Minggu, 02 Agustus 2009
Filsafat Pendidikan Islam
Tuhan, Manusia, dan Alam Perspektif
Filsafat Pendidikan Islam
A. Pendahuluan
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat islam mencapai puncaknya ketika dunia Islam diperintah oleh para khalifah dari dinasti Bani Abbasiyyah yang pusat pemerintahannya berada di Baghdad. Kota metropolitan tersebut, sebelum ditaklukkan Islam telah dikuasai oleh Parsi, kebudayaan dan peradabannya telah bercampur dengan kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno dibawa Aleksander Yang Agung sejak tiga abad lebih sebelum masehi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat ketika itu ditandai dengan semaraknya penerjemahan manuskrip-manuskrip berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dab Parsi. Maka ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani bisa dibaca dan dipelajari secara luas oleh umat Islam.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan filsafat didunia Islam berlangsung selama kurang lebih enam abad, yakni dari abad ke-7 sampai dengan abad ke-12 Masehi. Kemunduran Peradaban Islam ini disebabkan oleh banyak faktor baik eksternal maupun internal. Faktor eksternalnya adalah serbuan tentara Mongol dibawa pimpinan Hulagu yang menghancurkan kota Baghdad dan menghanguskan ratusan ribu bahkan jutaan buku-buku ilmu pengetahuan yang tersimpan diperpustakaan kota Banghdad. Adapun faktor internalnya adalah sikap stagnan dan statis dalam diri ulama-ulama Islam, terutama dari golongan Sunni, yang beranggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup.
Kemunduran peradaban ini terus berlangsung hingga pada saat sekarang ini, termasuk di Indonesia negara yang mayoritas penduduknya muslim. Fakta masyarakat muslim Indonesia yang demikian tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga misalnya Malaysia, Singapura, dan sebagainya, menggugah kesadaran kita untuk melakukan evaluasi dan peningkatan mutu khususnya dibidang pendidikan. Banyak analisa yang mengatakan bahwa salah satu faktor yang sangat berpengaruh bagi kemajuan suatu bangsa adalah bidang pendidikan. Seiring dengan itu, upaya perbaikan untuk mengatasi masalah tersebut masih terus dilakukan dengan berbagai upaya. Penataran guru, pelatihan tenaga pengelola pendidikan, dan lain sebagainya terus dilakukan, namun masalah pendidikan terus bermunculan.
Upaya untuk memperbaiki kondisi kependidikan yang demikian itu tampaknya perlu dilacak pada akar permasalahannya yang bertumpu pada pemikiran filosofis. Diketahui bahwa secara umum filsafat berupaya menjelaskan inti atau hakikat dari segala yang ada, dan karenanya ia menjadi induk segala ilmu. Sebab dari filsafatlah ilmu-ilmu modern dan kontemporer berkembang sehingga manusia dapat menikmati ilmu sekaligus buahnya, yaitu teknologi. Dalam bahasa agama filsafat dikenal dengan nama hikmah, dan barang siapa diberikan hikmah, maka ia akan diberikan kebaikan yang banyak.
Filsafat Pendidikan Islam secara umum akan mengkaji berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan, mulai dari konsep manusia yang akan di didik, tujuan pendidikan, guru, kurikulum, dan metode pendidikan secara filosofis. Dengan kata lain Filsafat Pendidikan Islam mempergunakan jasa pemikiran filosof, yaitu pemikiran yang sistematk, logik, radikal, universal dan obyektif terhadap berbagai masalah yang terdapat dalam bidang pendidikan.
Filosof pendidikan termasuk orang yang diharapkan merancang dengan hikmah untuk menjadikan proses pendidikan dan usaha-usaha pendidikan pada suatu bangsa. Ia juga menyiapkan generasi muda dan warganegara umumnya agar supaya beriman kepada Tuhan. Beriman juga dengan apa yang diwahyukan oleh Tuhan, perintah dan ajaran yang tinggi terhadap pesuruh-pesuruhnya yang mulia, dan memungkinkan mereka memahami dengan betul terhadap sifat-sifat alam jagat yang mengelilingi manusia. Begitu juga ia memperkenalkan dirinya kepada mereka dan nilai-nilai yang dimilikinya dalam hidup ini. Begitu juga ia menunjukkan peranan yang mungkin atau harus dipegangnya dalam hidup ini untuk mengembangkan masyarakat dan mengubah cara-cara hidup mereka kearah yang lebih baik. Ini juga memungkinkan mereka memperoleh pengetahuan yang benar dalam segala bidang kehidupan. Begitu juga mereka dapat mendidik akhlak dan perasaan seni dan keindahan mereka serta menumbuhkan pada diri mereka sikap menghormati kebenaran dan memperkenalkan kepada mereka ciri-ciri, unsur-unsur, dan cara-cara mencapainya.
Oleh karena itu filosof pendidikan dengan segala harapan yang telah diletakkan dipundaknya, haruslah memiliki fikiran yang benar, jelas, dan menyeluruh tentang wujud dan segala aspeknya yang bermacam-macam : Ketuhanan, Kemanusiaan, Kealaman fisikal dan sosial.
B. Pembahasan
1. Tuhan dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Aqidah yang paling sempurna adalah aqidah yang dapat diterima oleh akal. Dialah Allah satu-satunya Tuhan, tiada berawal dan tiada berakhir, maha kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, maha meliputi segala sesuatu, dan tiada sesuatu apapun yang serupa denganNya. Alam semesta adalah mahluk ciptaan Allah, Allah yang menciptakannya dan akan kembali kepada Allah. Lenyap dan adanya alam semesta tergantung pada kehendak Allah.
Bila kita hendak mengungkapkan aqidah tersebut dengan bahasa fisafat, dapatlah kita katakan : dua eksistensi, yaitu eksistensi keabadian dan eksistensi waktu. Suatu imajinasi belaka kalau akal menggambarkan bahwa waktu dapat menjadi bagian dari keabadian. Karena kalau keabadian kita ulur dan kita panjangkan dari awal mulanya, ternyata ia adalah azali (tanpa awal). Dan jika kita ulur serta kita panjangkan ia dari akhirnya, ternyata ia adalah tak berkesudahan, tidak akan berakhir untuk selama-lamanya.
Jadi pada hakikatnya waktu bukanlah keabadian. Waktu kita kurangi terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak mengurangi keabadian. Ia kita tambahkan terus menerus, tetapi ia sama sekali tidak menambah keabadian. Sehingga keabadian dan waktu merupakan dua eksistensi yang berlainan hakikat dan subtansi, serta berlainan pula dalam gambaran dan jangkauan. Keabadian adalah suatu eksistensi yang tidak dapat kita gambarkan adanya gerak didalamnya. Sedangkan waktu adalah suatu eksistensi yang tidak bisa kita gambarkan tanpa adanya gerak.
Allah itu bukanlah fisik yang kita bayangkan, dan bukanlah wujud materi yang dapat kita ukur. Dia tidaklah menyerupai segala bentuk fisik, baik dalam kriteria dan keragaman, Esensi Dia bukan atom dan tidak pula ditempati atom, bukan materi dan tidak ditempati materi. Bahkan Allah tidak serupa dengan wujud, dan sebaliknya. Tidak sesuatupun menyerupai-Nya. Dia bukan serupa degan sesuatu. Dia tidak dibatasi kriteria, tidak diliputi batas wilayah dan arah. Dia juga tidak dipanggul dengan langit-langit yang ada. Dia bersemayam di Arsy, tetapi keberadaan-Nya disana terlepas dari konotasi bersentuhan dan penetapan, tidak pula bertempat, berubah dan berpindah. Dia tidaklah disangga oleh Arsy, tetapi justru Arsy itu beserta seluruh penyangganya berada di genggaman Maha Lembut kekuasaan-Nya.
Sejalan dengan itu al-Ghazali juga menguraikan masalah pendidikan yang tidak bisa terlepaskan dari pemahaman tentang Sang Khaliq. Menurutnya tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT., bukan untuk mencari kedudukan yang menghasilkan uang, karena jika tujuan pendidikan diarahkan bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, akan dapat menimbulkan kedengkian, kebencian dan permusuhan. Rumusan tujuan pendidikan yang demikian ini karena dunia bukanlah hal yang pokok, tidak abadi dan akan rusak, sedangkan maut akan dapat memutuskan kenikmatan setiap saat.
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-tarbiyah, at-ta’dib, dan at-ta’lim. Dari ketiga istilah term tersebut, term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam term al-tarbiyah. Penggunaan istilah al-tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara , merawat, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.
