Senin, 03 Agustus 2009
ulumul qur'an
KEMU’JIZATAN AL-QUR’AN DARI SISI ILMIAH
A. PENDAHULUAN
Sudah menjadi tabiat manusia, bahwa sejak zaman dahulu, kapan saja petunjuk datang dari tuhan untuk mengarahkan kembali langkah-langkah mereka kedalam kehendak dan aturan tuhan. Manusia selalu menginginkan bukti gaib dari para utusan itu, sebagai tebusan atas penerimaan perintah suci yang di embannya. Secara akal sehat, semakin besar kemustahilan, maka semakin besar pula kemu’jizatannya. Misalnya, jika ada mayat yang baru meninggal, kemudian dengan kekuatan gaib dari orang suci yang mampu ”membangunkannya” sehinggga membuat orang lain keheranan, maka kita akan menyebutnya sebagai mu’jizat. Kemudian jika ada orang lain yang mampu ”membangunkan” mayat setelah berada di kamar jenazah selama tiga hari, maka kita akan menyebut peristiwa demikian ini sebagai mu’jizat terbesar, dan seterusnya.
Saat ini juga terdapat sekitar satu milyar umat islam di dunia yang tanpa ragu-ragu menerima al-Qur’an sebagai firman Allah SWT dan sebagai sebuah mu’jizat. Tidak hanya itu, bahkan orang non muslim sekalipun mengakui kehebatan dari al-Qur’an. Sebagaimana perkataan pendeta R.Bosworth-Smith, yang menulis opini tentang al-Qur’an: dia mengatakan ” bahwa Qur’an adalah sebuah mu’jizat dari kemurnian gaya bahasa, kebijaksanaan, dan kebenaran.” demikian juga apa yang telah dikatakan oleh Marmaduke Picktall, ia melukiskan bahwa al-Qur’an adalah ” simponi yang tidak ada bandingnya, suara yang benar-benar dapat menggerakkan manusia untuk menangis dan luar biasa gembira.” setelah injil, al-Qur’an adalah kitab agama yang paling mulia dan paling mempunyai kekuatan didunia.
Sebelum masuk ke pembahasan, perlu kita kutip beberapa pendapat dari para pakar terkait pengertian mu’jizat. Menurut Syekh Az-Zarqoni dalam kitabnya ”Manahil al Irfan” , bahwa mu’jizat adalah sesuatu di luar jangkauan kebiasaan, keluar dari faktor batasan yang sudah dikenal, diciptakan oleh Allah dimaksudkan untuk seseorang yang diangkat menjadi nabi dalam rangkah menunaikan tugas kenabiannya dan sebagai tanda kebenarannya. Dalam kitab ”Mu’jizat Al-Qur’an” M. Quraish Shihab mendefinisikan mukjizat sebagai suatu hal, atau peristiwa luar biasa, yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi, sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada manusia yang masih ragu untuk melakukan atau mendatangkan hal yang serupa, namun mereka tidak mampu melayani tantangan itu.
Dari beberapa definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwa mu’jizat, adalah hal-hal yang istimewa yang diberikan kepada nabi-nabi dari dzat yang Maha Kuasa, sebagai bukti kenabiannya, dan tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya. Dapat dikatakan sebagai mu’jizat, apabila terdapat syarat-syrat sebagai berikut :
a. Mu’jizat harus berupa sesuatu yang tidak disanggupi oleh selain Allah Tuhan sekalian alam.
b. Tidak sesuai dengan kebiasaan, dan berlawanan dengan hukum alam.
c. Mu’jizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang, yang mengaku membawa risalah Ilahi, sebagai bukti atas kebenaran dari pengakuannya.
d. Terjadi bertepatan dengan pengakuan nabi, yang mengajak bertanding menggunakan mu’jizat tersebut.
e. Tidak ada seorang pun yang dapat membuktikan, dan menandingi dalam pertandingan tersebut.
Menurut M. Quraisy Shihab dalam mu’jizat itu harus disertai unsur-unsur penting antara lain : hal atau peristiwa yang luar biasa, terjadi atau dipaparkan oleh orang yang mengaku nabi, mengandung tantangan bagi orang yang meragukan, dan tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani.
B. PEMBAHASAN
a. Sekilas Tentang Tafsir Ilmiah
Kemu’jizatan Al-Qur’an dari segi bahasa, telah diakui oleh ahli sastra Arab, baik di masa Nabi SAW maupun masa sesudahnya. Al-Qur’an diturunkan pada suatu masa yang terkenal dengan banyaknya ahli syair dan ahli pidato arab. Akan tetapi, sejarah membuktikan bahwa tidak ada seorangpun sastrawan-sastrawan arab itu, yang mampu membuat suatu gubahan yang seindah gubahan al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh Musailama al-Kadzab dengan gubahan syair murahannya, serta kegagalan Abdullah ibnu Muqoffa (w. 727 M), ketika ia harus menanggung malu, karena tidak mampu memenuhi perjanjiannya dengan orang-orang zindiq pada saat itu. Ia sudah berjanji untuk membuat tandingan ayat semisal al-Qur’an, namun dalam masa setengah tahunpun tidak ada hasil gubahan yang ia buat.
Dari segi isi kandungannya, mu’jizat al-Qur’an dapat dilihat dari tiga aspek. (1) Merupakan isyarat ilmiah. Al-Qur’an banyak berisi informasi ilmu pengetahuan walaupun hanya dalam bentuk isyarat ilmiah, seperti informasi mengenai ilmu pengetahuan alam. Antara lain dikatakan bahwa bumi dan langit sebenarnya merupakan sesuatu yang padu dan setelah terpisah dijadikan segala sesuatu yang hidup (Qs. 21:30), dan bahwa alam semesta terbentuk dari gumpalan gas (Qs.41:11). (2) Merupakan sumber hukum. Al-Qur’an telah memberikan andil yang kuat dalam pertumbuhan hukum, bahkan al-Qur’an tetap merupakan produk hukum yang ideal hingga masa kini. (3) Menerangkan suatu ibrah (teladan) dan kabar gaib, baik yang terjadi masa lalu, sekarang maupun yang akan datang.
Islam merupakan agama akal (reason) sekaligus nurani (conscience). Seseorang mengenali kebenaran yang telah dinyatakan agama dengan menggunakan ilmunya, tetapi menarik kesimpulan dari kebenaran yang dilihatnya dengan mengikuti nuraninya. Seseorang yang telah menggunakan kemampuan akal dan nuraninya, dalam mempelajari obyek apapun di alam semesta ini, sekalipun ia bukanlah seorang pakar, akan paham bahwa obyek tersebut, telah diciptakan oleh pemilik Kebijakan, ilmu dan kekuatan Yang Agung. Sekalipun ia menemukan sedikit saja, dari ribuan bahkan jutaan faktor yang memungkinkan adanya kehidupan di atas bumi, sudah cukup baginya untuk memahami bahwa dunia telah dirancang untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, orang yang menggunakan akalnya dan mengikuti nuraninya, akan dengan cepat menangkap kemustahilan pernyataan bahwa dunia terbentuk secara kebetulan. Singkatnya orang yang berpikir dengan menggunakan kemampuan ini, tentu akan menyadari tanda-tanda Allah dengan sejelas-jelasnya.
Barang siapa menyelidiki seluk beluk alam semesta, dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup di dalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihat di sekitarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu dan kekuasaan abadi Allah SWT. Banyak ayat yang memerintahkan manusia untuk mempelajari, dan mengkaji berbagai aspek dunia, seperti langit, hujan, tumbuhan, binatang, kelahiran, dan bentangan geografis. Cara untuk menyelidiki semua ini adalah melalui sains. Pengamatan ilmiah memperkenalkan manusia pada misteri penciptaan, dan akhirnya pada pengetahuan, kebijakan, dan kekuasaan tanpa batas yang dimiliki Allah SWT.
Agama tidak hanya mendorong studi ilmiah, tetapi menjadikan riset ilmiah konklusif dan tepat guna, karena didukung oleh kebenaran yang diungkapkan melalui agama. Alasannya, agama merupakan sumber tunggal yang menyediakan jawaban pasti dan akurat, misalnya untuk pertanyaan bagaimana kehidupan dan alam semesta tercipta. Dengan demikian, jika dimulai pada landasan yang tepat, riset akan mengungkapkan kebenaran mengenai asal-usul alam semesta dan pengaturan kehidupan, dalam waktu tersingkat, serta dengan upaya dan energi yang minimum. Sebagaimana ungkapan ”Sains tanpa agama adalah pincang”, dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan, tanpa panduan agama tidak dapat berjalan dengan benar, tetapi justru membuang banyak waktu dalam mencapai hasil tertentu, namun tidak memperoleh bukti yang meyakinkan.
Tentu saja, al-Qur’an bukan buku sains. Namun banyak fakta ilmiah yang dinyatakan sangat mendalam dan padat dalam ayat-ayatNya, dan baru ditemukan pada abad ke 20 . Fakta-fakta ini tidak mungkin dapat diketahui pada saat al-Qur’an diturunkan, dan ini justru lebih membuktikan bahwa alQur’an adalah firman Allah SWT. Untuk memahami kejaiban ilmiah al-Qur’an, mari kita lihat tingkatan sains ketika kitab suci ini diturunkan. Pada abad ke 7, dizaman al-Qur’an diturunkan, masyarakat Arab mempunyai banyak kepercayaan takhayyul dan tanpa dasar, dalam hal-hal ilmiah. Karena rendahnya teknologi untuk mengkaji alam dan jagat raya, masyarakat Arab dahulu percaya pada legenda-legenda warisan generasi lampau. Sebagai contoh, mereka mengira bahwa gunung-gunung menopang langit di atasnya. Mereka percaya bahwa bumi datar, dan ada gunung-gunung tinggi pada kedua ujungnya. Pegunungan ini dianggap tiang-tiang yang menyangga langit jauh di atas. Namun kepercayaan takhayyul masyarakat Arab ini dibantah oleh al-Qur’an. Allahlah yang meninggikan langit tanpa tiang....” (QS. Ar-Ra’d, 13:2). Ayat ini menggugurkan kepercayaan bahwa langit tetap di atas, karena ditopang pegunungan. Dalam banyak bidang lain, terungkap fakta penting, ketika manusia mengetahui hanya sedikit astronomi,fisika, atau biologi. Namun al-Quran menceritakan isi fakta-fakta kunci, seperti penciptaan alam semesta, penciptaan manusia, struktur atmosfer, dan keseimbangan rumit yang memungkinkan kehidupan di atas bumi.
b. Sekilas Tokoh Tafsir Ilmiah dan karyanya
1. Al-Fahru ar-Razi
Al-Fahru ar-Razi wafat pada tahun 606 M, Beliau yang mengarang tafsir Mafaatiihu al-Ghaibi, yang kemudian lebih populer dengan nama at-Tafsiru al-Kabiiru. Ia menerapkan ilmu pengetahuan yang bercorak saintis dan pemikiran, yang dilahirkan oleh lingkungan islam, untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an. Contohnya adalah ketika al-Fahru ar-Razi ketika menafsirkan (surat an-Nahl ayat 68-69)
وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ (٦٨)ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (٦٩)
” dan Tuhan-mu mewahyukan kepada lebah: ”buatlah sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan ditempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah tiap buah-buahan dan tempuhlah jalan tuhanmu yang dimudahkan. Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi mereka yang mau berfikir.”
Di dalam ayat tersebut, ada beberapa persoalan , diantaranya adalah firman-Nya (wa auha Rabbuka ila an-nahli = dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah). Ada yang mengatakan auhaa, maknanya ilham. Maksud dari ilham ini, adalah bahwa Allah SWT telah menetapkan pada diri lebah, aktivitas-aktivitas yang menakjubkan, yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia sekalipun. Penjelasannya dari berbagai sudut:
pertama, lebah-lebah itu mampu membangun rumah-rumah segi enam, dengan ruas yang sama, antara satu sama lain tidak ada yang melebihi, hanya dengan cetakannya. Sementara manusia yang berakal saja tidak mungkin membangun rumah seperti rumah tersebut, kecuali dengan sejumlah peralatan dan perkakas, seperti penggaris dan jangka.
Kedua, bahwa sudah diakui berdasarkan tata arsitekturnya, andaikan rumah-rumah tersebut berbentuk selain benrtuk segi enam, tentu disela-sela rumah-rumah itu dibutuhkan lubang bebas hambatan yang sempit. Namun, kalau rumah-rumah itu berbentuk segi enam, maka disela-selanya tidak perlu lubang sempit. Hewan-hewan tersebut memberikan petunjuk tentang adanya hikmah tersembunyi, detail dan lembut, yang merupakan bentuk-bentuk keajaiban.
Ketiga, lebah-lebah tersebut, diantaranya ada salah satu yang menjadi pemimpin bagi yang lain. Ia bertugas menjalankan kekuasaan bagi yang lain. Mereka yang lain, akan membantu memikulnya ketika ada angin kencang. Semuanya itu juga merupakan bentuk keajaiban.
Keempat, lebah-lebah tersebut bila diusir dari sarangnya, maka mereka pergi bersama yang lain, secara kompak ketempat lain. Bila mereka ingin kembali ke sarangnya, mereka membunyikan tambur, alat-alat permainan dan musik. Dengan musik-musik tersebut, mereka bisa mengambil alih kembali sarangnya. Ini juga merupakan hal yang menakjubkan.
Hewan ini juga memiliki keistimewaan-keistimewaan yang menakjubkan, sekaligus menunjukkan kecerdikan dan kepandaiannya. Adanya bentuk-bentuk kepandaian ini semata karena ilham, yaitu, tentu saja kondisi yang hampir serupa dengan wahyu. Dalam hal ini Allah SWT berfirman : ”dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah”. Ketahuilah wahyu tersebut telah dinyatakan untuk nabi, berdasarkan firman-Nya :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلا وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ (٥١)
”dan tidak ada seorang manusiapun bahwa Allah berfirman kepadanya, kecuali dengan perantaraan.” (QS. As-Syura :51)
Juga untuk manusia. Allah berfirman :
وَأَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّ مُوسَى أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلا تَخَافِي وَلا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (٧)
”dan telah kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibu Musa” (QS. Al-Qhoshos;7)
Juga berlaku untuk hewan-hewan, sebagaimana firman Allah SWT:
”dan Tuhanmu telah mewahyukan kepada lebah”
Masing-masing klasifikasi ini memiliki makna yang spesifik. Wallahu a’lam.
2. Jamaluddin al-Qosimi
Al-Qosimi, pemilik tafsir yang bernama Mahasinu at-Ta’wiil, adalah pengagum As-Syekh Muhammad Abduh. Karenanya seorang peneliti, tidak akan melihat kecenderungan al-Qosimi pada tendensi ilmiah dalam penafsirannya sebagai sesuatu yang asing. Di dalam kitab Mahasinu at-Ta’wil ini pada juz pertama dalam pendahuluannya, yang memuat kaidah-kaidah penafsirannya, pasti akan ditemukan tentang delik-delik masalah ilmiah astronomis yang tertuang dalam Al-Qur’an. Misalnya pernyataan dia ; ” ilmuwan astronomi mengatakan bahwa al-Qur’an dalam pembahasan ini telah menjelaskan berbagai masalah ilmiah yang sangat pelik, yang sebelumnya belum pernah dikenal pada zaman Nabi SAW. Masalah-masalah ini dianggap sebagai mukjizat Al-Qur’an yang bersifat saintis dan abadi”. Demikian ringkasnya : pertama ; salah satu bintang yang merupakan planet yang berevolusi : Allahu Khalaqah sab’a samaawaatin wa min al-ardli Mitslahunna ( Allah lah yang menciptakan tujuh langit yang seperti itu pula bumi) (QS. At-Thalaq:12). Masing-masing (langit dan bumi) berasal dari materi yang sama. Kaanataa ratqan fafataqnaahumaa (bahwa langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu. Kemudian kami pisahkan keduanya) (QS. Al-Anbiya :30). Sementara planet-planet tersebut berevolusi mengelilingi matahari : Wa tara al-jibaala tahsabuhaa jaamidatan wa hiya tamurru marra as-sahabi, shun’a Allaahi al-ladzii atqanaa kulla syaiin. (dan kamu menyaksikan gunung-gunung, yang anda kira tetap ditempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. Demikianlah ciptaan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu) (QS. An-Naml:88). Semuanya ini merupakan ayat-ayat yang jelas, dus merupakan mukjizat yang riil, yang membuktikan kebenaran Nabi SAW. Dan keabsahan Al-Qur’an.
Adalah mengherankan, kalau al-Qur’an yang berisi contoh-contoh delik-delik saintisnya yang universal ini dikemukakan, dimana seluruh ummat masih belum mengenalinya, dengan cara yang tidak bisa menghentikan kesalahan, ketika seseorang ingin meraih keimanan kepadanya, pada era manapun dan dengan informasi-informasi apapun. Orang-orang dahulu memahami contoh-contoh ayat ini, sesuai dengan keilmuan mereka, meski kemudian sains secara valid, telah mampu menyibak esensi benda-benda tersebut. Kita tahu bahwa mereka telah berangan-angan, dan akhirnya kitapun akhirnya mampu memahami maknanya yang sahih. Seakan ayat-ayat ini dijadikan di dalam al-Qur’an sebagai mukjizat bagi orang-orang belakangan, yang semuanya menjadi jelas bagi mereka, ketika keilmuan mereka telah maju. Sedangkan mukjizat bagi orang-orang yang sezaman dengan Nabi SAW, adalah kemampuan al-Qur’an menampilkan informasi-informasi tentang orang-orang terdahulu, serta syariah-syariah yang dibawanya, juga hal-hal supra empirik yang terjadi pada zamannya, dan lain-lain. Disertai dengan keyakinan mereka tentang kebenaran al-Qur’an sebagai kalam Ilahi, dalam kondisi masa yang jauh dari sains dan belajar tentang fenomena alam yang tampak dan terlihat sebagai kajian keilmuan. Sehingga ayat-ayat al-Qur’an, terkait dengan mereka, sebagian bermakna jelas, dan makna-makna yang lain bagi mereka bermakna ambigius karena kurangnya keilmuan mereka.
Bagian inilah yang tidak banyak mendapatkan perhatian mereka, sebab bagian ini merupakan spesifikasi menyangkut keilmuan yang belum mereka raih dan kuasai, sehingga ia masih tetap menjadi mukjizat bagi orang-orang mutaakhir yang bisa membuktikannya, dan amat jelas bagi mereka manakala mereka telah mengalami kemajuan bidang sains yang sahih.
3. Abdurrazaq Naufal
Di dalam tulisan-tulsannya, Abdurrazaq telah memecahkan masalah-masalah relevansi beberapa ayat ilmiah, dengan ilmu pengetahuan modern pada bab kemukjizatan lmiah al-Qur’an. Didalam kitab Baina ad-Diin Wa al-Ilm (antara agama dan sains), dia menegaskan bahwa sama sekali tidak ada kontradiksi dan ketidakakuran antara agama dan ilmu pengetahuan. Dalam buku al-Islam wa al-’Ilmu al-ahadith, beliau mengatakan : ” tidak ada kontradiksi sama sekali, jika kalimat al-Qur’an yang pertama kali adalah perintah untuk membaca, ayatnya yang pertama kali juga mengajak untuk ber ’ilmu”. Jika ayat yang pertama kali diturunan adalah :
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١)خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
“Bacalah atas Nama Tuhanmu, yang maha mencipta. Yang mencipta manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajari manusia yang belum diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq: 1-5)
Ia merupakan ajakan yang tegas agar belajar membaca dan menulis. Juga tidak ada kontradiksi, jika kita membaca surat al-Mukminun, firman Alloh SWT. :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ طِينٍ (١٢)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ (١٣)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ (١٤)
”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia mahluk (yang berbentuk) lain. Maha suci Allah, Pencipta Yang Paling Sempurna.” (Q.S. Al-Mukmnun : 12-14).
Kemudian setelah beratus-ratus tahun, ilmu pengetahuan modern, dengan bantuan mikroskop dan alat rontgen, berhasl menjelaskan bahwa urutan yang tertera dalam surat ini adalah urutan penciptaan janin. Lebih dari itu, sampai tidak mungkin mencarikan ganti lafazh al-Qur’an dengan yang lain, karena semuanya tadi merupakan lafazh yang menjelaskan makna tertentu, sama sekali tidak terkontaminir, atau ambigius, ditambah ataupun dikurang.
Pada masa-masa akhir, ilmu pengetahuan telah sampai pada sesuatu yang tak seorangpun membayangkan bahwa pada zaman ekspres sekarang ini akan sampai kesana. Pada era perang terbuka dan era naik keluar angkasa, kita bisa menyaksikan seluruh perkembangan dibidang ilmu pengetahuan. Telah dijelaskan oleh al-Qur’an atau Al-Qur’an telah mendorong melakukan pengamatan kesana. Namun aneh, jika kita membaca bahwa masih ada orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an ini hanya relevan untuk zaman dahulu, dan tidak layak untuk zaman sekarang ataupun yang akan datang.
Dari sini Abdurrazaq memahami bahwa Al-Quran ini merupakan mukjzat ilmiah yang berisi dasar-dasar ilmu pengetahuan modern, dan mendorong seluruh penemuan ilmu pengetahuan. Bentuk kemukjizatan al-Qur’an ini saja sudah cukup untuk memuaskan tentang kemukjizatan al-qur’an pada para pakar barat, karena kemukjizatan al-Qur’an ini merupakan sarana untuk menyampaikan dakwah Islam kepada orang non Arab. Dia juga mengatakan, bahwa hari dimana kami akan menyebarkan apa saja yang pernah dikemukakan oleh al-Qur’an serta dikukuhkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dalam berbagai disiplin ilmu, keseluruh dunia dengan berbagai bahasanya yang beragam, hari dimana kami telah menunaikan risalah serta menyampaikan dakwah dan membuktikan kemukjizatan al-Quran kepada orang non Arab.
Tokoh-tokoh yang penulis sebutkan dalam makalah ini hanya sebagian kecil dari para mufassir yang bercorak ilmiah. Tentunya masih banyak tokoh lain yang tidak mampu kami jelaskan satu persatu, karena keterbatasan waktu dan tempat. Diantaranya adalah An-Naisaburi (W. 728 H) , pengarang tafsir Gharaaibu al-Qur’ani wa Raghaaibu al-Furqaani. Az-Zarkasyi (W.794 H), pengarang kitab al-Burhan fi ’Ulumi al-Qur’an. As-Syekh Muhammad Abduh (1849-1905 M), Muhamad Rasyid Ridha pengarang tafsir al-Manar, Asy-Syeikh Thanthawi pengarang tafsir al-Jawahir fi Tafsiri al-Qur’an, dan lain-lain.
C. KESIMPULAN
- Salah satu sifat ilmu pengetahuan, adalah dapat diterima oleh rasio atau akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat yang menganjurkan dan mendorong manusia, agar memperhatikan pikiran dan akalnya. Dengan penggunaan akal pikiran tersebut, ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan. Disamping itu al-Qur’an dan Hadith juga sangat mendorong manusia agar menuntut ilmu.
- Barang siapa menyelidiki seluk beluk alam semesta dengan segala sesuatu yang hidup dan tak hidup didalamnya, dan memikirkan serta menyelidiki apa yang dilihatnya di sektarnya, akan mengenali kebijakan, ilmu dan kekuasaan abadi Allah, karena beberapa perintah Allah yang dtujukan kepada manusia adalah untuk merenungkan ciptaan-Nya.
- Hendaknya kita tetap membiarkan al-Qur’an sesuai dengan ketinggian dan kemulyaannya, mempertahankannya tetap dalam kesucian dan karismanya. Serta memahami bahwa isyarat mengenai rahasia-rahasia mahluk dan fenomena-fenomena alam yang dikandungnya, semata hanya mendorong berfikir, meneliti dan melakukan analisa, agar manusia semakin bertambah iman. Bagi kita, cukup, bila al-Qur’an tidak bertabrakan, dan tidak akan pernah menyelisihi esensi ilmu pengetahuan yang diterima oleh akal. Karena al-Qur’an adalah kitab hidayah, reformasi dan hukum.
- Jika dewasa ini kita hendak menafsirkan al-Qur’an, kita harus dapat memenuhi kebutuhan ummat dan sanggup mengangkat mereka dari kebekuan dan keterbelakangan. Itu berarti , bahwa tujuan menafsirkan al-Qur’an di zaman sekarang ini, adalah membangkitkan umat supaya memiliki kesadaran Islam yang sebenar-benarnya, dengan memperkenalkan pemikiran-pemikirannya dan hukum-hukumnya serta penghayatan dan penerapanya, sehingga dari sinilah umat islam akan mampu mengaktualisasikan dirinya dengan penelitian-penelitian ilmiah yang bersandarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah SAW.
Daftar Pustaka
Abdussalam, Abdul Majid ,Ittijaahat at-Tafsir fi-al-ashri ar-Rahim (terj. Maghfur), Bangil : al-Izzah, 1997
al-Baghdadi, Abdurrahman, Beberapa pandangan mengenai penafsiran al_qur’an, Bandung : Al-Ma’arif, 1988
al-Qosimi, Muhammad Jamaluddin ,Tafsir al-Qosimi al-Musamma Mahaasini at-Ta’wiil, Kaero: Dar Ihyaa’ al-kutubi al-‘Arabiyah, 1957
ar-Razi ,Al-Fahru, Mafaatiihu al-Ghaibi al-Musytahar bi at-Tafsiri al-Kabiiri, Istambul :Al-Mathba’ah al-‘Aamirah, 1308 H
Ash Shabuny, Moh. Aly , Pengantar Studi Al-Qur’an (Attibyan), Bandung : Al-ma’arif, 1996
.Az-Zarqoni, Muhammad Abd, Manahil al Irfan fi ulum al Qur’an, Beirut : dar al kutub al ilmiah, 1996
Majid, Nur Cholis dkk., Ensiklopedi Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999
Nata ,Abudin, Al-Qur’an dan Hadith, Jakarta: Raja Grafindo, 1996
Naufal, Abdurrazaq ,Al-Islam wa al-‘Ilmu al-Hadiitsu, Mesir: Dar al-Ma’aarif, 1958
Shihab, M. Qurash, Mukjizat Al-Qur’an, Bandung : Mizan, 1998
Yahya, Harun, The Qur’an Leads The Way to Science (terj. Tim hikmah teladan), Bandung, Syamil cipta media, 2002
Waheeduddin Khan, Islam menjawab tantangan Zaman, Bandung: Pustaka Bandung, 1983
Wilson , J.Christy dalam Introducing Islam, Newyork, 1950
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar