Senin, 03 Agustus 2009

teori belajar




TEORI BELAJAR
BURRHUS FREDERIC SKINNER

BAB I
PENDAHULUAN
1. Teori Belajar ; suatu pengantar
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, secara etimologi, belajar memiliki arti “berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu”. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Dari pengertian ini, maka belajar merupakan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya mendapatkan ilmu atau kepandaian yang belum dimiliki sebelumnya. Sehingga dengan belajar itu manusia menjadi tahu, memahami, mengerti, dan memiliki pengetahuan tentang sesuatu.
Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman. Belajar dapat membawa perubahan bagi si pelaku, baik perubahan pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, tentunya si pelaku juga akan terbantu dalam memecahkan permasalahan hidup dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Hilgrad dan Bower mengartikan belajar sebagai :
a. To gain knowledge, comprehension or mastery of through experience or study.
b. To fix in the maind, or memory, memorize.
c. To acquire through experience.
d. To become in form of to find out.
Menurut definisi di atas, belajar memiliki pengertian memperoleh pengetahuan dan menguasai pengetahuan melalui pengalaman, mengingat, menguasai pengalaman, dan mendapatkan informasi atau menemukan. Dengan demikian, belajar memiliki arti dasar adanya aktivitas atau kegiatan dan penguasaan tentang sesuatu.
Dari banyak pendefinisian tentang belajar yang ditemukan dari berbagai literatur, ditemukan adanya perbedaan antara definisi yang diberikan oleh ahli psikologi dan ahli pendidikan. Ahli psikologi memandang belajar sebagai perubahan yang dapat dilihat dan tidak peduli apakah hasil belajar tersebut menghambat atau tidak menghambat proses adaptasi seseorang terhadap kebutuhan dengan masyarakat dan lingkungannya. Sedangkan ahli pendidikan memandang belajar adalah suatu proses perubahan manusia kearah tujuan yang lebih baik dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Dengan demikian, terlihat bahwa para ahli psikologi lebih netral dalam memandang perubahan yang terjadi akibat adanya proses belajar, tidak peduli apakah positif atau negatif. Sedangkan para ahli pendidikan memandang perubahan yang terjadi sesuai dengan tujuan positif yang ingin di capai.
Dari beberapa keterangan diatas, dapat disimpulkan adanya beberapa ciri-ciri belajar, yaitu :
a. belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Tanpa mengamati tingkah laku hasil belajar, maka tidak akan diketahui hasil dari proses belajar tersebut.
b. Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-ubah.
c. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan perilaku tersebut bersifat potensial.
d. Perubahan tingkah laku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
e. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan, sesuatu yang memperkuat itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.
Menurut Gagne, proses belajar- terutama belajar yang terjadi disekolah melalui tahap-tahap atau fase-fase berikut: motivasi, konsentrasi, mengolah, menyimpan, menggali, prestasi dan umpan balik.


2. Teori Behavioristik (tingkah laku)
Tokoh yang dianggap sebagai pendiri aliran behaviorisme adalah John Broades Watson, ia dilahirkan di Greenville pada tanggal 9 Januari 1878 dan meninggal dunia di New York City pada tanggal 25 September 1958. Ia mempelajari llmu filsafat di University of Chicago dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1903 dengan disertasi berjudul “animal education”. Watson dikenal sebagai ilmuwan yang banyak melakukan penyelidikan tentang psikologi binatang.
Pada tahun 1908 ia menjadi profesor dalam psikologi eksperimenal dan psikologi komparatif di John Hopskins University di Baltimore dan sekaligus menjadi direktur laboratorium psikologi di universitas tersebut.. antara tahun 1920-1945 ia meninggalkan universitas dan bekerja dalam bidang psikologi konsumen. Karyanya yang paling dikenal adalah ”Psikologi as the Behaviorist view it”. Menurut Watson dalam beberapa karyanya, psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode introspeksi. Watson juga berpendapat bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Oleh karena itu, psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan-penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata saja. Meskipun banyak kritik terhadap pendapat Watson, namun harus diakui bahwa peran Watson tetap dianggap penting, karena melalui dia berkembang metode-metode obyektif dalam psikologi.
Didalam bidang pendidikanpun peran Watson cukup penting, ia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan tingkah laku. Ia percaya bahwa dengan memberikan conditioning tertentu dalam proses pendidikan, maka akan dapat membuat seorang anak mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia bahkan memberikan ucapan yang sangat ekstrim untuk mendukung pendapatnya tersebut, dengan mengatakan :”Berikan kepada saya 10 orang anak, maka saya akan jadikan kesepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”.
Namun tidak kalah hebatnya dengan tokoh diatas, Burrhus Frederic Skinner juga ahli bidang psikologi. Dia juga seorang tokoh yang produktif dengan karya-karya besarnya tentang teori behavioristik, sehingga menekankan adanya ketetatan eksperimen dan metode yang obyektif. Dalam rangka memecahkan masalah-masalah tingkah laku yang kompleks masa sekarang ini.





