Dalam penjelasan lain, kata al-tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu: pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh, dan berkembang (Q.S. Ar-Ruum: 39). kedua, rabiya-yarba berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu, berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara. Kata rabb sebagaimana yang terdapat dalam (Q.S Al-Fatiha :2) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah at-tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik Yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta.
Uraian diatas secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang telah diberikan Allah sebagai ”Pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Sebagaimana KH. Ahmad Dahlan yang menginginkan agar pendidikan diletakkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara Vertikal (Khaliq) maupun horizontal (makhluk). Dimana manusia diberikan Allah akal yang mampu untuk dikembangkan guna menyusun kerangka yang teoritis dan metodologis bagaimana menata hubungan yang harmonis secara vertikal maupun horisontal dalam konteks tujuan penciptaannya.
Tokoh nasional yang tidak pernah terlupakan hingga saat ini, yaitu KH. Hasyim Asy’ari yang berkecimpung langsung dalam pendidikan juga meletakkan tauhid atau masalah ketuhanan merupakan masalah yang pokok. Dalam hal ini yang menjadi titik penekanannya adalah pada pengertian bahwa belajar itu merupakan ibadah untuk mencari ridha Allah yang mengantarkan seseorang untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Titik penekanan lainnya tentang pendidikan adalah pada sisi amaliahnya. Dia mengemukakan bahwa bertauhid itu mengharuskan adanya keimanan. Barang siapa beriman maka ia harus bertauhid. Keimanan mewajibkan adanya syari’at, sehingga orang yang tidak menjalankan syariat maka ia berarti tidak beriman dan bertauhid. Sementara orang bersyariat harus beradab. Dengan demikian, orang yang beradab berarti ia juga bertauhid, beriman dan bersyariat.
Dari seluruh pembahasan diatas, maka sudah selayaknya pendidikan Islam harus berlandaskan pada konsep ketuhanan. Karena dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah bisa terlepas dari kehendak dan hukum-hukum-Nya. Sebagaimana kita memahami bahwa Tuhan adalah poros dari segala aktifitas yang dilakukan oleh seluruh umat muslim, bahkan oleh segenap alam semesta.
2. Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Bagi falsafah pendidikan, penentuan dan sikap serta tanggapan tentang manusia merupakan hal yang amat penting dan vital. Sebab manusia merupakan unsur terpenting dalam tiap usaha mendidik. Tanpa tanggapan dan sikap yang jelas tentang manusia, pendidikan akan meraba-raba. Malah pendidikan itu sendiri dalam artinya yang paling asas adalah usaha untuk menolong manusia dalam rangka menemukan rahasia alam, memupuk bakat, serta mengarahkan kecenderungannya demi kebaikan diri dan masyarakat. Usaha itu berakhir dengan berlakunya perubahan yang dikehendaki dari sisi sosial dan psikologis serta sikap untuk menempuh hidup yang lebih berbahagia dan berarti.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna dan sebaik-baik ciptaan yang dilengkapi dengan akal fikiran. Dalam hal ini Ibn ’Arabi misalnya melukiskan hakikat manusia dengan mengatakan bahwa, ”tak ada makhluk Allah yang lebih bagus dari pada manusia, yang memiliki daya hidup, mengetahui , berkehendak, berbicara, melihat, mendengar , berpikir, dan memutuskan.” Manusia adalah makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan bagi mengemban tugas dan fungsinya sebagai makhluk Allah dimuka bumi.
Al-Ghazali mengungkapkan proses penciptaan manusia dalam teori pembentukan (taswiyah) sebagai suatu proses yang timbul didalam materi yang membuatnya cocok untuk menerima ruh. Materi itu merupakan sari pati tanah liat Nabi Adam A.S. yang merupakan cikal bakal bagi keturunannya. Cikal bakal atau sel benih (nutfah) ini yang semula adalah tanah liat setelah melewati berbagi proses akhirnya menjadi bentuk lain (khalq akhar) yaitu manusia dalam bentuk yang sempurna. Tanah liat berubah menjadi makanan (melalui tanaman dan hewan), makanan menjadi darah kemudian menjadi sperma jantan dan indung telur. Kedua unsur ini bersatu dalam satu wadah yakni rahim dengan tranformasi panjang yang akhirnya menjadi tubuh yang harmonis (jibillah) yang cocok untuk menerima ruh. Sampai disini prosesnya murni bersifat materi sebagai warisan dari leluhurnya. Kemudian setiap manusia menerima ruhnya langsung dari Allah di saat embrio sudah siap dan cocok menerimanya. Maka dari pertemuan antara ruh dan badan terbentuklah mahluk baru manusia.
Dari uraian proses penciptaan itu, manusia merupakan rangkaian utuh antara komponen materi dan immateri. Komponen materi berasal dari tanah (Q.S. As-Sajdah :7) dan komponen immateri ditiupkan oleh Allah (Q.S. Al- Hijr :29). Kesatuan ini memberi makna bahwa disatu sisi manusia sama dengan dunia di luar dirinya (fana), dan di sisi lain menandakan manusia itu mampu mengatasi dunia sekitarnya, termasuk dirinya sebagai jasmani.
Sedangkan Harun Nasution memahami, unsur materi manusia mempunyai daya fisik, seperti mendengar, melihat, merasa, meraba, mencium dan daya gerak. Sementara itu unsur immateri mempunyai dua daya, yaitu daya berfikir yang disebut akal dan daya rasa yang berpusat di kalbu. Untuk membangun daya fisik perlu dibina melalui latihan-latihan keterampilan dan panca indera. Sedangkan untuk mengembagkan daya akal dapat dipertajam melalui ibadah, karena intisari ibadah dalam Islam ialah mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Suci, Allah SWT. Yang Maha Suci hanya bisa didekati oleh ruh yang suci dan ibadah adalah sarana latihan untuk mensucikan ruh atau jiwa. Konsep ini membawa konsekuensi bahwa secara filosofis pendidikan Islam seyogyanya merupakan kesatuan pendidikan Qalbiyah dan ’Aqliyah agar tercipta manusia-manusia yang memiliki kepribadian yang utuh sesuai dengan filsafat penciptaannya.
Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa Allah SWT. Menciptakan manusia bukan secara main-main (QS. Al-Mu’minun :115), melainkan dengan suatu tujuan dan fungsi. Secara global tujuan dan fungsi penciptaan manusia itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Khalifah
Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat (Q.S. Ar-Ruum:72). Diantara amanat yang dibebankan kepada manusia memakmurkan kehidupan dibumi (Q.S. Huud :61). Karena amat mulianya manusia sebagai pengemban amanat Allah, maka manusia diberi kedudukan sebagai khalifah-Nya di muka bumi (Q.S. Al-Baqarah:30). Al-Maraghi, memaknai khalifah yang pertama sebagai pengganti Allah untuk melaksanakan titah-Nya dimuka bumi. Kedua, manusia adalah pemimpin yang kepadanya diserahi tugas untuk memimpin diri dan makhluk lainnya serta memakmurkan dan mendayagunakan alam semesta bagi kepentingan manusia secara keseluruhan.
Salah satu implikasi terpenting dari kekhilafahan manusia dimuka bumi ini adalah pentingnya kemampuan untuk memahami alam semesta tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan untuk hal ini dikarenakan kepadanya dianugerahkan Allah berbagai potensi. Disamping itu, alam semesta ini beserta apa-apa yang ada didalamnya adalah diciptakan Allah SWT untuk kepentingan umat manusia secara keseluruhan. Karenanya, merupakan tanggung jawab moral manusia untuk mengolah dan memanfaatkan seluruh sumber-sumber yang tersedia dialam ini guna memenuhi keperluan hidupnya.
Disamping itu, kemungkinan manusia memahami alam semesta ini diciptakan Allah SWT dengan ukuran dan ketentuan yang pasti dan tak berubah-ubah (sunnatullah), sehingga dalam batas-batas tertentu ia bersifat ”predictable”. Berdasarkan inilah manusia dapat mengolah dan memanfaatkan alam ini untuk keperluan hidupnya. Karenanya, manusia diharapkan mampu mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Allah yang hanya tunduk kepada-Nya dan tidak akan tunduk kepada alam semesta.
b. ’Abd (hamba Allah)
Kalau kita lihat secara luas , konsep ’abd sebenarnya meliputi seluruh aktivitas manusia dalam kehidupannya. Islam menggariskan bahwa seluruh aktivitas seorang hamba selama ia hidup dialam semesta ini dapat dinilai sebagai ibadah manakala aktivitas itu memang semata-mata hanya untuk mencari ridla Allah (Q.S. Adz Dzarariyaat :56). Belajar adalah ibadah manakala itu dilakukan dengan niat mencari ridha Allah. Bekerja juga ibadah manakala itu di lakukan untuk mencari ridha Allah. Semua aktivitas seorang hamba dalam seluruh dimensi kehidupan adalah ibadah manakala itu dilakukan untuk mencari ridha Allah. Pada dasarnya konsep ini merupakan makna sesungguhnya ibadah manakala difahami, dihayati, dan diamalkan, maka seorang muslim akan menemukan jati dirinya sebagai insan paripurna (al-insan al-kamil). Pandangan diatas merupakan visi filosofis dan antropologis yang dinukilkan Allah dalam al-Qur’an yang telah mendudukkan manusia dialam semesta ini ke dalam dua fungsi pokok, yaitu khalifah dan ’abd.
Agar manusia mampu melaksanakan tugas dan fungsi penciptaannya, maka manusia dibekali Allah SWT dengan berbagai potensi atau kemampuan. Potensi atau kemampuan itu disebut oleh Hasan Langgulung sebagai sifat-sifat tuhan yang tersimpul dalam al-Qur’an dengan nama-nama yang indah (Asma’ul Husnah). Tentunya potensi yang dimiliki manusia dalam bentuk dan cara yang terbatas, sebab kalau tidak demikian manusia akan mengakui dirinya sebagai Tuhan. Untuk itu, manusia harus mendayagunakan potensi yang dianugerahkan kepadanya secara bertanggung jawab dalam rangka merealisasikan tujuan dan fungsi penciptaannya di alam ini, baik sebagai ’abd maupun khalifah fi al-ardl.
Dari penjelasan diatas maka, ada dua hal yang harus diperhatikan implikasi terpenting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam, yaitu: pertama, karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki adanya proses pembinaan yang mengacu pada realisasi dan pengembangan komponen-komponen tersebut. Hal ini berarti sistem pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep kesatuan Qalbiyah dan ’Aqliyah sehingga mampu menghasilkan manusia muslim yang pintar secara intelektual dan terpuji secara moral. Kedua, bahwa fungsi penciptaan manusia dialam sebagai khalifah dan ’abd dengan seperangkat potensi. Maka, dalam konteks ini pendidikan Islam harus mengacu pada pengembangan potensi yang dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam bentuk konkret, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri, masyarakat, dan lingkungannya. Inilah sebesar-besar dari pengabdian manusia kepada Tuhannya sebagai perwujudan dari seorang hamba yang taat.
3. Alam dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
Sebagaimana pendidik pada umumnya memahami, bahwa pendidikan sebagai proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok. Maka pendidikan hanya akan berhasil melalui interaksi seseorang dengan perwujudan dan benda sekitar serta dengan alam sekeliling, tempat ia hidup. Sebagaiman perbedaan watak, akhlak, adat, tradisi, dan cara hidup penduduk dalam kesehariannya adalah contoh yang paling menonjol dalam hal ini. Penduduk pesisir umpamanya mempunyai watak dan cara hidup tersendiri, dan akan berbeda dengan penduduk gurun pasir, demikian pula dengan penduduk yang ada dipuncak gunung.
Golongan materialis berpendapat bahwa alam wujud ini pada hakikatnya bersifat benda belaka. Tidak ada yang lain dari pada benda. Golongan ini menyorot arti kehidupan, akal, perasaan, baik, buruk dan fenomena wujud yang lain berdasarkan faham-faham kebendaan yang mereka yakini. Mereka kembalikan segala perkara kepada benda. Bahkan dalam menafsirkan tindak-tanduk manusia pun mereka coba mengikuti hukum benda. Bertolak dengan itu, para rohaniawan beranggapan bahwa alam ini bersifat rohaniyah. Hakekat yang sebenarnya tidak lain daripada roh atau akal. Adapun benda dalam segala bentuk dan manifestasinya tidak lebih dari satu gambaran atau fenomena rohaniyah. Imam Al-Ghazali membagi alam ini menjadi dua bagian, yakni alam syahadah (yang disaksikan) yang terdiri dari benda-benda nyata, berkembang dan berubah-ubah, serta yang kedua adalah alam ghaib.
Kalau kita membahas tentang alam syahadah, maka kita akan selalu terfokus pada alam nyata yang ada disekitar kita. Pada alam inilah kita diberikan ”kebebasan” untuk mengelolah agar bermanfaat bagi manusia serta alam sekitarnya. Kita hanya diberi panduan global pengelolaannya oleh islam, termasuk hak-hak kepemilikannya. Namun secara lebih detil teknis pengelolaannya tergantung pada kemajuan sains dan teknologi yang berkembang pada masanya. Kalau kita bahas alam yang kedua yakni tentang alam ghaib, maka kita akan lebih menekankan dari informasi Yang Maha Ghaib Allah SWT.
Demikian juga, kita harus memahami bahwa setiap unsur dan bagian dari alam ini bergerak mengikut hukum umum yang tertentu dan berdasarkan kepada hubungan teratur yang menunjukkan kesatuan tadbir dan peraturan. Hal ini menyebabkan setiap orang yang mengamati fenomena itu akan berhadapan dengan suatu kejadian yang rapi, mutlak dan harmonis. Tak ketinggalan juga manusia sebagai bagian dari alam, tunduk sebagaimana juga bahagian alam yang lain- kepada hukum atau sunnatullah. Akan tetapi tunduknya tidaklah persis seperti makhluk lain. Manusia tunduk dalam kebebasannya berkehendak dan membuat pilihan.
Segala yang ada, termasuk alam jagat raya ini bersifat baharu. Baik asas cabang unsur maupun jiwanya. Baik bintang gemintang, cakrawala langit maupun daratannya. Baik binatang, tumbuhan, maupun benda-bendanya proses perkembangannya yang kait mengait dan berentetan yang menjelmakan satu macam ikatan sebab akibat. Semua gejala itu tidak cukup untuk membuktikan azali atau qadimya alam. Malah agama sendiri menolak kemungkinan ini. Peristiwa demikian bisa dibuktikan dari hasil berbagai penelitian terkait dengan perubahan dan perkembangan. Berkisar pada satu keadaan kepada satu keadaan yang lain, akhirnya sirna, hancur, dan hilang.
Keutamaan terbesar agama Islam ialah bahwa agama itu membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum muslimin untuk memperoleh pengetahuan. Ia mendorong mereka mendalaminya dan meraih kemajuan, menerima perkembangan keilmuan yang sesuai dengan kemajuan zaman. Ia juga selalu memperbaharuhi cara-cara untuk memperoleh penemuan-penemuan baru dan sarana pengajaran. Oleh karena itu hendaknya, pendidikan Islam senantiasa menumbuhkan semangat kaum muslimin untuk menuntut ilmu pengetahuan, memperluas penelitian dan pengamatan, sehingga alam yang dikaruniakan Allah ini bisa dimanfaatkan secara optimal dengan cara yang santun dan tidak merusaknya.
C. Penutup
Dalam kerangka Filsafat Pendidikan Islam, kita sebagai manusia tidak akan bisa terpisahkan dengan adanya Tuhan sebagai pencipta segala yang ada. Demikian juga, kita tidak akan bisa terpisah dengan alam kehidupan ini, karena kita tinggal didalamnya. Manusia ada, karena diciptakan kemudian diberikan amanah untuk mengelolah alam sekitarnya sebagai khalifah fi al-ardl. Sehingga Pendidikan Islam senantiasa berlandaskan pada azas ketauhidan dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di dunia melalui kemajuan sains dan teknologi sebagai sarananya, sekaligus meraih kesuksesan akhirat melalui ketaatan pada syariatnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas Mahmud Al-Aqqad, Filsafat Qur’an (Jakarta: Pustaka Firdaus)
Abdul Munir Mulkhan, Paradigma Intelektual Muslim, (Yogyakarta : Sipress, 1993)
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997)
Abdurrahman An-Nahlawi, Prisnsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Diponegoro,1992)
Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, (Bandung : Mizan, 1995)
Ahmad Syalabi, Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah, (Kairo: al-Kasyaf, 1954)
Al-Ghazali, Kitab al-arbain fi ushul ad-diin, terj. Lukman Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti, 1996)
Ali Isa Othman, Manusia menurut al-Ghazali, (Bandung : Pstaka, 1985)
Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta: Raja Grafindo, 2005)
Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung :Mizan, 1995)
Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta:Pustaka al-Husna, 1989)
Ibnu Abdullah Muhammad bin Ahmad al—Anshori al-Qurthubiy, tafsir al-Qurtubiy, juz I, (Kairo : Dar al-Sya’biy, tt)
Ismai Raji’ al-Faruqi, Islam dan kebudayaan, (Bandung: Mizan :1984)
Omar Muhammad al-Thoumy al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)
Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar