Minggu, 02 Agustus 2009




ABBASIYYAH
DAN PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN

A. PENDAHULUAN
Ide Islam terdiri dari dua komponen, yaitu keimanan dan aturan yang bersandar kepada aqidah. Keimanan kepada Islam memberikan jawaban yang benar dan komprehensif terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan manusia dan alam raya ini. Keimanan ini menjelaskan tentang tujuan hidup manusia dan menghubungkannya dengan kehidupan sebelum adanya dunia ini dan setelah kehidupan setelah dunia ini berakhir. Karena itu aqidah Islam menyelesaikan pokok persoalan manusia dan memberikan dasar aturan untuk mengatur seluruh urusan manusia. Sedangkan aturan yang diperuntukkan bagi manusia mencakup: hubungan manusia dengan tuhannya, urusan manusia dengan pribadinya, berbagai hubungan sosial masyarakat. Karena Islam memberikan pemahaman yang benar tentang kehidupan dan menempatkan sisi kemanusiaan pada konteksnya yang tepat, maka sistem dan budaya yang memancar dari aqidah Islam pasti akan mampu menjelaskan hakekat manusia dan memberikan pemecahan atas permasalahannya dengan benar. Islam tidak mengabaikan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi Islam mengaturnya dalam konteks yang tepat, termasuk keinginan manusia untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
Islam adalah agama sempurna yang mengatur kehidupan keduniaan dan keakhiratan. Peradaban Islam telah mencapai puncak kegemilangannya ketika kendali negara dipegang Bani Abbasyiyah dan tidak bisa ditandingi oleh bangsa-bangsa lain pada masanya. Tingkat peradaban bisa diukur dengan adanya peninggalan-peninggalan pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan buku dan karya. Jika kita ingin merujuk kepada pemikiran dan penulisan, kita akan melihat bahwa bangsa Arab-Islam telah mencapai tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh barat kecuali pada periode terakhir ini.
Ada seorang ilmuwan yang hidup diabad kedelapan hijriyah, ilmuwan tersebut mendapatkan bukunya disalah seorang muridnya, yaitu juz kedua puluh enam dari daftar isi buku tersebut. Namun, juz tersebut bukan satu-satunya buku. Setiap juz terdiri dari empat ratus kertas, yaitu sekitar delapan ratus halaman. Didalam buku tersebut hanya disebutkan nama-nama buku beserta nama-nama penulis, nasab, gelar, dan tahun wafat mereka. Cara inilah yang ditempuh oleh Haji Khalifah, penulis “Kasyf Azh-Zhunnun,” dalam menghitung nama-nama buku. Jika kita hitung jumlah buku yang disebutkan dalam setiap jilid mencapai lebih dari enam belas ribu nama, dan jika kita anggap bahwa buku tersebut telah lengkap didalam setiap jilid, ini berarti bahwa buku-buku yang disebutkan dalam setiap jilid lebih dari empat ratus judul buku. Buku-buku tersebut menunjukkan karya-karya yang telah ditulis dalam bahasa arab pada abad ke delapan. Tentu saja, angka tersebut sangat besar jika kita melihat keterbatasan peralatan serta kecangggihan peralatan pada masa itu.