BAB II
PEMBAHASAN

1. Sejarah hidup dan karya-karya Skinner
Burrhus Frederic Skinner lahir di Susquenhanna, Pensilvania pada tahun 1904 M. Dan wafat pada tahun 1990 M. Ide-idenya sangat terpengaruh pada psikologi kontemporer. Gelar master ia dapatkan pada tahun 1930 M. Dan gelar Ph.D ia sandang pada tahun 1931 M. Di Universtas Harvard. Gelar B.A. ia raih dari perguruan tinggi Hamilton di New York dimana ia mendalami bahasa Inggris, dan di Hamilton inilah Skinner mendapatkan kuliah bersama Robert Frost- seorang penyair utama Amerika- yang mendorong Skinner untuk mengirimkan sampel karya padanya. Dengan baik Frost memeriksa tiga karya short story yang Skinner kirimkan, dan Skinner akhirnya bertekad untuk menjadi penulis. Namun keputusan Skinner megecewakan ayahnya –yang merupakan seorang pengacara- karena ayahnya menginginkan agar anaknya menjadi seorang pengacara.
Karya Skinner dibidang psikologi saat ia belajar di Universitas Minnesota adalah The Behavior of Organism (1938). Pada tahun 1945 ia pindah ke Universitas Indiana dan menjabat sebagai ketua jurusan psikologi dan kemudian pada tahun 1948 Skinner kembali ke Harvard hingga akhir hayatnya (1990).
Semasa hidupnya, Skinner telah menjadi seorang yang produktif dalam berkarya. Salah satu konsern utamanya adalah menghubungkan temuan-temuan dilaboratorium untuk menemukan solusi-solusi pada permasalahan manusia, termasuk pengembangan teknologi pembelajaran dan pengajaran. Artikel yang terkait adalah The Science of Learning and The Art of Teaching (1954), Teaching Machines (1958). Karya-karya lainya adalah The Analysis of Behavior (1961), Novel Walden Two (1948), Beyond Freedom and Dignity (1971), Shaping Your Child Personality (1972), Pigeon and a Pelican (1960). Science and Human Behavior (1953), Verbal Behavior (1957), Schedules of Reinforcement (1957), Cumulatif Record (1961), Contingencies of Reinforcement (1969), About Behaviorisme (1974), Particular of My Life (1976).
Skinner adalah seorang behaviorist yang kuat dan yakin akan pentingnya metode obyektif, ketetatan eksperimen, dan kapasitas eksperimen yang anggun serta ilmu pengetahuan induktif untuk memecahkan masalah-masalah tingkah laku yang paling kompleks. Ia siap dan ingin mengaplikasikan konsep-konsep dan metode-metode pada masalah-masalah pokok abad ini, baik secara praktis maupun teoritis. Skinner memiliki pengaruh yang terus meningkat pada psikologi dan bidang-bidang lain yang terkait.
Pandangan ini dapat dibahas di bawah judul teori stimulus-respon, mengingat fakta bahwa Skinner menggunakan konsep-konsep ini dalam analisanya mengenai tingkah laku. Akan tetapi fakta bahwa ia sendiri menolak nama ini untuk menyebut teorinya, disamping berbagai perbedaan penting antara pandangannya dan teori Hull-Spence, menjadikan sah untuk membahasnya secara tersendiri. Salah satu ciri yang membedakannya adalah ketika Skinner tidak suka pada teori formal dan penolakannya pada pendekatan postulat-teori yang dipakai Hull dalam membangun teorinya. Demikian juga mengenai konsentrasi Skinner pada studi tentang subyek-subyek individual, bukan pada kecenderungan-kecenderungan umum atau kelompok.
Disamping ilmu tentang psikologi dan juga pendidikan, Skinner juga sangat berminat dengan ilmu-ilmu teknik. Tentang minat Skinner ini kita dapat cermati dari ungkapanya dalam suatu otobiografi, sebagai berikut :
“saya selalu meciptakan benda-benda. Saya membuat otopet, gerobak yang dapat dikemudikan, kereta luncur, dan rakit yang dapat didayung dikolam-kolam dangkal. Saya membuat maian jungkat-jungkit, komidi putar, dan tempat meluncur. Saya membuat ketapel, busur dan panah sumpitan, pistol air dari batang-batang bambu dan membuat kanon uap dari bekas ketel air yang saya pakai untuk menembakkan kentang dan wortel kerumah tetangga kami. Saya membuat gasing, pesawat terbang model yang dilontarkan dengan tali karet, layang-layang, kitiran timah yang dilempar jauh ke udara dengan putaran gelondong dan tali. Saya berkali-kali membuat pesawat terbang layang yang dapat membawa saya terbang.
Saya menciptakan benda-benda, sebagian diantaranya ingin meniru alat-alat yang aneh dalam buku-buku komik yag dipublikasikan oleh Rube Goldberg di Philadelphia Inquirer (sebagai seorang replubikan yang baik, dan ayah saya ikut berlangganan). Misalnya, bersama seorang teman, saya suka mengumpulkan buah murbei yang masak dan masih hijau. Bertahun-tahun saya mencoba mengembangkan mesin yang dapat bergerak secara abadi (ternyata tidak berhasil).”
2. Pendekatan teori belajar Skinner
Sebagai seorang behaviorist (bersama-sama Watson, Thorndike, Pavlov, Gutrie, dan Hull), Skinner juga mengamati tingkah laku dalam hubungan antara peransang dan respon, akan tetapi berbeda dengan beberapa tokoh behaviorist lainnya, Skinner membuat perincian lebih jauh dengan membedakan adanya dua macam respon, yaitu:
a. Respondent Response (reflexive Response), yaitu respon yang ditimbulkan oleh peransang-peransang tertentu. Peransang-peransang yang demikian itu disebut eliciting stimuli menimbulkan respon-respon yang secara relatif tetap. Misalnya, makanan yang menimbulkan keluarnya air liur. Pada umumnya, perangsang-peransang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkannya.
b. Operant Response (Instrumental response), yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh peransang-perangsang tertentu. Peransang yang demikian itu di sebut Reinforcing Stimuli atau Reinforcer, karena peransang-peransang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Jadi, peransang yang demikian itu mengikuti (dan karenanya memperkuat) suatu tingkah laku yang telah dilakukan. Jika seorang anak belajar, lalu mendapat hadiah, maka dia akan menjadi lebih giat belajar (responnya menjadi lebih intensif dan kuat).
Didalam kenyataannya, respon jenis pertama (responden respons atau respondent behavior) sangat terbatas adanya pada manusia dan karena adanya hubungan yang pasti antara stimulus dan respon kemungkinan untuk memodifikasikannya adalah kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar dari pada tingkah laku manusia, dan kemungkinan untuk memodifikasi boleh dikatakan tidak terbatas. Fokus teori Skinner adalah pada respon atau jenis tingkah laku yang kedua ini; karena dia menitik beratkan pada cara bagaimana menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasi tingkah laku tersebut.
3. Teori Operant Conditioning
Teori pembiasaan perilaku respon ini merupakan teori belajar yang berusia paling muda. Operant adalah sejumlah perilaku atau respon yang membawa pada efek yang sama terhadap lingkungan yang dekat. Tidak seperti dalam teori respondent (yang responnya didatangkan oleh stimulus tertentu), respon dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reifoncer itu sendiri sesungguhnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical respondent conditioning.
Dalam salah satu eksperimennya, Skinner menggunakan seekor tikus yang ditempatkan dalam sebuah peti yang kemudian terkenal dengan nama Skinner Box. Peti sangkar ini terdiri atas dua macam komponen pokok, yakni manipulandum dan alat pemberi reinforcement yang antara lain berupa wadah makanan. Manipulandum adalah komponen yang dapat dimanipulasi dan gerakannya berhubungan dengan reinforcement. Komponen ini terdiri atas tombol, batang jeruji dan pengungkit.
Dalam eskperimen ini mula-mula tikus itu mengeksplorasi peti sangkar dengan cara kesana kemari, mencium benda-benda yang ada disekitarnya, mencakar dinding dan sebagainya. Aksi-aksi ini disebut sebagai emitted behavior (tingkah laku yang terpancar), yakni tingkah laku yang terpancar dari organisme tanpa mempedulikan stimulus tertentu. Kemudian pada gilirannya, secara kebetulan salah satu emitted behavior tersebut dapat menekan pengungkit yang berdampak pada jatuhnya butir-butir makanan kedalam wadah.
Butir-butir makanan yang muncul itu merupakan reinforcer bagi penekanan pengungkit. Penekanan pengungkit inilah yang disebut tingkah laku operant yang akan terus meningkat apabila diiringi dengan reinforcement, yakni penguatan berupa butir-butir makanan yang muncul pada wadah makanan.
Jelas sekali bahwa eksperimen Skinner diatas mirip sekali dengan metode trial and error yang ditemukan oleh Thorndike. Dalam hal ini, fenomena tingkah laku belajar menurut Thorndike selalu melibatkan satisfaction (kepuasan), sedangkan menurut Skinner, fenomena tersebut melibatkan reinforcement (penguatan). Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dalam teori operant conditioning langsung atau tidak mengakui adanya law of effect.
Selanjutnya, proses belajar dalam teori operant conditioning juga tunduk kepada dua hukum operant yang berbeda; law of operant conditioning dan law of operant extinction. Menurut law of operant conditioning, jika timbulnya tingkah laku operan diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan meningkat. Sebaliknya, menurut law of operant extinction, jika timbulnya tingkah laku operant yang telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan tingkah laku tersebut akan menurun atau bahkan musnah.
Teori belajar hasil eksperimen Skinnner (temasuk beberapa eksperimen tokoh behavioristik lain seperti, Thorndike dan Pavlov) diatas secara prinsip bersifat behavioristik dalam arti lebih menekankan timbulnya perilaku jasmaniah yang nyata dan dapat diukur. Teori-teori itu juga bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti kinerja mesin dan robot.
4. Aplikasi Teori Behavioristik
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori-teori behavioristik adalah adanya ciri-ciri kuat yang mendasarinya :
1) Mementingkan pengaruh lingkungan.
2) Mementingkan bagian-bagian (elementalistik).
3) Mementingkan peranan reaksi.
4) mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon.
5) Mengutamakan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.
6) Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.
7) Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan






















BAB III
ANALISA DAN SIMPULAN

Dorothy Law dalam buku Chlidren Learn What They Live mengatakan bahwa : kalau anak banyak diberikan dorongan dalam kehidupannya, mereka akan belajar percaya diri. Kalau anak banyak diberikan kemurahan dan pertimbangan dalam kehidupannya, mereka akan belajar menghormati. Kalau anak dibiasakan berbagi dalam kehidupannya, mereka akan belajar bermurah hati. Penanaman sesuatu yang baik inilah, sebenarnya bagian dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Setiap teori yang temukan oleh para pakar dibidangnnya, selain memiliki kelebihan-kelebihan yang luar biasa, namun tidak bisa dipungkiri adanya kelemahan-kelemahan pula. Untuk itu kami akan rinci kelebihan dan kekurangan dari teori yang telah ditemukan oleh Skinner ini (Teori Belajar Behavioristik) dalam aplikasi pendidikan.
1. Kelebihan Teori Belajar Behavioristik
1) Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instrusi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui stimulasi.
2) Bahan pelajaran disusun secara hirarki dari yang sederhana sampai pada yang kompleks.
3) Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu keterampilan tertentu.
4) Pembelajaran berorientasi pada hasil
5) Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.
6) Metode Behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : kecepatan, spontanitas, kelenturan, refleks, daya tahan dan sebagainya. Contohnya : percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, olah raga, dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan secara langsung seperti diberi permen atau pujian.
2. Kelemahan Teori Belajar Behavioristik
1) Proses belajar dipandang dapat diamati secara lansung, padahal belajar adalah proses kegiatan mental yang tidak dapat disaksikan dari luar kecuali gejalanya saja.
2) Proses belajar dipandang bersifat otomatis mekanis sehingga terkesan seperti gerakan mesin dan robot, padahal setiap siswa memiliki self-regulation (kemampuan mengatur diri sendiri) dan self-control (kemampuan mengendalikan diri) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak merespon jika ia tidak menghendakinya, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati.
3) Proses belajar manusia dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat amat mencoloknya perbedaan antara karakter fisik dan psikis manusia dengan karakter fisik dan psikis hewan.
4) Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik dan hanya beorientasi pada hasil yang dapat diamati dan di ukur.
5) Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa sebagai sentral, guru bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid.
6) Murid dipandang pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.
7) Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif.
8) Penggunaan hukuman yang sangat dihindari penganut teori Humanistik, bagi para tokoh behavioristik justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.




DAFTAR PUSTAKA

Ali Fikri ; Makalah, Teori Belajar Madzhab Behavioristik, (PPS. IAIN, 2007)

Baharuddin dan Esa N. Wahyuni, Teori Belajar dan Pembelajaran, (Yogyakarta: Ar- Ruzzz Media, 2007)

Calvin S Hall & Gardner Lindzey (terjemahan), Teori-teori Sifat dan Behavioristik, (Yogyakarta:Kanisius, 1993)
Dorothy Law, Children learn what they live, terj. (Batam, interaksara, 2003)
E.G. Boring and G. Linzey (Eds). History of Psychology in Autobiography, (Vol V, New York :Appleton-Century-Crofts, 1967)

Farozin & Fathiyah, Pemahaman Tingkah Laku, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004)
Hergenhan & Olson, An Introduction to Theories of Learning, (USA : Prentice-Hall International, Inc. 1997)

http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/202.65.116.194-21042007175443-SISKA -UNY.doc.
http://www.geocities.com/norlionline.

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT. Logos Wacana Ilmu, 1999)

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar