : Mizan, 2001
Nur Cholis Majid. Dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta :Ichtiar Baru Van Hoeve,
1997,Jilid.II, III
Shaber Ahmed dkk., Islam and Science, terj. Zetira Nadia , Bangil: Al-Izzah, 1997
Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, terj.Arif Munandar , Jakarta : Pustaka Kautsar, 2007 Read More..
Filsafat Pendidikan Islam
Tuhan, Manusia, dan Alam Perspektif
Filsafat Pendidikan Islam
A. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat islam mencapai puncaknya ketika dunia Islam diperintah oleh para khalifah dari dinasti Bani Abbasiyyah yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad. Kota metropolitan tersebut, sebelum ditaklukkan Islam telah dikuasai oleh Parsi, kebudayaan dan peradabannya telah bercampur dengan kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno dibawa Aleksander Yang Agung sejak tiga abad lebih sebelum masehi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat ketika itu ditandai dengan semaraknya penerjemahan manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dab Parsi. Maka ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani bisa dibaca dan dipelajari secara luas oleh umat Islam.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat didunia Islam berlangsung selama kurang lebih enam abad, yakni dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-12 Masehi. Kemunduran Peradaban Islam ini disebabkan oleh banyak faktor baik eksternal maupun internal. Faktor eksternalnya adalah serbuan tentara Mongol dibawa pimpinan Hulagu yang menghancurkan kota Baghdad dan menghanguskan ratusan ribu bahkan jutaan buku-buku ilmu pengetahuan yang tersimpan diperpustakaan kota Banghdad. Adapun faktor internalnya adalah sikap stagnan dan statis dalam diri ulama-ulama Islam, terutama dari golongan Sunni, yang beranggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
Kemunduran peradaban ini terus berlangsung hingga pada saat sekarang ini, termasuk di Indonesia negara yang mayoritas penduduknya muslim. Fakta masyarakat muslim Indonesia yang demikian tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga misalnya Malaysia, Singapura, dan sebagainya, menggugah kesadaran kita untuk melakukan evaluasi dan peningkatan mutu khususnya dibidang pendidikan. Banyak analisa yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa adalah bidang pendidikan. Seiring dengan itu, upaya perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola pendidikan, dan lain sebagainya terus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Diketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti atau hakikat dari segala yang ada, dan karenanya ia menjadi induk segala ilmu. Sebab dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang sehingga manusia dapat menikmati ilmu sekaligus buahnya, yaitu teknologi. Dalam bahasa agama filsafat dikenal dengan nama hikmah, dan barang siapa diberikan hikmah, maka ia akan diberikan kebaikan yang banyak.
Filsafat Pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari konsep manusia yang akan di didik, tujuan pendidikan, guru, kurikulum, dan metode pendidikan secara filosofis. Dengan kata lain Filsafat Pendidikan Islam mempergunakan jasa pemikiran filosof, yaitu pemikiran yang sistematk, logik, radikal, universal dan obyektif terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan.
Filosof pendidikan termasuk orang yang diharapkan merancang dengan hikmah untuk menjadikan proses pendidikan dan usaha-usaha pendidikan pada suatu bangsa. Ia juga menyiapkan generasi muda dan warganegara umumnya agar supaya beriman kepada Tuhan. Beriman juga dengan apa yang diwahyukan oleh Tuhan, perintah dan ajaran yang tinggi terhadap pesuruh-pesuruhnya yang mulia, dan memungkinkan mereka memahami dengan betul terhadap sifat-sifat alam jagat yang mengelilingi manusia. Begitu juga ia memperkenalkan dirinya kepada mereka dan nilai-nilai yang dimilikinya dalam hidup ini. Begitu juga ia menunjukkan peranan yang mungkin atau harus dipegangnya dalam hidup ini untuk mengembangkan masyarakat dan mengubah cara-cara hidup mereka kearah yang lebih baik. Ini juga memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan yang benar dalam segala bidang kehidupan. Begitu juga mereka dapat mendidik akhlak dan perasaan seni dan keindahan mereka serta menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran dan memperkenalkan kepada mereka ciri-ciri, unsur-unsur, dan cara-cara mencapainya.
Oleh karena itu filosof pendidikan dengan segala harapan yang telah diletakkan dipundaknya, haruslah memiliki fikiran yang benar, jelas, dan menyeluruh tentang wujud dan segala aspeknya yang bermacam-macam : Ketuhanan, Kemanusiaan, Kealaman fisikal dan sosial.
B. Pembahasan
1. Tuhan dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Aqidah yang paling sempurna adalah aqidah yang dapat diterima oleh akal. Dialah Allah satu-satunya Tuhan, tiada berawal dan tiada berakhir, maha kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, maha meliputi segala sesuatu, dan tiada sesuatu apapun yang serupa denganNya. Alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah, Allah yang menciptakannya dan akan kembali kepada Allah. Lenyap dan adanya alam semesta tergantung pada kehendak Allah.
Bila kita hendak mengungkapkan aqidah tersebut dengan bahasa fisafat, dapatlah kita katakan : dua eksistensi, yaitu eksistensi keabadian dan eksistensi waktu. Suatu imajinasi belaka kalau akal menggambarkan bahwa waktu dapat menjadi bagian dari keabadian. Karena kalau keabadian kita ulur dan kita panjangkan dari awal mulanya, ternyata ia adalah azali (tanpa awal). Dan jika kita ulur serta kita panjangkan ia dari akhirnya, ternyata ia adalah tak berkesudahan, tidak akan berakhir untuk selama-lamanya.
Jadi pada hakikatnya waktu bukanlah keabadian. Waktu kita kurangi terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak mengurangi keabadian. Ia kita tambahkan terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak menambah keabadian. Sehingga keabadian dan waktu merupakan dua eksistensi yang berlainan hakikat dan subtansi, serta berlainan pula dalam gambaran dan jangkauan. Keabadian adalah suatu eksistensi yang tidak dapat kita gambarkan adanya gerak didalamnya. Sedangkan waktu adalah suatu eksistensi yang tidak bisa kita gambarkan tanpa adanya gerak.
Allah itu bukanlah fisik yang kita bayangkan, dan bukanlah wujud materi yang dapat kita ukur. Dia tidaklah menyerupai segala bentuk fisik, baik dalam kriteria dan keragaman, Esensi Dia bukan atom dan tidak pula ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan wujud, dan sebaliknya. Tidak sesuatupun menyerupai-Nya. Dia bukan serupa degan sesuatu. Dia tidak dibatasi kriteria, tidak diliputi batas wilayah dan arah. Dia juga tidak dipanggul dengan langit-langit yang ada. Dia bersemayam di Arsy, tetapi keberadaan-Nya disana terlepas dari konotasi bersentuhan dan penetapan, tidak pula bertempat, berubah dan berpindah. Dia tidaklah disangga oleh Arsy, tetapi justru Arsy itu beserta seluruh penyangganya berada di genggaman Maha Lembut kekuasaan-Nya.
Sejalan dengan itu al-Ghazali juga menguraikan masalah pendidikan yang tidak bisa terlepaskan dari pemahaman tentang Sang Khaliq. Menurutnya tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang, karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Rumusan tujuan pendidikan yang demikian ini karena dunia bukanlah hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut akan dapat memutuskan kenikmatan setiap saat.
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, at-ta’dib, dan at-ta’lim. Dari ketiga istilah term tersebut, term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam term al-tarbiyah. Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara , merawat, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Dalam penjelasan lain, kata al-tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh, dan berkembang (Q.S. Ar-Ruum: 39). kedua, rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu, berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara. Kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam (Q.S Al-Fatiha :2) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah at-tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik Yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.
Uraian diatas secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang telah diberikan Allah sebagai ”Pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Sebagaimana KH. Ahmad Dahlan yang menginginkan agar pendidikan diletakkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara Vertikal (Khaliq) maupun horizontal (makhluk). Dimana manusia diberikan Allah akal yang mampu untuk dikembangkan guna menyusun kerangka yang teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horisontal dalam konteks tujuan penciptaannya.
Tokoh nasional yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini, yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang berkecimpung langsung dalam pendidikan juga meletakkan tauhid atau masalah ketuhanan merupakan masalah yang pokok. Dalam hal ini yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Titik penekanan lainnya tentang pendidikan adalah pada sisi amaliahnya. Dia mengemukakan bahwa bertauhid itu mengharuskan adanya keimanan. Barang siapa beriman maka ia harus bertauhid. Keimanan mewajibkan adanya syari’at, sehingga orang yang tidak menjalankan syariat maka ia berarti tidak beriman dan bertauhid. Sementara orang bersyariat harus beradab. Dengan demikian, orang yang beradab berarti ia juga bertauhid, beriman dan bersyariat.
Dari seluruh pembahasan diatas, maka sudah selayaknya pendidikan Islam harus berlandaskan pada konsep ketuhanan. Karena dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah bisa terlepas dari kehendak dan hukum-hukum-Nya. Sebagaimana kita memahami bahwa Tuhan adalah poros dari segala aktifitas yang dilakukan oleh seluruh umat muslim, bahkan oleh segenap alam semesta.
2. Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Bagi falsafah pendidikan, penentuan dan sikap serta tanggapan tentang manusia merupakan hal yang amat penting dan vital. Sebab manusia merupakan unsur terpenting dalam tiap usaha mendidik. Tanpa tanggapan dan sikap yang jelas tentang manusia, pendidikan akan meraba-raba. Malah pendidikan itu sendiri dalam artinya yang paling asas adalah usaha untuk menolong manusia dalam rangka menemukan rahasia alam, memupuk bakat, serta mengarahkan kecenderungannya demi kebaikan diri dan masyarakat. Usaha itu berakhir dengan berlakunya perubahan yang dikehendaki dari sisi sosial dan psikologis serta sikap untuk menempuh hidup yang lebih berbahagia dan berarti.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini Ibn ’Arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, ”tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui , berkehendak, berbicara, melihat, mendengar , berpikir, dan memutuskan.” Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi.
Al-Ghazali mengungkapkan proses penciptaan manusia dalam teori pembentukan (taswiyah) sebagai suatu proses yang timbul didalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima ruh. Materi itu merupakan sari pati tanah liat Nabi Adam A.S. yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nutfah) ini yang semula adalah tanah liat setelah melewati berbagi proses akhirnya menjadi bentuk lain (khalq akhar) yaitu manusia dalam bentuk yang sempurna. Tanah liat berubah menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan), makanan menjadi darah kemudian menjadi sperma jantan dan indung telur. Kedua unsur ini bersatu dalam satu wadah yakni rahim dengan tranformasi panjang yang akhirnya menjadi tubuh yang harmonis (jibillah) yang cocok untuk menerima ruh. Sampai disini prosesnya murni bersifat materi sebagai warisan dari leluhurnya. Kemudian setiap manusia menerima ruhnya langsung dari Allah di saat embrio sudah siap dan cocok menerimanya. Maka dari pertemuan antara ruh dan badan terbentuklah mahluk baru manusia.
Dari uraian proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah (Q.S. As-Sajdah :7) dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah (Q.S. Al- Hijr :29). Kesatuan ini memberi makna bahwa disatu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan di sisi lain menandakan manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani.
Sedangkan Harun Nasution memahami, unsur materi manusia mempunyai daya fisik, seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak. Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat di kalbu. Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan keterampilan dan panca indera. Sedangkan untuk mengembagkan daya akal dapat dipertajam melalui ibadah, karena intisari ibadah dalam Islam ialah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci, Allah SWT. Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh ruh yang suci dan ibadah adalah sarana latihan untuk mensucikan ruh atau jiwa. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa secara filosofis pendidikan Islam seyogyanya merupakan kesatuan pendidikan Qalbiyah dan ’Aqliyah agar tercipta manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan filsafat penciptaannya.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT. Menciptakan manusia bukan secara main-main (QS. Al-Mu’minun :115), melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Secara global tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Khalifah
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat (Q.S. Ar-Ruum:72). Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan dibumi (Q.S. Huud :61). Karena amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah:30). Al-Maraghi, memaknai khalifah yang pertama sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan titah-Nya dimuka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.
Salah satu implikasi terpenting dari kekhilafahan manusia dimuka bumi ini adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan untuk hal ini dikarenakan kepadanya dianugerahkan Allah berbagai potensi. Disamping itu, alam semesta ini beserta apa-apa yang ada didalamnya adalah diciptakan Allah SWT untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Karenanya, merupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia dialam ini guna memenuhi keperluan hidupnya.
Disamping itu, kemungkinan manusia memahami alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan ukuran dan ketentuan yang pasti dan tak berubah-ubah (sunnatullah), sehingga dalam batas-batas tertentu ia bersifat ”predictable”. Berdasarkan inilah manusia dapat mengolah dan memanfaatkan alam ini untuk keperluan hidupnya. Karenanya, manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk kepada-Nya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta.
b. ’Abd (hamba Allah)
Kalau kita lihat secara luas , konsep ’abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup dialam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang semata-mata hanya untuk mencari ridla Allah (Q.S. Adz Dzarariyaat :56). Belajar adalah ibadah manakala itu dilakukan dengan niat mencari ridha Allah. Bekerja juga ibadah manakala itu di lakukan untuk mencari ridha Allah. Semua aktivitas seorang hamba dalam seluruh dimensi kehidupan adalah ibadah manakala itu dilakukan untuk mencari ridha Allah. Pada dasarnya konsep ini merupakan makna sesungguhnya ibadah manakala difahami, dihayati, dan diamalkan, maka seorang muslim akan menemukan jati dirinya sebagai insan paripurna (al-insan al-kamil). Pandangan diatas merupakan visi filosofis dan antropologis yang dinukilkan Allah dalam al-Qur’an yang telah mendudukkan manusia dialam semesta ini ke dalam dua fungsi pokok, yaitu khalifah dan ’abd.
Agar manusia mampu melaksanakan tugas dan fungsi penciptaannya, maka manusia dibekali Allah SWT dengan berbagai potensi atau kemampuan. Potensi atau kemampuan itu disebut oleh Hasan Langgulung sebagai sifat-sifat tuhan yang tersimpul dalam al-Qur’an dengan nama-nama yang indah (Asma’ul Husnah). Tentunya potensi yang dimiliki manusia dalam bentuk dan cara yang terbatas, sebab kalau tidak demikian manusia akan mengakui dirinya sebagai Tuhan. Untuk itu, manusia harus mendayagunakan potensi yang dianugerahkan kepadanya secara bertanggung jawab dalam rangka merealisasikan tujuan dan fungsi penciptaannya di alam ini, baik sebagai ’abd maupun khalifah fi al-ardl.
Dari penjelasan diatas maka, ada dua hal yang harus diperhatikan implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu: pertama, karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki adanya proses pembinaan yang mengacu pada realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti sistem pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan Qalbiyah dan ’Aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Kedua, bahwa fungsi penciptaan manusia dialam sebagai khalifah dan ’abd dengan seperangkat potensi. Maka, dalam konteks ini pendidikan Islam harus mengacu pada pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan lingkungannya. Inilah sebesar-besar dari pengabdian manusia kepada Tuhannya sebagai perwujudan dari seorang hamba yang taat.
3. Alam dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagaimana pendidik pada umumnya memahami, bahwa pendidikan sebagai proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok. Maka pendidikan hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitar serta dengan alam sekeliling, tempat ia hidup. Sebagaiman perbedaan watak, akhlak, adat, tradisi, dan cara hidup penduduk dalam kesehariannya adalah contoh yang paling menonjol dalam hal ini. Penduduk pesisir umpamanya mempunyai watak dan cara hidup tersendiri, dan akan berbeda dengan penduduk gurun pasir, demikian pula dengan penduduk yang ada dipuncak gunung.
Golongan materialis berpendapat bahwa alam wujud ini pada hakikatnya bersifat benda belaka. Tidak ada yang lain dari pada benda. Golongan ini menyorot arti kehidupan, akal, perasaan, baik, buruk dan fenomena wujud yang lain berdasarkan faham-faham kebendaan yang mereka yakini. Mereka kembalikan segala perkara kepada benda. Bahkan dalam menafsirkan tindak-tanduk manusia pun mereka coba mengikuti hukum benda. Bertolak dengan itu, para rohaniawan beranggapan bahwa alam ini bersifat rohaniyah. Hakekat yang sebenarnya tidak lain daripada roh atau akal. Adapun benda dalam segala bentuk dan manifestasinya tidak lebih dari satu gambaran atau fenomena rohaniyah. Imam Al-Ghazali membagi alam ini menjadi dua bagian, yakni alam syahadah (yang disaksikan) yang terdiri dari benda-benda nyata, berkembang dan berubah-ubah, serta yang kedua adalah alam ghaib.
Kalau kita membahas tentang alam syahadah, maka kita akan selalu terfokus pada alam nyata yang ada disekitar kita. Pada alam inilah kita diberikan ”kebebasan” untuk mengelolah agar bermanfaat bagi manusia serta alam sekitarnya. Kita hanya diberi panduan global pengelolaannya oleh islam, termasuk hak-hak kepemilikannya. Namun secara lebih detil teknis pengelolaannya tergantung pada kemajuan sains dan teknologi yang berkembang pada masanya. Kalau kita bahas alam yang kedua yakni tentang alam ghaib, maka kita akan lebih menekankan dari informasi Yang Maha Ghaib Allah SWT.
Demikian juga, kita harus memahami bahwa setiap unsur dan bagian dari alam ini bergerak mengikut hukum umum yang tertentu dan berdasarkan kepada hubungan teratur yang menunjukkan kesatuan tadbir dan peraturan. Hal ini menyebabkan setiap orang yang mengamati fenomena itu akan berhadapan dengan suatu kejadian yang rapi, mutlak dan harmonis. Tak ketinggalan juga manusia sebagai bagian dari alam, tunduk sebagaimana juga bahagian alam yang lain- kepada hukum atau sunnatullah. Akan tetapi tunduknya tidaklah persis seperti makhluk lain. Manusia tunduk dalam kebebasannya berkehendak dan membuat pilihan.
Segala yang ada, termasuk alam jagat raya ini bersifat baharu. Baik asas cabang unsur maupun jiwanya. Baik bintang gemintang, cakrawala langit maupun daratannya. Baik binatang, tumbuhan, maupun benda-bendanya proses perkembangannya yang kait mengait dan berentetan yang menjelmakan satu macam ikatan sebab akibat. Semua gejala itu tidak cukup untuk membuktikan azali atau qadimya alam. Malah agama sendiri menolak kemungkinan ini. Peristiwa demikian bisa dibuktikan dari hasil berbagai penelitian terkait dengan perubahan dan perkembangan. Berkisar pada satu keadaan kepada satu keadaan yang lain, akhirnya sirna, hancur, dan hilang.
Keutamaan terbesar agama Islam ialah bahwa agama itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum muslimin untuk memperoleh pengetahuan. Ia mendorong mereka mendalaminya dan meraih kemajuan, menerima perkembangan keilmuan yang sesuai dengan kemajuan zaman. Ia juga selalu memperbaharuhi cara-cara untuk memperoleh penemuan-penemuan baru dan sarana pengajaran. Oleh karena itu hendaknya, pendidikan Islam senantiasa menumbuhkan semangat kaum muslimin untuk menuntut ilmu pengetahuan, memperluas penelitian dan pengamatan, sehingga alam yang dikaruniakan Allah ini bisa dimanfaatkan secara optimal dengan cara yang santun dan tidak merusaknya.
C. Penutup
Dalam kerangka Filsafat Pendidikan Islam, kita sebagai manusia tidak akan bisa terpisahkan dengan adanya Tuhan sebagai pencipta segala yang ada. Demikian juga, kita tidak akan bisa terpisah dengan alam kehidupan ini, karena kita tinggal didalamnya. Manusia ada, karena diciptakan kemudian diberikan amanah untuk mengelolah alam sekitarnya sebagai khalifah fi al-ardl. Sehingga Pendidikan Islam senantiasa berlandaskan pada azas ketauhidan dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia melalui kemajuan sains dan teknologi sebagai sarananya, sekaligus meraih kesuksesan akhirat melalui ketaatan pada syariatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus)
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta : Sipress, 1993)
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997)
Abdurrahman An-Nahlawi, Prisnsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro,1992)
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Bandung : Mizan, 1995)
Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954)
Al-Ghazali, Kitab al-arbain fi ushul ad-diin, terj. Lukman Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)
Ali Isa Othman, Manusia menurut al-Ghazali, (Bandung : Pstaka, 1985)
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo, 2005)
Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung :Mizan, 1995)
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta:Pustaka al-Husna, 1989)
Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al—Anshori al-Qurthubiy, tafsir al-Qurtubiy, juz I, (Kairo : Dar al-Sya’biy, tt)
Ismai Raji’ al-Faruqi, Islam dan kebudayaan, (Bandung: Mizan :1984)
Omar Muhammad al-Thoumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Ciputat Pers, 2002) Read More..
Langganan:
Postingan (Atom)