B. PEMBAHASAN
1. Faktor-Faktor yang Melatarbelakangi Perkembangan Pendidikan
Sejak awal kelahirannya, Islam sudah memberikan penghargaan yang begitu besar kepada ilmu. Sebagaimana telah diketahui, Bahwa Nabi Muhammad ketika diutus oleh Allah sebagai rasul, hidup dalam masyarakat terbelakang, dimana paganisme tumbuh menjadi sebuah identitas yang melekat pada masyarakat Arab masa itu. Kemudian Islam datang dengan membawa berbagai macam pencerahan melalui ilmu. Kalau di lacak akar sejarahnya, pandangan Islam tentang pentingnya Ilmu tumbuh bersamaan dengan munculnya Islam itu sendiri. Ketika Rasulullah menerima wahyu pertama, yang mula-mula diperintahkan kepadanya adalah “membaca”. Jibril memerintahkan Muhammad dengan bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yag menciptakan. Perintah ini tidak hanya diucapkan sekali oleh Jibril tetapi berulang-ulang sampai nabi dapat menerima wahyu tersebut. Dari kata iqra’ inilah kemudian lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca teks baik yang tertulis maupun tidak.
Al-Qur’an dan Hadith dijadikan kaum muslimin sebagai sumber ilmu yang dikembangkan oleh umat Islam dalam spektrum yang seluas-luasnya. Lebih lagi, kedua sumber pokok Islam ini memainkan peran ganda dalam penciptaan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Peran itu adalah : pertama, prinsip-prinsip semua ilmu dipandang kaum muslimin terdapat dalam al-Quran. Dan sejauh pemahaman terhadap al-Quran terdapat pula penafsiran yang bersifat esoteris terhadap kitab suci ini, yang memungkinkan tidak hanya pengungkapan misteri-misteri yang dikandungnya tetapi juga pencarian makna secara lebih mendalam, yang berguna untuk pembangunan paradigma ilmu. Kedua, al-Quran dan Hadith menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan ilmu dengan meningkatkan kebijakan dan keutamaan menuntut ilmu. Pencarian ilmu dalam segi apapun pada akhirnya akan bermuara pada tauhid. Karena itu seluruh metafiska dan kosmologi yang lahir dari kadungan Al-Quran dan Hadith merupakan dasar pembangunan dan pengembangan ilmu islam. Singkatnya, al-Quran dan Hadith menciptakan atmosfir khas yang mendorong aktifitas intelektual dalam konformitas dengan semangat Islam.
Kebangkitan masa Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dengan masa sebelumnya, yakni masa Umawiyah. Perkembangan pengetahuan telah terjadi sejak zaman Umawiyah, bahkan kebiasaan tulis menulis sudah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW. Misalnya As-Shohifah Ali, Ash-Shadiqah Abdullah bin Amr bin Al-Ash, lembaran Jabir Athowilah, dan lembaran yang berisi ilmu waris yang ditulis Zaid bin Tsabit Al-Anshari. Kodifikasi hadith rasulpun di pelopori oleh Khalifah Umar bin Abdul Azis salah seorang khalifah bani Umayyah. Kemudian, hadith ditulis didalam lembaran-lembaran masa periode kodifikasi kedua masa Abbasiyyah misalnya : Ibnu Juraij, Imam Malik, Sufyan As-Sauri, Al-Auzai dan lain-lain. Akan tetapi gerakan penulisan dimasa Abbasiyyah terasa sangat kuat sehingga bisa membuat orang tercengang. Di Basrah buku-buku banyak ditulis, pemikiran dicetak dan disebarluaskan, serta ilmu nahwu dibuat. Di Kufah sejarah dan sastra ditulis, dan ilmu nahwu dikembangkan. Sedangkan di Bagdad ilmuwan berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak. Mereka berkumpul untuk menulis dan mendiskusikan ilmu. Hingga ketika sampai ke masa Al-Makmun, kita akan melihat kebanyakan ilmuwan menulis dan mencetak buku.
Pada awal munculnya Islam, kaum muslimin di berbagai daerah secara umum, dan di wilayah Arab secara khusus, telah menempuh perjalanan melewati daratan, pegunungan, sungai, lautan, hutan, dan padang pasir untuk menunaikan kewajiban Haji, perang, maupun perdagangan. Di sepanjang kehidupan itulah, mereka selalu mengumpulkan berbagai macam informasi berkaitan masalah sosial, sejarah, politik, geografi, pertanian, dan berbagai kondisi didaerah yang mereka kunjungi. Berkaitan dengan ilmu pengetahuan fisik dan eksperimental dari bangsa luar, sesungguhnya orang Islam membutuhkan adanya penerjemahan pengetahuan tersebut ke dalam bahasa Arab. Tujuan sebenarnya tidaklah hanya menerjemahkan, namun juga kemudian mengembangkan hasil terjemahan tersebut untuk masa mendatang.

2. Pembentukan dan Pengembangan Lembaga Pendidikan
Dimasa pemerintahan Harun Al-Rasyid, banyak disebut sebagai awal kali muncul pemikiran untuk membangun Baitul Hikmah sebagai lembaga penerjemah. Dan pada masa putranya Al-Ma’mun fungsinya diperluas menjadi lembaga perguruan tinggi, perpustakaan dan penelitian. Lembaga ini memiliki beribu-ribu buku ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu. Harun Al-Rasyid pula yang memiliki gagasan untuk mendirikan majlis al-Mudzakarah, lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan dirumah-rumah, masjid-masjid dan istanah khalifah. Berlanjut di masa al - Ma’mun lembaga pendidikan semacam ini semakin digencarkan pengembangannya.
Para Khalifah Bani Abbasiyyah hingga masa Al-Makmun mengambil keuntungan dari lembaga pendidikan (semacam madrasah) sebelumnya yang telah ada. Syam, Irak, Persia, dan Mesir ketika itu siap untuk menerima sebuah peradaban yang besar dan luas. Ada banyak lembaga pendidikan kuno yang sudah dikenal, dan ditempat tersebut sudah banyak buku di tulis dan diterjemahkan. Diantaranya lembaga pendidikan Ruha, Nashibain, dan Harran. Sedangkan di Mesir ada lembaga pendidikan Alexandria, di Irak ada lembaga pendidikan Ash-Shabiah, di Persia ada lembaga pendidikan Jundisapur. Adapun lembaga-lembaga pendidikan di Syiria menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Suryani. Melalui perantara itu , pertama-tama para ilmuwan arab dan Islam melihat kepada peninggalan Yunani. Mereka mendapatkan manfaat dari penerjemahan dalam semua ilmu. Adapun lembaga pendidikan Jundisapur menghasilkan para dokter bagi negara Abbasiyyah, serta penerjemahan buku-buku kedokteran sekaligus.
Orang-orang Bani Abbasiyah juga banyak mengundang para ilmuwan dari lembaga-lembaga pendidikan yang sudah terkenal untuk ke Baghdad dan mengeluarkan biaya untuk menerjemahkan buku-buku kedalam bahasa Arab. Gerakan ilmiah ini dilakukan dengan rapi, dengan berdirinya lembaga formal untuk pendidikan yaitu Baitul Hikmah. Embrio Baitul Hikmah ini telah didirikan di istana khalifah semenjak Harun Al-Rasyid. Semakin lama semakin meningkat hingga masa Al-Makmun. Disana banyak buku yang diterjemahkan dan ditulis. Serta didirikan pula tempat-tempat observasi dan sarana-sarana ilmu perbintangan. Tempat tersebut banyak diisi oleh para penghafal Al-Quran dan di hibahkan untuk para penerjemah dan para ilmuwan. Khalifah menjadikan tempat tersebut sebagai kiblat ilmu pengetahuan dan pengurusan menejemennya sangat rapi. Tempat tersebut dikenal dengan nama “Al-Makmun” dan menjadi terkenal. Disamping itu juga ada tempat-tempat khusus sebagai pusat observatorium misalnya, Damaskus, Baghdad, dan Nishapur untuk melakukan observasi astronomi.
Untuk kegiatan percobaan kimia, fisika, dan kedokteran dilakukan di laboratorium sedangkan percobaan dalam ilmu patologi dan operasi bedah di rumahsakit - rumahsakit. Bangsa Arab memperhatikan betul masalah kesehatan dan kedokteran. Mereka mendirikan rumah sakit yang waktu itu disebut “bimaristan”. Bangsa Arab mendirikannya semenjak Zaman Al-Walid bin Abdil Malik di Damaskus dan akhirnya berkembang pesat pada masa Bani Abbasiyyah. Harun Al-Rasyid mendirikan rumah sakit umum (Bimaristan Al-Kabir) di Baghdad. Ia mendirikannya dengan model rumah sakit Persia, yang didalamnya banyak gudang obat-obatan.
Kegiatan pembedahan mayat juga dilakukan untuk praktek pengajaran anatomi. Khalifah Al-Mu’tashim menyediakan mayat orang utan untuk tujuan ini. Demonstrasi praktek operasi bedah untuk mahasiswa ini juga dilakukan dirumah sakit. Hal tersebut kemudian dibandingkan dengan melihat tubuh yang terluka dalam peperangan. Mereka mengobati orang yang luka-luka, melakukan operasi, dan menggunakan obat bius atau sejenis obat perangsang (al-fatilah). Sehingga orang sakit tidak merasakan operasi yang dilakukan para dokter kepadanya.

3. Macam-Macam Lembaga Pendidikan
Pada masa Abbasiyyah ini telah berkembang berbagai macam institusi pendidikan, dari bentuk sistem pendidikan yang sederhana sampai pada bentuk yang paling maju dan termodern dimasanya. ini menandakan bahwa semangat untuk mengkaji ilmu pengetahuan sangat menonjol dan diperhatikan dengan serius. Macam-macam lembaga pendidikan dimasa Abbasiyyah diantaranya adalah :
a. Kuttab
Dimasa Rosulullah SAW lembaga semacam ini dipergunakan untuk mengajarkan al-Qur’an dan memberikan materi pelajaran dasar. Namun dalam perkembangannya kuttab sudah digunakan sebagai tempat untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan disamping ilmu-ilmu agama.
b. Pendidikan dasar di istana
Kurikulum pada pendidikan ini diajarkan sesuai dengan keinginan kalangan istana yang mengundang syeikh untuk datang ke istananya. Sehingga guru-guru yang diundangpun sesuai dengan kebutuhan khalifah atau para pembesar istana. Guru yang datang ke istana ini disebut muaddib karena memberikan pelajaran yang meliputi akhlak dan kemampuan keilmuan lainnya. Dimasa ini peran orang tua sangat besar untuk menentukan materi apa yang harus disampaikan oleh seorang guru. Sebagaimana kebiasaannya guru-guru istana akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal yang dekat dengan pusat pemerintahan.
c. Toko Buku
Dimasa kekhilafahan Abbasiyyah toko-toko buku banyak ditemui disudut-sudut kota, dan diperkirakan mencapai 100 buah. Toko-toko buku pada masa itu tidak hanya bersifat komersial saja, namun justru fungsinya lebih luas lagi. Ketika orang mau ikut untuk berdiskusi tentang suatu masalah, maka ia bisa saja datang ke toko buku untuk mendiskusikannya. Bahkan di toko-toko buku tersebut telah disediakan ruangan serta waktu untuk berdebat dan pidato sastra.

d. Rumah Ulama’
Disamping masjid yang sering digunakan untuk melakukan kajian, rumah-rumah para ulama dan tokoh masyarakat pada masa itu juga banyak digunakan sebagai tempat untuk mengkaji ilmu. Misalnya, Ilmuwan Ibnu Sina menggunakan waktu malamnya untuk membaca kitab Asy-Syifa’ yang dilakukan didalam rumahnya sendiri.
e. Salon Sastra
Salon sastra banyak berkembang dikalangan bangsawan, mulai dari istana-istana raja sampai dengan level wazir. Ini menandakan greget keilmuan yang luar biasa dari kaum muslimin pada masa itu yang mungkin sulit kita cari bandingannya kecuali pada masa modern sekarang ini. Pada forum ini sesuatunya sudah dipersiapkan dengan matang dengan berbagai macam aturan yang sangat rinci, agar adab-adab dari peserta kepada seorang khalifah tetap terjaga. Penempatan peserta diforum salon sastra ini juga bertingkat-tingkat sesuai kelasnya dengan susunan tempat duduk yang berbeda. Peserta harus memperhatikan khalifah, dengan menggunakan gaya bicara yang lemah lembut, serta tidak boleh menyela pembicaraan ketika dalam forum.
f. Badiyat
Ada wilayah-wilayah Badui yang dijadikan sebagai tempat untuk mempelajari bahasa arab. Sehingga banyak pembesar istana atau para ilmuwan yang ingin mendalami bahasa ia harus berguru kepada mereka, dan belajar ditempat para badui tersebut. Namun kadangkala orang-orang istana yang mengundang mereka untuk memberikan materi kesusastraan arab di istana. Termasuk khalifah Al-Mu’tashim yang pernah pergi ke Badiyat beberapa waktu lamanya dalam rangka mempelajari sastra arab.
g. Madrasah
Berkembangnya madrasah ini disebabkan karena ada bidang-bidang studi baru yang tidak mungkin dilaksanakan lagi didalam masjid. Sehingga membutuhkan tempat khusus yang representatif agar pembelajaran bisa berjalan secara maksimal. Madrasah-madrasah pada masa itu hampir menyamai tempat pendidikan pada masa sekarang ini, jika ditinjau dari sisi sarana prasarana penunjang pendidikan. Setiap madrasah memiliki iwan (tempat khusus untuk proses belajar mengajar). Dilengkapi dengan perpustakaan madrasah, dan disediakan pula beasiswa bagi peserta didik. Penentuan kurikulum madrasah senantiasa dipantau dan dikontrol oleh penguasa sehingga terjaga tujuan yang hendak dicapainya.
h. Nidlomul Muluk
Nidlomul muluk merupakan lembaga pendidikan sebagaimana madrasah pada zaman sekarang ini. Sistem tingkatannya dibagi menjadi dua, ada tingkatan rendah dan ada tingkat menengah.

4. Peran Masjid dalam Pengembangan Keilmuan
Sebagaimana Rosululloh SAW ketika memulai mengenalkan islam kepada masyarakat, beliau memusatkan pada masjid sebagai simbol kebersamaan serta sebagai tempat untuk menyususn rencana dan aktivitas yang penting dalam pengaturan masyarakat. Pada masa kekhilafahan Harun Al-Rasyid sampai pada masa Al-Makmun masih banyak menggunakan masjid sebagai pusat pengkajian ilmu. Para ilmuwan berkumpul dan berdiskusi serta menulis. Sehingga fungsi masjid pun meluas, tidak hanya digunakan untuk shalat maupun membaca al-Qur’an. Namun masjid juga banyak difungsikan sebagai salah satu tempat untuk masyarakat belajar berbagai macam ilmu.
Dalam rangka untuk mengembangkan ide-ide yang sudah diawali oleh orang tuanya yakni Harun Al-Rasyid, maka Al-Ma’mun tinggal meneruskan untuk mengembangkannya. Masjid-masjid pada masanya juga dibangun tidak hanya sebagai tempat beribadah saja, akan tetapi juga difungsikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Diberbagai kota-kota besar terdapat masjid-masjid yang dilengkapi dengan ruang baca dan perpustakaan. Ini menandakan bahwa perhatian khalifah pada saat itu lebih fokus pada perkembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas.
Al-Khatib Al-Baghdadi ketika berbicara tentang Ahmad bin Abi Thahir menulis, bahwa disetiap 5 masjid ada satu pemandian umum. Dan jumlah masjid pada saat itu (masa Al-Makmun) sebanyak tiga ratus ribu masjid. Al-Katib Al-Baghdadi pun memberikan bukti berupa angka yang menunjukkan tentang peradaban tersebut tentang jumlah pemandiannya. Dia memberikan angka melebihi gambaran yang kita bayangkan. Minimal dalam satu masjid tidak kurang dari lima orang penjaga, sehingga dalam tiap harinya minimal ada satu juta lima ratus orang yang memanfaatkan pemandian umum yang disediakan di masjid-masjid.
Kalau kita kelompokkan masjid berdasarkan pengelolaan dan pendanaanya, ada dua jenis masjid yang berkembang pada masa itu, yakni :
1. Masjid jami’ atau masjid raya sebagai masjid resmi milik pemerintah, sehingga kegiatan-kegiatanpun disesuaikan dengan program yang ditetapkan pemerintah. Pendanaan untuk setiap kegiatan di masjid jami’ ini mendapatkan bantuan atau bahkan didanai sepenuhnya oleh pemerintah. Sehingga kegiatan keilmuan pada masa itu bisa berkembang pesat serta menjangkau kesetiap tempat karena melalui lembaga-lembaga non formal semacam masjid ini.
2. Masjid non jami’ atau masjid yang dikelolah oleh masyarakat secara mandiri. Masjid-masjid ini aktifitas kesehariannya disesuaikan dengan madzhab yang di anut oleh masyarakat setempat. Sehingga pengelolaan serta pendanannya diambilkan dari jamaah dan juga hasil dari wakaf masyarakat.

5. Tokoh-Tokoh yang Aktif dalam Pengembangan Keilmuan
Kemajuan sain dan teknologi pada masa pemerintahan Abbasiyyah tidak bisa kita lepaskan dari peran serta penguasa negara pada masa itu. Sehingga masa-masa pemerintahan ketika berada ditangan Bani Abbasiyyah hampir setiap khalifah memiliki andil untuk memajukan program pendidikan. Oleh karena itu di dalam pemerintahan Islam tidak akan muncul peluang timbulnya kebodohan di kalangan umatnya, sebab Allah SWT mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu dan membekali dirinya dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk keperluan kehidupannya serta keperluan hidup umatnya. Dan negara memahami bahwa sektor pendidikan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi masyarakat, oleh karenanya negara memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan yang terbaik bagi rakyatnya, tanpa atau dengan biaya semurah-murahnya.
Sebagaimana yang telah dilakukan oleh penguasa bani Abbasiyyah terhadap para ahli ilmu. Mereka memperhatikan pemenuhan kebutuhan para pengajar dan pegawai guna kelancaran penerjemahan maupun pengembangan ilmu. Misalnya : Al-Makmun membuat aturan untuk aktivitas penerjemahan. Dia memilih seorang penanggung jawab, yaitu Yohana Al-Batriq. Dia membawa penulis yang cerdas serta mengetahui bahasa Suryani dan Yunani. Kemudian dia pun membawa para penerjemah besar. Para penulis menerjemahkan terjemahan pertama dari bahasa Suryani atau Yunani ke dalam bahasa arab. Kemudian para penterjemah tesebut mentashihnya. Diantara mereka memilih pentashih bahasa arab, yaitu Hanin bin Ishaq. Hanin bertugas memeriksa transkrip akhir dari segi bahasa. Dia belajar bahasa arab dari ilmuwan-ilmuwan besar di Bashrah. Dengan cara inilah buku-buku di cetak dengan berurutan, diterjemahkan, kemudian dikoreksi pada transkrip akhirnya. Dimana untuk seorang penerjemah Hunain bin Ishaq, khalifah menyediakan berbagai macam fasilitas yang ada di istananya untuk segala macam keperluan Hunain. Untuk menggaji para penerjemah buku-buku, Al-Ma’mun berani mengeluarkan uang 500 dinar (4,25 x 500 = 2125gr emas) perbulan untuk setiap orangnya. Al-Ma’mun sendiri yang melakukan pembayarannya. Sebagai pembanding adalah ketika Umar bin Khattab memberi gaji guru anak-anak di Madinah tiap bulan sebesar lima belas dinar (kurang lebih 63,75 gr emas) pada awal pemerintahan islam.
Disamping motivasi yang sangat besar dari pihak pemerintahan, yakni dengan adanya jaminan kebutuhan hidup para ilmuwan. Muncul pula kegairahan kaum muslimin masa itu untuk lebih mencurahkan pada bidang keilmuwan. Kondisi yang baik, keamanan yang terjamin, dan atmosfir suasana keilmuan yang menggema inilah sebagai motor penggerak keilmuwan yang kuat. Sehingga banyak kaum muslimin dimasa pemerintahan Bani Abbasiyyah yang melakukan penerjemahan dan pengembangan keilmuan diberbagai bidang :
a. Matematika
Abu Abdullah Muhamad Ibnu Musa Al-Khawarizmi, beliau seorang ahli Matematika, astronomi, dan geografi yang sangat terkenal pada abad 9 M. Dan berjaya pada masa khalifah Al-Makmun. Beliau yang menemukan angka nol yang sangat penting dalam aritmatika serta penulis buku al-jabr wal-muqobalah. Sedangkan pada masa itu orang-orang kristiani masih menggunakan angka Romawi kuno dan Sampoa.
Abu Sa’id al-Darid al-Jurfani (meninggal tahun 845M), adalah seorang ahli astronomi dan matematika muslim, menulis tentang wacana masalah-masalah dalam bidang ilmu geometri.
Abu Wafa menyumbangkan ilmunya untuk pengembangan generalitas teorima sinus terhadap segi tiga. Dia memberikan tabel baru untuk menyusun tabel sinus, dan menghitung angka sinus 30 derajat sampai delapan angka desimal.
Umar ibnu Khayyam, beliau adalah ahli dalam ilmu matematika dan astronomi. Bahasan yang banyak di geluti adalah persamaan tentang kubik.
Abul Abbas Ahmad Ibnu Muhammad, seorang penulis muslim yang sangat populer, telah mengarang 74 karya yang berkaitan dengan matematika dan astronomi. Salah satu bukunya , al-Talkhis anil Hisab. Buku ini dikagumi oleh Ibnu Khaldun, dan terjemahannya kedalam bahasa perancis pada tahun 1864 M.
b. Fisika dan Teknologi
Ibnu Sina melakukan kajian dalam ilmu fisika sehingga mengahasilkan karya fenomenal tentang gaya, gerak, cahaya, panas, dan ruang hampa. Karya yang sangat berarti dilakukan dalam bidang mekanik seperti roda, as roda, pengungkit, katrol, bidang miring, kincir angin, dan lain-lain.
Al-Khazini, menulis buku daam bidang mekanika, hidrostatistika, dan fisika yang berjudul Kitab Mizan al-Hikmah (buku tentang keseimbangan kebijaksanaan) yang merupakan karya terbesarnya pada abad pertengahan. Dan dari karyanya inilah menjadi jalan perintis bagi Galileo.
Muhammad Ibnu Ali Ibnu Rustam al-Khurasani adalah penemu jam yang sangat terkenal. Sehinga beliau dijuluki al-Sa’ati.
Abu Isa Ismail Ibnu Razzaz Badi’ al-Zaman al-Jazari. Beliau menulis desertasi tentang pengetahuan alat mekanika geometri yang berkaitan dengan peralatan hidrolik, seperti air mancur.
c. Astronomi
Ibrahim ibnu Habib al-Fazari adalah seorang muslim yang pertama kali menulis astrolab. Beliau mengarang puisi dalam bidang astrologi dan mengumpulkan kalender menurut metode Arab.
Abdullah Muhammad Ibnu Jabir Ibnu Sinan Al-Battani (Al-Batenius). Beliau melakukan observasi astronomi yang sangat luas, seperti ketepatan 54,5 inc dalam satu tahun inklinasi gerhana 23,35 derajat. Buku al-Battani ini diterjemakan kedalam bahasa latin dan spanyol pada abad 12 dan 13 dan sangat berpengaruh terhadap para sarjana Eropa pada abad pertengahan.
d. Kimia
Jabir bin Khayyan (Geber), ahli kimia terbesar pada masanya. Penemuan terpenting nya adalah ditemukannya asam Nitrat (HNO3), serta asam sulfat (H2SO4) sebagai bahan dasar industri.
Abu Mansur membedakan antara natrium karbonat (Na2CO3) dengan kalium karbonat (K2CO3). Beliau memiliki sejumlah pengetahuan tentang aksen oksida, tembaga oksida, antimon dan zat-zat lain.
e. Kedokteran
Ibnu Sina (Avicenna), Dokter dan filsuf islam termasyhur. dia banyak meninggalkan karya tulis tidak kurang dari 200 buah. Bukunya yang terrenal antara lain, As-Syifaa’, al-Qanun fil at-tib, yang selama lima abad menjadi literatur-literatur peting bagi facultas-fakultas kedokteran di Eropa.
Ibnu Nafis al-Qarshi ketika berada di Damaskus, menjelaskan tentang sirkulasi darah. Peristiwa ini terjadi tiga abad sebelum William Harvey, yang disebut penemu dari teori ini. Juga al-Qarshi menyatakan bahwa makanan merupakan bahan bakar untuk penyediaan panas bagi tubuh.
Abul Qasim al-Zahrawi menemukan banyak alat-alat untuk keperluan operasi dan bedah sebagaimana di jelaskan dalam buku al-Tasrif. Berikut penjelasan tentang bagaimana cara melakukan operasi tulang tenkorak manusia dan bagian-bagiannya.
f. Geografi
Ibnu Musa al-Khawarizmi, telah berhasil mengumpulkan karya Geografi yang di sebut Rasm al-Ma’mur minal Bilad (deskripsi tanah hunian) yang berisi hasil penelitian para sarjana dimasanya. Beliau melanjutkan karya geografi Ptolomeus, baik dalam bentuk naskah maupun dalam bentuk peta.


g. Keagamaan
Imam Malik yang menyusun kitab al-Muwatta’, kitab ini ditulis pada masa al-Mansur an baru selesai pada masa al-Mahdi. Ketika Harun al-Rasyid berkuasa berusaha menjadikan kitab ini sebagai kitab hukum negara, Namun Malik bin Anas menolaknya.
Imam Hambali yang hidup pada masa al-Ma’mun dan al-Mu’tashim, dimana pada saat itu terjadi perselisihan faham antara beliau dengan khalifah tentang al-Qur’an sebagai makhluk atau bukan. Beliau mengarang kitab al-Musnad yaitu kitab hadith yang menghimpun kurang lebih 40.000 hadith.
Imam as-Syafi’i salah seorang ulama’ mujtahid di bidang fikih, salah seorang imam dari empat imam madzhab. Beliau hidup pada masa Harun al-Rasyid, al-Makmun, dan al-Amin dari kekhilafahan Abbasiyyah. Karangan beliau yang sampai pada kita Sekarang ini adalah kitab al-Umm, sebuah kitab fikih yang komprehensif. Dan kitab ar-Risalah yang membahas ilmu ushul fikih.
Imam Hanafi, seorang ahli fikih Persia yang kemudian menjadi ahli fikih di Irak. Ia mempelajari metode fikih Umar yang didasarkan pada maslahat dan metode fikih Ali yang didasarkan pada istinbat. Madzhab Hanafi ini berkembang dan bisa bertahan kurang lebih 500 tahun, karena madzhab ini diakui sebagai madzhab resmi negara bani Abbasiyyah.
6. Metodologi Pendidikan
Banyak metodologi yang digunakan pada masa Abbasiyyah ini, sebagaimana penjelasan diatas. Namun kalau kita kelompokkan ada beberapa metode pembelajaran yang dipakai, dan metode-metode ini ternyata cukup efektif untuk melahirkan ilmuwan-ilmuwan kaum muslimin, diantaranya : Imlak (dekte) yang mungkin ini sudah banyak kita kenal, dalam rangka untuk belajar tulis-menulis. Ceramah, adalah metode yang paling tua dan hingga saat sekarang inipun masih banyak dipakai dalam rangka transfer of knowledge. Metode yang juga dominan digunakan dilingkungan kaum muslimin atau pesantren hingga saat ini adalah talqin (hafalan).
Disamping metode-metode diatas, masih banyak metode yang dipakai pada masa lampau dan banyak dikembangkan pada masa sekarang ini, diantaranya: Munadlarah (diskusi), ta’liqoh (debat tertulis), jadal (debat), ketiga metode inilah yang banyak dikembangkan dan dimodifikasi. Metode-metode yang banyak mendorong para peserta didik untuk mengeksplor kemampuan pribadinya, metode yang tidak menjadikan seorang guru sebagai satu-satunya titik sentral inilah yang banyak diterapkan. Dalam rangka untuk lebih memacu kreatifitas dan memunculkan karakteristik positif pada anak didik serta lebih memberikan rasa percayadiri bagi siswa, metode yang cocok untuk diterapkan adalah metode yang mengaktifkan guru dan siswa. Baik antara siswa dengan siswa, maupun siswa dengan gurunya.

C. ANALISA dan SIMPULAN
Dorongan Islam agar Umatnya menjadi manusia yang terpelajar sangat di utamakan. Disamping Islam mengajarkan ilmu yang terkait hubungannya dengan tuhan yang diatur dalam ibadah, Islam juga meganjurkan umatnya untuk belajar ilmu yang terkait dengan sain dan teknologi. Dalam masa perkembangannya, umat islam melakukan penterjemahan besar-besaran dalam bahasa arab sehingga menjadikan bahasa arab pada waktu itu sebagai lingua franca. Yakni sebagai ilmu yang diperlukan dalam mempelajari agama dan diperlukan untuk mempelajari sain dan teknologi. Georgie Zaidan dalam kitab Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah mengatakan bahwa :
”....bahasa arab menjadi bahasa politik dalam sebagian negeri-negeri islam, serta menjadi bahasa ilmu pengetahuan dan agama dihampir seluruh dunia islam...........dalam pada itu, bahasa arab selalu menjadi bahasa agama didunia islam baik ditimur maupun dibarat. Tidak ada seorang sarjana muslim pun yang tidak memahami dan mempelajari bahasa arab. Bahkan orang yang berasal dari Eropa pun di masa kebangkitannya, para filosof dan sarjananya senantiasa memperluas pengetahuannya dan tidak bisa menghindari dirinya dari belajar bahasa arab.”
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita tidak bisa terlepas dari apa yang sudah ada sebelumnya. Sehingga apa yang dilakukan oleh kaum muslimin dimasa kekhilafahan Bani Abbasiyyah adalah diawali dengan melakukan penterjemahan besar besaran dari berbagai disiplin ilmu. Dan dari hasil terjemahan itu kemudian diadakan kajian ulang terkait dengan temuan-temuan yang pernah dikaji oleh bangsa Yunani atau Romawi, kemudian para ilmuwan pada masa itu melakukan pengembangan-pengembangan dan inovasi-inovasi sebagai pembaharuan.
Pada masa kekuasaan Abbasiyyah inilah berkembang pesat sain dan teknologi serta ilmu-ilmu agama yang ditandai dengan lahirnya empat imam madzhab terbesar pada masanya hingga saat sekarang ini. Hal ini tidak bisa kita lepaskan dari peran pemahaman masyarakat Islam pada masa itu terkait motivasi untuk mengembangkan ilmu keduniaan disamping ilmu-ilmu agama secara praksis. Disamping itu juga peran dari pemerintah yang Sangat besar untuk mendorong para ilmuwan agar senantiasa mengembangkan kemampuannya serta menemukan inovási-inovasi dalam temuan teknologi mutakhir pada masanya.
Kepekatan zaman kegelapan di Eropa dan dunia pada masa itu akhirnya terkuakkan ketika fajar islam menampilkan diri dari lembah faran, dan Rosulullah memulai zaman ilmiah modern. Para sarjana muslimlah yang menggali harta terpendam pengetahuan dari puing-puing reruntuhan peradaban yang sudah mati, yakni peradaban Yunani dan Roma, Babilonia dan Iran serta Cina dan India. Mereka membongkar harta terpendam itu dan menanamnya serta mengembagkannya, kemudian menyampaikannya ke Eropa melalui universitas-universitas di Bagdad, Cairo, dan Spanyol. Dengan demikian peletak batu pertama renaisans Eropa sebenarnya adalah para penganut ilmu dan guru-guru muslim yang melalui tangan mereka lahir orang-orang seperti Roger Bacon, Thomas Alfa Edison, serta Albert Einstein, dan lain-lain .
Pelajaran yang bisa kita ambil pada masa Sekarang ini adalah semangat dari para pendahulu kita. Para ilmuwan pada masa kejayaan Islam yang telah meletakkan batu pijakan bagi perkembangan sain dan teknologi zaman modern sekarang ini. Semangat dan keinginan keras untuk menguasai sain dan teknologi melalui penterjemahan-penterjemahan yang dilanjutkan dengan pengkajian ulang. Dari pengkajian ulang inilah ditemukan berbagai macam inovási-inovasi dari temuan sebelumnya. Dari berbagai penemuan ilmuwan Islam inilah yang kemudian dikembangkan oleh orang barat dewasa ini. Misalkan ; penyusunan sofwer komputer tidak akan pernah ditemukan, jika tidak ditemukannya angka nol (0) oleh pakar matemátika muslim al-Khawarizmi.

Daftrar Pustaka

Abdurahman Al-Baghdadi, Sistem Pendidikan di Masa Khilafah Islam, Bangil : Al-Izzah, 1996

Al-Katib Al-Baghdadi, Tarikh Al-Baghdadi, Jilid I.

Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2005

Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Millenium Baru, Jakarta : Kalimah, 2001

Fatkhur Rahman, Ikhtisar Mustholahatul Hadith, Bandung: Al-Maarif, 1974

George Zaidan, Tarikh Adabil Lugha al-Arabiyah, Jilid . III.

Muhammad Al-Usari, Al-Tarikh al-Islamy, terj Samson Rahman, Jakarta : Akbar Media Aka Sarana, 2007

Muhammad Fazlur Rahman, Islam Versus the West (terj) Husin Anis ,Bandung : Mizan, 1985

M. Quraisy Shihab, Wawasan Al-Quran : Tafsir Maudlui atas Berbagai Peroalan Umat, Bandung : Mizan, 2001


Nur Cholis Majid. Dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta :Ichtiar Baru Van Hoeve,
1997,Jilid.II, III

Shaber Ahmed dkk., Islam and Science, terj. Zetira Nadia , Bangil: Al-Izzah, 1997

Yusuf Al-Isy, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, terj.Arif Munandar , Jakarta : Pustaka Kautsar, 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar